Langsung ke konten utama

Pelayaran Rumah dan Samudra

Kami telah lupa, kapan pertama kalinya kami menjadi satu keluarga. Utuh, dalam satu dimensi yang lekat, flat, dan rapat. Kami adalah makhluk-makhluk yang ditakdirkan untuk tetap dekat, saling berdekatan, melengkapi satu sama lain.

Meskipun tidak ada satu pun yang peduli pada beberapa penanggalan penting layaknya manusia, kami justru hapal tanggal lahir kami, di hari kematian. Kami tak pernah memperingati hari ulang tahun, meski jarak kelahiran kami berdekatan dalam hitungan menit dan jam. Karena kami lahir di hari kematian. Sepakat, tak ada yang setuju jika kami berpesta untuk mengenang duka.
Aih. Aku lupa perkenalkan diri. Namaku Camelo, seekor jerapah betina berbintik putih. Keluargaku terdiri dari Pak Thera, seekor singa, Ephas, gajah tambun, Phin, lumba-lumba jelita, si kembar beruang Teddy dan Teddo, Mirou sang anjing laut, serta Boo, sapi coklat. Kami berdelapan berkomitmen akan selamanya bersama, baik dalam suka maupun duka, bahkan meski harus mengarungi samudra.

Shizuoka, entah berapa tahun yang lalu.
                Seorang gadis kecil berlari masuk ke kamarnya. Ia membanting pintu, meluapkan emosi yang meletup-letup bagai percikan kembang api. Ia tak mengerti mengapa okaasan-nya menangis sesenggukan di ruang makan. Lantas saat ia pun bertanya, okaasan justru semakin terisak dan tak ada jawaban. Ia selalu benci saat dimana dirinya diabaikan orang dewasa.
                Sejenak ia melirik lukisannya yang setengah jadi. Sambil mendengus, ia beringsut mendekat, membaui lukisannya di atas selembar kemeja denim.
                “Yah, aroma Otoosan lenyap gara-gara bau cat,” gumamnya. Pucuk hidung gadis kecil itu hampir menyentuh gambar kepala singa yang masih basah. Dengan hati-hati direntangkannya lagi kemeja yang telah beralih fungsi menjadi kanvas tersebut. Sudah dua jam ia berkutat dengan karyanya, sebelum ia dapati okaasan menangis saat ia hendak mengambil air minum di dapur.
                Gadis itu mencuri diam-diam kemeja otoosan di lemari pakaian orangtuanya kemarin malam. Betapa ia rindu pada otoosan yang selalu menggendongnya jika ia mulai merajuk. Otoosan seorang pelaut. Pencari ikan-ikan besar untuk disayat tipis menjadi suhsi yang lezat. Otoosan sang pelaut. Oleh sebab itu, ia jarang tampak di dapur, di ruang makan, dan di setiap sudut rumah mungilnya.
                “Baiklah, Otoosan akan ceritakan kisah petualangan di laut,” masih terngiang usul Sang otoosan saat gadis itu telah berbaring manis di ranjang.
                “Tentang bajak laut Otoosan?”
                “Sejak kapan Otoosan bercerita kisah yang sama tiap kita berduaan di kamar? Jadi tajamkan telingamu, Putriku. Kisah ini tentang sekawanan hewan yang kabur dari kebun binatang.”
                “Wow!” Bocah kecil itu mengerjap. Dongeng pengantar tidur bagaikan sebuah kenangan yang sekarang ia coba coretkan di atas kemeja. Karena saat ia bangun keesokan harinya, otoosan telah pergi melaut. Betapa ia merindukannya.
                Seujung kuas meliuk-liuk. Menciptakan sepetak samudra bersama pasukan petualang. Maka terbentuklah sebuah bahtera sederhana yang memiliki atap dan bangunan menyerupai rumah. Kepala singa melongok dari jendela. Dua ekor beruang melambaikan tangannya yang berbulu di atas atap. Ditemani seekor jerapah dengan leher jenjang di balik atap rumah. Jika dicermati lebih detail, belalai gajah mengintip dari dalam rumah, terjulur ke permukaan gelombang air laut. Mungkin ia sedang kehausan.
                Rupanya, gadis kecil itu belum puas dengan karyanya. Setelah menambahkan seekor anjing laut ia beralih ke sisi kanan kemeja yang bertempelkan saku. Ia melukis sapi warna coklat di sana berserta lumba-lumba yang menyembul dari dalam samudra tak bertepi.
                Di tengah imajinasi yang membaur bersama peluh keringat, terdengar ketukan di balik pintu kamar. Wajah sang ibu pias, menatap baju yang telah disulap menjadi lembar dongeng. Sang bocah nyengir, mencoba memasang muka polos agar tidak diomeli.
                “Azumi..” panggil perempuan itu, tercekat. “Okaasan minta maaf Nak.. tadi di ruang makan.. Okaasan hanya.. Okaasan hanya merasa belum siap kehilangan otoosan-mu,” ungkap Eriko terbata-bata, menahan isak tangis lanjutan. Kedua bola mata Azumi membulat, memaksa kedua kelopak mata sipitnya terbuka lebar.
                 
***
Petualangan kami dimulai dengan cukup ironis. Azumi, bocah lima tahun yang terpaksa pindah ke Tokyo bersama ibunya, meninggalkan kami bersama berkardus-kardus pakaian. Tak ada waktu bagi keduanya untuk mengabadikan jejak kenangan. Bagi Eriko, segala benda yang dapat melukiskan sosok suaminya harus secepatnya dilenyapkan dari edaran mata. Termasuk kami. Tokoh dongeng terakhir yang tergulir dari bibir sang suami.
Sebuah truk pengangkut barang-barang bekas pun membawa kami menjauh dari tanah Azumi berpijak. Sedih kami merasai perpisahan yang dipaksakan Eriko. Ephas berkali kali mengeluarkan suara menjijikkan, membersit belalainya. Kutengok, dari lubang hidung bak selang itu menetes netes ingus yang bercampur menjadi buih lautan. Mirou dan Boo pun turut menyumbang air mata hingga pasang samudra kami dibuatnya. Beruntung Pak Thera, kepala keluarga, adalah pria yang stabil menurutku. Tak bisa kubayangkan jika ia pun menangis. Maka badai akan datang, kilat menyambar-nyambar. Tentu saja, aku yang paling ketakutan. Karena aku tinggi, dan tandukku mirip antena menggiurkan. Hari perpisahan itu membuat kami kompak muram. Si kembar pun bahkan sampai kehilangan nafsu bertengkar.
“Sampai dimana ini Pak The?” tanya Teddy kebingungan, mendengar suara keramaian yang semakin lama semakin keras.
“Kita mendekati pelabuhan, Saudara Saudariku.. aku bisa mencium aroma asin air laut dari sini,” celutuk Phin membangunkan beberapa di antara kami.
“Hah? Pelabuhan? Kita hendak kemana Pak The?” tanya Ephas.
“Tenanglah, Ephas. Kemana pun yang pasti kita tetap membawa rumah dan samudra. Kita masih cukup aman.”
“Apa mungkin ini takdir Pak The?” tanyaku, tiba-tiba.
“Apa maksudmu?” Boo menimpali.
“Takdir seperti asal muasal kita. Pasukan petualang di lautan lepas,” jawabku. Sekenanya.
Baru kali ini kami melihat bahtera yang sesungguhnya. Raksasa berukuran besar memanjang. Cerobong kapal berkali kali mengagetkan Mirou karena dengungan dan kepulan asapnya yang sungguh dahsyat. Si kembar pun terhibur, mereka bergantian taruhan cerobong mana yang terlebih dahulu berdesis. Tak lama kemudian, kami dipindahkan ke dalam karung besar, penuh sesak. Sinyal bagi petulangan baru kami.
Pasifik, kami datang!

Kami terombang ambing di Pasifik yang luas tak terkira. Setelah entah berapa hari lamanya sedemikian rupa menikmati sensasi deburan ombak yang nyata, bersama dengan desus-desus angin yang menyampaikan info geografis, sampailah kami ke suatu negeri mini. Mungkin inilah kampung halaman Pak Thera.
“Kau lihat? Kalian bisa melihatnya? Betapa raja negeri ini perkasa! Oh, bagaimana aku bisa mampir ke istananya? Kita akan dijamu oleh sang raja, ia pasti bersahabat karena ia spesiesku. Oh, perlukah kau Camelo, panggilkan angin untuk hantarkan salam pada Yang Mulia Paduka Merlion?”
Untuk pertama kalinya kami melihat Pak Thera kehilangan kestabilan emosi. Ia sungguh terpesona tiada tara oleh patung raja negeri ini, seekor singa berbadan setengah ikan, bersirik dan mengeluarkan air dari rahangnya yang kokoh. Kiranya, memang negeri inilah tujuan kami. Namun ternyata sekali lagi kami dipilah, dimasukkan karung, untuk lanjutkan perjalanan.
Butuh waktu berhari-hari untuk menghibur Pak Thera. Transit Singapura semalam saja tak cukup baginya untuk bernostalgia dengan jati diri. Namun petualangan ini memang harus terus berlanjut. Pulau yang bernama Sumatra telah kami tinggali cukup lama, entah berapa tahun. Kami digantung begitu saja bersama lusinan kemeja denim lainnya. Kami berdebu dan bau. Hanya sesekali orang yang melirik kami. Hingga kami nyaris putus asa,  doa kami tersandung nasib menjadi loakan.

Jawa adalah tanah terpadat yang pernah kami lihat sepanjang hidup kami. Selalu saja orang seliweran kian kemari. Kami menjuluki Jawa sebagai negeri motor bebek. Setelah berbaur sebentar di Simpang Lima, Semarang kami bermigrasi ke Magelang. Lagi-lagi tetap di pusat gunungan baju bekas, awul-awul. Sayup-sayup kami rajin menguping obrolan sang pemilik toko. Hingga di suatu malam kami mendapat kabar, bahwa Sekaten telah dimulai di Yogyakarta.
“Apa itu Sekaten Pak The?” tanya Mirou, mendongak ke rumah bahtera kami.
“Sejenis tradisi dekat Keraton Jogja Saudaraku,” jawab Pak Thera.
Hanya sebekal harapan yang kami bawa untuk arungi daratan. Semoga lekas bertemu majikan baru. Kami lelah harus terus berdebu, bau, dan tercampur ratusan lembar baju yang bernasib sama seperti kami. Hanya saja, mereka tak bersuara. Mereka ciptaan pabrik konveksi, sedangkan kami terlahir dari negeri dongeng.
Kami gembira menyaksikan sebuah alun-alun yang telah dipadati berbagai macam wahana permainan. Pasar malam Sekaten tampak menggoda dengan komedi putar, tong setan, rumah hantu, dan roda raksasa bianglala yang berkerlap kerlip.
Meski nasib kami sekarang hampir sama dengan di dua kota sebelumnya, namun betapa menyenangkan saat gunungan baju banyak yang mengerumuni. Layaknya gunungan gula dan mereka pasukan semut, sibuk berburu.
Seseorang menarik kami paksa dari tumpukan tengah di gundukan kemeja bekas obral. “Aih! Lucu sekali lukisannya. Unik. Ini dilukis manual tampaknya,” seorang gadis berjilbab berkomentar sambil menunjukkan rumah bahtera, kami, dan samudra kepada seorang pemuda.
“Sudahlah, Sayang. Kau memang mahasiswa seni rupa, tapi nggak harus kan pakai kemeja yang dilukis segala? Ayo, lekas pergi. Kau tahu? Aku pernah baca artikel, baju awul-awul sarang virus mematikan. Meski kau mencucinya menggunakan cairan disinfektan,” protes pemuda itu sambil mengernyit pada kami. Tak suka.
Mereka berlalu. Kami kecewa. Padahal jika gadis itu membelinya, tetaplah takdir kami di tangan seorang pelukis. Ah, bagaimana kabar Azumi sekarang?—setidaknya ada kemungkinan mahasiswi seni rupa itu akan menambahkan keluarga baru untuk kami meski ia bukan Azumi yang kami sayangi.
Seorang anak laki-laki tiba-tiba berdiri di depan kami. Ia mengamati kami secara spesifik tanpa kedip.
“Sudah kau temukan baju yang cocok untuk bapakmu?” tanya seorang wanita, menghampirinya.
“Sudah, Mak. Bagus tidak?” tanyanya sambil memamerkan kami dengan ceria.
“Lumayan. Setidaknya pasti akan dipakai nanti untuk melaut,” komentar wanita itu, datar. Mungkin sang wanita tidak terdidik untuk menilai karya seni.
“Hm.. kalau begitu aku bayar ya, Mak. Pakai uangku dari hasil ngamen tadi. Besok Bapak ulang tahun yang keberapa ya, Mak?”
“56, Mat. Baru kali ini ada anakku yang ingat hari ulang tahun orangtuanya. Ndak pernah sekali pun Emak dan Bapak dapat kado dari kangmas dan mbakyumu.”
Bocah itu nyengir, agak malu, “tadi di sekolah diajarin Mak, buat biasain beri kado pada orang yang kita sayang.”
“Jadi, kalau Emak nanti ulang tahun, Mamat beliin baju dari awul-awul juga?” sang ibu terkekeh mendengar alasan putra bungsunya.
“Mamat belum kepikiran Mak. Cuma kata Bu Guru sesederhana apa pun kadonya, tetap berarti buat penerimanya, Mak,” tambah Mamat, sambil mengangsurkan selembar lima ribu rupiah pada penjual.
Kami –aku, Pak Thera, Ephas, Boo, si kembar, Mirou, dan Phin tertegun. Selanjutnya kami berisik kisik di dalam tas kresek hitam yang berayun ayun ringan. Hati kami berdebar-debar. Kami akan kembali dikenakan oleh seorang ayah. Kami akan kembali mengarungi laut lepas dan berkesempatan belajar menebar jaring ikan. Betapa riang gembira kami menyambut takdir baru ini.
“Bagaimana kalau tanggal ini kita jadikan hari ulang tahun?” usul Pak Thera brilian.
Semua mengangguk setuju.
Selamat Datang, Hindia!

781211—Waktu Indonesia Bagian Barat







Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...