Langsung ke konten utama

Epos Senja

                Hujan membasahi tanah sekeliling Pendopo Trimurti. Aroma rumput yang jarang sekali tercium di gedung-gedung pencakar langit sekarang menggelitik ujung hidungku. Aku melangkah dengan kamera yang menggantung di leher tanpa seorang pun mengimbangi langkahku. Pandanganku menyapu sekeliling pendopo. Bangunan teduh yang terbuka dengan gapura panggung berhias kepala Kala[1], lalu kursi-kursi nyaman yang melingkar, menyisakan lantai dingin untuk ditapaki kaki kaki lincah penari.
November, Jogja lebih sering diselingi hujan dan itu menyebabkan jadwal Sendratari Ramayana berganti pada ruang tertutup. Aku memesan duduk kelas VIP, kelas termahal yang menawarkan pemandangan terbaik, lurus berhadapan dengan panggung penari. Kursi-kursi masih kosong, suasana pun lengang. Acara sendratari masih akan dimulai satu jam lagi. Aku terlalu bersemangat rupanya.
                Kakiku melangkah menuju belakang pendopo. Di sana terdapat dua ruang rias dan tempat berkumpulnya para penari. Keadaan di belakang jauh lebih ramai. Penari-penari telah berganti kostum. Mereka sibuk merias diri sendiri, memoleskan sapuan kuas dengan cekatan dan berganti wajah-wajah baru yang sulit dikenali. Sebagian lagi sibuk mengenakan berbagai macam hiasan dari lempeng kuningan yang gemerlap.
                Hasratku ingin sekali memasuki ruang rias penari wanita. Bukan karena aku ingin menikmati kemolekan mereka. Aku hanya rindu pada seseorang. Kerinduan yang membuatku bertingkah seperti ini.
                “Excuse me Sir, this is ladies room… could I help you?” (Permisi Tuan, ini ruang untuk wanita…. Ada yang bisa saya bantu?)  seseorang menahanku.
                Aku tersenyum. “Saya hanya sedang ingin melihat-lihat” jawabku lancar meski aksen barat tidak pernah luntur dari lidah.
                Beberapa penari yang telah siap dan duduk duduk di jalan pemisah dua ruangan nyengir lebar.  Sejak tadi mereka mengamatiku—seorang bule paruh baya—tanpa berani mengajukan pertanyaan. Mereka hanya tersenyum sangat santun dan ramah. Mendapati aku juga bisa berbahasa Indonesia, petugas acara menanyakan maksudku lebih lanjut.
                “Saya hanya ingan tahu, apa penari-penari itu tetap berasal dari Desa.. er… Te-gal Re-Jo?” aku mengeja pelan, membiarkan syaraf-syaraf di balik kulit berambut putihku berkerja keras.
                “Sendratari Ramayana ini penarinya per-rombongan Sir, malam ini jadwal kontrak dengan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.”
                Aku terdiam lagi, tanganku masih memegang brosur jadwal Sendratari Ramayana. Dua lakon utama berpose anggun, Rama dan Shinta. Hm, apa kabarnya seorang Shinta-ku sekarang?
***
                Epik Ramayana[2] berpentas di pendopo. Kekecewaan besar menyesaki dadaku tatkala pembuka sendratari, Rama dan Shinta muncul. Dengan mata yang menua, aku tetap dapat membedakan, dia jauh dari Shinta-ku. Dia tidak segemulai dan secantik Shinta-ku. Dalam hati aku menahan geli, bagaimana mungkin aku berharap demikian? Seorang penari berlakon Shinta 44 tahun yang lalu tetap menari dan semuda sekarang? well, itu hanya imajinasi rentaku. Namun, dengan tenang, aku berniat menikmati secara objektif sisa-sisa tarian yang lain.
                Alih-alih mengikuti jalan cerita Ramayana yang telah aku hapal di luar kepala, aku sibuk mengamati berbagai properti, lighting, dan suasana pendopo secara keseluruhan. Beberapa peralatan modern yang menunjang estetika para penari sebanding dengan tiket yang kubayar di loket depan.
                Tiba-tiba aku tersentak, fokusku kembali sejenak ke tengah pendopo. Sosok seorang gadis berkostum kuning cerah dan berkepang dua yang sedang menari-nari lincah, memakuku. Tubuhnya yang mungil melompat-lompat dengan riang. Ia berperan sebagai Kalamarica, seekor kijang kencana jelmaan utusan Rahwana yang berusaha menarik perhatian Rama agar meninggalkan Shinta.
***
               

Pertunjukan sendratari telah usai. Aku justru berdiri menghampiri kerumunan penari yang sedang membuka bungkusan makanan masing-masing.
                “Bolehkah aku mengenalmu?” tanyaku hati-hati, seorang pemuda dengan kulit seputih bedak penari, pada seorang gadis kecil.
                “Bo.. boleh.. Tuan” ia tergugup hingga menjatuhkan sesuap nasi yang akan ditelannya. Terkaget-kaget ia mendapati seorang warga asing justru mendekatinya.
                “Siapa namamu?”
                “Sa.. saya.. Rukmi.., Rukmini,” ujarnya sambil tertunduk. Pesona Kalamarica masih terpancar meski dengan malu-malu ia berbicara denganku. Kelincahannya menari tadi tertutup oleh kesantunannya sekarang, namun tetap saja ia seperti rusa keemasan yang elok rupawan.
***
               
Suara gemerincing menyentakku. Gemerincing gelang kaki Kalamarica semakin pudar tatkala ia berlari ke balik panggung, kemudian Rama yang mengibaskan sebe-nya[3] telah mengejar. Shinta seorang diri di tengah panggung, namun daya tariknya telah lenyap bagiku. Aku harus menemui Kalamarica kecil tersebut nanti.
***
               
Ia bernama Ais, seorang penari, satu-satunya penari yang kemarin malam menyihirku. Ais mirip sekali dengan Rukmini, Shinta-ku 44 tahun silam.  Ia mengaku sebagai seorang gadis yang berasal dari keluarga penari. Aku tidak serta merta menebak ia anak dari Rukmini. Aku tidak menanyakan nama ibunya saat itu. Aku hanya mengaku sebagai seorang jurnalis senior dan ingin sekali mengunjungi rumahnya untuk wawancara lebih lanjut.
                Lalu Ais menyodorkan sesobek kertas beralamatkan nama desanya, namun sayang sekali, bukan Tegalrejo, desa Rukmini.
***
               
Tiga tahun, dan setiap malam purnamanya, aku habiskan dengan duduk menikmati Sendratari Ramayana. Latar belakang Candi Prambanan adalah saksi bisu kisah cinta yang  kami jalin. Sedangkan panggung terbuka dan tarian tarian indah yang ada seolah mengiringi langkahku semakin dekat pada hati Rukmini.
                “Ya, desa saya namanya Tegalrejo. Ndak tua ndak muda kami semua menari atas ajakan Pak Jatikusumo[4]. Dia-lah yang mendirikan sendratari ini atas permintaan presiden yang ingin menghadiahkan sebuah monumen untuk daerah Prambanan,” Rukmini terdiam sesaat, ia tersenyum, “tapi monumen opo yo yang mampu nandingi Candi Prambanan? Toh, ini juga monumen megah yang nggak sembarang orang bisa buat. Akhirnya Pak Jati yang suka mengelilingi candi lalu nemuken relief Ramayana di dinding Prambanan, berinisiatif membuat pagelaran seni untuk masyarakat oleh masyarakat juga. Monumen bergerak yang abadi, Sendratari Ramayana.”
                Saat itu kami sedang bersepeda di pagi yang cerah. Itu pertama kalinya aku mengajak seorang gadis pribumi berwisata. Rencanya kami akan mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Sepanjang perjalanan Rukmini terus bercerita tentang  berbagai hal seputar Sendratari Ramayana. Memang sebuah kebanggaan yang sangat besar untuk penduduk setempat tatkala dipercaya  menari  di depan ratusan orang.
                “Rukmi, kamu tidak takut tentang mitos Prambanan?” celutukku asal, menggodanya.
                “Tentang sepasang kekasih yang akan berpisah kalau mereka berani berkunjung ke Prambanan?” tanyanya memastikan.
                “Ya.. masyarakat Jawa suka sekali pada mitos bukan?”
                “Ah, jodoh itu di tangan Tuhan. Yang misah, yang nyatuin, ya Gusti Allah.. Rukmini ndak percaya mitos  aneh itu,” jawab Rukmini lugas. Dan aku termenung dibuatnya.
                Namun, terlepas dari unsur takhayul dan mitos yang tidak kami percayai, kami memang tidak berjodoh… , ya, seperti kata Rukmini tempo lalu.
***
               
Aku berada dalam ruang tamu sederhana sekarang. Ruang tamu berdinding hijau yang catnya telah mengelupas di beberapa sudutnya. Ornamen dinding tanpa sebingkai foto keluarga pun mampu bercerita cukup banyak. Wayang, lukisan Rahwana menculik Shinta, hingga busur panah Rama menempel di dinding, seperti menyatu dengan cerita penghuni rumah tersebut.
                “Silahkan diminum…, maaf Bapak sedang ke Yayasan Tari Roro Jonggrang. Ada rapat anggaran baru di sana..” ujar seorang wanita separuh baya sopan. Ia Rukmini. Tetap berambut panjang meskipun tak lagi berkepang dan sekarang dihiasi uban. Dia telah menua sama sepertiku. Dia kurus dan berbaju batik panjang yang longgar. Namun dia masih tetap Rukmini. Sorot mata dan paras pribuminya yang ayu masih tampak, tidak tertutup keriput dan kulit yang mulai mengisut.
                “Kamu tidak mengenaliku Rukmini…?” tanyaku lirih. Rukmini sekarang duduk di hadapanku, terpisah oleh meja bertaplak kusam. Ia menatapku sekarang, menghela napas panjang. “Hanya satu orang bule yang saya kenal baik sejak dulu. Robbert Morris… kalau saya lupa, bagaimana bisa saya berlama-lama menyiapkan secangkir teh di dapur?”
                Aku tersenyum senang. Aku tidak menyangka ia masih mampu mengenaliku dengan baik. Namun sempat kecewa juga, karena sekarang Rukmini mampu menyembunyikan kekagetannya lebih baik. Ekspresi lucunya saat terkejut tidak kudapati lagi.
                “Lama sekali tidak bertemu denganmu Rukmini. Bagaimana kabarmu sekarang?”
                “Alhamdulillah baik sekali. Yah.. seperti yang kamu lihat. Saya berkeluarga, apalagi saya telah mempunyai cucu sekarang,” ia tersenyum, bahagia. “Bagaimana dengamu Rob?”
                “Aku sedang tidak ingin berpuji syukur Rukmi…” aku tertawa kering. “Hidupku berjalan tanpa arti. Aku telah pensiun dari koran harian di Paris. Aku tidak mempunyai cucu, dan well, akhir-akhir ini aku juga sibuk mengurus perceraianku dengan istriku di sana.”
                Rukmini terdiam, menatap kosong cangkir yang ia hidangkan yang belum kusentuh sama sekali. Aku mengikuti pandangannya, lalu meraih tangan cangkir.
                “Apa kegiatanmu sehari-hari Rukmi? Masihkah menari?” tanyaku mengalihkan suasana yang mendadak senyap sambil menyesap teh buatan Rukmini.
                Ia menggeleng, masih tetap tersenyum, “Ndak lagi.. sudah sepuluh tahun saya pensiun dari nari, saya terkena diabetes, Rob. Hm.. sekarang ya sibuk ngurus rumah sambil ngerawat cucu saat anak saya kerja.”
                Ada sesuatu yang menusuk hatiku. Seseorang laki-laki yang memisahkan kami, seseorang yang ternyata tak mampu membuat hidup Rukmini lebih baik.
***
               
“Rukmi, aku mau katakan sesuatu. Pamanku mengajakku kembali ke France. Urusan dinasnya di kedutaan telah selesai. Aku akan melanjutkan studiku di sana. Aku ingin kamu ikut denganku Rukmini, dan pamanku mengizinkan kamu ikut, bahkan dia akan mengangkatmu sebagai anak!” ujarku, sangat bersemangat mengabarkan berita baik tersebut.
                Pentas segera dimulai. Panggung panjang nan luas dengan latar belakang langsung Candi Prambanan dari sisi selatan telah siap. Untuk pertama kalinya Rukmini mengenakan busana Shinta, untuk pertama kalinya juga ia dipercaya memerankan lakon utama Sendratari Ramayana.
                “Rukmi.. kumohon, ikutlah denganku besok. Kamu akan sekolah di sekolah seni terkenal di Paris. Kamu pasti senang bisa belajar banyak jenis tarian dari berbagai negara…” bujukku, memegang lengannya yang tidak berbalut kain.
                “Masa depan menanti kita berdua Rukmi. Di France hidupmu akan jauh lebih baik. Kamu tahu negara ini masih sangat tidak aman. Pasca pemberontakan PKI semuanya terasa begitu kacau bahkan tingkat inflasi masih sangat tinggi. Pemerintahan baru masih belum berjalan baik Rukmi.. tidak ada jaminan Indonesia damai dari perang setelah ini… Ayo Rukmi, ikutlah denganku!”
                Rukmi menggeleng pelan, “Rob, saya sayang tanah air ini. Saya sayang tarian Ramayana, saya sayang pada semua teman-teman saya menari… ini hidup saya Rob. Maaf, saya tidak bisa meninggalkan ini semua.”
                Rukmini melangkah pergi, seseorang telah memanggilnya untuk bergegas. Aku pun demikian, melangkah ke arah bangku penonton. Hatiku berdebar kencang saat Rukmini tampil. Ia bukan sebagai seekor kijang lagi, ia tidak lincah namun sangat anggun. Ia menari dengan sempurna dan hatiku terbakar saat lakon Rama datang, yang—well, tampak betapa ksatria.
***
               
“Rukmi, siapa suamimu?” tanyaku tersadar dari kenangan masa lalu.
                Rukmi yang sedari tadi membisu, menungguku bangun sendiri dari lamunan, pun terhenyak. “Suami saya seorang penari juga Rob..”
                “Apa dia Rama yang membonceng dirimu pulang sesudah pertunjukanmu saat itu?” tanyaku, masih teringat jelas betapa hatiku terkoyak mendapati Rukmini pulang dengan pemuda lain. Seorang Rama di panggung sekaligus seorang Rahwana bagi kehidupanku. Saat Rukmini pertama kalinya berlakon Shinta, aku sadari, saat itu jualah, terakhir kalinya aku menyaksikannya menari.
                “Ya, dia Setyoaji, seorang guru SD… dia suami saya sampai saat ini.”
                Entah darimana datangnya, emosiku menggelegak. “Aku sungguh menyayangkan ini semua Rukmi! kehidupanmu tidak jauh lebih baik dari dulu. Andai kamu ikut denganku, tentu kamu lebih mapan. Tak kan kubiarkan diabetes mengambil dunia yang kamu cintai..”
“Kamu tidak mengerti banyak hal Robert, dan suami saya sama sekali tidak pernah bermaksud mengabaikan penyakit saya… ”
 “Well.. aku akan coba mengerti,” aku mengambil jeda, meredam emosi, “masih banyak waktu luangku. Setidaknya nasib penari Ramayana jauh lebih baik tampaknya sekarang. Kemarin aku ke pendopo yang baru, tempat yang bagus dan nyaman..  hm, aku mencium aroma bisnis yang kuat. Aku harap sekarang penari Ramayana tidak hanya diupahi sepotong kupon jatah makan ala kadarnya…”
Rukmini tertawa renyah. Tawa seorang nenek yang dulu pernah berparas sangat ayu. “Ah, pancet ae (sama saja) Robert.. nasib penari tetap tidak jauh lebih baik. Kamu tahu harga kami rata-rata setiap menari selama dua jam? Hanya lima puluh ribu rupiah saja, setara dengan satu kursi penonton kelas paling bawah. Sedangkan setiap pertunjukan sendratari digelar, ratusan penonton yang hadir. Hm.. bisnis tetap bisnis. Kami tidak terlalu ambil pusing dengan nominal uang yang kami dapat. Kami hanya ingin menunjukkan kesenangan, kecintaan, sekaligus kebanggaan kami terhadap Tari Ramayana. Apalagi jika anak-anak kami menjadi penari juga.”
“Semua anakmu menjadi penari juga?”                  
“Ya, keempat anakku penari Ramayana. Kami pernah sekeluarga menari dalam satu panggung..”
Tiba-tiba aku ingin bertemu suami Rukmini. Sosok seperti apa ia yang mampu menyulap sebuah rumah sederhana menjadi rumah penari yang harmonis dan penuh dengan kebahagiaan, seperti sorot mata yang aku akui—kini dimiliki Rukmini.
***

                Keesokan harinya, aku terbangun di kamar hotel karena ketukan pelayan cleaning service. Tidak biasanya aku bangun terlambat dan merasa begitu lelah. Sambil berusaha mengembalikan kesadaranku secara penuh dengan membasuh muka, aku mengingat-ingat kembali pertemuanku dengan Rukmini  kemarin.
                Setelah sarapan aku bergegas pergi ke sebuah sekolah dasar di Pakem, Kalasan. Entah mengapa, tiba-tiba hasrat jurnalisku muncul. Setelah sekian lama tidak lagi turun ke lapangan untuk meliput sesuatu, setelah sekian lama hanya berdiri di balik meja sebagai seorang editor harian internasional, aku ingin kembali. Aku memutuskan akan menulis sebuah feature. Entah mengapa, aku ingin bercerita pada dunia tentang keluarga penari.
                Sebuah sekolah dasar sederhana tampak lengang. Murid-murid sekolah tersebut telah pulang. Hanya ada satu lapangan, satu tiang bendera, dan satu bangunan panjang membentuk huruf L. Aku duduk di bangku reot depan kantor kepala sekolah. Sembari menikmati pemandangan anak-anak kecil yang bermain di lapangan, berlari-lari, dan terbahak, sekaligus aku pun menyadari, aku menjadi pusat perhatian di sana dengan kamera di tangan. Oleh karena itu, aku membeli selusin lolipop dan membagikannya dengan cuma- cuma.
                Aku sedang menunggu Setyoaji, suami Rukmini yang tengah rapat di kecamatan. Dari kejauhan tampak sesosok laki laki tua berkacamata bingkai lebar, sebaya denganku, mengendarai sepeda onthel yang telah berkarat. Ia kurus tinggi, mengenakan baju safari dinasnya dan tersenyum hangat, menyapaku.
                Inikah Rahwana yang berperan sok Rama di panggung berpuluh-puluh tahun yang lalu?
                Ia tampak lebih rapuh daripada aku.  Ia tampak jauh, bahkan cenderung, biasa-biasa saja daripada aku. Apa ia sosok yang kemarin terlihat sangat mengagumkan di mata Rukmini?
***

“Padang bulan kakancaning…”
“Ngedenging purnomo sidi…”

“Terang bulan menemani…”
“Pertanda datangnya purnama yang agung…”

                Tembang pembuka Sendratari Ramayana mendayu. Aku duduk di kursi depan bersama penonton yang lain. Aku bersandar, kepalaku berdenyut hebat. Aku merasa sangat kelelahan. Aku tidak dapat mengikuti pertunjukan sendratari dengan baik. Akhir-akhir ini aku menyibukkan diri mengobservasi dunia penari Ramayana. Kemarin, tengah malam waktu setempat, aku mengirimkan artikel panjangku via email ke redaksi harian di Prancis.
Aku berkenalan lebih dekat dengan keluarga Rukmini. Semua anggota keluarganya sangat ramah dan baik hati. Anak-anaknya menganggapku seperti paman yang tak berjumpa lama, sedangkan Setyoaji menerimaku layaknya seorang saudara kandung yang muncul kembali setelah sekian lama menghilang.
                Kali ini potongan-potongan siluet duniaku yang berputar. Seperti gulungan film seluloid, aku menyaksikan dokumenter dari kehidupanku di Paris. Tidak ada yang istimewa. Seorang laki-laki workaholic yang mengabaikan keluarganya. Sang anak semata wayang lari dari rumah dengan kekasihnya, memutuskan hidup terpisah dariku. Sang istri yang meminta bercerai saja di usai pernikahan kami yang ke-20 karena lelah menyaksikan serba keteraturanku. Well, menjadi seorang editor terkemuka, mempunyai banyak relasi dari berbagai negara, hanya itukah reputasi baikku? Di balik itu semua, bahkan istriku sendiri, ingin menikmati masa-masa tuanya dengan bebas. Tanpa ritme hariku.
                Mataku tidak fokus ke tengah panggung. Aku mendongak, memejamkan mata. Namun tiba-tiba suara gemerincing kaki kijang Kalamarica datang, menghentak-hentak dengan gemulai. Aku berusaha bangun duduk tegap kembali. Aku ingin melihat anak bungsu Rukmini dan Setyoaji bermain lincah. Tanpa sengaja pandanganku menangkap salah satu lampu sorot yang bergoyang pelan. Angin bertiup memasuki pendopo dan semakin menggoyangkan lampu tersebut.
                Seketika aku duduk tegap, mengawasi dengan cemas bergantian dari Kalamarica yang melompat lompat lincah ke lampu sorot. Tak ada penonton yang menyadarinya, kecuali aku. Mereka telah terbius oleh tarian anak bungsu Rukmini.
                Aku memejamkan mata, mengambil napas panjang. Ramayana adalah epos abadi yang tak akan pernah mati dalam hidupku. Tak peduli aku tidak berlakon apa-apa di sini. Aku bukan seorang Rahwana maupun Rama, bahkan Indrajit ataupun Lesmana pun tidak. Namun senjaku telah datang, tanpa menjadi sosok ksatria dalam epos mana pun. Ya, mungkin hanya ini yang masih sempat aku lakukan, membalas budi untuk Rukmini dan keluarganya.
                Aku berdiri dan berlari secepat yang aku bisa, refleks, tepat saat lampu sorot itu jatuh berdebam keras. Terdengar suara jerit penonton dan penari. Sang kijang kecil tersungkur di sampingku. Aku sempat tersenyum, melihat ia tak tergores sedikit pun. Dan semuanya berputar cepat bagai arus laut. Sekejap. Menggelap begitu saja.

Yogyakarta, 24 November 2009
Untuk Pak Tukiman
Atas segala ketulusan dan kemurahan hatinya
Pada sendratari, pada kehidupan.

Keterangan: Cerpen ini  masuk dalam 20 nomine sayembara sastra yang diselenggarakan UKM Belistra FKIP Untirta 2011 dengan juri Kurnia Effendi dan Raudal Tanjung Banua (peringkat keempat dalam kategori penilaian juri). 20 besar nomine sayembara ini sekaligus tergabung dalam antologi cerpen nonprofit Bulan Kebabian.




[1] Putra Dewa Siwa yang bergelar dewa penguasa waktu. Digambarkan sebagai raksasa dengan wajah menyeramkan. Dalam agama Hindu, Kala adalah simbol bahwa tidak seorang manusia pun yang dapat melawan hukum karma.
[2] Cerita kepahlawanan yang sangat tersohor dari India. Ditulis oleh Walmiki pada abad ke-4 SM. Berkisah tentang perjalanan Rama merebut kembali istrinya—Sinta—yang diculik Rahwana.
[3] Selendang kecil yang melintang dari bahu kanan ke kiri sampai batas pinggang. Merupakan ciri khas dari peran para Dewa atau tokoh suci.
[4] Salah satu kerabat Keraton Kasunanan Suarakarta yang pada masa pemerintahan Soekarno menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Perhubungan Darat.

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...