Orang-orang
bilang ia berlebihan. Benar adanya. Namun hanya segilintir yang tahu bahwa ia
seperti neraca berat sebelah, terus terombang-ambing. Jika bukan neraca, ia
mirip papan jungkat jungkit, akan selalu terpental ujungnya saat menyentuh besi
spiral atau pun ban bekas yang tertancap di bawah papan, karena separuh lagi
terbenam di tanah. Lantas hanya seujung kuku yang tahu bahwa ia seperti dua
kutub, bipolar, sebut para psikiater
langganannya. Beberapa orang pakar itu –yang katanya ahli urusan kejiwaan—yang
menyelami tingkat absurditas alam pikir manusia—bilang, emosinya bermasalah.
Sungguh bermasalah.
Orang-orang
bilang ia berlebihan. Lebih mudah lelah, lebih mudah marah, lebih mudah
gelisah, lebih mudah menangis, lebih mudah bahagia yang gugup, dan lebih mudah
berdiam diri. Mengosongkan diri, istilah favoritnya saat ia merasa berada dalam
jeda dunia nyata dan imajinasi. Sering kali, ia berjalan, sendirian, tanpa
memandang sana-sini, tanpa membaca petunjuk jalan. Ia bilang, “turuti pinta
hati”. Itu saja yang selalu menjadi alibinya saat seseorang lekas mengangkutnya
pulang. Tidak sengaja bertemu di tepi jalan. Ia bilang, “antena telepati kita
berguna”. Lalu ia pun tersenyum bahagia di punggung kekasihnya itu.
Suatu
sore, lagi-lagi ia berjalan kaki, meniti tepian batu bata yang dipoles
belang-belang, di tepi jalan yang banyak pepohonan. Setelah ia menemui
psikiater untuk membicarakan perkembangan jiwanya, tidak ada beda dari
kemarin-kemarin. Pakar yang selalu berslogan berpikirlah positif!, nyatanya, tidak terlalu mengerti, ah, belum terlalu paham atas apa yang ia
rasakan.
“Jadi
malam itu saya kambuh lagi,” ungkapnya, “saya kembali kosong saat melihat
nenek-nenek tua menjajakan kerupuknya ke warung makan seberang tempat duduk
saya.”
“Lalu?”
“Saya
kosong. Seperti terbelah, setengah ruh saya keluar untuk menyaksikan raga saya.
Saya tahu saya kosong, mata saya tak punya lagi sinar. Bibir saya kering, dan
saya nampak memandangi orang mengenaskan yang duduk diam. Padahal orang itu,
saya.”
“Untunglah,
kesadaran itu masih tidak sepenuhnya hilang ya? Jadi kapan Mbak stabil kembali setelah kekosongan itu?”
“Saat
kekasih saya menggoncangkan bahu. Mungkin telah berkali-kali. Ia mampu menarik
saya kembali ke dunia ini.”
Ia
telah kehabisan kata-kata. Ia bosan ke pakar kejiwaan. Tiba-tiba saja ia merasa
luar biasa lelah di lututnya. Meski telah berjam-jam lamanya ia duduk mengantri
urutan konsultasi dan berada dalam obrolan satu arah. Seharusnya yang lelah
pantatnya bukan? Dari kejauhan nampak sebuah becak bergerak semakin mendekat.
Ia mendongak ke langit. Mendung bergulung-gulung di atasnya. Kadangkala, ia
lebih memilih abang-abang ojek untuk antarkan ia pulang.
“Ke
Jalan Amerta berapa ya, Pak?” tanyanya, pada seorang kakek-kakek tukang becak.
“Dua
puluh ribu, Neng.”
“Lima
belas?” tawarnya, lemah.
“Tidak
bisa Neng kalau belasan.”
Tanpa
pikir panjang, ia menyetujui harga tinggi tersebut. Tukang becak refleks
menundukkan badan becak agar sang penyewa leluasa naik ke dalamnya. Jarak yang
ditempuh sebenarnya tak terlalu jauh, sekitar satu kilometer. Orang-orang
bilang, tukang-tukang becak ini berlebihan dalam mematok upah tenaga mereka.
Saat upaya fisik lambat laun nyaris dianggap rendahan karena luberan permintaan
transportasi bermesin, asap-asap yang mengepul di jalan raya justru seringkali
membuatnya sesak napas.
20.000
rupiah.
Mungkin
jika naik taksi sama dengan yang tertera di argometernya.
20.000
rupiah. Gadis itu hanya ingin menjadikan satu kilometer ke 1.000 meter lalu ke
100.000 sentimeter. Maka ia pun dengan nyaman duduk di bantalan becak tanpa
memikirkan nominal uang. Kata orang-orang ia berlebihan.
Sebentar
lagi air langit hendak tumpah. Angin semakin menderu-deru kencang, membuat
banyak pengendara motor kelilipan debu yang berhamburan. Suara gemuruh
terdengar berkuasa. Dilatarbelakangi gedung bertingkat lima yang setengah jadi,
kilat seakan menyayat-sayat ujung-ujung beton yang masih menampakkan jelujur
besi kurus. Hawa dingin menyeruak, disusul titik demi titik air turun. Semakin
lama semakin tebal saja tirai hujan yang datang .
Tukang
becak memarkir sumber rezekinya di tepi halte bus. Lantas ia pun mengenakan
jubah plastik biru panjang sebagai jas hujan ala kadarnya. Kaos pilkada tahun
lalu tertutup sekarang. Dengan cekatan ia pun menarik selembar plastik putih
buram di depan badan becak. Mengaitkan kedua ujung plastik pada lengkungan besi
di sisi kedua roda depan agar menutup sempurna. Sang penyewa becak tidak tampak
lagi sekarang.
Gadis
itu terpekur sejenak di dalam becak. Kini cipratan air hujan tidak lagi
mengenai baju dan celana jinsnya. Hangat yang ia rasakan. Angin sesekali
bertiup mengoyak plastik dengan suara berisik. Sesobek lubang berada sejajar
dengan matanya. Mungkin sengaja disobek untuk lubang pengintip agar tujuan
penumpang tidak kebablasan.
Ia
tersenyum senang. Sepersekian detik tadi ia berasa menjadi seorang tuan putri
yang ditandu, sekarang justru berubah menjadi agen spionase. Becak kembali
dikayuh, lamban. Sang kakek tampak kehabisan tenaga masa mudanya. Berkali-kali
lalu lalang kendaraan bermotor menyalip dengan kencang. Menyisakan riak genangan
air yang membasahi kaki tukang becak.
Alih-alih
bosan tak dapat melihat pemandangan jalan raya dengan leluasa, ia mengintip di
lubang plastik. Meskipun ia tahu, masih cukup jauh jarak ke rumah kontrakannya.
Didekatkannya sebelah mata kanan untuk melihat lebih jelas, dan ia tersentak!
Di
luar telah malam. Pekat, bukan oleh mendung. Ia melihat sebuah bangku taman,
dengan sepasang muda-mudi duduk bersandar. “Kau lihat, nenek itu...” suara
pemudanya terdengar. “Sudah selarut ini masih saja ia tawarkan dagangannya. Kau
lihat, para pengunjung warung makan yang sedang lesehan itu? Mereka dingin, tak
punya prihatin secuil pun..”
Tampak
seorang nenek berpunggung melengkung menjinjing nampan beralas kertas koran.
Sebelah tangannya mencengkeram tas anyaman. Pemuda itu menghampirinya. Dengan
lembut ia bertanya apa saja yang dijual oleh sang nenek. Aksen Jawa halusnya
mengisyaratkan pada sang nenek untuk memasukkan dua bungkus rempeyek teri, dan
tiga bungkus karak.
Namun
sang penjual memasukkan empat bungkus rempeyek dan lima bungkus karak.
Pemudanya menggaruk belakang telinga. Ia tak berniat membeli sebanyak itu. Sang
nenek tampak agak keras kepala, memaksa dengan tanpa banyak promosi.
“Dimana
yah anak-anaknya? Tega nian mengizinkan ibunya berjualan kerupuk hingga malam
begini?” tanyanya pada si gadis yang mematung. Pandangan pemuda itu lurus ke
arah punggung nenek penjaja kerupuk yang berlalu. Sudut matanya tetap tak bisa
melenyapkan tatapan-tatapan dingin apatis para penikmat warung makan.
“Ironis
bukan? saat mereka pun mampu makan di warung yang mahal, berpajak pula! Hei,
mengapa kau diam saja, Nona?”
Sang
Gadis tetap membisu bak manekin.
Lubang
plastik menganga semakin besar. Telunjuknya tanpa sengaja memperparah diameter
lubang. Sebentar lagi ia sampai ke kontrakannya. Ia memberi petunjuk jalan ala
kadarnya. Lalu berkutat kembali pada lubang plastik.
Lagi-lagi
yang dilihatnya bukan jalan dan permukiman, kini sebuah ruangan. Empat orang
bentrok di dalamnya. Dua orang pemuda saling bersitegang, mereka nyaris baku hantam.
Sepasang suami istri tua saling berpengangan tangan, tak mampu meredam
kekacauan. Entah apa yang meraka perebutkan. Entah apa yang mereka tonjolkan
selain ekspresi kontradiktif yang ada. Mata si pengintip berkaca-kaca, saat
sang bapak akhirnya melerai namun justru tersungkur karena sikut anaknya. Sang ibu meratap, memohon ampun pada Maha Pencipta
namun lubang-lubang telinga kedua anaknya entah lenyap kemana.
“Neng,
rumahnya yang mana?” colek tukang becak dari balik kemudinya. Napasnya tampak
menderu, kewalahan dengan ritme hujan.
Si
pengintip terhempas. Ia menoleh ke belakang, “rumah nomor 14, pagar hijau Pak!”
serunya. Sepetak bangunan yang dituju telah sangat dekat. Pagarnya yang
mengusam ditumbuhi lusinan kuntum bougenvil warna lembayung pucat.
Tukang
becak mengerem laju rodanya. Turun dan bergegas membuka tutup plastik yang
telah sobek semakin lebar. Gadis itu turun agak susah payah. Tukang becak tak
lagi mengangkat roda belakang, untuk menundukkan badan becak. Ia sibuk mengusap
peluh.
Tanpa
bersuara, selembar uang lima puluh ribu tersodor kaku. Tukang becak yang tengah
bertudung jas hujan merogoh saku celananya. Sebuah dompet kulit butut, namun
lempengan kecil mereknya masih berkilau, terbuka. Ia mencari uang kembalian.
Si
gadis kaku di tempatnya. Selembar foto usang menghiasi dompet tersebut. Foto
keluarga: sang kakek tukang becak, sang nenek penjual kerupuk, sang pemilik
rumah kontrakan berpagar hijau, dan satunya lagi yang hanya ia kenali dari
lubang plastik.
Tiga
lembar sepuluh ribu tersodor padanya. Ia tak merespon sewajarnya, justru
menggelengkan kepala, lemah. Ia berbalik membuka pagar. Tukang becak pun hanya
mengangguk takzim kemudian mengenakan capingnya kembali karena angin tak lagi
menderu kencang. Namun sesungguhnya alasan di balik caping itu, matanya pedih.
Tetes keringat, hujan, dan airmata merembes di pipinya.
Orang-orang
bilang ia berlebihan. Namun justru ia merasa serba kekurangan sekarang. Materi
untuk empati, prihatin untuk kehidupan yang lain. Ia melangkah gontai menuju
kamarnya. Segelintir yang tahu, seujung kuku yang mengenali, ia bagai
jungkat-jungkit dan dua kutub emosi berlawanan. Namun belum ada satu pun yang
menyangka, ia mampu mengaktifkan keenaam inderanya.
Jogja-ekspres. 021211.