Langsung ke konten utama

Lelayu


 “Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...”

Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian?
Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang status kami.
Hingga suatu ketika Ayahanda berkata, “setidaknya kau lanjut hingga S3, atau kalau memungkinkan jadilah profesor di kota tetangga.” Aku terhenyak, itu sama saja vonis untuk hakku berkasih sayang dengan seorang lelaki.
***
Jadi, akulah Mika, penghuni baru kamar 29. Pertama kalinya aku menginjak lantai petak 3x3 meter persegi ini, rutinitas refleks terbayang. Tahun-tahun selanjutnya pasti akan kuisi dengan agenda akbar; disertasi. Tahun-tahun ke depan akan selalu bersama kamar mandi dalam, laundry siap antar, akses internet tercepat, mobil kinclong tiap pagi, dan jam baca yang cukup panjang. Aku seperti majikan dalam kos. Sama saja, hampir tidak ada bedanya dengan di rumah sendiri.
“Bu Mika, istri saya juga biasa masakin sarapan dan makan malam lho di sini. Kalau Bu Mika mau, angsurkan saja uang belanja per bulan.. biar kalau kelaparan ndak harus lari ke angkringan..” ujar Martijo, penjaga kos, sambil menjinjing koper berisi buku-buku tebal.
Aku tak menyahut. Di tengah kesenyapan menata buku dalam rak, dari kejauhan terdengar suara serak laki-laki paruh baya mengumandang, “Innalillahi... Innaalillahi Wainnaailaihi Roji’un. Telah meninggal dunia dengan tenang pada hari ini, Selasa empat Agustus pukul enam pagi, Sakinem, usia 76 tahun di rumah sakit Citra Mulya. Jenazah akan dimakamkan....”
Tanganku terhenti, meminta jeda untuk turut berduka ala kadarnya, dan mulut refleks mengucap Innalillah.. lalu, kembali bergerak cekatan memilah buku.
 Malam beranjak datang. Kuseka keringat, setelah seharian berkutat dengan sepetak ruang bisu. Dan yang kusukai dari kamar sempit ini hanya sebingkai jendela besar dari kusen kayu Jati berpelitur. Jendela ini tak berterali, mempunyai dua daun yang dapat mengayun luwes tanpa derit engsel. Yang terbaik pula, jendela itu menghantarkan aroma lezat masakan tetangga.
                “Epaaaaaaaaaaan..! Jupukke jahe neng kresek. Epaan!!”
                Senyap dirobek seketika oleh suara melengking nyaring wanita. Disusul kemudian bunyi penggorengan berdesis-desis, seseorang –mungkin wanita itu—tengah mencelupkan ikan berlumur tepung ke wajan dengan minyak mendidih. Aroma menggiurkan ikan goreng membumbung tinggi, hinggap di kamarku, lantai dua.
                “Epaaan...!”
                Aku tersenyum tipis. Membayangkan sang anak badung yang sering mengabaikan panggilan bertuah sang ibu. Semakin tersenyum lebar, membayangkan ia—Evan—bocah kecil itu dijewer oleh ibu-ibu berdaster bunga-bunga. Dan sebelum kututup sepasang daun jendela, aku tersenyum miris. Aku lupa kapan terakhir kalinya Bunda berteriak dari dapur untuk mengajakku memasak bersama.
***
                Hari ini pertama kalinya aku makan di luar, itu pun terpaksa dan dengan jarak terdekat. Istri Martijo melahirkan. Dengan gontai aku beranjak memasuki warung makan tepat di samping kos, warung milik tetangga sebelah. Sembari menyuap nasi, aku amati sekelilingku. Warung ini pun berdiri di depan sebuah kos putra. Rata-rata pembeli memang berjenis kelamin laki-laki. Mungkin sebagian besar pelanggan memang berasal dari kos putra.
                “Kalau Minggu Mbak, multietnik,” celutuk seorang gadis berambut pendek tipis. Aku menoleh, heran. Nyatanya, sedari tadi aku tak sadar ada seorang gadis di sebelahku.
                “Mbak baru ya di sini?” tanyanya, santai.
                Aku mengangguk, singkat. 
                “Kalau Minggu ramai banget, biasanya tuh ada Anak Ambon, Makassar, Malaysia, India, bule Jepang, Arab, sama bule Inggris..”
                “Kenapa?” batinku ingin meneruskan, ‘kenapa kau tiba-tiba suguhi aku dengan informasi itu?’, namun tertahan dengan pertimbangan etis tidaknya.
                “Yah, soalnya masakan Bu Royo ini sedap banget. Masakannya disukai banyak mahasiswa. Lagi pula, di sini pusat pemukiman mahasiswa luar negeri juga kok..”
                Aku tersenyum sopan, melanjutkan makan. Aku tak hendak bertanya apa pun mengenai biodata gadis asing tersebut atau setidaknya berbasa-basi menanyakan keadaan lingkungan sekitar. Namun, tiba-tiba dari arah belakang seorang pemuda menepuk keras kepala si gadis. “Lela..! humas RT Tiga! Hahaha.. parah nian kamu ini!”
                “Hush! Jundu-jundu seenaknya. Situ Romo aku po?”
                Acara ribut-ribut kecil itu pun berakhir dengan pertemanan baru yang begitu saja aku miliki, tanpa aku pernah memintanya. Lela, nama gadis-asal-celetuk tadi. Mahasiswi semester empat, dari ujung pulau, tinggal di kos Prahaya RT tiga RW enam. Selanjutnya Evan, seorang pemuda sebaya Lela, terpaksa urung kuliah, berkerja pada Bu Royo sebagai pesuruh.
                “Dia itu Mbak.. namanya Lela Yu, jadi jangan heran jika dia sering mendadak sendu.. menggalau tiap siang,” ungkap Evan meyakinkan.
                “Hush! Namaku bukan berarti berita duka ya! Sembarangan! Lela Yu itu bermakna Lela Ayu, ngerti ra koe?”
                “Seperti nama marga ‘Yu’,“ ucapku menimpali, canggung.
                “Ah Mbak, buat apa nama marga kalau saya hidup dari kecil di panti asuhan?” timpal Lela ringan. Tidak ada nada satir secuil pun di ujung mulutnya.
                Aku terhenyak, meneruskan mengunyah mendoan.
***
Akhirnya, entah bagaimana selera Tuhan tampak tak bisa diprediksi, aku berteman akrab dengan Lela dan Evan. Aku menyukai mereka, yang tampak hidup bebas tanpa beban.
“Jadi.. Apa Mbak Mika punya kekasih?” tanya Lela tiba-tiba.
“Tidak..” jawabku menggantung, berpikir sesaat, lalu menambahkan, “mungkin ada, suami dambaan.”
“Seseorang di kota lain?”
“Bukan. Abstrak. Aku tak tahu dia siapa. Suami, ya hanya suami.. suami anonim.”
Lela cekikikan, “seperti itukah jalan pikir mahasiswi S3?”
“Lebih tepat, jalan pikir wanita melajang,” koreksiku sambil tersenyum kecut.
“Aku melajang! Tapi aku punya detail impian itu, figur seseorang, dan ada wujud raganya. Sebut saja Perkasa namanya.”
***
Lain waktu, di suatu pagi cerah, aku menyusuri rute Selokan Mataram dengan Evan. Kami menaiki pit  kumbang tanpa takut teraniaya padatnya agenda.
“Mengapa tidak kau ceritakan saja pada mereka, beasiswa itu palsu, dan kau tidak kuliah di sini..” sahutku, menyambung sahut-sahutan obrolan di pinggir jalan.
Evan menggeleng bijak, “Tidak, selama saya yakin peluang itu masih ada sedekat mungkin.” Intonasi Evan harus aku akui penuh dengan keteguhan hati. Tegas, tanpa menyiratkan pesimisme yang justru akhir-akhir ini tampak menjangkiti warga Indonesia.
“Yah, tapi kau kerja di Jogja. Orangtuamu harusnya tahu, kau tidak belajar tiap malam tapi menggoreng rempeyek tiap subuh buta!”
“Saya belajar banyak kok. Tiap hari saya belajar menjadi koki handal dan penguleg sambal mantap,” bantahnya, keras kepala.
“Tapi cita-citamu menjadi insinyur, bukan pengusaha rumah makan!” tandasku, masih tidak mau kalah dengan bocah yang berjarak tujuh tahun di bawahku tersebut. Meski dalam otakku pun sebenarnya mengagumi semangat Evan sekaligus meyakini bahwa sah-sah saja nasib pemuda di sebelahku ini tidak sesuai dengan pendirian teguhnya. Menjadi seorang pengusaha rumah makan yang sukses lebih menggiurkan daripada berkerja pada kontraktor bukan?
Gerimis mulai merintik saat kami pulang dari bersepeda. Evan bergegas ke pekarangan kos Bu Royo, menarik kasar tiap helai baju yang menggantung pada tali rafia. “Haduh! Cucian saya basah Mbak..” keluhnya, dengan nada agak panik. Beberapa ahari terakhir memang sulit sekali menemukan sinar terik matahari.
“Mau aku bantuin?” tawarku, menghampirinya.
“Mbak ndak ada jemuran?”
“Aku sudah terikat kontrak dengan mesin cuci, apa boleh buat..”
Evan tertawa lepas, sekilas ia menghentikan kesibukannya menarik jemuran, dan kemudian bercelutuk, “yang instan selalu melenakan, Mbak.”
Akhir-akhir ini, aku gampang terhenyak.
***
Hawa kota menggelora panas. Gerah dimana-mana setelah sekian lama didera kelembapan ekstrem air hujan. Sama halnya dengan suhu sekarang, emosi labil gadis muda tengah meledak-ledak di kamarku. Lela mondar mandir sambil berteriak-teriak kesal, sesekali misuh, mengumpat dengan fasihnya.
“Duh, Gusti Pangeran Akaryo Jagad, Hamba-Mu ini kelimpungan Ya Rabb.. mohon permudahkanlah urusan berburu berita ringan. Agar hamba tidak mengulang dalam mata kuliah ini, Insya Allah hamba akan mengabdi pada bangsa dengan jurnalisme tulus.”
Betapa mudah manusia tertawa dan menangis, begitu pula mengumpat dan tak lama kemudian memelas. Aku hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan kegelisahan Lela, dari balik makalah yang terjilid tebal.
“Apa tema tugas softnews-mu?”
“Peristiwa di permukiman.”
 “Bagus,” komentarku, “teruskan...” aku kembali menekuni bab dua pada makalah.
Lela mengubah mimiknya menjadi bak anak tiri meratap. Berita ringan yang justru tak meringankan hidupnya kali ini membuatku lama-lama merasa iba.
Innalillahi.. Innalillahi wa Innailahi Roji’un....” suara lelaki mengumandang, mengabarkan duka seperti biasanya.
“Hei, itu ada peristiwa. Liput saja!” seruku, mengusulkan dengan semangat.
“Huh! Orang meninggal? Apa serunya?” Lela menaikkan alis kirinya.
“Sakaratul mautnya mungkin,” jawabku cepat.
“Huh! Kalo’ berita lelayunya seperti biasa yah mana bisa jadi berita dong Mbak. Harus yang layak berita, punya setidaknya tiga unsur nilai berita. Lagipula... RT 3, 4, dan 5 demografinya didominasi sesepuh. Yang meninggal selalu saja kakek nenek..” keluh Lela panjang lebar.
Aku mengangguk saja, tidak membantah.
***
Entah mengapa, akhir-akhir ini perasaanku selalu dirudung kemuraman. Aku kira, ini hanyalah fase hormon yang bersiklus, kodrat wanita. Telah tiga jam lamanya aku berkutat pada proposal disertasi seorang teman. Tiba-tiba perutku meronta, dan aku begitu malas untuk keluar kamar.
Terbersit ide sederhana. Ya, pemuda bawah atap, Evan, pasti akan senang hati mengantarkan serantang nasi hangat, cah kangkung, dan penyetan lele bersambal terasi ke depan kamarku. Aku beranjak mendekati bingkai jendela, “Evaaan..! Evaaan..!” teriakku, menyoba nyaring melengking ala Bu Royo. Tidak ada sahutan. Mungkin ia sibuk, batinku. Lagipula mungkin juga tak terdengar.
Kusambar ponsel android di tepi ranjang, segera memencet sejumlah nomor.
“Van, bisa antar makan siang tidak? Delivery ada sejak dulu Boy..hahaha, ya, ya, ya, kau hapal seleraku. Terimakasih Van. Aku tunggu..” ujarku lega.
Setengah jam berlalu, detik-detik jam dinding serasa menetak lambungku yang melilit perih. Sudah empat kali aku kirim pesan singkat ke Evan. Aku katakan, maagku kambuh. Dan ia jelaskan, warung ramai luar biasa. Selanjutnya, ia balas dengan tergopoh-gopoh.
Ok, pesanan siap antar, saya tunggu di depan.
Aku menarik napas, enggan turun ke bawah. Niatku memang, menyuruhnya naik ke lantai dua saja, letak kamarku berada. Aku balas pesan singkat Evan, merayunya untuk ke lantai atas. Tidak ada balasan lagi. Namun, lamat-lamat terdengar suara jejak kaki menapak tergesa di anak tangga melingkar. Aku sumringah, sebentar lagi pintu diketuk, dan telah kusiapkan uang berlebih untuknya.
Tiba-tiba terdengar suara berdebam, keras.
“Masya Allah! Gusti..! Toloong!” jerit Melani, anak lantai bawah terdengar melolong, menggema di setiap koridor gedung kos.
Jantungku serasa tergodam. Bergegas aku membuka pintu dan menghambur ke asal suara debam. Martijo, dengan memeluk tongkat kain pel terbius di ruang tengah. Sesosok tubuh tampak terkapar di anak tangga terbawah, bercucuran darah dari batok kepalanya. Perutku mual menyaksikan Evan tak bergerak, nyaris menyerupai lele yang menyeruak dari sobekan kertas minyak bersiram sambal.
***
Gemuruh ketakutan melanda bagai air bah. Panik luar biasa aku berlari mengiringi berlarinya ranjang dorong rumah sakit. Dengung sirine ambulan masih bedenging di kepalaku. Kacau. Kritis. Dan aku tak berdaya dalam zona baruku. Untuk pertama kalinya gelar doktoral terhapus dari ingatan. Zombie ini telah terhantam keras. Obsesi apa pun kini tampak tak berarti lagi.
***
Dua hari tanpa tidur. Menunggui keadaan Evan yang kritis. Aku benar-benar tertekan bahkan oleh aroma bangsal rumah sakit. Berulang kali aku yakinkan pada diriku, “dia hanya koma, bukan titik, bukan titik henti.” Akhirnya Bu Royo berhasil memaksaku pulang, sejenak beristirahat. Niatku hanya untuk mandi dan berganti sandang sekenanya. Namun ranjang dan tumpukan bantal membuatku lantas terlelap—terlalu lelap—semakin lenyap dari keterjagaan.
Aku mendapati diriku berada dalam satu jalur dengan sosoknya. Evan, ya, dia tersenyum tenang di ujung simpang tanpa nama. Tangannya terulur, seakan hendak mengajakku jalan-jalan pagi seperti biasa. Kali ini tanpa pit onthel.
“Bosankah Mbak?” tanyanya, ringan.
“Ya,tentu. Aku bosan belajar. Setidaknya untuk sementara ini. Seperti zombie dikekang jenuh,” keluhku, menghela napas panjang.
“Apa di akhirat kita musti terus belajar?” tanyanya lagi.
“Tidak kukira. Entahlah, mungkin ada belajar, belajar adaptasi. Maksudku, hei, akhirat pasti suatu tempat yangs angat asing setelah berpuluh-puluh tahun lamanya kita mendekam di bumi.”
“Menarik. Kenalkah surga neraka pada kata jenuh?”
“Pertanyaanmu aneh sekali,” aku menyipitkan pupil, curiga. “Lekaslah sembuh, Bocah,” ujarku sambil menepuk bahunya hangat. “Aku janji akan rekomendasikan kau beasiswa di tempat Ayahku berkerja..”
“Ah, untuk Lela saja Mbak..” tolaknya sambil tetap tersenyum.
Aku tergeragap bangun. Matahari telah condong ke barat, menyusupkan berkas-berkas sinarnya melalui tirai transparan. Aku tersentak menarik kesadaran, ngilu, mendengar suara seorang gadis yang kukenal mengumandang, bukan lagi suara bapak-bapak tua muadzin mushola Al-Amin.
“Innalillahi.. Innnalillahi wa Innailahirojiun.. telah kembali ke Rahmatullah, Sanepan Perkasa. Usia 19 tahun, pada hari Jum’at, 8 September, pukul satu siang di Rumah Sakit Harapan Sentosa. Jenazah akan dimakamkan..” senya menjeda sejenak, “...esok hari pukul tujuh pagi.” Suara itu  terdengar tampak menahan-nahan getar kesedihan yang begitu dalam.
“Sanepan, sahabatku, perlambang perkasa bagi kami yang telah ditinggalkan, semoga kau bahagia kembali ke Sisi-Nya. Dan kami di sini mencoba melepasmu dengan ikhlas.  Selamat tinggal Epan.. wassalamualaikum,” tutup Lela menuntaskan kabar lelayu dengan tenggorokan tercekat. Ia tidak mengulangi lagi kabar kematian seseorang yang disayanginya itu, sebagaimana muadzin biasa berkali-kali menyampaikan lelayu.
Aku berdiri gemetar, persendianku meluruh, rapuh. Aku menutup daun jendela yang kini berdecit. Tiba-tiba terlintas percakapan tempo hari di kepalaku.
“Ya kau cari saja berita sama Evan.. biar bisa keliling kota juga.”
“Dia masih belanja ke Beringharjo, disuruh Bu Royo. Oh ya, Epan bukan Evan, Mbak..” tekan Lela.
Bibirku tersenyum getir sekarang, “Lel, sudahkah kau kerjakan tugas berita permukimanmu?” bisikku, lirih.
***

 Plasaruangtunggu 13 Mei, 2011


Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...