Langsung ke konten utama

Pojok Utara dan Pohon Kersennya

Lapangan itu cukup luas. Sedikit tersudut di pinggir utara permukiman kami. Tidak diketahui pasti mengapa lapangan itu dibiarkan begitu saja oleh pihak agen real estate. Tetap terbuka, dan sederhana. Tidak seperti lapangan tenis milik perumahan elite seberang yang tertutup pagar setinggi dua kali tinggi orang dewasa. Lapangan itu juga tidak seperti lapangan golf milik hotel bintang lima yang tak jauh dari sini.
Jadi, lapangan itu kami beri nama lapangan Pojok Utara. Tanpa gawang serta tanpa tiang untuk mengikat jaring-jaring pembatas voli atau bulutangkis. Di tepian lapangan yang berbatasan langsung dengan desa sebelah, terdapat rimbunan pohon bambu dan semak belukar. Tidak ada yang istimewa dari Lapangan Pojok Utara kecuali sebatang pohon kersennya. Tampak sangat biasa jika pohon kersen itu tumbuh di tepian jalan beraspal atau menyusup di antara ruas bambu. Pohon ini jutsru berdiri kokoh di tengah-tengah, tepat di titik zenith lapangan. Membagi luas lapangan dengan sama persis, separoh-separoh. Seolah pohon ini didesain khusus—ditanam maksudku—di lokasi strategis.
Sehingga lucunya, kami—aku dan teman-temanku—sering bermain sepak bola dengan melintasi sebatang pohon. Tidak, tidak menganggu pandangan maupun tendangan kok. Batang pohon kersen kurus, ramping, tidak sekekar beringin. Hanya terkadang daun-daunnya yang kering dan buah kersen yang berjatuhan mengotori lapangan.
“Oi Rehaan! Main bola, yok!” Itu seruan si Jambul Jago, tetangga sebayaku. Maka kami bergegas pergi sekitar pukul empat sore, dan mendapati teman-teman yang lain tengah berkumpul. Bersiap berpecah menjadi dua tim.
“Oi Rehaaan! Main layangan yuk!” Itu seruan Ebas, si ahli desain layang-layang. Saat angin mulai bertiup kencang beberapa siang terakhir, kami bergegas mengunjungi Pojok Utara. Ebas selalu berbaik hati membuatkanku satu layangan berekor panjang. Hasil kerajinannya sangat halus. Betapa senangnya kami saat itu. Bermain layangan tanpa takut terganggu tiang listrik atau pun jarak pandang yang sempit.
“Rehan, aku punya rencana seru!” mata Gunawan membulat, berbinar-binar semangat, teman sebangkuku.
“Apa Gun? Pistol airku kemarin rusak. Nggak bisa lagi kita main perang air,”  sahutku.
“Alaah, lupakan perang air. Yang ini lebih mendebarkan, Man. Are you gentle?” alis Gunawan naik turun.
Aku melengos. Gunawan terkenal sebagai bandar mainan. Dia terkadang terlalu bersemangat mengajak teman-temannya bermain. Pernah suatu ketika dia dibelikan satu set perlengkapan polisi. Yang benar saja, aku dan Jambul Jago disuruhnya berlakon menjadi preman, sedangkan dia polisinya. Skenario pun telah dirancang. Jadi kami harus menculik kucing persia mama Gunawan yang menawan, lalu dia akan mengejar kami dan memborgol kami.
“Main hantu-hantuan maksudmu? Aku males jadi pocong. Apalagi kamu jadi ustadznya,” komentarku masih apatis.
“Nggaklah. Ceritanya nih, pamanku dari Semarang kemarin datang, bawa tenda mini lengkap dengan lampu dan kantong tidurnya.”
“Waow!” kami yang saat itu masih kelas 4 SD selalu merasa kagum dengan gaya petualang pecinta alam.
“Tapi masangnya nggak ribet kan? Aku malas kalo tendanya kaya’ punya sekolah. Pasaknya banyak, terus mati gaya deh kalo tendanya doyong gara-gara simpul talinya nggak bener,” lagi-lagi aku masih merespon negatif.
“Tenang aja, ini tenda lengkap dengan sertifikat standar internasional untuk keamanan anak-anak,” jelas Gunawan lagi. “Sabtu malam di Pojok Utara gimana?” ajaknya, menantang.
***
Ya. Selain pagi, siang, dan sore, nyatanya lapangan Pojok Utara pun kami sambangi kala malam hari. Berbekal tenda baru, kami nekat menginap di bawah pohon kersen. Kami rasa posisi inilah yang aman. Tidak di dekat jalan beraspal maupun di tepi semak belukar. Ebas membuat api unggun, Jambul Jago membawa sekresek jagung dan pisang, sedangkan aku membawa selimut serta tikar. Malam yang semakin larut pun kami habiskan memandangi sepetak langit bertabur bintang sambil taruhan apa malam itu ada UFO yang melintasi kami.
“Bangun! Heeh!! Bangun! Ngeri!”
Goncangan dan suara teriakan nyaring membuatku terjaga gelagapan. “Ada apa? Ada gempa?” responku refleks, panik. Jambul Jago dan Ebas pun juga tak karuan ekspresinya.
“Ada hantu!” seru Gunawan menyeramkan sekaligus antusias. Matanya mendelik meyakinkan.
“Hantu? Subuh-subuh gini?” Ebas bertanya tak percaya.
“Sumpah! Tadi aku lihat. Ceritanya.. aku kebelet pipis tadi. Terus aku mutusin pipis di balik bambu-bambu, mumpung sepi. Pas aku intip ke arah kalian, aku lihat ada sosok kakek-kakek berbaju putih panjang deket tendaku. Dia ngamatin kalian tidur.. hiiii..!” Gunawan mengakhiri ceritanya sambil bergidik.
Kami yang mendengarnya pun saling pandang. Antara tidak percaya dan percaya. Gunawan selalu suka menceritakan imajinasinya sendiri, yang terkadang tidak masuk akal. Tapi suasana subuh itu memang berbeda. Hawa dingin menggelitik tengkuk kami. Tanpa banyak pertimbangan kami pun lari ke rumah masing masing, mengangkut barang-barang yang sekenanya terangkut. Masih pukul lima, kami lari terbirit-birit, melintasi tukang sayur yang terkagum kagum oleh giatnya kami berolahraga di Minggu pagi buta.
Cerita tentang penunggu Pojok Utara tiba-tiba saja beredar luas, santer terdengar. Apalagi di tambah kesaksian Wak Kasimin, penjual es cendol keliling. Dia menuturkan bahwa saat dia masih kecil, pohon kersen tengah lapangan belumlah ada. Pada suatu malam yang sunyi, tepat Jumat Kliwon, tidak sengaja Kasimin muda melintasi Lapangan Pojok Utara, dan mendapati sosok berpakaian hitam-hitam menggali tanah.
“Sesungguhnya itu pembunuh yang mengubur jasad bapaknya tepat di tengah lapangan!” Wak Kasimin terus mendongengi kami tentang asal usul hantu Pojok Utara.
“Hoaaaah..!” kami terbelalak, menyimak sambil menyeruput es cendol masing-masing.
“Karena Sang Bapak seorang yang berhati suci, maka tumbuhlah pohon kersen dalam waktu semalam saja.. jadi yang dilihat Gunawan Cs memang bapak malang itu. Dia menunggu anaknya datang lagi untuk balas dendam. Arwahnya gentayangan, berdiam tepat di pohon kersen itu. Waspadalah Bocah! Sudah ada korban kemarin. Si Wawan anak Haji Amat, dia hanya bermain kelereng di bawah pohon, tahu-tahu saat pulang tangan kanannya patah,” ungkap Wak Kasimin, meyakinkan kami dengan sungguh sungguh.
Alhasil, tidak ada satu pun lagi anak di perumahan kami yang berani main di Pojok Utara, bahkan meski saat musim buah kersen. Dan alhasil pula, dagangan Wak Kasimin laris manis.
***
Masa SMP berlalu begitu cepat. Maksudku, sama seperti masa puber yang tiba-tiba saja membuat jakunku menonjol dan suaraku berubah aneh, masa putih biru ini terlewati begitu saja. Tidak ada lagi cerita tentang Pojok Utara. Aku dan teman-teman telah kapok bermain kesana. Tetapi jika dipikir-pikir, sebenarnya bukan cerita hantulah penyebab kami tak loyal lagi pada lapangan itu. Inilah penyebab logisnya:
  1. Aku terlalu sibuk dengan tugas sekolah. Ditambah lagi, Ibu mendaftarkanku di bimbingan belajar bergengsi di kota kami.
  2. Gunawan pun demikian, sibuk bermain. Yeah, setelah masa kecilnya dipenuhi dengan mainan “hardware” kini ia naik level memainkan berbagai software game. Terpaan play station membuat dia terduduk kronis di depan layar televisi tiap hari.
  3. Sedangkan Ebas benar-benar mantap dengan bakatnya sebagai titisan pengrajin. Pakdenya yang membuka usaha kerajinan rotan pun memperkerjakannya sebagai karyawan tetap.
  4. Ah ya, agak malang jika berbicara soal si Jambul Jago. Dia masih sibuk mencari jati dirinya sendiri. Keluar masuk geng tanpa kepastian dan komitmen yang jelas.
Mengenai pohon kersen? Beberapa penduduk di sekitarnya mulai sering membuang sampah di pojokan bambu-bambu dan membakarnya di kala sore hari. Itu saja. Tanpa dihiasi keceriaan dan tawa anak-anak.
***
Sore ini, sosok Arum Dewi terus membayang di pelupuk mata. Tepat sepulang sekolah aku menyatakan cinta. Ditolak. Sakit hati memang. Maksudku, aku cukup punya kepercayaan diri untuk menembaknya. Aku bintang kelas, siswa teladan sekabupaten, dan kandidat ketua OSIS tahun ini. Kurang apa coba?
Aku memandang lesu bunga mawar di halaman depan rumah.
“Haan! Gawat Haan! Gawat!” suara melengking tiba-tiba memecah keterpurukanku. Si Jambul Jago nongol dengan muka pucat pias.
“Apaan?”
“Hoh! Suer Mak, ini gawat darurat!” wajah Jambul Jago kini memerah, kehabisan napas.
“Tenang dulu, ada apaan sih?” tanyaku, penasaran. Sudah lama sekali rasanya si Jambul Jago tidak bertandang ke rumahku.
“Tawuran! Antar SMA-ku dan SMA desa sebelah!”
“Oh, tawuran. Terus? Eh, ngomong-ngomong mana jambulmu? Kok jadi gundul sekarang?”
“Bukan saatnya! Maksudku, hadooh Mak, aku kena gundul guruku. Maksudku tawurannya di Pojok Utara!”
“Terus...?” tanyaku menggantung. Entah mengapa tiba-tiba aku tak tahu ekspresi apa yang musti kupasang.
“Alamaaaak! Rehan!” Jambul Jago yang sekarang gundul mencengkeram pundakku keras-keras.
“Itu Pojok Utara! Lapangan kita! Masa kecil kita! Kalo’ ada pertumpahan darah bisa ditutup polisi! Kamu mau?!”
Wajahku pun memias seketika. Tanpa banyak pertimbangan kami segera berlari ke rumah Gunawan, memanggilnya untuk ikut bersama kami ke Pojok Utara. “Gun pasti lagi asik main PS! Kita seret saja dia!” usulku cepat.
“Gun nggak di rumah, dia di warnet game online. Kecanduan Warcraft!” bantah Jambul Jago. Kami pun berlari ke lokasi yang dimaksud. Benar saja, dengan kantong mata menghitam tebal, Gun duduk di depan LCD.
“Ayo cepat! Pojok Utara diserbu Bar-Bar!” seruku lantang meningkahi suara gaduh para mania game.
“Apa Men?! Diserbu? Siapa heh yang berani ngerusak tempatku nembak Wulan?” Gunawan langsung berpaling dari perang-perangan maya.
“Hah? Kamu nembak Wulan kapan?!” tanya Jambul Jago dengan nada panik luar biasa.
“Kelas tiga SD dulu di bawah pohon Kersen!”
“Edan!” maki Jambul Jago. Maklum, dia tengah pendekatan dengan si Wulan sekarang.
Lalu kami bertiga bergegas ke toko rotan milik Pakde Ebas. Berharap Ebas sedang memilin dengan anggun rotan sintesis untuk dianyam menjadi kursi cafe yang cantik.
“Ebas, ayo ikut!!!” teriak kami heboh.
Anak budiman itu melongo.  
Dengan cepat aku menjelaskan perkara yang terjadi. Seketika wajah Ebas merah padam. “Semprul! Bisa-bisanya mereka merusak tempat pameran layang-layangku. Habis ini aku akna jadi seniman terkenal. Situs bersejarah itu akan hilang! Ayo naik motorku kesana!”
Aku, Jambul Jago dan Gunawan ganti melongo. Takjub.
Entah bagaimana caranya kami berempat bisa berboncengan naik motor bebek. Sepanjang jalan, kami terus meneriakkan ketidakrelaan kami. Dengan tangan kosong kami mendatangi dua kubu yang bertawur. Benar saja, tawuran itu cukup hebat. Perang ala anak muda yang labil mampu memporak-porandakan Pojok Utara.
Kami datang lalu terpaku. Tak satu pun anak berseragam abu-abu tampak di sana. Mereka telah kabur. Perang telah usai. Yang tersisa hanyalah pohon kersen, yang entah bagaimana mulanya, kini terbakar. Habis setengah batang dilalap api.
Muntingia calabura.. tamat,” Jambul Jago menelan ludah, memecah kesenyapan di antara kami berempat. Entah bagaimana pula, ia bisa menyebutkan nama latin pohon kersen di tengah kepiluan yang menghinggapi kami tiba-tiba.
“Tempat kita belajar sepeda bareng, main bola sampai ujan-ujanan, layangan, kemah-kemahan.. hantu-hantuan,” suara Ebas tercekat, tawanya dipaksa untuk menutupi suaranya yang berangsur-angsur serak. “Hahaha.. bahkan bertukar nilai ulangan di atas pohon kersen.”
Aku pun terpaksa ikut tertawa, miris. Semua kenangan itu tiba-tiba seolah diputar ulang, dan sakit hati yang mendalam teramat nyata. Lebih perih faktanya, daripada ditolak Arum Dewi.
Hening. Kami masih terpaku di tempat masing-masing.
Tiba-tiba, Gunawan melangkah maju menuju tengah lapangan. “Kalian tahu? Aku menyimpan satu kotak penuh kelereng kita, surat cintaku, koin mainan, borgol plastik, dan foto-foto masa kecil kita di bawah pohon itu,” serunya, membuka rahasia. “Niatnya sih, aku buka pas kita udah punya anak.”
Jambul Jago, aku, dan Ebas pun terbengong-bengong ria
***
Benar saja, tawuran tersebut memakan korban selain sebatang pohon kersen yang tak berdosa. Seorang siswa kelas dua SMA dikabarkan koma di rumah sakit. Polisi yang mengusut perkara ini pun mulai menangkapi para siswa yang diduga ikut tawuran. Kabarnya, terdapat lebih dari 50 anak yang andil dalam perang antar sekolah ini. Media pun gencar memberitakannya. Warga kota sibuk membicarakannya.
“Kamu tahu, lapangan itu punya kakekku..”
Suara itu tiba-tiba saja menyihirku dari belakang. Aku sedang membaca koran lokal tentang sanksi untuk para pelaku tawuran. Aku menoleh, terkesiap. Arum Dewi mengambil duduk di sampingku.
“Kemarin, aku baca kolom opini. Kamu kan yang menulis feature berjudul Pohon Kersen dan Kenangan Kami? Tulisanmu bagus,” komentar Arum sambil tersenyum tulus.
“Kamu serius Pojok Utara punya kakekmu?” tanyaku berusaha mengabaikan pujiannya.
“Ya, namanya Wak Amir. Aku geli juga sebenarnya. Cerita horor yang katanya pohon kersen itu angker, bohong banget deh. Beliau yang nanam pohon kersen malam-malam dua puluh tahun yang lalu. Beliau juga yang nengokin kamu dan teman-temanmu di pagi buta waktu kalian berkemah. Itu kalian masih SD kan?”
Aku melongo dibuatnya. Belum sempat aku bersuara untuk merespon segala informasi-penyingkapan-tabir-misteri ini, dengan cepat Arum membagi semua yang ia ketahui tentang tanah laris tersebut.
“Kakek selalu berlebihan kalau mikirin tanah yang bakal dia warisin ke lima anaknya. Kakek takut jika dibagi kelak akan menimbulkan sengketa. Ayahku usul, tanahnya buat masjid waqaf saja, tapi ditolaknya. Kata kakek, ntar hari kiamat banyak masjid bagus tapi nggak ada jamaahnya. Pamanku usul buat yayasan, ditolak juga, katanya, takut pengurusnya korupsi. Terus bibiku usul gimana kalau dibuat taman dengan bunga-bunga yang indah, kakek juga nolak tuh. Beliau sering sekali bercerita tentang sekawanan anak yang suka main bola dan layangan disitu.”
“Lalu, gimana nasib Pojok Utara sekarang?”
Gadis berambut ikal itu terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu, “entahlah, yang jelas lapangan itu sekarang masih dikelilingi pita kuning polisi. Tapi tenang, itu sementara kok,” hiburnya, sambil beranjak pergi.
***

Tidak ada menyangka, seminggu sesudah Arum Dewi menghampiriku di kantin, lapangan tersebut tetap menjadi sepetak tanah kering. Bekas pohon kersen yang terbakar pun ditanami sebatang kecil pohon kamboja. Di samping pohon yang masih setinggi satu meter itu terdapat sebuah gundukan tanah merah bertabur bunga. Tampak menyolok bagi siapa pun yang kini melintasi Pojok Utara. Hanya saja, jika telah membaca plang kayu yang didirikan, setiap orang pun akan memahami ketidakwajaran tersebut.

TANAH INI RESMI MENJADI MAKAM KELUARGA BESAR AMIR SOBIRIN.
ALM. WAK AMIR TELAH BERWASIAT:
“DEMIKIAN KARENA MEMPERTIMBANGKAN TANAH YANG SEMAKIN MAHAL DAN TERBATAS DI DUNIA INI. OLEH KARENA ITU, KEPUTUSAN YANG PALING TEPAT ADALAH MENJADIKAN POJOK UTARA SEBAGAI MAKAM UNTUK KEPENTINGAN AKHIRAT

Aku tercenung saat melintasinya. Tiba-tiba terpikir olehku, mendaftar melalui Arum Dewi, memesan kavling tanah. Seharusnya berhak bukan? kenangan masa kecilku pun terkubur pula di sini.      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...