Kapan terakhir kali kau menemui Kakek? Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa. Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris,...
Kumpulan karya pendek. Update Tiap Sabtu jam empat sore kalau sedang tidak bad mood