Langsung ke konten utama

Postingan

Kunjungan Tetangga

Kapan terakhir kali kau menemui Kakek? Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa. Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris,...

Pameran

Kau mempercayai reinkarnasi? Jika iya, teruskan pembacaan ini dengan sakral. Seakan-akan kau merupakan bagian dari zat yang terdaur ulang. Sebelum-sebelumnya, kau merupakan zat yang lain, yang terbentuk melalui proses yang sama. Sekarang kau utuh, bukan lagi ragamu yang dulu kala. Dan jika kau tidak percaya, lupakan omong kosongku. Tapi kumohon, lanjutkan pembacaan ini. Udara selalu menggelitik kepekaanku atas apa yang sedang Tuhan putuskan untuk cuaca hari ini. Hujan akan turun rupanya. Meski mendung terlihat semakin samar di kepekatan malam, namun hawa dingin mulai menelusup ke sendi-sendi kerangka. Aku terduduk di ruang gelap bersekat papan. Tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara saat lalu lalang panitia kian kemari menggantungkan bingkai-bingkai kaca. Kebetahan senantiasa menyelimutiku di gedung ini. Padahal jarak pasar cukup jauh, warung-warung amat pelit, dan seringkali aku kelaparan. Tapi di sinilah ruhku seakan dipanggil-panggil. Dirayu-rayu dengan kekuatan tak...

Pojok Utara dan Pohon Kersennya

Lapangan itu cukup luas. Sedikit tersudut di pinggir utara permukiman kami. Tidak diketahui pasti mengapa lapangan itu dibiarkan begitu saja oleh pihak agen real estate . Tetap terbuka, dan sederhana. Tidak seperti lapangan tenis milik perumahan elite seberang yang tertutup pagar setinggi dua kali tinggi orang dewasa. Lapangan itu juga tidak seperti lapangan golf milik hotel bintang lima yang tak jauh dari sini. Jadi, lapangan itu kami beri nama lapangan Pojok Utara . Tanpa gawang serta tanpa tiang untuk mengikat jaring-jaring pembatas voli atau bulutangkis. Di tepian lapangan yang berbatasan langsung dengan desa sebelah, terdapat rimbunan pohon bambu dan semak belukar. Tidak ada yang istimewa dari Lapangan Pojok Utara kecuali sebatang pohon kersennya. Tampak sangat biasa jika pohon kersen itu tumbuh di tepian jalan beraspal atau menyusup di antara ruas bambu. Pohon ini jutsru berdiri kokoh di tengah-tengah, tepat di titik zenith lapangan. Membagi luas lapangan dengan sama persis, ...