Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Panglipuran #1

Ialah cinta sekepalan tanganku, hai lelaki kecilku, p injamkan nafas b agi segaris lurus hidup. Ialah mimpi terindah yang mewujud paripurna, hai lelaki kecilku, i alah bahagia y ang tak pernah sedemikian t ak terucapbahasakan. Jingga kelak mata a hari meski berderas hujan, p un purnama kelak rembulan meski bergelap gerhana. Seperti engkau yang sejuk air perigi, duh lelaki kecilku, s eperti engkau yang segar aroma tanah u sai hari hujan. Betapapun hidup ialah pasang tiada surut, b etapapun hidup ialah badai t iada pecah berderai ; y akinkan aku bahwa langit tak tergesa jatuh, ialah bening matamu , y a k inkan aku bahwa bumi belum waktunya b erderak retak. Bukan jarum infus pun pisau bedah, d uh lelaki kecilku, b ukan getir luka pun anyir darah, b ukan kesakitan yang mengiris hatiku tipistipis; t api tangismu, duh lelaki kecilku, a pi membakar hangus hidupku hingga ke tulang. Hidup pernah terdiam di malammalam sunyi, o h lelaki kecilku, ...

Panglipuran #2

Kau mengapung di permulaan semesta s ebelum bintangbintang menyala, s ebelum planet planet muncul  d ari dalam kabut. Kau cabik daging rapuh di tubuhku, ajarkanku t entang ngilu serupa candu. Pernah hendak kucuci bersih engkau dari tubuhku, tapi denyut kardiamu terlanjur menjelma denyut kardiaku, nafasmu terlanjur mengikat nafasku. Kulitku menggemakan irama tubuhmu sebagai rasa sakit, tak sanggup menyambung kembali tulang belulangku yang tak henti kau patahkan. Matamu terik matahari; kau koyak tubuhku dengan jinggamu menghangat puncak kepala pun membakar poripori. Nafasmu tajam ilalang; kau iris nadiku kau benamkan tubuhmu di deras darahku. Tubuhmu wangi bunga perdu; engkau ialah tanah ialah matahari ialah rerumput menggeliat menyobek lubang kulitku. Engkau segumpal darah tumbuh di kulitku; kau potong kau cincang kau kunyah kelenjar tubuhku lamatlamat. Telan aku habiskan aku, kataku, sebelum kutelan kau dalam rahimku. Teringat ...

Panglipuran #3 (Untuk Anakku di Masa Depan)

Nak, kelak ketika tubuhmu tak lagi wangi minyak telon dan bedak bayi, tapi campuran bau keringat, parfum maskulin, dan asap jalanan , ingatkan ibu agar tak pernah jengah mencium keningmu tiap pagi dan malam hari. Kelak ketika kau tak lagi merengek minta susu atau ganti popok, tapi merengek minta motor gede atau uang saku lebih banyak, ingatkan ibu bahwa isi dompet ibu sepenuh cinta di ruang dada. Kelak ketika yang kau tanyakan tak lagi tentang mengapa matahari terbit dari timur pun rembulan berganti rupa tiap malamnya, tapi tentang mengapa engkau lahir tak berayah, ingatkan ibu untuk mendekapmu dan tak memarahimu karena telah bertanya. * * * Akan tiba masanya engkau melukis biru jingga kelabu langitmu sendiri, nak, sedang ibu masih setia menggantung cuaca cerah di jendela. Akan tiba masanya engkau kian gemar mengerat airmata ibu dan mengemasnya dalam botol kaca, nak, sedang ibu masih rajin menyirami luka tiap pagi di pek...

Panglipuran #4 (Atau Kita Sebut Saja Cinta yang Paripurna)

Pada suatu ketika, cinta bukan lagi tentang kencan malammalam atau bercinta diamdiam di pagi buta , bukan lagi tentang saling berkirim puisi tiap pagi atau menghabis malam minggu berdua. Pada suatu ketika, cinta ialah tentang menyisa uang jajan untuk membeli susu formula, pun terbangun dini hari demi mereda tangismu rintikrintik. Cinta bukan lagi perkara kenikmatan bawah perut p un peluk cium yang sengkarut . Cinta ialah bahagia kala menidurkanmu di dada, i alah menghitung jemarimu, p un menghidu nafasmu tiap kali kau terjaga. Pada suatu ketika, c inta bukan lagi sekedar senyumku t erbit di tendanganmu dalam ruang dada, b ukan sekedar irisan melintang di perut, p un sepenuh payudara. Cinta ialah engkau, A , k epadamu aku pulang tanpa perlu rumah. Cinta ialah seluruh engkau, A , s eutuh penuhmu di tiap lingkar semestaku. Karena pada selamanya, A , e ngkau ialah cinta yang paripurna. Bandung, 18 November 20 14

Panglipuran #5

Lelaki memanjat payudara, mencari cinta. Disana ia temukan gua garba. Disana ia berdiam nyaman, menghempas jiwa purbanya, nyalakan perapian dan hangatkan tubuh. Lelaki memanjat payudara, ditanamnya cinta, meneluhku. Lelaki memanjat payudara, membakar cinta, membunuhku. * * * Perempuan terpasung di relung tubuhnya sendiri. Darah menetes di lubang mata dan celah paha. Jantungnya dicincang manusiamanusia tak berkepala, disantap mentahmentah. Perempuan meronta dikoyak luka, ditelanjangi airmata, disetubuhi duka. * * * Lelaki bergelung sunyi di gua garba, menggenapi nyawa. Diterjemahkannya cinta, yang tak hanya darah airmata. Lelaki memanjat payudara, mendaras cinta, merebah nafas, menidurkan airmata. Disana ia temukan rumah, disana ia dirikan pulang. Lelaki memanjat payudara, menyembuh cinta pada perempuan ‘nganga luka. Bandung, 22 November 2014

Kutitipkan Rindu

Kutitipkan rindu pada ibuibu penjaja pagi di sunyian pasar,  kepada kayuh tukang pos pengantar kabar dari rumah ke rumah,  kepada geliat anakanak enggan berangkat sekolah;  barangkali kelak kita saling merindu mencari di ujung hari. Kau tahu, kekasih?  Hidup kian redup seperti langit riau tertutup asap polusi jakarta,  seperti kamar anakanak yang belum sempat kau ganti lampunya.  Hidup kian sempit terhimpit seperti derit dinding rumah kita dan rumah tetangga,  seperti jerit putus asa para artis di televisi yang mencoba menghibur kursi meja pintu jendela. Tapi seredup sesempit entah hidup kita, kekasih,  selalu ada sekenyang nasi pun remah roti untuk menyumpal tangis di sudut mata anakanak kita. Kau boleh bertani berdagang berperang melawan rasa lapar dan kemiskinan,  aku bisa menulis berpuisi mengajar memasak menjerang mimpi dan kehidupan,  sedang anakanak tetap lahap mengudap waktu dalam keriangan ma...

Menanam Airmata

Ajarkan padaku bagaimana kau menanam airmata yang lupa bagaimana caranya ‘tuk berbunga. Waktu ialah tanah yang pantang kerontang, katamu, ditumbuhkannya benih hujan pada keabadian. Ajarkan padaku bagaimana kau menggembur menyubur melankolia karbitan yang membusuk sebelum waktunya berbuah. Kelak bolehkah aku membantumu menuai bahagia yang mungkin saja selamat dari serbuan hama? Jangan berharap pada musim yang penyaru, katamu, menunggu bukanlah bagian dari seni bercocok tanam airmata. Maka musim panen yang kau banggakan itu hanyalah ragu yang meranggas di layu matamu. Hei petani sunyi, tahukah kau bahwa istirah ketika lelah hanya akan membuatmu terbakar gersang di kebun dukamu? Bersiaplah memangkas doadoa yang tumbuh liar di balik capingmu. Tangismu ialah bunyi bagi matahari yang terisak lebat di subur kebunmu. Aku mengerat nyeri di kejauhan, menutup telinga dari teriakan cangkulmu. Ulat dan bulu berpesta di bayang bulu matamu, hujan ber...

Menjelang Waktu Pulang

Ada masanya ketika lidah tak lagi peduli rasa makanan yang tak jelas mana asin mana pahit mana pedas. Manusia makan hanya untuk bertahan hidup; pun manusia berbahagia agar siap bersedih lagi di satuan waktu berikutnya. Toh kau tetap saja mengajakku makan, di suatu kafe murah di tengah riuh kota, mengenang masa muda yang tergesa tergelincir dari jemari kita yang penuh noda tinta dan bilur luka. Ada masanya ketika gelisah tak lagi menyembunyikan diri di balik kaca helm dan senyum palsu. Katakata mengoyak kesedihan di udara, terbentur denting garpu dan gelas berembun. Di luar jendela ada pohon berbunga kuning seperti di halaman Fakultas; di dahannya tergantung mimpimimpi yang tak pernah kita beri nama. Aku pernah punya satu bibit pohon itu, lalu hilang ke mana entah, seperti juga cinta yang enggan kusimpankenang. Di setapak berbatu itu, sayangku, pada malammalam gelap mencari semangkuk kebahagiaan. Telur dadar terlempar jauh dari teflon dan mendarat di permu...

Pada Matamu yang Laut

Matamu: jiwajiwa gelisah yang melaut samudera; kapal tua yang berlayar di malam purnama. Rebahkan biru pucat tubuhmu di tegar karang, labuhkan gemetar lututmu di pelukan pasir pantai. Bibirmu gemetar mengeja rindumu akan rumah dan hangat masakan ibu. Jalan pulang terhampar samar di peta bintang; ciuman kekasih kian memudar di kening. Pulanglah, pelaut, kembali dari pelayaran sejauh tepi semesta. Pulang dan bawalah mimpimimpi yang tak sempat hanyut ke dasar laut. Jakarta, 20 Oktober 2016

Pada Sebuah Perjamuan

Kau berhias bukan untuk ke pesta –ataukah iya? Seperti bedak yang tak pernah cukup tebal untuk sembunyikan bekas airmata atau keriput tubuhmu yang kian renta; seperti parfum yang tak pernah cukup wangi untuk menyamarkan bau busuk dukacita menyeruak dari rongga tergelap di ruang dada; seperti itulah kau akan dipaksa untuk menghadiri pesta demi merayakan kehidupan yang entah. Kau bersulang bukan untuk perayaan –ataukah lelah? Bukankah kenangan seperti lilin terakhir yang padam di meja perjamuan? : padanya segala gempita pesta nyata terasa, padanya kau kehabisan alasan untuk membedakan mana yang anggur sungguhan dan mana yang darah penebusan. Kenangan akan tersisa pada remah terakhir roti perjamuan, lalu lenyap terlupakan dalam hidangan dan perjamuan berikutnya. Tapi kau tak akan sungguhsungguh berpesta hingga kau ucapbahasakan syukurmu akan roti yang satu itu. Seberapa enggan kau mengenangrindukan yang luka, pun menghilanglesapkan yang...