Langsung ke konten utama

Pameran



Kau mempercayai reinkarnasi? Jika iya, teruskan pembacaan ini dengan sakral. Seakan-akan kau merupakan bagian dari zat yang terdaur ulang. Sebelum-sebelumnya, kau merupakan zat yang lain, yang terbentuk melalui proses yang sama. Sekarang kau utuh, bukan lagi ragamu yang dulu kala. Dan jika kau tidak percaya, lupakan omong kosongku. Tapi kumohon, lanjutkan pembacaan ini.

Udara selalu menggelitik kepekaanku atas apa yang sedang Tuhan putuskan untuk cuaca hari ini. Hujan akan turun rupanya. Meski mendung terlihat semakin samar di kepekatan malam, namun hawa dingin mulai menelusup ke sendi-sendi kerangka. Aku terduduk di ruang gelap bersekat papan. Tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara saat lalu lalang panitia kian kemari menggantungkan bingkai-bingkai kaca.
Kebetahan senantiasa menyelimutiku di gedung ini. Padahal jarak pasar cukup jauh, warung-warung amat pelit, dan seringkali aku kelaparan. Tapi di sinilah ruhku seakan dipanggil-panggil. Dirayu-rayu dengan kekuatan tak kasat mata. Dan aku selalu terbujuk. Selalu dan selalu menapaki ubin-ubin persegi bersama ratusan pasang sepatu yang hilir mudik tiada henti.
Aku tidak terjebak sebenarnya dalam kudapan ala kadarnya yang disajikan secara cuma-cuma di sini. Kalau bukan gorengan atau rebusan umbi-umbian, ya, kue dadar gulung. Malam ini pun, bubur manis, potongan bolu, air mineral—tentu saja—lengkap dengan dua termos teh panas dihidangkan. Para pengunjung menyerbu, tanpa basa basi. Mereka menyantap sambil menunggu acara dibuka. Beberapa di antaranya terlihat serius membolak-balik katalog, sambil lalu menyesap teh.
“Kita kehabisan.. panitia mencetaknya terbatas,” seorang pengunjung berpakaian kelabu mengangkat bahu. Seorang di sampingnya, berwajah tirus, nyengir bersalah, “maaf, kita datang terlambat jadinya..”
Seperti biasa, pameran resmi dibuka saat beberapa sambutan telah dibawakan, dan alunan musik telah mengiringi barisan lirik. Kemudian aku menyelinap di antara para hadirin yang menyeruak melalui pintu utama. Kerumunan di depan gedung semakin menyusut, mereka berpencar ke berbagai sudut di dalam. Berdiri, sedikit mendongak, mendekat, memotret, dan sesekali nekat menyentuh bahkan meraba lukisan.
Tembok-tembok bisu. Sekat-sekat putih itu mencoba pasrah, saat berbagai rupa rasa menempel menutupi kepolosan mereka. Orang-orang mondar-mandir. Dengungan komentar meningkahi suara penyanyi yang terabaikan di latar depan gedung. Antara keingintahuan, kagum, dan ketidakmengertian, bercampur dalam ekspresi-ekspresi yang sulit kutebak. Kecuali mereka akhirnya bersuara.
“Teknik arsiran? Benarkah? Bagaimana bisa? Maksudku ini seperti digital print di media kanvas. Terlalu simetris garis-garisnya,” gadis berbaju kelabu berdiri di depan lukisan hitam putih yang menampilkan sepasang kaki dan putung rokok tak beraturan. Temannya, pemuda berwajah tirus, mulai menjelaskan panjang lebar.
Sepertinya, pemuda berwajah tirus itu pelukis.
Aku paling suka memandang ruangan utama gedung ini secara keseluruhan. Menyapu sekilas dari sudut sudutnya, dan memandang lama lalu lalang punggung-punggung berjalan ini. Puluhan kanvas berjejer misterius. Ya, aku sebut demikian, karena semakin abstrak seni rupa, semakin seniman menunjukkan kuasanya sebagai pencipta rahasia tersirat. Namun malam ini, puluhan cerita pendek berbingkai pun turut bersebelahan di sisi kanvas-kanvas.  Mereka dikotakkan pigura kaca, nampak mati suri bersama luapan kata. Dan buluku merinding dibuatnya.
“Aku sudah pernah baca cerpen yang ini. Favoritku. Ceritanya mengena sekali. Sederhana, namun penutupnya menakjubkan,” suara gadis itu lagi terdengar sayup-sayup.
“Ah, aku tak terlalu sering membaca cerpen di koran. Hm, kamu pernah mengirim cerpenmu juga ke harian nasional?” sang wajah tirus bertanya.
Sepertinya, gadis kelabu itu penulis.
Aku terpekur beberapa saat. Menyadari bahwa dua tamu ini sedari tadi tak luput dari pendengaranku. Penulis, pelukis, penulis, pelukis, penulis, pelukis, penulis, pelukis. Aku terus bergumam dalam hati, menyerupai ritme berdzikir. Seolah-olah mereka berdua menjampi-jampi agar aku terbius oleh  kasak kusuk mereka.
Mataku terpejam sejenak, menghalau gumaman yang terus berdengung di otakku. Apa dahulu aku seorang penulis sekaligus pelukis? Tiba-tiba, seperti menemukan kunci untuk membuka pintu keluar—untuk pulang—aku paham mengapa aku sangat menyukai gedung ini. Karena aku penulis! Sekaligus pelukis!
Maka, rumahku adalah gedung seni!
Aku serasa ingin melonjak-lonjak kegirangan. Menemukan jati diri adalah hal terbaik di kala takdir reinkarnasi mulai membosankan. Lantas dua pengunjung tadi, penulis kelabu dan pelukis tirus tentulah orang yang pernah sangat berpengaruh pada hidupku sebelum ini. Kalau tidak? Bagaimana bisa udara membantuku memahami kicauan mereka berdua?
Aku ingin menyapa mereka, jadi aku akan berjalan menghampirinya, namun—
“Semoga kelak cerpenku dimuat juga, dibaca jutaan orang di negeri ini, lalu dibukukan oleh pihak redaksi, dan akan bersanding pula dengan ilustrasinya di gedung seni,” sang penulis kelabu mengerjapkan mata. Ia berusaha menahan kepedihannya. Menutupi kepahitan dengan tertawa. “Tapi, hei, bisakah kau tebak, berapa banyak orang seperti kita yang hadir di sini? Mungkin hampir semuanya adalah penulis dan pelukis yang sudah lama memendam harapan agar menjadi salah satu dari bingkai dan kanvas di sini.”
Sang pelukis tirus tersenyum tipis, “tapi tidak banyak yang terpaksa cuti kuliah hanya gara-gara keberuntungan finansial belum menghendaki karya kita.”
 “Ah, satir. Belum rejekimu,” timpal si penulis, sambil menepuk bahu kawannya.
—aku tertahan untuk bersuara, tertahan untuk mencolek keduanya. aku menoleh ke kanan ke kiri. Jika benar yaang dikatakan gadis kelabu itu, apa mungkin aku seorang di antaranya yang memendam harapan? Yang juga dulunya mengalami kesusahan finansial karena terus berjalan di atas obsesi yang ada?
“Kau memang seperti itu kawan!”
Aku terlonjak, kaget! Sebuah lukisan mata yang menangis—satu bola mata saja—tiba-tiba nyaring mencetuskan pendapatnya.
“Kau adalah pelukis payah. Ilustrator bodoh yang terlalu banyak merenung hingga pihak redaksi membatalkan pesanan ilustrasinya padamu. Lihat aku! Aku digambar dari ampas kopi untuk cerpen berjudul Kenangan Terakhir di Angkringan. Dari pelukis saingan beratmu!”
Aku tersentak, sebuah kanvas bergambar abstrak –entah apa—melengking.
“Hahaha.. lihat aku! Aku cerpen ketiga ratus kalinya sampai akhirnya terpajang anggun!” bingkai cerpen Gagalnya Kudeta ikut riuh.
“Oh, kau terlalu sibuk memikirkan otak penikmat karyamu. Sedang aku tak perlu ambil pusing, cerpenku meraih penghargaan terbaik. Hebat bukan? Meski menuai banyak pula kekecewaan pembaca setia sastra. Toh, editor memujaku!” giliran cerpen Tapal Kayu unjuk vokal.
Keadaan bertambah ricuh. Masing-masing karya hidup untuk berteriak, antara mencemooh dan membanggakan dirinya habis-habisan. Mereka adu mulut jika bisa dibilang mereka mendadak dianugrahi mulut. Mereka bilang aku hanya seorang yang berlagak sok tahu seni. Mereka vonis aku tidak bermutu. Mereka sepakat jika aku seorang pecundang. Dan mereka pun menghardikku, untuk enyah dari ruangan ini.
Lukisan jam dinding memutar jarumnya cepat, gambar lokomotif meraung-raung, suara lukisan boneka bayi merengek, wanita-wanita cantik dalam kanvas besar menjerit-jerit, dan gambar-gambar yang lain menjelma menjadi kekuatan besar yang memekakkan telinga, menaikkan buluku, tegang. Aku lari terbirit-birit. Ngeri luar biasa.
Tidak pernah sekali pun sebelumnya aku datang ke pameran dan diusir oleh kawanan kanvas dan bingkai. Berkali-kali aku terpeleset. Tergelincir dan menghantam sisi tembok yang kokoh. Berkali-kali pula terdepak, tertendang, oleh ujung-ujung alas kaki pengunjung. Mereka pun memekik-mekik, mendapati seekor kucing hitam berakrobat meluncur tak jelas di lantai. Kesurupan karena karya-karya yang kalap.
Hingga, untunglah aku sanggup menggapai pintu keluar dan berlari masuk ke kolong meja kudapan, di halaman samping gedung seni.
“Pak, akhir-akhir ini saya amati, cerpen-cerpen yang kau gawangi sangat bervariasi, Berbeda dari tahun-tahun kemarin,” lagi-lagi, aku terjebak di sela-sela kaki penulis kelabu. “Kalau boleh tahu, mengapa?”
“Begitu pula ilustrasinya. Berbagai teknik dengan berbagai medium yang disandingkan oleh cerpennya masing-masing, tampak terlihat tanpa standar pelukisan, bebas,” tambah sang pelukis berwajah tirus.
Seorang bapak tambun yang tadi telah memberi sambutan –kepala editor—tersenyum hangat. Ia mencomot sepotong bolu dan meletakkan di piring kertas. “Banyak orang yang berkomentar demikian satu tahun belakangan...” jawabnya terkekeh.
Lantas ia memutuskan sedikit berkisah. “Kau tahu Nak, di dunia ini hampir semuanya penuh dengan persaingan. Seseorang yang aku kenal tiap minggu selama satu tahun terakhir, yang selalu rutin mengisi inbox email-ku, tiba-tiba saja berhenti.
Ia seorang laki-laki yang sangat ambisius. Penulis sekaligus pelukis yang terlalu menghayati perannya, aku kira. Namun saat keadaan ekonominya tak lagi memihak, ia gantung diri tiga bulan yang lalu. Aku rasa, ini salahku. Mungkin selama ini aku kurang adil untuk membatasi ekspresi seseorang dengan standar favoritku yang eksklusif.
Dan seolah-olah semua ini hanyalah permainan komoditas..”
Aku menelan ludah mendengar penuturan kepala editor tambun. Sang penulis kelabu dan pelukis tirus terdiam beberapa saat. Mungkin kebingungan mencerna pengungkapan tersebut.
“Ah, Nak.. aku tebak, kalian berdua juga yang rutin mengirimkan karya kalian untuk dimuat bukan? Ketahuilah Nak, tetaplah kalian ada di mimpi masing-masing. Karena jika sekarang kalian selalu tersandung, setidaknya kalian tetap terjatuh di jalan yang benar,” petuah sang editor sebelum melangkah pergi.
Untuk saat ini, tiba-tiba reinkarnasi bukanlah hal yang sakral lagi bagiku. Bukan lagi misteri penyingkapan jati diri. Dan bukan pula teka-teki pertemuan dengan orang-orang berpengaruh semasa hidup yang dulu. Aku memutuskan untuk melangkah mencari tempat tidur yang terlindung tetesan gerimis—bukan di Gedung Seni—setidaknya untuk malam ini. Kugoyang-goyangkan ekorku pelan, kelereng kuning mataku pun mulai meredup, meninabobokan diri sendiri. Aku berusaha mengabaikan apa pun, lantas mengalihkan pikiran. Termasuk ketidakwarasan seekor kucing hitam malam ini. Hm, aku perlu lebih rileks rupanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nyanyian Lidi

Olika tertahan dalam sel pengap. Suara tetesan sisa hujan melengkapi kebekuan yang menyiksa. Buku-buku catatannya telah diberangus api di depan sel. Bekas abunya pucat seperti wajah kematian. Ia menatap serdadu dengan tatapan ngilu. Dihampirinya serdadu yang tengah berdiri di luar sel. Di dekat pintu yang tergembok sempurna. “Kita satu bangsa, kau tahu?” desis Olika. Serdadu tersebut menoleh ke belakang. Meludahinya. *** Mereka datang, serombongan dengan pelbagai plat motor menghambur di pekarangan rumah joglo Kepala Desa Tangkup. Mereka berasal dari kota sejauh 135 kilometer arah timur. Mereka datang, seolah-olah tamasya di akhir pekan. Beberapa di antara mereka selalu terkikik-kikik renyah di sepanjang jalan. Pak Chaz mengundang mereka untuk meneruskan jejak langkah perjuangan kaum tani. Kepala desa muda yang bernampilan mirip penyanyi ibukota tersebut mendapati serombongan pemuda bernyali besar. Mereka bersenjatakan jimbe, biola, gong, akordion, kuas, pena, dan papan sablon...

Kunjungan Tetangga

Kapan terakhir kali kau menemui Kakek? Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa. Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris,...

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...