Langsung ke konten utama

Lubang Plastik


Orang-orang bilang ia berlebihan. Benar adanya. Namun hanya segilintir yang tahu bahwa ia seperti neraca berat sebelah, terus terombang-ambing. Jika bukan neraca, ia mirip papan jungkat jungkit, akan selalu terpental ujungnya saat menyentuh besi spiral atau pun ban bekas yang tertancap di bawah papan, karena separuh lagi terbenam di tanah. Lantas hanya seujung kuku yang tahu bahwa ia seperti dua kutub, bipolar, sebut para psikiater langganannya. Beberapa orang pakar itu –yang katanya ahli urusan kejiwaan—yang menyelami tingkat absurditas alam pikir manusia—bilang, emosinya bermasalah. Sungguh bermasalah.
Orang-orang bilang ia berlebihan. Lebih mudah lelah, lebih mudah marah, lebih mudah gelisah, lebih mudah menangis, lebih mudah bahagia yang gugup, dan lebih mudah berdiam diri. Mengosongkan diri, istilah favoritnya saat ia merasa berada dalam jeda dunia nyata dan imajinasi. Sering kali, ia berjalan, sendirian, tanpa memandang sana-sini, tanpa membaca petunjuk jalan. Ia bilang, “turuti pinta hati”. Itu saja yang selalu menjadi alibinya saat seseorang lekas mengangkutnya pulang. Tidak sengaja bertemu di tepi jalan. Ia bilang, “antena telepati kita berguna”. Lalu ia pun tersenyum bahagia di punggung kekasihnya itu.
Suatu sore, lagi-lagi ia berjalan kaki, meniti tepian batu bata yang dipoles belang-belang, di tepi jalan yang banyak pepohonan. Setelah ia menemui psikiater untuk membicarakan perkembangan jiwanya, tidak ada beda dari kemarin-kemarin. Pakar yang selalu berslogan berpikirlah positif!, nyatanya, tidak terlalu mengerti, ah, belum terlalu paham atas apa yang ia rasakan.
“Jadi malam itu saya kambuh lagi,” ungkapnya, “saya kembali kosong saat melihat nenek-nenek tua menjajakan kerupuknya ke warung makan seberang tempat duduk saya.”
“Lalu?”
“Saya kosong. Seperti terbelah, setengah ruh saya keluar untuk menyaksikan raga saya. Saya tahu saya kosong, mata saya tak punya lagi sinar. Bibir saya kering, dan saya nampak memandangi orang mengenaskan yang duduk diam. Padahal orang itu, saya.”
“Untunglah, kesadaran itu masih tidak sepenuhnya hilang ya? Jadi kapan Mbak stabil kembali setelah kekosongan itu?”
“Saat kekasih saya menggoncangkan bahu. Mungkin telah berkali-kali. Ia mampu menarik saya kembali ke dunia ini.”
Ia telah kehabisan kata-kata. Ia bosan ke pakar kejiwaan. Tiba-tiba saja ia merasa luar biasa lelah di lututnya. Meski telah berjam-jam lamanya ia duduk mengantri urutan konsultasi dan berada dalam obrolan satu arah. Seharusnya yang lelah pantatnya bukan? Dari kejauhan nampak sebuah becak bergerak semakin mendekat. Ia mendongak ke langit. Mendung bergulung-gulung di atasnya. Kadangkala, ia lebih memilih abang-abang ojek untuk antarkan ia pulang.
“Ke Jalan Amerta berapa ya, Pak?” tanyanya, pada seorang kakek-kakek tukang becak.
“Dua puluh ribu, Neng.”
“Lima belas?” tawarnya, lemah.
“Tidak bisa Neng kalau belasan.”
Tanpa pikir panjang, ia menyetujui harga tinggi tersebut. Tukang becak refleks menundukkan badan becak agar sang penyewa leluasa naik ke dalamnya. Jarak yang ditempuh sebenarnya tak terlalu jauh, sekitar satu kilometer. Orang-orang bilang, tukang-tukang becak ini berlebihan dalam mematok upah tenaga mereka. Saat upaya fisik lambat laun nyaris dianggap rendahan karena luberan permintaan transportasi bermesin, asap-asap yang mengepul di jalan raya justru seringkali membuatnya sesak napas.
20.000 rupiah.
Mungkin jika naik taksi sama dengan yang tertera di argometernya.
20.000 rupiah. Gadis itu hanya ingin menjadikan satu kilometer ke 1.000 meter lalu ke 100.000 sentimeter. Maka ia pun dengan nyaman duduk di bantalan becak tanpa memikirkan nominal uang. Kata orang-orang ia berlebihan.
Sebentar lagi air langit hendak tumpah. Angin semakin menderu-deru kencang, membuat banyak pengendara motor kelilipan debu yang berhamburan. Suara gemuruh terdengar berkuasa. Dilatarbelakangi gedung bertingkat lima yang setengah jadi, kilat seakan menyayat-sayat ujung-ujung beton yang masih menampakkan jelujur besi kurus. Hawa dingin menyeruak, disusul titik demi titik air turun. Semakin lama semakin tebal saja tirai hujan yang datang .
Tukang becak memarkir sumber rezekinya di tepi halte bus. Lantas ia pun mengenakan jubah plastik biru panjang sebagai jas hujan ala kadarnya. Kaos pilkada tahun lalu tertutup sekarang. Dengan cekatan ia pun menarik selembar plastik putih buram di depan badan becak. Mengaitkan kedua ujung plastik pada lengkungan besi di sisi kedua roda depan agar menutup sempurna. Sang penyewa becak tidak tampak lagi sekarang.
Gadis itu terpekur sejenak di dalam becak. Kini cipratan air hujan tidak lagi mengenai baju dan celana jinsnya. Hangat yang ia rasakan. Angin sesekali bertiup mengoyak plastik dengan suara berisik. Sesobek lubang berada sejajar dengan matanya. Mungkin sengaja disobek untuk lubang pengintip agar tujuan penumpang tidak kebablasan.
Ia tersenyum senang. Sepersekian detik tadi ia berasa menjadi seorang tuan putri yang ditandu, sekarang justru berubah menjadi agen spionase. Becak kembali dikayuh, lamban. Sang kakek tampak kehabisan tenaga masa mudanya. Berkali-kali lalu lalang kendaraan bermotor menyalip dengan kencang. Menyisakan riak genangan air yang membasahi kaki tukang becak.
Alih-alih bosan tak dapat melihat pemandangan jalan raya dengan leluasa, ia mengintip di lubang plastik. Meskipun ia tahu, masih cukup jauh jarak ke rumah kontrakannya. Didekatkannya sebelah mata kanan untuk melihat lebih jelas, dan ia tersentak!
Di luar telah malam. Pekat, bukan oleh mendung. Ia melihat sebuah bangku taman, dengan sepasang muda-mudi duduk bersandar. “Kau lihat, nenek itu...” suara pemudanya terdengar. “Sudah selarut ini masih saja ia tawarkan dagangannya. Kau lihat, para pengunjung warung makan yang sedang lesehan itu? Mereka dingin, tak punya prihatin secuil pun..”
Tampak seorang nenek berpunggung melengkung menjinjing nampan beralas kertas koran. Sebelah tangannya mencengkeram tas anyaman. Pemuda itu menghampirinya. Dengan lembut ia bertanya apa saja yang dijual oleh sang nenek. Aksen Jawa halusnya mengisyaratkan pada sang nenek untuk memasukkan dua bungkus rempeyek teri, dan tiga bungkus karak.
Namun sang penjual memasukkan empat bungkus rempeyek dan lima bungkus karak. Pemudanya menggaruk belakang telinga. Ia tak berniat membeli sebanyak itu. Sang nenek tampak agak keras kepala, memaksa dengan tanpa banyak promosi.
“Dimana yah anak-anaknya? Tega nian mengizinkan ibunya berjualan kerupuk hingga malam begini?” tanyanya pada si gadis yang mematung. Pandangan pemuda itu lurus ke arah punggung nenek penjaja kerupuk yang berlalu. Sudut matanya tetap tak bisa melenyapkan tatapan-tatapan dingin apatis para penikmat warung makan.
“Ironis bukan? saat mereka pun mampu makan di warung yang mahal, berpajak pula! Hei, mengapa kau diam saja, Nona?”
Sang Gadis tetap membisu bak manekin.
Lubang plastik menganga semakin besar. Telunjuknya tanpa sengaja memperparah diameter lubang. Sebentar lagi ia sampai ke kontrakannya. Ia memberi petunjuk jalan ala kadarnya. Lalu berkutat kembali pada lubang plastik.
Lagi-lagi yang dilihatnya bukan jalan dan permukiman, kini sebuah ruangan. Empat orang bentrok di dalamnya. Dua orang pemuda saling bersitegang, mereka nyaris baku hantam. Sepasang suami istri tua saling berpengangan tangan, tak mampu meredam kekacauan. Entah apa yang meraka perebutkan. Entah apa yang mereka tonjolkan selain ekspresi kontradiktif yang ada. Mata si pengintip berkaca-kaca, saat sang bapak akhirnya melerai namun justru tersungkur karena sikut anaknya. Sang ibu meratap, memohon ampun pada Maha Pencipta namun lubang-lubang telinga kedua anaknya entah lenyap kemana.
“Neng, rumahnya yang mana?” colek tukang becak dari balik kemudinya. Napasnya tampak menderu, kewalahan dengan ritme hujan.
Si pengintip terhempas. Ia menoleh ke belakang, “rumah nomor 14, pagar hijau Pak!” serunya. Sepetak bangunan yang dituju telah sangat dekat. Pagarnya yang mengusam ditumbuhi lusinan kuntum bougenvil warna lembayung pucat.
Tukang becak mengerem laju rodanya. Turun dan bergegas membuka tutup plastik yang telah sobek semakin lebar. Gadis itu turun agak susah payah. Tukang becak tak lagi mengangkat roda belakang, untuk menundukkan badan becak. Ia sibuk mengusap peluh.
Tanpa bersuara, selembar uang lima puluh ribu tersodor kaku. Tukang becak yang tengah bertudung jas hujan merogoh saku celananya. Sebuah dompet kulit butut, namun lempengan kecil mereknya masih berkilau, terbuka. Ia mencari uang kembalian.
Si gadis kaku di tempatnya. Selembar foto usang menghiasi dompet tersebut. Foto keluarga: sang kakek tukang becak, sang nenek penjual kerupuk, sang pemilik rumah kontrakan berpagar hijau, dan satunya lagi yang hanya ia kenali dari lubang plastik.
Tiga lembar sepuluh ribu tersodor padanya. Ia tak merespon sewajarnya, justru menggelengkan kepala, lemah. Ia berbalik membuka pagar. Tukang becak pun hanya mengangguk takzim kemudian mengenakan capingnya kembali karena angin tak lagi menderu kencang. Namun sesungguhnya alasan di balik caping itu, matanya pedih. Tetes keringat, hujan, dan airmata merembes di pipinya.
Orang-orang bilang ia berlebihan. Namun justru ia merasa serba kekurangan sekarang. Materi untuk empati, prihatin untuk kehidupan yang lain. Ia melangkah gontai menuju kamarnya. Segelintir yang tahu, seujung kuku yang mengenali, ia bagai jungkat-jungkit dan dua kutub emosi berlawanan. Namun belum ada satu pun yang menyangka, ia mampu mengaktifkan keenaam inderanya.
Jogja-ekspres. 021211.  
















Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...