Langsung ke konten utama

Waktu untuk Tidak Menikah


Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah.
Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersinar di hari yang istimewa. Jum, sepupu sebaya Nursri, mahir meladeni tubuh-tubuh perempuan yang pasrah diutak-atik menjelang acara pernikahan. Kabarnya, ia pernah menjadi buruh spa dan salon kecantikan di Lokhenda, kota metropolitan. Oleh karena pengalaman kerja sepupunya itu, kemarin Nursri dirumat habis-habisan.
Namun Nursri masih merasa ada ruang kosong dalam dirinya, yang tak bisa diisi oleh siapa pun, yang tak tersentuh oleh siapa pun, bahkan Jum sekalipun. Reni, sahabat karibnya, sesama buruh di Timalayah, tak dapat hadir di akad nikah maupun pesta resepsinya. Maka, ia habiskan nyaris tiga kula air di bak besar untuk mengguyur tubuhnya yang semakin tenggelam dalam dingin yang membuatnya sunyi.
Ia mengenang subuh di Timalayah. Air ledeng yang macet di kontrakan seringkali membuatnya senewen. Dengan perkara rutin macam itu, ia terpaksa mengalungkan handuk, menyambar gayung berisi perlengkapan mandi, lantas menuju bantaran sungai untuk mengantri. Di sana ada tempat pemandian umum, yang jelas joroknya minta ampun dengan air keruh berbau tak sedap. Setelah mandi, ia akan menggoreng telor ceplok untuk sarapan. Dengan lahap ia makan nasi sisa kemarin malam dengan lauk telur bersiram kecap manis.
Pukul enam pagi, Jalan Nyai Pangestuti sudah ramai oleh lalu lintas kendaraan. Angkutan umum, yang biasa disapa bison, colt, maupun elf sudah berjejer siap mengangkut lusinan buruh. Berhimpit-himpitan, kadang Nursri masih bisa mencium ketiak siapa saja yang belum diolesi deodoran atau bedak tabur anti bau badan. Tumpah ruah buruh dari segala penjuru gang-gang permukiman yang penuh sesak. Mereka menggantungkan hidup pada Timalayah, kawasan industri yang dipagari puluhan cerobong asap, untuk mengepung puluhan ribu buruh dalam satu wadah kumuh di tengah-tengah kota, di antara desis dan deru mesin siang malam. Meski barangkali tak cukup puas dengan upah bulanan, mereka sudah cukup bangga, tatkala koran nasional memberitakan Timalayah sebagai kota mega industri yang mampu menggerakkan sektor perekonomian negara dengan percaya diri.
Nursri tertegun. Sabun batangan yang telah menciut sepertiga bebas meluncur jatuh, nyaris masuk lubang pembuangan air. Ia melupakan—hampir lupa—bahwa ia belum menelepon Yunus, mantan kekasihnya di Timalayah. Ia pernah berjanji, di suatu siang yang terik saat mereka makan lontong kupang Cak Pinteno, ia pasti berkabar kalau suatu saat hendak menikah. Dua minggu kemudian, Yunus genda’an dengan perempuan penjual kutang yang sering menggelar warna-warni dagangannya di depan gerbang pabrik buku tulis.
Ya, karena itu janji. Aku harus meneleponnya habis ini.
Nursri berpikir cepat, ia harus menambahkan nama Bu Titi Maryati, kepala sekolah PAUD Bhinneka yang ia titipi anaknya, dari daftar orang-yang-wajib-ditelepon-sebelum-menikah. Oh ya, Nursri memang punya seorang anak angkat, Handaruna namanya. Ia tak sengaja menemukan orok yang masih merah di kardus mie instan di tempat pembuangan sampah. Sekarang Handaruna sudah duduk di bangku PAUD, diasuh penuh kasih sayang oleh Maryati.
 “Ayo, Nur saatnya dirias. Itu tukang riasnya sudah datang. Lekaslah masuk kamar!” seru Komariah, ibunda Nursri dari ruang makan. Ia tengah menata kue-kue basah di atas nampan beralas daun pisang. Nagasari, bikang, onde-onde, wajik, jenang, pastel, dan lemper melingkar manis.
“Sik, aku mau keringin rambut dulu,” sahut Nursri sambil melangkah ke kamar dengan sepotong daster yang basah di bagian punggung akibat terkena tetesan air dari helaian rambutnya. Ia menyalakan alat pengering rambut sebentar. Dengan cepat, ia menemukan nomor ponsel Yunus. Sedikit menggigil karena kedinginan, ia menyapa lelaki yang sudah lama tak ditemuinya.
“Lho? Kamu kok tumben inget aku, Srikandi?” sapa Yunus, takjub. Ia masih memanggil Nursri dengan nama kesayangan.
“Aku mau nikah, Mas. Mohon doa restunya,” ujar Nursri lirih.
“Lho? Lho? Awakmu ngelindur yo? Tangi sik, sembahyang sik. Ndadak telepon jam samene ngabari nikah,” seloroh Yunus.
Nursri tertawa geli. Ia membayangkan Yunus langsung terduduk di atas dipan sambil mengucek-ucek mata. “Aku serius, kok. Nursri sebentar lagi punya orang, Mas.”
“Kapan e Sri? Opo tak rewangi kora-kora piring prasmanan?”[1] tanya Yunus, masih mengajaknya guyon.
Nursri tertawa lagi. “Akad nikahnya jam setengah sembilan di langgar depan rumah.”
Yunus terdiam, terhenyak di atas pembaringan. “Kamu ulangtahun ya hari ini? Kalau nggak salah sekarang 23 Mei, toh?”
“He’em. Sudah tua ya, Mas. Sudah 28 tahun. Pantes nikah. Selak blawukan[2].”
“Emang e bojomu wong ndi, Sri?” [3]
Belum sempat Nursri menjawab, terdengar suara nyaring seorang perempuan yang memanggil nama Yunus dengan geram. Disusul suara tangis bayi pecah. Disusul teriakan Yunus mengenai uang receh yang masih tersisa di saku celana jinsnya. Disusul caci maki perempuan itu lagi dan suara jerit bayi dan suara pintu dibanting keras. Berdebam.
Nursri menghela napas. Ia melirik jam dinding. Masih pukul lima lebih delapan menit. Pagi-pagi dalam sebuah rumah tangga di sudut Timalayah, mantan kekasihnya mendapat sentakan dari istri-yang-entah-siapa.
“Sri… Srikandi… sorry yo.”
“Nggak apa apa, Mas. Aku yang nggak enak sama bojo sampeyan. Pagi pagi sudah bikin ribut.”
“Oh, bukan gara-gara kamu. Dia lagi minta uang buat beli susu sachetan di warung sebelah. Anakku nangis terus semalaman, belum nyusu.”
“Hm…”
“Balik ke sini sajalah, Sri. Kancanono[4] Mas Yunus.”
Nursri terkesiap. Ia bingung harus tertawa atau mengumpat. Baginya, ia menghubungi Yunus semata-mata untuk menunaikan janji. Hanya itu. Bukan untuk berharap mendengar rengekan Yunus, yang apalagi kini telah menjadi suami sekaligus bapak. Bukan pula untuk memperpanjang kenangan asmara mereka berdua.
“Mas sudah dua minggu mogok kerja sama yang lain. Hawa di Timalayah memanas, Sri. Pabrikku mau bangkrut, banyak yang di-PHK tanpa pesangon.”
“Mas dipecat juga?”
“Nggak, tapi kayaknya sih besok mau dipecat. Lha wong Mas malah bantuin teman teman yang kena PHK, bantuin apa itu namanya..? Ah, ya, advokasi sama LBH.”
Sekali lagi, Nursri menghela napas. Berita pabrik bangkrut dan buruh berdemo adalah berita lawas di Timalayah. Sudah terlalu sering ia melihat kekacauan di beberapa pabrik yang bergiliran bermasalah. Beruntung, selama lima tahun Nursri tidak pernah mengalami hal yang dirasakan Yunus. Terakhir, ia sempat diminta rekan mburuhnya untuk bergabung ke perhimpunan sesama buruh di jaringan Timalayah, menyusul lonjakan arus perantau dari berbagai pelosok daerah. Katanya, kalau ia bersedia bergabung, kesejahteraan lebih terjamin. Buruh yang punya keanggotaan di suatu organisasi lebih disegani manajer pabrik saat akan memecat atau merotasi karyawannya.
Nursri menolak tawaran itu karena telepon dari Komariah. Sang ibu memintanya lekas pulang, lekas nikah, nanti keburu tua. Sang bapak sudah renta, sudah bosan dengan pekarangan di seberang rumah, yang sedianya untuk modal rumah tangga putri semata wayang.
“Kalau kamu nggak punya calon Nur, tenang saja. Ibuk dan Bapak sudah musyawarah. Ada Wahyono, carik desa. Ada Mujimin, ta’mir mesjid Al Hidayah. Ada Khoiron, anak tengkulak garbis di Pasar Wetan. Pilih yang mana? Ibuk sudah inpestigasi. Semua Insya Allah Sholeh!” promosi Komariah, bersemangat.
“Nggeh, Buk. Target Nur memang nikah sebelum 28 kok,” janji Nursri. Saat itu ia sudah berumur 27 tahun lewat dua bulan lebih 21 hari.
Akhirnya, ia mengundurkan diri dari kerja komunal yang selama ini dinikmatinya tanpa banyak hasrat neko-neko. Tapi masalahnya, ia masih melajang dua bulan lalu. Tak punya teman lelaki dekat. Ia ingin punya suami yang sama-sama berlatarbelakang pegawai pabrikan, biar bisa saling mengerti, kalau nantinya sama-sama kerja di pabrik lagi demi mengepulkan asap dapur.
Dering telepon setiap hari orangtuanya di kampung lama-lama membuat Nursri jengah. Dengan sekali perkenalan yang serba singkat, resmilah ia menjalani hubungan dengan Laksmo, kondektur bus antar provinsi yang ditumpanginya menjelang lebaran. Mereka berdua sama-sama mencari pasangan, merasa senasib, sama-sama berumur jelang 28, dan akhirnya sepakat untuk menikah pada hari ini, lalu berencana mengadu nasib bersama ke ibukota bulan depan.
Nursri dirias tukang rias tersohor di kecamatannya. Bu Fentika namanya. Bibir bergincu oranye Fentika mulai mengulik Nursri dengan sederet pertanyaan. Nursri menjawab sekenanya, bahwa sejak lulus SMA ia merantau dan mencari kerja seorang diri. Bu Fentika memujinya sebagai perempuan yang tangguh. Tapi lantas ia mencibir Nursri yang punya kebiasaan memencet jerawat dengan semena-mena.
Beberapa anak kecil mengintip Nursri yang tengah didandani. Bulek dan sepupunya pun mondar mandir sambil mengomentari setiap sudut wajah Nursri manglingi. Nursri diam saja. Semakin terang suasana di luar jendela kamarnya, makin ia merasa resah. Sejujurnya, Nursri sempat bertengkar hebat dengan Komariah, hanya karena perkara wali nikah. Ia enggan bapaknya yang sudah renta itu menjadi walinya karena mereka berdua sudah bertahun-tahun lamanya tak akur. Ia pernah melihat Komariah, sang ibunda dipukuli oleh Si Bapak. Mereka hampir berpisah, tapi Komariah ditakut-takuti tetangga untuk tidak menjadi janda beranak empat. Akhirnya, Nursri pun mengalah.
Nursri perempuan seorang diri dari keempat bersaudara. Ketiga kakaknya laki-laki semua. Ada yang minggat entah kemana, dengar-dengar menjadi biksu di negara seberang. Ada yang meninggal karena jatuh dari pohon sukun. Dan ada satu yang paling disayang Nursri, Permana namanya. Ia ingin Permana menjadi walinya. Ia pernah ngotot mengungkapkan hal itu pada suatu malam, pada kunjungan kesekian kali kakaknya ke Timalayah.
“Kamu carilah suami yang baik Nur. Yang sayang kamu. Yang sanggup melindungimu. Nggak seperti aku sama bapakmu,” pesan Permana sambil menghabiskan nasi goreng mawut. “Lagipula, Mas lebih kotor dari Bapak, Nur..” lanjut Permana yang lebih mirip gumaman.
Nursri masih menyimpan ingatan atas percakapan itu dan masih tetap tak mengerti. Baginya, Permana sempurna sebagai seorang kakak meski ia tampak rapuh dan sering sakit-sakitan sejak kecil. Permana telah menjadi mantri di Bulukamba. Ia mapan, berumur 34 dan masih melajang. Nursri pernah berusaha mencomblangkan Reni dengan Permana. Namun sia-sia. Reni menerima pinangan manajer di pabrik buku tulis tiga bulan yang lalu.
Oala, Ren. Aku harap kamu di sini.
Nursri membutuhkan sahabat sebayanya untuk sekadar menemaninya sembari ia dirias, agar lamunannya tak kemana-mana. Tapi Reni ikut pindah ke Sipetuah, tempat Bonar, manajer yang sekaligus suami sahabatnya itu sekarang dimutasi ke bagian pasokan bahan baku pabrik.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Yang tengah dirindukan menghubungi. Panjang umur. Namun tangis Reni di ujung sana, mengoyak-koyak kebutuhan Nursri atas hadirnya sosok sahabat perempuan di detik-detik menjelang pernikahan. Reni mengabarkan berita buruk.
Nursri menjeda sejenak isakan di seberang sana, lalu menyuruh Bu Fentika keluar dari kamar dan mengusir anak-anak kecil serta beberapa sepupunya untuk pergi dari kamar pengantinnya. Segera ditutupnya pintu dan jendela kamar. Isakan Reni berangsur-angsur reda.  Ia mulai sanggup bercerita tentang keadaan gudang bahan baku di Sipetuah yang tengah bermasalah dan diboikot penduduk setempat karena telah merusak hutan leluhur. Rumah dinas yang didiami Reni dan Bonar, suaminya, menjadi sasaran amuk warga. Ludes terbakar.
Nursri bingung harus berkata apa untuk meyakinkan Reni bahwa ia akan baik baik saja, bahwa kerusuhan itu pasti berakhir, bahwa pemerintah akan turun tangan, bahwa pembakar rumah dinas karyawan akan diamankan aparat, bahwa nyatanya ia tak tahu apa-apa. Yang ia tahu, kurang dari dua jam ia akan resmi menjadi istri orang. Telepon terputus. Baterai ponsel Nursri kosong. Ia tergeragap, mendadak mual dengan wangi bunga sedap malam yang dirangkai dalam empat buah vas bening di kamarnya. Dibukanya daun jendela yang tadi ia tutup untuk meredam suara gaduh sound system di luar. Tak sengaja ia melihat Permana di sela-sela batang pohon pisang. Ia hendak berteriak memanggilnya, namun tertahan. Permana sedang menggengam mesra tangan Sidik dan menciumi jemari ketua Karang Taruna itu.
Jantung Nursri mencelos.
Pintu diketuk, Komariah memanggil Nursri lembut, menyuruhnya bersiap dan bergegas ke langgar. Para undangan sudah datang, mempelai laki-laki dan rombongan besan sudah siap, penghulu pun sudah dalam perjalanan.
Nursri mencolokkan kabel charger ke hapenya. Hari ini harus menjadi hari istimewa buatnya. Hari ini berbeda dengan hari-hari yang ia lalui dengan mengepak lusinan buku tulis ke kardus. Hari ini hari yang bersejarah buat semua wanita di dunia, tak kecuali Nursri yang sekarang berulangtahun ke 28, dan siap untuk menikah. Hari ini ia berhak bahagia dengan menimbun semua beban pikiran sejenak ke dalam almari tua lalu menguncinya.
Sepucuk amplop berpendar menggoda Nursri di layar ponsel. Segera ia membukanya. Dari Reni. Singkat bunyinya.
Aq bth qmu, Nur. Klo’ aza aq nuruti idemu, trz nikah ma Mas Permana,… L
Sepucuk amplop muncul kembali. Kali ini dari Bu Titi Maryati. Nursri nyaris kelupaan untuk menelepon ibu asuh sementara Handaruna, hingga ia baca pesan tersebut, dan riasan setebal apapun tak akan mampu menyembunyikan kekalutan di wajahnya.
Mbak Nursri, apa kbr? Slmat jd pengantin baru y. Kpn mampir ke Timalayah? Ni Si Darun demam tinggi, dri kmarin nyari Mamany. Kangen, gtu katany. Klo bisa hari ini ksini ya. Lngsung ke RSUD Timalayah ja. Darun diopname. Kta dokter trkena DB.
Nursri mengacaukan mahakarya Bu Fentika. Pipinya basah, maskaranya mulai luntur, lem bulumata palsunya pun goyah. Ia menangis sesenggukan. Komariah terheran-heran dan hendak mengomel panjang melihat putri semata wayangnya berulah hari ini.
“Buk, maafkan Nur. Hari ini Nur umur 28. Tapi Nur nggak bisa menikah sekarang,” ujar Nursri bergetar sambil memeluk ibunya.
“Apa maksudmu, Nduk?” tanya Komariah, was-was.
Nursri semakin terisak keras. Tumpah sudah linangan air dari kemelut sanubarinya. Ia tidak mungkin bilang bahwa ia takut menjalani rumah tangga seperti yang dialami Yunus dan Reni. Ia pun tidak mungkin bilang bahwa Permana, kakak kesayangannya itu menyimpan aib untuk keluarga. Ia tidak mungkin beralasan apapun selain kekhawatiran alamiah seorang ibu pada buah hati yang tengah diopname.
“Nur harus ke Timalayah. Anak Nur sakit,” ujar Nursri, terbata-bata. Ia tak pernah cerita sekali pun tentang Handaruna. Baginya, Handaruna adalah amanah yang harus ia rawat seorang diri selama di Timalayah, karena ia yakin ibunya akan menentang keras, terbebani rerasan tetangga nanti di kampung.
“Kamu punya anak?!” pekik Komariah, melengking. Matanya mendelik sebentar, seolah bola matanya hendak mencelat keluar dari kedua rongga. Tuhan berbaik hati. Komariah tidak terserang stroke seketika. Kerpus bertaburkan manik-manik yang dikenakannya menceng ke kiri, sejumput uban menyembul resah.
Komariah terguncang hebat di tengah hiruk pikuk cacian dalam otaknya, kebacut koen Nduk, kebacut, kebacut!.[5] Perlu sekian detik untuk mencerna bahwa inilah yang lagi-lagi dinamakan musibah. Mendadak ia merasa pegal luar biasa, lantas meraung memanggil nama suaminya.















[1] Kapan, Sri? Apa aku bantu cuci piring prasmanan?
[2] Keburu kadaluwarsa.
[3] Memangnya suamimu orang mana, Sri?
[4] Temanilah
[5] Keterlaluan kamu, Nak! Keterlaluan, keterlaluan!

Postingan populer dari blog ini

Nyanyian Lidi

Olika tertahan dalam sel pengap. Suara tetesan sisa hujan melengkapi kebekuan yang menyiksa. Buku-buku catatannya telah diberangus api di depan sel. Bekas abunya pucat seperti wajah kematian. Ia menatap serdadu dengan tatapan ngilu. Dihampirinya serdadu yang tengah berdiri di luar sel. Di dekat pintu yang tergembok sempurna. “Kita satu bangsa, kau tahu?” desis Olika. Serdadu tersebut menoleh ke belakang. Meludahinya. *** Mereka datang, serombongan dengan pelbagai plat motor menghambur di pekarangan rumah joglo Kepala Desa Tangkup. Mereka berasal dari kota sejauh 135 kilometer arah timur. Mereka datang, seolah-olah tamasya di akhir pekan. Beberapa di antara mereka selalu terkikik-kikik renyah di sepanjang jalan. Pak Chaz mengundang mereka untuk meneruskan jejak langkah perjuangan kaum tani. Kepala desa muda yang bernampilan mirip penyanyi ibukota tersebut mendapati serombongan pemuda bernyali besar. Mereka bersenjatakan jimbe, biola, gong, akordion, kuas, pena, dan papan sablon...

Kunjungan Tetangga

Kapan terakhir kali kau menemui Kakek? Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa. Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris,...

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...