Langsung ke konten utama

Kunjungan Tetangga

Kapan terakhir kali kau menemui Kakek?
Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa.
Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris, rapi di setiap lipitnya dan lem kanji tak pernah meluber menodai sisi yang tak terlipat. Jika diamat-amati koleksi amplopnya, setiap wajah amplop tertera judul sepotong berita. Letaknya selalu di tengah. Berita-berita itu pasti yang ia anggap cukup penting untuk diketahui penerima amplopnya. Siapa pun bisa menerima amplop istimewa itu. Para penggelar pesta hajatan, para peminta sedekah yang sering mengetuk pintu di siang bolong, para bocah saat Idul Fitri, dan untuk para cucunya yang ia lepas untuk terbang.
Aku salah satu cucunya.
Yang lupa kapan terakhir kali pulang.

“Hai, lama tak jumpo,” sapa seorang perempuan berbaju bunga-bunga dengan kerah berenda di depan pintu rumah kontrakanku. Ia pasti melihatku datang, membuka pagar yang tergembok dan menyibak gorden jendela ruang tamu.
Rumah temannya berada persis di seberang rumahku. Ia tinggal di sana sudah cukup lama. Terakhir yang kuingat, saat ia sibuk menyelesaikan tesisnya dan ia harus pindah. “Kosku direnovasi. Biaya sewa kamarnya jadi selangit. Tewaslah aku kalau bertahan di sana terus-menerus,” ujarnya waktu itu sambil tertawa. Ia mengirimiku kue brownies bikinannya yang bentuknya berantakan sekali. Tapi enak. Itu pertama kalinya seorang tetangga repot-repot mengetuk pintu rumahku yang jarang sekali terbuka.
Bahkan, aku tak tahu-menahu nama temannya yang punya rumah di depan rumahku itu.
“Ya, lama sekali. Tiga bulan ini aku sibuk urusan kerja. Mari masuk,” tawarku, segera mengambil kemoceng untuk membersihkan debu yang bertabur di meja dan sofa lapuk.
“Hm, tampak pucat. Kau sedang sakit?”
“Agak flu.”
    “Ibuku baru saja memaketkan rendang. Kau mau?”
“Siapa yang sanggup menolak rendang otentik dari Padang? Ah, tapi aku tak punya nasi. Tunggulah sebentar.”
    Aku sengaja menakar beras banyak-banyak dengan air yang cukup banyak. Menanak nasi dengan ukuran mejikkom kecil diperlukan waktu sekitar setenagh jam. Aku tengah ingin bercakap-cakap dengan tetangga.
Tetapi justru selanjutnya, kami kerja bakti bersama. Ia mengusulkan sembari menunggu nasi matang, alangkah produktifnya jika diselingi bersih-bersih rumah. Aku langsung sepakat. Ia relawan yang sungguh peka dan cekatan.
“Aku melihat jendela kamarmu terbuka saat Pak Pos mengantar paketku barusan. Dari kemarin aku tidak sempat keluar rumah. Aku takut kalau aku pergi, Pak Pos datang dan rendangku tertahan lagi di kantor pos. Padahal aku rindu sekali rendang Mamak. Kemarin, saat Idul Adha, aku gagal memasak dendeng balado. Dagingnya masih keras dan gasnya keburu habis. Oh ya, jatah dagingmu dari masjid kompleks aku makan, deh.”
Percakapan kami mengembang, menghidupi ruang-ruang yang lama tak kuakrabi, mengisi sudut-sudut rumah yang termangu sendu. Ia menghangatkan rendang sementara aku mengepel lantai. Diam-diam kulirik wajahnya saat membasuh lap pel. Matanya berkaca-kaca. Ia bercerita bahwa ibunya sempat bertengkar dengan bapaknya perihal memaketkan rendang.
“Kata Bapak, nggak usahlah, Saidah sudah dapat daging di sana. Apa urusanmu? Kata Mamak. Yang masak aku, yang ngirim aku, biaya ngirim pakai uangku. Anakku lamo tidak makan rendang.”
Saidah menirukan cerita ibunya saat menelepon. Rendang dua kilo dibungkus plastik dan dimasukkan dalam bekas kotak sepatu. Di sisi dalam tutupnya terdapat gambar hati yang tertusuk panah dan tulisan “Anda Puas, Kami senang”. Aku tertawa saat Saidah merasa menyesal tidak meminta ibunya menyelipkan sepucuk surat di sana. Katanya, untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.
Ia merasa ibunya begitu baik masih sempat memasak rendang demi pertalian kultural antara ibu dan anak. Ibunya rela menembus asap yang menyesakkan Kota Padang untuk sekadar mengomel kepada pihak pos karena paket rendang untuk putri semata wayangnya tak kunjung sampai. Aku menanyakan apakah kampungnya terpapar asap pembakaran lahan-lahan kebun sawit. Ia segera mengiyakan dan mengomel bahwa kukungan asap membuat adiknya tak dapat bersekolah dan keponakannya mengalami gangguan pernapasan hingga dilarikan ke rumah sakit.
Kami pun makan berdua dengan khidmat. Nasi putih hangat dengan rendang adalah menu makan siang paling sempurna hari ini. Bongkahan rendang kering yang menghitam ini membuatku secara tulus berterimakasih pada Ibrahim dan Ismail yang menciptakan momen perayaan hari raya kurban. Kata Saidah, Ibunya menyimpan daging kurban khusus dirinya. Dan percakapan terus bergulir, menggelinding ke wilayah-wilayah yang sedang tak ingin kudengar.
“Minggu lalu aku baru saja dari Selok Awar-Awar,” ungkap Saidah. Ia seolah tahu, kami berdua akan kehilangan nafsu makan jika ia membuka topik pembantaian aktivis saat mejikkom mulai bergolak. Aku melangkah ke bak cuci piring. Saidah mengekor di belakang.
Kami terdiam. Hanya suara air kran yang terus mengeluarkan pendapatnya.
“Bagaimana keadaan anak-anak di sana?” tanyaku akhirnya, ketika tak ada lagi pecah belah yang harus kucuci.
“Aku sulit memilih kata yang tepat. Dan aku tak yakin therapy healing yang kulakukan punya efek yang berarti.”
Punggungnya bersandar pada kusen pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah. Sedang aku duduk di dingklik plastik, mendengar sambil membersihkan kompor dari kerak-kerak yang menghitam.
“Aku seperti terdampar pada satu tempat di mana orang-orang sakit jiwa melukai ingatan kolektif warga yang sangat lemah. Kepala desa itu masih satu buyut dengan Salim.  Preman-preman itu masih satu desa dengan Salim dan Tosan. Tidak sedikit. Puluhan. Dan puluhan itu tidak merasa menjadi penjahat saat sudah membantai tetangganya sendiri di depan anak-anak dan ibu-ibu. Dan perangkat desa tak berani keluar kantor padahal ada warga yang disiksa dalam balai desa. Dan mobil polisi tetap melintas saat ada segerombolan orang menangkap warga.
Puluhan preman ini punya anak dan istri juga. Sekarang anak-anaknya tak mau sekolah. Istri-istri menangis tiap malam. Wartawan terus berdatangan dengan pertanyaan yang diulang-ulang. Sementara diam-diam, kemiskinan masih terus mencekik mereka, masih banyak yang berhutang beras di warung, masih banyak yang buta huruf dan anak putus sekolah.  Selama empat hari di sana aku terus-menerus bertannya dalam hati, apa yang membuat preman-preman itu menjadi sangat keji? Kemiskinankah? Tingkat pendidikan yang rendahkah? Mereka mungkin dibayar kepala desa, dan kepala desa dibayar perusahaan tambang. Tapi kejahatan yang paling mengerikan dari kasus ini, mereka tidak berpikir bahwa mereka keji atas kebrutalan mereka. Kau tahu, aku berpikir bahwa kekejian ini berasal dari ketidakmampuan negara mengurusi rakyatnya hingga perlahan gangguan mental itu meledak meminta korban.”
Kali ini selaput kekaca pada sepasang matanya pecah. Terburai, seperti bendungan yang tak kuasa lagi menampung air. Serpihan kesedihannya menusuk persendianku. Aku tak berkomentar apa pun. Aku hanya bisa memberikan sedikit ruang baginya untuk berbagi keresahan atas kemelut yang baru saja ia cecap. Tak lebih dari itu. Meski demikian aku sempat terkejut melihat bibirnya bergetar saat mengungkapkan pikirannya. Baru kali ini kudapati Saidah, seorang mantan mahasiswi kriminologi dan psikologi klinis, yang lebih sering menampilkan wajah riang dan polos, memperlihatkan kerapuhannya.
“Menurutmu, Anak Salim akan menjadi aktivis kelak?”
“Mungkin. Sama halnya anak Wiji Thukul melalui lagu-lagu mereka dan mungkin pula anak Munir juga akan meneruskan jejak ayahnya.”
“Aku lega mendengarnya. Tak ada pengorbanan yang sia-sia bukan?”
“Tiada.”

Saidah kembali ke rumah temannya sambil mendekap kotak sepatu berisi sisa rendang erat-erat. Seolah kerinduan pada kampungnya dapat teratasi dengan cara demikian. Ia meninggalkanku sendirian dengan sepucuk amplop dari bekas halaman suratkabar. Ia bilang Pak Pos menitipkan padanya tiga hari yang lalu. Ia bertanya-tanya apa isinya, karena tampak sangat misterius. Aku tidak menyanggupi untuk membukanya di depan Saidah.
Bagiku, jika isi amplop ini adalah kabar buruk, maka aku harus menelannya sendiri, dan tak akan membuat gumpalan mendung di atas alis mata Saidah bertambah tebal. Perlu kututup jendela kamar yang berada persis sejajar dengan meja belajar. Cahaya sore menciptakan lorong panjang berisi tarian debu dan partikel yang melayang menembus tirai. Mengantarku ke dalam keheningan total. Mengantarkanku pada ruas Sungai Katingan yang airnya mengalir deras.
Sudah sekian lama aku tidak menerima amplop bekas suratkabar. Sejak mata kakek berkabut dan tiada sanggup mengukir aksara dengan pena. Sudah sekian lama pula aku tak melihatnya. Sejak ia berpesan padaku, “Jadilah kau rengan tingang nyanak jata.” Aku meresapinya sebagai petuah untuk mengabdikan diri pada kemanusiaan. Dan sebelum itu selesai, “Janganlah kembali untuk menjadi kambe yang tak punya alamat pulang”.
Mungkin tak akan pernah selesai.
Rongga dadaku disesaki gelombang yang tak dapat kudefinisikan dan kuketahui dari mana asalnya. Kudapati selembar foto depan rumah kami di dalam amplop bekas suratkabar. Hanya foto, tanpa surat. Foto itu menyajikan pemandangan buram, seperti diambil pada waktu subuh. Foto itu seolah diambil dari mata kakek. Rumah tetangga dan pepohonan tampak samar membayang. Foto itu hanya bertuliskan,
Kapan terakhir kali kau menemui Kakek?
Di balik amplop, ditimpa sesobek kertas nama dan nomor kontak pengirim tertera. Kusumawati. Adikku yang telah menjadi PNS di Katingan yang mengirimi foto itu. Sejak nomorku tidak aktif dan tidak pernah berlama-lama di suatu tempat, kampung halamanku menyusut. Raib, tertumpuk dalam jutaan memori yang bertambah saban hari.
Aku sedang menimbang untuk menghubungi nomor Kusuma. Matahari sudah tergelincir ke barat. Tidak ada tanda-tanda seorang tetangga mengetuk pintuku, memintaku menyalakan lampu teras. Apakah foto itu pertanda Kakek sedang sakit? Apakah aku harus segera pulang? Apa yang diharapkan Kakek saat aku pulang hanya membawa kabar-kabar buruk? Apa sudah saatnya kembali terbang menuju sarang yang sebentar lagi terbakar?
Tiba-tiba sebuah nomor tak dikenal masuk.
Refleks kuterima.
“Halo? Kau baik-baik saja? Kau tak dapat terus-menerus menutupi kondisimu dariku. Pulanglah. Akan kuurus jatah kerjamu besok di Jambi.”
Suaraku tertahan. Kekaca di mataku pecah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...