Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label romansa

Menuju Senja

Dia baru selesai menyelesaikan makan siang, saat kenangan itu meluncur jatuh dari rak teratas di otaknya. Berdebam. Membuatnya tersentak dan kukunya yang berkuteks tergelincir dari layar gawai. Tidak ada yang memantik. Tidak ada lagu, tidak ada aroma, tidak ada sesuatu di hadapannya yang membuat kenangan itu harus terjatuh. Menggelinding. Menghampiri ujung kakinya. “Kau pernah mengalami yang demikian?” coleknya pada teman kantor yang kebetulan melintas di samping mejanya. “Pernah. Mungkin kamu butuh istirahat sebentar.” “Tidur siang?” “Ya,” ujar temannya sambil menunjuk ruangan di sudut kantor yang berkelambu misterius. Ia mengangguk. Melangkah menuju bilik rehat. Di dalam bilik tersebut ada sofa empuk yang dapat direbahkan menjadi kasur lipat. Ia mencoba berbaring. Kenangan yang menggelinding itu telah dipungutnya dan kini mengeluarkan gas untuk memenuhi otaknya. Kenangan itu berisi luka. Ia masih merasakan ngilunya, meski samar. Sesosok bayangan berkabut muncul. Lela...

Prelude

Di usia dua puluh empat tahun, ia masih sama, layaknya empat tahun silam. Minus di kedua matanya tak bertambah, empat koma lima. Itu berarti ia tak butuh kacamata baru. Kacamata yang saban hari menggantung di batang hidungnya adalah kacamata yang ia beli empat tahun yang lalu. Kacamata yang sebelumnya, bertangkai goyah dan lensa sebelah kirinya retak. Sebenarnya bisa diperbaiki. Tapi ia memilih untuk tidak. Ia biarkan begitu saja kacamata berbingkai merah tua yang teronggok di laci lemari. Ia diamkan dan mengganti dengan bingkai cokelat warna kayu mahoni. Ia memilih begitu. *** Seorang perempuan berjerawat matang duduk di ujung bangku berwarna metalik dekat teralis yang membatasi peron stasiun dengan teras loket. Ada empat loket, dua dengan antrian mengular untuk pembelian tiket kereta jarak dekat, dan dua yang lain untuk reservasi kereta jarak jauh. Tampaknya melompong, tapi antrian di loket kereta jarak jauh yang pemesannya dilayani hingga sembilan puluh hari sebelum keberan...

Bandara dan Tautan Jemari

Aku tahu. Ya, aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Pembaca. Aku berusaha untuk sok tahu. Karena memang aku terlahir sebagai wanita percaya diri yang kadang tampil sok tahu, menebak apa yang tercetak di pikiranmu. Eh, pikiran kita sama bukan? Setidaknya agak sepaham. Ini mengenai tempat umum, terpusatnya transportasi publik dan beginilah hidup kita, nasib menjadi manusia modern. Bergerak ke sana ke mari, menyusutkan jarak dan waktu demi kepentingan-kepentingan globalisasi. Kita membuat tempat umum menjadi persinggahan sementara untuk perpindahan yang nyata, secara spasial, dan tiba-tiba saja banyak kisah yang tertimbun di dalamnya. Kau sepakat jika terminal bus menjadi tempat yang romantis? Kau punya kenangan khusus tentang terminal? Berkaitan dengan orang-orang istimewa yang kau temui dan kau lepas dengan berat hati di sana. Hidupku dipenuhi potongan-potongan memori dari terminal bus. Kau salah, aku bukan bagian dari terminal bus, jika kau berharap aku akan menceritakan suka...

Alamat Kerinduan

“Sob, ayo kita mengobrolkan rasa kangen.” Ajakanku itu membuatnya tersedak. Cepat-cepat ia menyingkirkan laptopnya. Ini bukan kesekian kalinya ia tersedak oleh omonganku yang sering menjebak. Ia bilang begitu. “Kampretlah! Kau menjebakku. Kau yang gundah, kenapa aku yang melakukan pengakuan dosa?” tuntutnya, geram. Biasanya begitu. Setelah aku berhasil membuatnya kebingungan dengan bahasan soal teori, hukum alam, sampah daur ulang, mahkamah konstitusi, dan pertumbuhan musik indie, ia pun sudah habis dua botol bir. Lalu setengah teler, menceracau. Keluarlah sudah sampah serapahnya. “Baiklah. Jawab pertanyaanku tanpa kau perlu bertanya balik.” Aku tersenyum simpul. Ia sudah mengambil langkah maju untuk antisipasi acara pengakuan dosa. “Apa itu, Sob?” “Itu pertanyaan!” “Ah, iya! Maaf, maaf. Aku sepakat dengan aturan sesi ini.” Ia menjeda sejenak. Menunggui layar laptopnya meredup lalu gelap. “Jadi kau tengah kangen seseorang?” “Sepertinya.” “Kau nggak yakin deng...