Langsung ke konten utama

Ketika Bapak Tak Mampu Lagi Membaca


Langit menggelegak. Aku mengintip dari tiras tirai kelas. Tampak dari kejauhan, di atas sana, sobekan awan mendung bergerak semakin mendekat. Sejenak pertanda alam ini membuatku gelisah. Sengaja kupilih rasa hampa, berusaha kembali menekuri buku diktat, seraya mencoba abaikan apa pun. Benar, apa pun, terutama tentang hujan.
Samar-samar terdengar suara kelotak sepatu bertumit tinggi, lalu disusul dengan sesosok wanita muda berblazer merah marun memasuki ruangan tempatku berada. “Astaga, belum pulang juga kau rupanya Sri,” komentar Juwita, menghampiri kursinya tadi.
“Kok balik lagi, Juwi?” tanyaku, mengabaikan komentarnya. Juwita sibuk meneliti laci kolong kursi. Berkali-kali ia melongok namun tak didapatinya benda yang ia cari.
Notes-ku ketinggalan. Ya ampun, banyak catatan penting di dalamnya. Aku buru-buru tadi, jas hujan ketinggalan lagi. Oh, astaga, sial betul hari ini. Siapa juga yang mengira bakal hujan? Ini musim kemarau bukan?” keluhnya dengan mimik sebal.
“Mangsa Saddha, Tirta sah saking sasana[1],” bisikku, refleks. Cepat-cepat kutambahkan, “sepertinya tadi ada yang menemukan, deh. Hm.. coba tanya Hendra,” ujarku, berharap Juwita tak mendengar ucapanku yang lebih menyerupai rapal mantra.
“Kamu yakin? aku sms dia kalau begitu,” Juwi mengeluarkan ponselnya. “Benar-benar tidak bisa diprediksi. Ingatan, bursa saham, eh, cuaca ikutan kacau semua! Bah! Macam mana dunia ini?” gerutu Juwi, lebih pada dirinya sendiri, namun sukses menghempasku pada tumpukan ingatan.
***
                “...Dewi Sri menemui ajalnya karena dibanting dan dicengkeram kuku-kuku burung garuda Wilmuka. Semua orang berduka. Tubuhnya kemudian dikuburkan. Namun tiba-tiba dari kuburan itu tumbuhlah padi, kelapa, jagung, dan palawija. Sejak itu manusia tidak perlu khawatir lagi soal pangan mereka,” tutup bapak, sambil menurunkanku dari pangkuannya.
                “Kalau tebu ada ndak Pak di kuburannya Dewi Sri?” tanya Sri kecil, polos.
Bapak terkekeh, “Yo, onolah Cah Ayu.. semuanya lengkap demi kebutuhan manusia,” jawabnya sambil mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. “Mau ndak Bapak bagi rahasia?” tiba-tiba wajah hangat itu berubah menjadi sangat serius. Bola mataku membesar, penasaran. “Namamu Cah Ayu, dari kisah Dewining Pari..” bisiknya, dengan nada misterius.
                “Hoaah? Kulo titisan Dewi Sri, Pak? Jadi kalau mati kuburan Sri juga ditumbuhi padi?”
                Bapak melepas caping anyamannya, menutup wajahnya sambil mengangguk-angguk, menahan tawa.
***
            Mangsa Kapitu: Wiså kéntir ing marutå[2]
                Rumahku sesak oleh para kerabat dan tetangga satu desa. Saat itu pertama kalinya keluargaku mengadakan upacara wiwitan[3]. Tradisi ini berupa selametan yang ditujukan sebagai puji syukur kepada Tuhan atas limpahan berkahnya. Masa mulai tanam pada mulai dilakukan esok pagi, saat Waluku—bintang orion—bertengger terang di langit.
                Sebelumnya, orangtuaku tidak pernah mengadakan wiwitan. Mereka hanyalah buruh tani yang selalu bersemboyan “ana dina, ana upa”, sampai akhirnya mendapat cipratan sepetak tanah warisan. Bagiku dan Kang Sadana, pengalaman pertama menggelar wiwitan ini lebih bermakna daripada ikut berbaur dalam merti bumi di pagi hari dan lebih suka cita daripada menonton wayang pada malam harinya. Bagaimana pun juga, memiliki sepetak sawah tetap aduhai bangganya. Walau pun kami sedesa selalu ikut berpesta dalam tradisi masyarakat agrikultur.
                Kiai Husein, ketua dukuh kami terlebih dahulu membacakan doa keselamatan sebelum tamu undangan menyantap hidangan. Aku pun sibuk membantu membagi-bagi nasi megana dan mengiris ayam ingkung yang beralaskan lembaran daun pisang. Suara dengungan handai taulan bak penyedap masakan, membuat suasana semakin hangat dan makanan jadi terasa lebih lezat.
            “Cah ayu, coba kamu ikut nembang Gambuh sama bulek-bulekmu. Biar orang-orang kampung tahu, suaramu lebih merdu daripada Elvi Sukaesih,” bisik bapak menggodaku.
                “Ah, Bapak.. Sri ndak mau, malu,” tolakku dengan pipi memerah.

Dwi putra estri jalu, dyan Sadana lan Dewi Sri iku, sinabdakke Sadana dumadya sriti,
Sri dadya sarpa, nandhang papa putra karo.
Sakarone anglangut, tan karuwan kang bakal jinujug, sarpa sawa lampahira duk dumugi,
tlatah nagri Wiratheku, lerem neng sawah amanggon.

Aku duduk di antara sepupu-sepupu perempuanku. Sambil mengunyah hidangan, sesekali mendongak memandang bulekku yang menembang, dan tanpa sadar ikut melantunkan syairnya. Sebenarnya, jika tembang itu tidak banyak menyebut namaku, mungkin aku mau menyanyikannya. Sungguh, aku hapal dengan baik Lir ilir atau tombo ati. Sejatinya, aku tidak ingin dibilang sombong karena Sri di liriknya. Ah, betapa polos pikiran bocah sembilan tahun saat itu.
***
            “Pak, kulo badhe kuliah Ekonomi,” izinku hati-hati, sambil memijat kaki bapak. Kemarin lusa, pengumuman ujian masuk PTN keluar. Aku lolos dan teramat bahagia. Namun tentu saja, yang jadi ganjalan adalah masalah keuangan keluargaku.
                 “Ekonomi iku mben kerjone ndhek Bank, iyo ora Nduk?” sahut ibu, di samping kami, sibuk memasang kancing baju koko bapak yang mengusam.
                “Opo kowe ora minat Nduk, kuliah pertanian?” tanya bapak yang sudah berkali-kali beliau lontarkan semenjak aku kelas tiga SMP. Aku dan ibu saling berpandangan, bingung harus bereaksi seperti apa lagi. Entah, sejak kapan tepatnya bapak terobsesi mempunyai anak sarjana pertanian. Memang, Kang Sadana tidak bisa diharapkan untuk meraih gelar itu. Sudah setahun ini dia berkerja di Malaysia, menjadi TKI. Hanya aku tumpuan bapak untuk mewujudkan impiannya. Coba tebak? Bapak ingin sekali mempunyai seorang anak yang berkerja menjadi penyuluh pertanian.
                “Mm.. ndak cuma bank kok, Mak. Sri bisa juga kerja di KUD di bagian distribusi pupuk atau semacamnya..” ucapku pelan. Kini menggunakan strategi lain untuk menarik hati bapak.
                “Ndak usah ngoyo kerja nang KUD, Nduk.. Wes podo bangkrut koperasi saiki. Yo weslah, tak ijini. Kuliaho sing tenanan. Urusan sing liyane bapak lan emak wae sing mikir.”
                Urusan yang lain itu finansial. Dengan getir aku menerima kenyataan, bapak telah tandatangan surat penjualan sepetak sawah kami. Hibur beliau, semoga kelak aku menjadi menteri dan membeli lagi sawah yang lebih luas.
***
Emak wafat di tahun keduaku kuliahku. Kesepian seolah tak mampu menggerogoti semangat bapak. Kini, beliau mengisi waktunya dengan sibuk berkebun di belakang rumah sembari menjadi seorang buruh tani lagi. Tiap subuh, sesuai sholat berjamaah di surau, beliau memikul cangkulnya dengan seragam dinas yang selalu sama. Kaos oblong kusam dan celana pendek selutut. Malamnya, beliau berada di rumah Suprapto, guru SD, sambil sesekali menghadiri tahlilan tiap malam Jumat. Entah, ide darimana belajar baca tulis tersebut. Tahu-tahu, saat aku pulang liburan ke rumah, bapak telah membaca koran di teras depan.Wajahnya sangat serius, sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku. Alisnya bertaut, kacamata baca bertengger di hidungnya yang tegak lurus.
“Baca apa toh, Pak?” tegurku halus, tersenyum, lalu meraih tangannya untuk salam.
“Ini loh, soal krisis air. Bapak ndak terimo karo ahli sing nulis berita iki,” gerutunya sambil menunjuk sebuah paragraf yang rupanya telah menyinggung hati beliau.
Beberapa ahli menemukan, paradoks “kekayaan” air Indonesia ini terjadi karena masyarakat lemah dalam hal pengelolaan air. Laju kebutuhan sangat pincang dibandingkan tingkat ketersediaan. Hal ini  erat kaitannya dengan konsumerisme masyarakat perkotaan dan tata kota yang buruk. Selain itu, petani di sebagian besar daerah merasa ketersediaan air untuk irigasi sudah cukup hingga pesta panen, tanpa memperhitungkan datangnya musim kemarau yang bisa mengancam pertumbuhan tanaman pada musim berikutnya, sehingga mereka enggan menyimpan kelebihan suplai air.
            “Bapak bisa ngerti kalau kota menyebabkan krisis air. Tapi mbok yo jo salahke petani. Iki sing nulis ora paham babar blas soal petani. mung agawe ngomong ora dipikir sik. Petani koyo’ bapak iki wes apal sak apal-apale soal subak. Contohne, watak mangsa Kawolu, berbunyi anjrah jroning kayun (sesuatu yang merebak dalam kehendak). Kucing-kucing podho kawin. Hujan yang turun jadi tabungan pengairan kelak saat kemarau. Bukan malah boros air!” bapak pun mulai uring-uringan. Terpaksa, dengan sabar aku mendengarkan ulang kuliah bapak tentang sistem irigasi hingga seluk beluk pranata mangsa[4].
***
Kang Sadana akhirnya kembali ke tanah Jawa. Banyak yang ia bawa selain pundi-pundi uang. Perubahan itu cukup menyolok, terutama pada penampilan dan gaya bicaranya. Terlebih lagi pada peningkatan ibadahnya sekarang yang sangat jauh berbeda daripada sebelum ia hijrah ke Malaysia. “Dek, aku mau renovasi omah. Rencananya, rumah ini aku rombak total. Seluruh lantai dikeramik, dinding dicat warna warni, terus ditingkat supaya kelihatan megah. Piye menurutmu?”
                “Setuju saja sih, Kang. Tapi yah jangan terlalu menguras tabungan Kang Sadana..”
                “Hoh yo ora noh! Ini sudah ada anggarannya. Aku pengen pas nikah kelak, rumah ini sudah bagus. Oh yo, aku juga mau nambah satu kamar khusus. Senthong tengah[5] nanti aku ratain biar ruang tamu kelihatan luas.”
                Belum sempat aku bersuara, bapak di belakang kami telah menyahut dengan lantang. “Ndak setuju! Kowe jangan sekali-kali merobohkan krobongan[6]. Kamar itu keramat, Leh.”
                “Bapak ini kok ya masih kolot pikirannya? Krobongan itu musrik Pak! Iling Gusti Allah.. tidak ada yang namanya sesajen buat dewa-dewa. Apalagi Dewi Sri...!”
                “Kowe wani ngelawan Bapak. Leh?!”
                Perang mulut itu berujung pada kondisi paling menyedihkan yang pernah kami sekeluarga alami. Kang Sadana dan bapak tidak bertegur sapa. Parahnya, bapak jatuh sakit hingga tidak kuat lagi turun ke sawah. Beliau berbaring lemah di dipan sambil sesekali memanggilku, meminta segelas teh hangat. “Nduk, kamu kapan masuk kuliah?” tanya bapak lemah.
                “Masih lama kok Pak,” jawabku, berbohong. Tidak tega dengan kondisi bapak.
                “Jangan khawatirin, Bapak. Kuliahmu itu penting, Nduk...”
                “Nggih, Pak.”
                “Kamu tahu ndak kenapa Bapak beri nama kamu Sri?”
                Aku menggeleng, meski dalam hati mampu menebak arah pembicaraan bapak. Pasti berujung pada dewi idolanya. Bapak tersenyum kemudian menyuruhku mendekat padanya. Beliau berbisik, “Bapak ingin puteri bapak bermanfaat sepenuhnya bagi manusia. Bermanfaat yang manunggal,nyawiji—menyatu dengan alam seperti Dewi Sri.”
***
                “Puji Tuhan! Notes-ku ada di Hendra. Thanks Sri,” pekik Juwita ceria. Pandanganku refleks beralih dari bingkai jendela ke raut wajah manisnya, terbangun dari lamunan.
                “Sri.. kau baik-baik saja?” tanya Juwita ragu. Hujan turun deras di luar sana.
                “Eh.. ya, tentu..” aku mengusap cepat pipiku. Sebulir air hangat menetes dari sudut kelopak mata. “Aku rasa, kampus ini perlu direnovasi. Hahaha.. bocor atapnya,” paksaku melucu. Juwita terdiam dengan tatapan aneh. Ia menghampiriku sekarang, mengambil duduk di depanku, lantas menyentuh tanganku.
                “Tangan kau beku Sri, macam kampus pake freezer saja, bukannya AC,” celutuknya, ganti melucu. Derai airmataku masih tidak mau berhenti. Juwita menghela napas panjang, “Ceritalah Sri..” pintanya. Maka, aku pun bertutur tentang bapakku. Bapakku seorang petani.
                “...Tidak sesederhana yang kita kira selama ini. Jiwa petani adalah jiwa yang menghayati alam. Bapak tahu persis kapan tepatnya menanam dan memanen, gejala alam pada hewan sawah, bahkan membaca desiran angin musim. Di hari terakhirnya, bapak tengah bersedih tentang dua hal. Pertama, tentang hubungannya dengan kakak laki-lakiku, dan kedua tentang ketidakmampuan bapak untuk membaca alam tahun ini. Pranata mangsa seperti sudah tidak berlaku lagi..”
                “Global warming memang isu yang sangat krusial Sri..” komentar Juwita, mencoba peduli.
                “Tapi tidak ada yang lebih sakit hati karena pemanasan global kecuali petani seperti bapakku. Seperti hujan ini...” aku menoleh ke sisi kaca jendela yang berembun. “Bagi banyak orang, hujan tengah kemarau adalah berkah karena hawa panas yang membuat gerah. Namun bagi bapak, ini keliru. Mekanisme alam tidak lagi mampu ia pahami. Sebuah kegagalan besar untuk petani..”
                Kami berdua terdiam sejenak, terbenam dalam rasa dan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba suaraku tercekat, selintas kenangan mucul, “Bahkan di hari terakhirnya, bapak memilih krobongan, kamar suci untuknya berbaring dan pulang...”
Yogyakarta, Subuh-250911
Entah mengapa, ingin kubingkiskan kisah ini pada:
 alm. Yai, kakek tersayang













[1]  Air lenyap dari tempatnya. Menandai kedatangan musim kemarau.

[2] Rendheng – udan-penghujan, jatuh pada 23 Des – 3 Feb, Wiså kéntir ing marutå (Racun hanyut bersama angin)
[3] Tradisi yang merayakan masa tanam atau masa panen tiba
[4] Pedoman Musim. Sri Susuhunan Pakubuwana VII mengodifikasikan secara rapi teknik tradisional ini dalam sebuah buku: Pranata Mangsa. Pedoman ini mencerminkan ontologi menurut konsepsi Jawa serta arketipe alam pikiran Jawa yang dilukiskan dalam berbagai lambang yang berupa watak-watak mangsa.

[5] kamar yang terletak dideretan tengah atau disebut juga krobongan
[6] kamar di tengah rumah, selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling. Biasanya untuk sesaji terutama untuk Dewi Sri, Dewi kesuburan dan kesejahteraan.

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...