Hujan
membasahi tanah sekeliling Pendopo Trimurti. Aroma rumput yang jarang sekali
tercium di gedung-gedung pencakar langit sekarang menggelitik ujung hidungku.
Aku melangkah dengan kamera yang menggantung di leher tanpa seorang pun
mengimbangi langkahku. Pandanganku menyapu sekeliling pendopo. Bangunan teduh
yang terbuka dengan gapura panggung berhias kepala Kala[1],
lalu kursi-kursi nyaman yang melingkar, menyisakan lantai dingin untuk ditapaki
kaki kaki lincah penari.
November, Jogja lebih sering diselingi hujan dan itu menyebabkan jadwal
Sendratari Ramayana berganti pada ruang tertutup. Aku memesan duduk kelas VIP,
kelas termahal yang menawarkan pemandangan terbaik, lurus berhadapan dengan
panggung penari. Kursi-kursi masih kosong, suasana pun lengang. Acara
sendratari masih akan dimulai satu jam lagi. Aku terlalu bersemangat rupanya.
Kakiku melangkah menuju belakang
pendopo. Di sana terdapat dua ruang rias dan tempat berkumpulnya para penari.
Keadaan di belakang jauh lebih ramai. Penari-penari telah berganti kostum.
Mereka sibuk merias diri sendiri, memoleskan sapuan kuas dengan cekatan dan
berganti wajah-wajah baru yang sulit dikenali. Sebagian lagi sibuk mengenakan
berbagai macam hiasan dari lempeng kuningan yang gemerlap.
Hasratku ingin sekali memasuki
ruang rias penari wanita. Bukan karena aku ingin menikmati kemolekan mereka.
Aku hanya rindu pada seseorang. Kerinduan yang membuatku bertingkah seperti
ini.
“Excuse me Sir, this is
ladies room… could I help you?” (Permisi Tuan, ini ruang untuk wanita…. Ada
yang bisa saya bantu?) seseorang
menahanku.
Aku tersenyum. “Saya hanya
sedang ingin melihat-lihat” jawabku lancar meski aksen barat tidak pernah
luntur dari lidah.
Beberapa penari yang telah siap
dan duduk duduk di jalan pemisah dua ruangan nyengir lebar. Sejak tadi mereka mengamatiku—seorang bule
paruh baya—tanpa berani mengajukan pertanyaan. Mereka hanya tersenyum sangat
santun dan ramah. Mendapati aku juga bisa berbahasa Indonesia, petugas acara
menanyakan maksudku lebih lanjut.
“Saya hanya ingan tahu, apa
penari-penari itu tetap berasal dari Desa.. er… Te-gal Re-Jo?” aku mengeja
pelan, membiarkan syaraf-syaraf di balik kulit berambut putihku berkerja keras.
“Sendratari Ramayana ini
penarinya per-rombongan Sir, malam ini jadwal kontrak dengan mahasiswa
Universitas Negeri Yogyakarta.”
Aku terdiam lagi, tanganku masih
memegang brosur jadwal Sendratari Ramayana. Dua lakon utama berpose anggun,
Rama dan Shinta. Hm, apa kabarnya seorang Shinta-ku sekarang?
***
Epik Ramayana[2]
berpentas di pendopo. Kekecewaan besar menyesaki dadaku tatkala pembuka
sendratari, Rama dan Shinta muncul. Dengan mata yang menua, aku tetap dapat
membedakan, dia jauh dari Shinta-ku. Dia tidak segemulai dan secantik
Shinta-ku. Dalam hati aku menahan geli, bagaimana mungkin aku berharap
demikian? Seorang penari berlakon Shinta 44 tahun yang lalu tetap menari dan
semuda sekarang? well, itu hanya imajinasi rentaku. Namun, dengan
tenang, aku berniat menikmati secara objektif sisa-sisa tarian yang lain.
Alih-alih mengikuti jalan cerita
Ramayana yang telah aku hapal di luar kepala, aku sibuk mengamati berbagai
properti, lighting, dan suasana pendopo secara keseluruhan. Beberapa
peralatan modern yang menunjang estetika para penari sebanding dengan tiket yang
kubayar di loket depan.
Tiba-tiba aku tersentak, fokusku
kembali sejenak ke tengah pendopo. Sosok seorang gadis berkostum kuning cerah
dan berkepang dua yang sedang menari-nari lincah, memakuku. Tubuhnya yang
mungil melompat-lompat dengan riang. Ia berperan sebagai Kalamarica, seekor
kijang kencana jelmaan utusan Rahwana yang berusaha menarik perhatian Rama agar
meninggalkan Shinta.
***
Pertunjukan sendratari telah usai. Aku justru berdiri menghampiri
kerumunan penari yang sedang membuka bungkusan makanan masing-masing.
“Bolehkah aku mengenalmu?”
tanyaku hati-hati, seorang pemuda dengan kulit seputih bedak penari, pada
seorang gadis kecil.
“Bo.. boleh.. Tuan” ia tergugup
hingga menjatuhkan sesuap nasi yang akan ditelannya. Terkaget-kaget ia mendapati
seorang warga asing justru mendekatinya.
“Siapa namamu?”
“Sa.. saya.. Rukmi.., Rukmini,”
ujarnya sambil tertunduk. Pesona Kalamarica masih terpancar meski dengan
malu-malu ia berbicara denganku. Kelincahannya menari tadi tertutup oleh
kesantunannya sekarang, namun tetap saja ia seperti rusa keemasan yang elok
rupawan.
***
Suara gemerincing menyentakku. Gemerincing gelang kaki Kalamarica
semakin pudar tatkala ia berlari ke balik panggung, kemudian Rama yang
mengibaskan sebe-nya[3]
telah mengejar. Shinta seorang diri di tengah panggung, namun daya tariknya
telah lenyap bagiku. Aku harus menemui Kalamarica kecil tersebut nanti.
***
Ia bernama Ais, seorang penari, satu-satunya penari yang kemarin malam
menyihirku. Ais mirip sekali dengan Rukmini, Shinta-ku 44 tahun silam. Ia mengaku sebagai seorang gadis yang berasal
dari keluarga penari. Aku tidak serta merta menebak ia anak dari Rukmini. Aku
tidak menanyakan nama ibunya saat itu. Aku hanya mengaku sebagai seorang
jurnalis senior dan ingin sekali mengunjungi rumahnya untuk wawancara lebih
lanjut.
Lalu Ais menyodorkan sesobek
kertas beralamatkan nama desanya, namun sayang sekali, bukan Tegalrejo, desa
Rukmini.
***
Tiga tahun, dan setiap malam purnamanya, aku habiskan dengan duduk
menikmati Sendratari Ramayana. Latar belakang Candi Prambanan adalah saksi bisu
kisah cinta yang kami jalin. Sedangkan
panggung terbuka dan tarian tarian indah yang ada seolah mengiringi langkahku
semakin dekat pada hati Rukmini.
“Ya, desa saya namanya
Tegalrejo. Ndak tua ndak muda kami semua menari atas ajakan Pak
Jatikusumo[4].
Dia-lah yang mendirikan sendratari ini atas permintaan presiden yang ingin
menghadiahkan sebuah monumen untuk daerah Prambanan,” Rukmini terdiam sesaat,
ia tersenyum, “tapi monumen opo yo yang mampu nandingi Candi Prambanan?
Toh, ini juga monumen megah yang nggak sembarang orang bisa buat. Akhirnya Pak
Jati yang suka mengelilingi candi lalu nemuken
relief Ramayana di dinding Prambanan, berinisiatif membuat pagelaran seni untuk
masyarakat oleh masyarakat juga. Monumen bergerak yang abadi, Sendratari
Ramayana.”
Saat itu kami sedang bersepeda
di pagi yang cerah. Itu pertama kalinya aku mengajak seorang gadis pribumi
berwisata. Rencanya kami akan mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko.
Sepanjang perjalanan Rukmini terus bercerita tentang berbagai hal seputar Sendratari Ramayana.
Memang sebuah kebanggaan yang sangat besar untuk penduduk setempat tatkala
dipercaya menari di depan ratusan orang.
“Rukmi, kamu tidak takut tentang
mitos Prambanan?” celutukku asal, menggodanya.
“Tentang sepasang kekasih yang
akan berpisah kalau mereka berani berkunjung ke Prambanan?” tanyanya
memastikan.
“Ya.. masyarakat Jawa suka
sekali pada mitos bukan?”
“Ah, jodoh itu di tangan Tuhan.
Yang misah, yang nyatuin, ya Gusti Allah.. Rukmini ndak percaya
mitos aneh itu,” jawab Rukmini lugas.
Dan aku termenung dibuatnya.
Namun, terlepas dari unsur
takhayul dan mitos yang tidak kami percayai, kami memang tidak berjodoh… , ya,
seperti kata Rukmini tempo lalu.
***
Aku berada dalam ruang tamu sederhana sekarang. Ruang tamu berdinding
hijau yang catnya telah mengelupas di beberapa sudutnya. Ornamen dinding tanpa
sebingkai foto keluarga pun mampu bercerita cukup banyak. Wayang, lukisan
Rahwana menculik Shinta, hingga busur panah Rama menempel di dinding, seperti
menyatu dengan cerita penghuni rumah tersebut.
“Silahkan diminum…, maaf Bapak
sedang ke Yayasan Tari Roro Jonggrang. Ada rapat anggaran baru di sana..” ujar
seorang wanita separuh baya sopan. Ia Rukmini. Tetap berambut panjang meskipun
tak lagi berkepang dan sekarang dihiasi uban. Dia telah menua sama sepertiku.
Dia kurus dan berbaju batik panjang yang longgar. Namun dia masih tetap
Rukmini. Sorot mata dan paras pribuminya yang ayu masih tampak, tidak tertutup
keriput dan kulit yang mulai mengisut.
“Kamu tidak mengenaliku
Rukmini…?” tanyaku lirih. Rukmini sekarang duduk di hadapanku, terpisah oleh
meja bertaplak kusam. Ia menatapku sekarang, menghela napas panjang. “Hanya
satu orang bule yang saya kenal baik sejak dulu. Robbert Morris… kalau saya
lupa, bagaimana bisa saya berlama-lama menyiapkan secangkir teh di dapur?”
Aku tersenyum senang. Aku tidak
menyangka ia masih mampu mengenaliku dengan baik. Namun sempat kecewa juga,
karena sekarang Rukmini mampu menyembunyikan kekagetannya lebih baik. Ekspresi
lucunya saat terkejut tidak kudapati lagi.
“Lama sekali tidak bertemu
denganmu Rukmini. Bagaimana kabarmu sekarang?”
“Alhamdulillah baik
sekali. Yah.. seperti yang kamu lihat. Saya berkeluarga, apalagi saya telah mempunyai
cucu sekarang,” ia tersenyum, bahagia. “Bagaimana dengamu Rob?”
“Aku sedang tidak ingin berpuji
syukur Rukmi…” aku tertawa kering. “Hidupku berjalan tanpa arti. Aku telah
pensiun dari koran harian di Paris. Aku tidak mempunyai cucu, dan well,
akhir-akhir ini aku juga sibuk mengurus perceraianku dengan istriku di sana.”
Rukmini terdiam, menatap kosong
cangkir yang ia hidangkan yang belum kusentuh sama sekali. Aku mengikuti
pandangannya, lalu meraih tangan cangkir.
“Apa kegiatanmu sehari-hari Rukmi?
Masihkah menari?” tanyaku mengalihkan suasana yang mendadak senyap sambil
menyesap teh buatan Rukmini.
Ia menggeleng, masih tetap
tersenyum, “Ndak lagi.. sudah sepuluh tahun saya pensiun dari
nari, saya terkena diabetes, Rob. Hm.. sekarang ya sibuk ngurus rumah sambil
ngerawat cucu saat anak saya kerja.”
Ada sesuatu yang menusuk hatiku.
Seseorang laki-laki yang memisahkan kami, seseorang yang ternyata tak mampu
membuat hidup Rukmini lebih baik.
***
“Rukmi, aku mau katakan sesuatu. Pamanku mengajakku kembali ke France.
Urusan dinasnya di kedutaan telah selesai. Aku akan melanjutkan studiku di
sana. Aku ingin kamu ikut denganku Rukmini, dan pamanku mengizinkan kamu ikut,
bahkan dia akan mengangkatmu sebagai anak!” ujarku, sangat bersemangat
mengabarkan berita baik tersebut.
Pentas segera dimulai. Panggung
panjang nan luas dengan latar belakang langsung Candi Prambanan dari sisi
selatan telah siap. Untuk pertama kalinya Rukmini mengenakan busana Shinta,
untuk pertama kalinya juga ia dipercaya memerankan lakon utama Sendratari
Ramayana.
“Rukmi.. kumohon, ikutlah
denganku besok. Kamu akan sekolah di sekolah seni terkenal di Paris. Kamu pasti
senang bisa belajar banyak jenis tarian dari berbagai negara…” bujukku,
memegang lengannya yang tidak berbalut kain.
“Masa depan menanti kita berdua
Rukmi. Di France hidupmu akan jauh lebih baik. Kamu tahu negara ini masih
sangat tidak aman. Pasca pemberontakan PKI semuanya terasa begitu kacau bahkan
tingkat inflasi masih sangat tinggi. Pemerintahan baru masih belum berjalan
baik Rukmi.. tidak ada jaminan Indonesia damai dari perang setelah ini… Ayo
Rukmi, ikutlah denganku!”
Rukmi menggeleng pelan, “Rob,
saya sayang tanah air ini. Saya sayang tarian Ramayana, saya sayang pada semua
teman-teman saya menari… ini hidup saya Rob. Maaf, saya tidak bisa meninggalkan
ini semua.”
Rukmini melangkah pergi,
seseorang telah memanggilnya untuk bergegas. Aku pun demikian, melangkah ke
arah bangku penonton. Hatiku berdebar kencang saat Rukmini tampil. Ia bukan
sebagai seekor kijang lagi, ia tidak lincah namun sangat anggun. Ia menari
dengan sempurna dan hatiku terbakar saat lakon Rama datang, yang—well,
tampak betapa ksatria.
***
“Rukmi, siapa suamimu?” tanyaku tersadar dari kenangan masa lalu.
Rukmi yang sedari tadi membisu,
menungguku bangun sendiri dari lamunan, pun terhenyak. “Suami saya seorang
penari juga Rob..”
“Apa dia Rama yang membonceng
dirimu pulang sesudah pertunjukanmu saat itu?” tanyaku, masih teringat jelas
betapa hatiku terkoyak mendapati Rukmini pulang dengan pemuda lain. Seorang
Rama di panggung sekaligus seorang Rahwana bagi kehidupanku. Saat Rukmini
pertama kalinya berlakon Shinta, aku sadari, saat itu jualah, terakhir kalinya
aku menyaksikannya menari.
“Ya, dia Setyoaji, seorang guru
SD… dia suami saya sampai saat ini.”
Entah darimana datangnya,
emosiku menggelegak. “Aku sungguh menyayangkan ini semua Rukmi! kehidupanmu
tidak jauh lebih baik dari dulu. Andai kamu ikut denganku, tentu kamu lebih
mapan. Tak kan kubiarkan diabetes mengambil dunia yang kamu cintai..”
“Kamu tidak mengerti banyak hal Robert, dan suami saya sama sekali
tidak pernah bermaksud mengabaikan penyakit saya… ”
“Well.. aku akan coba
mengerti,” aku mengambil jeda, meredam emosi, “masih banyak waktu luangku.
Setidaknya nasib penari Ramayana jauh lebih baik tampaknya sekarang. Kemarin
aku ke pendopo yang baru, tempat yang bagus dan nyaman.. hm, aku mencium aroma bisnis yang kuat. Aku
harap sekarang penari Ramayana tidak hanya diupahi sepotong kupon jatah makan
ala kadarnya…”
Rukmini tertawa renyah. Tawa seorang nenek yang dulu pernah berparas
sangat ayu. “Ah, pancet ae (sama saja) Robert.. nasib penari tetap tidak
jauh lebih baik. Kamu tahu harga kami rata-rata setiap menari selama dua jam?
Hanya lima puluh ribu rupiah saja, setara dengan satu kursi penonton kelas
paling bawah. Sedangkan setiap pertunjukan sendratari digelar, ratusan penonton
yang hadir. Hm.. bisnis tetap bisnis. Kami tidak terlalu ambil pusing dengan
nominal uang yang kami dapat. Kami hanya ingin menunjukkan kesenangan, kecintaan,
sekaligus kebanggaan kami terhadap Tari Ramayana. Apalagi jika anak-anak kami
menjadi penari juga.”
“Semua anakmu menjadi penari juga?”
“Ya, keempat anakku penari Ramayana. Kami pernah sekeluarga menari
dalam satu panggung..”
Tiba-tiba aku ingin bertemu suami Rukmini. Sosok seperti apa ia yang
mampu menyulap sebuah rumah sederhana menjadi rumah penari yang harmonis dan
penuh dengan kebahagiaan, seperti sorot mata yang aku akui—kini dimiliki
Rukmini.
***
Keesokan harinya, aku terbangun
di kamar hotel karena ketukan pelayan cleaning service. Tidak biasanya
aku bangun terlambat dan merasa begitu lelah. Sambil berusaha mengembalikan
kesadaranku secara penuh dengan membasuh muka, aku mengingat-ingat kembali
pertemuanku dengan Rukmini kemarin.
Setelah sarapan aku bergegas
pergi ke sebuah sekolah dasar di Pakem, Kalasan. Entah mengapa, tiba-tiba
hasrat jurnalisku muncul. Setelah sekian lama tidak lagi turun ke lapangan
untuk meliput sesuatu, setelah sekian lama hanya berdiri di balik meja sebagai
seorang editor harian internasional, aku ingin kembali. Aku memutuskan akan
menulis sebuah feature. Entah mengapa, aku ingin bercerita pada dunia
tentang keluarga penari.
Sebuah sekolah dasar sederhana
tampak lengang. Murid-murid sekolah tersebut telah pulang. Hanya ada satu
lapangan, satu tiang bendera, dan satu bangunan panjang membentuk huruf L. Aku
duduk di bangku reot depan kantor kepala sekolah. Sembari menikmati pemandangan
anak-anak kecil yang bermain di lapangan, berlari-lari, dan terbahak, sekaligus
aku pun menyadari, aku menjadi pusat perhatian di sana dengan kamera di tangan.
Oleh karena itu, aku membeli selusin lolipop dan membagikannya dengan cuma-
cuma.
Aku sedang menunggu Setyoaji,
suami Rukmini yang tengah rapat di kecamatan. Dari kejauhan tampak sesosok laki
laki tua berkacamata bingkai lebar, sebaya denganku, mengendarai sepeda onthel
yang telah berkarat. Ia kurus tinggi, mengenakan baju safari dinasnya dan
tersenyum hangat, menyapaku.
Inikah Rahwana yang berperan sok Rama di panggung berpuluh-puluh
tahun yang lalu?
Ia tampak lebih rapuh daripada
aku. Ia tampak jauh, bahkan cenderung,
biasa-biasa saja daripada aku. Apa ia sosok yang kemarin terlihat sangat
mengagumkan di mata Rukmini?
***
“Padang bulan kakancaning…”
“Ngedenging purnomo sidi…”
“Terang bulan menemani…”
“Pertanda datangnya purnama yang agung…”
Tembang pembuka Sendratari
Ramayana mendayu. Aku duduk di kursi depan bersama penonton yang lain. Aku
bersandar, kepalaku berdenyut hebat. Aku merasa sangat kelelahan. Aku tidak dapat
mengikuti pertunjukan sendratari dengan baik. Akhir-akhir ini aku menyibukkan
diri mengobservasi dunia penari Ramayana. Kemarin, tengah malam waktu setempat,
aku mengirimkan artikel panjangku via email ke redaksi harian di
Prancis.
Aku berkenalan lebih dekat dengan keluarga Rukmini. Semua anggota
keluarganya sangat ramah dan baik hati. Anak-anaknya menganggapku seperti paman
yang tak berjumpa lama, sedangkan Setyoaji menerimaku layaknya seorang saudara
kandung yang muncul kembali setelah sekian lama menghilang.
Kali ini potongan-potongan
siluet duniaku yang berputar. Seperti gulungan film seluloid, aku menyaksikan
dokumenter dari kehidupanku di Paris. Tidak ada yang istimewa. Seorang
laki-laki workaholic yang mengabaikan keluarganya. Sang anak semata
wayang lari dari rumah dengan kekasihnya, memutuskan hidup terpisah dariku.
Sang istri yang meminta bercerai saja di usai pernikahan kami yang ke-20 karena
lelah menyaksikan serba keteraturanku. Well, menjadi seorang editor
terkemuka, mempunyai banyak relasi dari berbagai negara, hanya itukah reputasi
baikku? Di balik itu semua, bahkan istriku sendiri, ingin menikmati masa-masa
tuanya dengan bebas. Tanpa ritme hariku.
Mataku tidak fokus ke tengah
panggung. Aku mendongak, memejamkan mata. Namun tiba-tiba suara gemerincing
kaki kijang Kalamarica datang, menghentak-hentak dengan gemulai. Aku berusaha
bangun duduk tegap kembali. Aku ingin melihat anak bungsu Rukmini dan Setyoaji
bermain lincah. Tanpa sengaja pandanganku menangkap salah satu lampu sorot yang
bergoyang pelan. Angin bertiup memasuki pendopo dan semakin menggoyangkan lampu
tersebut.
Seketika aku duduk tegap,
mengawasi dengan cemas bergantian dari Kalamarica yang melompat lompat lincah
ke lampu sorot. Tak ada penonton yang menyadarinya, kecuali aku. Mereka telah
terbius oleh tarian anak bungsu Rukmini.
Aku memejamkan mata, mengambil
napas panjang. Ramayana adalah epos abadi yang tak akan pernah mati dalam
hidupku. Tak peduli aku tidak berlakon apa-apa di sini. Aku bukan seorang
Rahwana maupun Rama, bahkan Indrajit ataupun Lesmana pun tidak. Namun senjaku
telah datang, tanpa menjadi sosok ksatria dalam epos mana pun. Ya, mungkin
hanya ini yang masih sempat aku lakukan, membalas budi untuk Rukmini dan
keluarganya.
Aku berdiri dan berlari secepat
yang aku bisa, refleks, tepat saat lampu sorot itu jatuh berdebam keras.
Terdengar suara jerit penonton dan penari. Sang kijang kecil tersungkur di
sampingku. Aku sempat tersenyum, melihat ia tak tergores sedikit pun. Dan
semuanya berputar cepat bagai arus laut. Sekejap. Menggelap begitu saja.
Yogyakarta, 24 November 2009
Untuk Pak Tukiman
Atas segala ketulusan dan kemurahan
hatinya
Pada sendratari, pada kehidupan.
Keterangan: Cerpen ini masuk dalam
20 nomine sayembara sastra yang diselenggarakan UKM Belistra FKIP Untirta 2011
dengan juri Kurnia Effendi dan Raudal Tanjung Banua (peringkat keempat dalam
kategori penilaian juri). 20 besar nomine sayembara ini sekaligus tergabung
dalam antologi cerpen nonprofit Bulan
Kebabian.
[1]
Putra Dewa Siwa yang bergelar dewa penguasa waktu. Digambarkan sebagai raksasa
dengan wajah menyeramkan. Dalam agama Hindu, Kala adalah simbol bahwa tidak
seorang manusia pun yang dapat melawan hukum karma.
[2]
Cerita kepahlawanan yang sangat tersohor dari India. Ditulis oleh Walmiki pada
abad ke-4 SM. Berkisah tentang perjalanan Rama merebut kembali
istrinya—Sinta—yang diculik Rahwana.
[3]
Selendang kecil yang melintang dari bahu kanan ke kiri sampai batas pinggang.
Merupakan ciri khas dari peran para Dewa atau tokoh suci.
[4]
Salah satu kerabat Keraton Kasunanan Suarakarta yang pada masa pemerintahan
Soekarno menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Perhubungan Darat.