![]() |
Aku diliputi sensasi keanehan yang membeku dalam udara pengap kamarku, tatkala cermin setinggi dua meter berdiri kokoh di depan ranjangku, persis. Hawa dingin menyeruak serasa menggelitik tengkuk. Cermin itu berbingkai hiasan sulur, yang merambat ke atas dan berhenti di puncak dengan kepala ular menganga lebar. Entah ular jenis apa, aku tak peduli, namun ia seolah-olah memamerkan taring berbisanya, mengancamku.
Aku terpaku di depannya, mendongak. Entah kenapa, yang kurasa justru ular itu hidup, menyeringai memberi salam. Kuamati sekujur bingkai cermin yang berkaki dua, mengadopsi kaki elang yang berkuku tajam. Lagi-lagi aku dilanda perasaan ngeri saat kaki kaki itu seolah nyata dan akan segera mengoyak seonggok daging perempuan muda.
“Apa kubilang? Cermin ini sangat menakjubkan bukan? Aku senang melihatmu sampai terbengong-bengong mengagumi benda temuanku ini,” ujar seseorang sembari mengalungkan lengannya ke pinggangku dari belakang.
Aku menoleh, kutahan diri untuk tidak berjengit. Seorang gadis berkepang dengan leher diberati setengah lusin kalung batu-batuan eksotis, kini tersenyum padaku. Aroma bunga kenanga menguar dari kulit lehernya, menusuk hidungku.
Aku bergeming. Tetap berkomitmen dengan pantulan bayanganku di cermin. Seorang gadis kurus kerempeng, dengan dagu lancip berdiri membelakangi gadis cantik yang masih memeluknya.
“Kau sakit, Regi?”
Aku pucat. Tanpa perlu susah payah kumengerti, aku sedang dilanda ketakutan. Kepala ular itu semakin membuka moncongnya. Aku menggeleng perlahan.
“Oh ya, besok aku akan ikut lagi bersama Om Hongoi. Kali ini ke Sumbawa. Kami akan mencari patung kuda peninggalan Kerajaan—”
“Berapa lama kau di sana?” potongku cepat.
Matanya membulat, bersinar-sinar. Tampaknya ia bahagia atas pertanyaanku. “Kau akan merindukanku Regi? Ehem?” tanyanya sambil mengedipkan bulu mata bermaskara.
Aku ingin berlari. Ke toilet. Memuntahkan kegetiran yang selama ini ditabung lambungku.
****
Hujan menderu di luar sana. Aku berharap ada seseorang yang menawariku selimut tebal dan secangkir coklat panas. Tapi itu tak mungkin. Aku tertawa kering, mengejek diriku sendiri. Karena hanya aku yang berada di Rumah Keramat. Beberapa penghuninya, mereka dengan pola perilaku eksentrik, meninggalkanku untuk ekspedisi favorit mereka. Aku tak peduli. Aku malas untuk peduli.
Angin semakin keras mengetuk-ketuk daun jendela. Berirama. Tapi tak pelak membuatku menggigil semakin ketakutan. Aku tak boleh begini, ya, aku harus ke dapur, membuat sesuatu yang hangat untuk menenangkan syaraf-syaraf otak yang menciut.
Aku merasa jauh, sangat jauh untuk mencapai dapur, tempat dentingan sendok dan garpu membentur botol-botol tuak beberapa hari yang lalu. Slagen—juru masak bertubuh gemuk—suka memainkan orkestra seorang diri dengan bantuan perabotan masak memasak. Aku harus melewati lorong yang panjang untuk sampai ke sana.
Beberapa lukisan kembali hidup. Aku seperti melihat gadis-gadis Bali melenggak-lenggokkan tubuhnya. Titisan Brahmana, keturunan Sudra, para Ida Ayu dan Luh-Luh yang lincah menari hidup di lorong, menemaniku. Aku bergidik.
Lap!
Sial!
Listrik padam. Keangkeran seperti sedang membawa searmada hantu untuk menyiksaku seorang diri di Rumah Keramat. Aku meraba-raba dinding agar tak menabrak sesuatu. Apa pun yang berada di rumah ini adalah berharga. Kekunoan, keantikan, dan kelangkaan yang menjadi takdir pada barang-barang tertentu membuat Sekaraji sekeluarga terjangkit penyakit akut. Mereka adalah kolektor paling gila yang pernah kutemui.
Aku nyaris memecahkan porselen dari dinasti Tsung, saat tubuhku tak sengaja menyenggol kotak kaca berisi keris-keris pusaka. Samar-samar, aku mendengar napas tersengal, lalu suara wanita mendesah, dan beberapa suara lelaki mendesis. Aku menulikan telinga. Aku tahu kotak kaca itu berkabut, keris-keris itu memiliki ruh.
Aku berlari kembali ke kamar, secepat yang kumampu. Berkali-kali kakiku menabrak benda antik. Seperangkat senjata tempur suku dayak nyaris kutabrak, disusul tumpukan aksesoris suku Asmat yang terguncang, dan aku berhasil menjatuhkan satu set permainan mendalang yang berada di lemari jati paling atas. Selusin wayang kulit terlempar. Tangan mereka meraba raba kakiku.
Seseorang telah menungguku di kamar, tersenyum hangat. Wajahnya teduh. Ia bersanggul, berkebaya, dan berjarik batik motif kawung. Cermin berkepala ular telah terselimuti selembar kain hitam. Aku mengenalinya sebagai kain Badui dalam, dari penerangan lilin yang menyala begitu saja. Aku tahu ini janggal, tapi aku tahu pasti, sebentar lagi aku akan terlelap di pangkuan seseorang yang kuanggap ibu.
****
Pepohonan di Taman Kota Bungkul memayungi beberapa bangku panjang dari terik panas matahari. Kendati pun aku berhasil menemukan tempat yang asri dan teduh, aku masih tak bisa melupakan peristiwa semalam. Tadi pagi aku terbangun dan berjalan terombang ambing ke kamar mandi. Samar, aroma khas wewangian ibuku masih tertinggal, seketika aku tersentak, kembali ke alam sadarku. Dimana wanita yang kemarin? Aku masih bisa merasakan sentuhan lembutnya mengelus rambutku dan meninabobokanku dengan tembang-tembang Jawa.
“Hai!” sapa seorang pemuda. Ia melambai dan bergegas berjalan menghampiriku. Sepertinya ia memang sedari tadi mencariku. Ia teman baikku yang tersisa, satu satunya. Namanya Danang. Ia adalah mahasiswa yang hanya melihat dari sudut pandang kebaikan saja. Itu yang aku temui dari sorot matanya tatkala isu bahwa aku mempunyai hubungan abnormal dengan Sekaraji menyebar.
Hampir seluruh temanku, antara terpaksa dan sukarela, menjauhiku. Sekaraji terlalu sering berada di sisiku dan itu membuat banyak orang risih, dan sesekali kulihat mereka bergidik terang terangan, ngeri. Dulu, aku yang semula seperti abdi ndalem Sekaraji kini telah naik pangkat sebagai kekasihnya.
“Kemana Sekaraji? Hunting lagi?” tanya Danang.
Aku mengangguk.
“Cari apa sekarang?”
“Patung bekas peninggalan Kerajaan Tambora.”
“Berarti kau di Keramat sendirian ya?” Danang menyebut kediaman keluarga Sekaraji, yang kerapkali dibuka untuk umum sebagai galeri benda-benda antik. Aku mengangguk lagi, hambar.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Regi,” ucapnya, hati hati. Aku tak meresponnya lebih lanjut. Terakhir kami bertemu, kami sedang mendebatkan penyebaran ras Mongoloid dan penyebaran manusia dari Yunan. Ia menanti reaksiku, atau mungkin mengharapkan nada ketidaksabaran, atau bisa jadi bersiap mengajakku kembali ke perdebatan kemarin lusa, namun akhirnya ia meneruskan, “berkali-kali aku ingin membicarakan hal ini, tapi Sekaraji dengan over protektifnya selalu membentengimu.”
Aku sedang memikirkan cara untuk lari dari kehidupan abnormal ini, apapun cara itu akan kulakukan, meski harus terdampar ke masa lampau yang primitif. Tanpa adanya Sekaraji, akan kubebaskan jiwaku. Pusaran lamunanku mendadak terhenti, menyusut, lalu lenyap, saat suara Danang membuatku tersengat, refleks aku menoleh padanya.
“Aku sayang sekali padamu Regi.”
***
Kasih sayang hendaknya berasal dari orang orang yang tepat. Aku bisa menghitung berapa banyak orang yang tepat menyayangiku. Satu. Hanya ibuku seorang. Beliau yang menamaiku dengan nama yang tak pernah kupertanyakan maknanya—Regi. Aku sangat menyayanginya meski beliau tak berperan lagi untuk hidupku, karena sisa hidupnya dituntaskan dalam tahanan rumah sakit jiwa.
Ibu yang selalu kupanggil Mak adalah seorang bekas sinden yang berasal di kaki gunung Bromo, lalu ditempa dunia yang mengecapnya sebagai wanita hina, dan aku sebagai anak jadah. Kehidupan serba kekurangan selalu beliau tuturkan dengan tersurat lewat cita-citanya yang tinggi. “Regi besok harus jadi presiden… memimpin rakyat yang patut dipimpin. Jalannya dari kesabaran dan kerja keras. Apa pun yang terjadi, Regi harus sekolah terus sampai pintar.”
Kasih sayangnya mengantarku pada kediaman keluarga Sekaraji.
Pada bulan Desember malam, hujan turun begitu deras saat aku yang seharusnya berada di rumah sakit, berbaring dengan demam tinggi. Mak yang membawaku jauh-jauh dari Pedalaman Tengger, lalu turun ke kota besar, kini begitu rapuh, ketakutan melihat tubuhku menggigil dengan kulit membara.
Kami adalah pengais sampah. Gembel di Surabaya. Hingga suatu akhir masa itu, jarum jarum hujan menusuk nusuk rumah kardus kami tanpa belas kasih, dan aku bahkan merasa cita-cita adiluhur mak telah terbawa arus banjir ke comberan, kebahagiaan kami telah menjelma menjadi sewujud rongsokan tak berharga di pembuangan. Lalu semua berakhir begitu saja. Mak tak kuasa menanggung beban hidup, menjadi tak waras.
Lantas, apa ketidakwarasannya menjadi sebuah berkah tersendiri padaku, yang kemudian aku dipungut oleh keluarga Sekaraji, dan menjadi anak angkat mereka?
***
Cermin itu berasal dari hilir Kapuas. Suku asli rimba hutan Borneo telah mengukirnya dengan sangat artistik. Tapi aku tak peduli dengan segala catatan mengenai cermin yang tengah berdiri memantulkan bayanganku. Aku hanya peduli pada sosok wanita yang hadir setiap malamku kini, menemaniku tidur.
“Aku berharap kau ibuku,” bisikku lirih pada seorang wanita yang sama.
“Aku berharap kau putriku yang kelak meneruskan darah bangsawan Djoyodiningrat Hadi Kusumo.”
“Sebenarnya siapa kau?” tanyaku bingung, menatap wanita di sampingku lekat-lekat.
“Aku dari sana,” ia menunjuk cermin berkepala ular. “Cermin pemberian saudagar intan dari Martapura yang kemudian meminangku dengan rasa cintanya yang luar biasa besar. Ia tewas saat perampok menyerbu kediaman kami. Malangnya, putriku juga tewas terbunuh dalam dekapanku.”
Ekspresinya datar. Tanpa menunjukkan perubahan sedikit pun pada garis-garis wajahnya yang licin dan putih. “Aku mencari seseorang yang sudi menjadi putri kandungku,” bisikinya lirih sambil tersenyum kalem, keibuan.
Sekarang, aku dapat melihat tujuannya berada di abad ini.
***
“Ah, kau bercanda denganku Regi,” Danang tertawa geli setelah aku menuturkan kejadian-kejadian aneh yang terjadi di Rumah Keramat. Semenjak cermin itu mengeluarkan sosok Sukma—nama wanita bangsawan Surakarta tersebut—aku merasa telah menemukan kasih sayang dari orang yang tepat.
“Kau tak memercayaiku, Nang? Aku berani bertaruh denganmu. Cermin itu memiliki kekuatan magis, saluran menuju ke dunia lain. Ke masa lain!”
“Kau hendak bilang itu mesin waktu?”
Aku mengangguk mantap. Danang terdiam, tidak terbahak lagi. Ia menatap mataku tajam. Seperti tengah menggali sesuatu dari dalam pikiranku.
“Sayang….” Danang memanggilku lembut. Entah mengapa aku merasa tidak bahagia dengan panggilan ini. Walaupun aku tak menyesal telah menerima tawarannya untuk menjadi kekasihku. Aku tak tega melihatnya berlama lama dengan sorot matanya yang terluka minggu lalu setelah ia mengutarakan rasa istimewanya. Namun, Sukma mengatakan ia bukan pemuda yang tepat bagiku.
“Apa kita sebaiknya perlu pergi ke psikiater? Maksudku, kau telah terlalu lama tinggal dengan keluarga Keramat. Aku khawatir mereka telah mengontaminasi alam bawah sadarmu, Sayang…”
Aku mengerjap, percaya. Percaya yang dikatakan Sukma benar nyatanya. Danang bukanlah orang yang tepat untuk memberiku kasih sayang.
***
“Kau tak setia!!” jerit Sekaraji nyaring di depanku. Matanya sembab oleh airmata yang masih mengalir deras. Tubuhnya bergetar hebat. Berkali-kali ia mencambukiku dengan cambuk yang Om Hongoi dapatkan dari Madura. Aku bergidik. Aku seperti berada dalam lautan parade, menjadi bagian dari atraksi Kerapan Sapi.
Tar!
Aku bergeming. Aku merasakan darah panas meleleh di punggungku. Aku ingin Sukma datang sekarang, mendekapku, melindungiku. Semalam Sukma menawariku untuk tinggal bersamanya, di dunianya. Aku masih memikirkan tawarannya yang menjanjikan kebebasan.
“Apa hakmu untuk berpacaran dengan Danang hah?! Kau milikku Regi!”
Ini bukan pertama kalinya Sekaraji menyiksaku. Terkadang, kularikan diriku dalam kenikmatan absurd dan menerima semua perlakuannya dengan lapang dada. Namun sekarang aku ingin pergi ke masa tempat Sukma tinggal, agar aku bisa hidup tanpa terkukung terus menerus di Rumah Keramat, agar aku lepas dari ritual ngabdi ndalem pada Keluarga Sekaraji, agar Sukma tak perlu repot-repot menemuiku setiap malam untuk menghiburku. Aku akan terus bersamanya, di sisinya, menggantikan posisi anak kandungnya. Toh, aku juga begitu rindu dengan sosok ibu.
Tar!
“Jawab Regi! Bela dirimu sekarang! Aku ingin dengar dari mulutmu bahwa kau mencintai Danang. Kau mengkhianatiku!”
Aku tak tahan. Bukan, bukan karena kecemburuan akutnya. Rasa ngilu di sekujur tubuhku tak mampu menyaingi rasa sakit di kepalaku. Seolah-olah darah merembes dari sana, bukan dari punggungku.
Sesaat kemudian, sebelum semua menggelap, aku tahu kepala ular dari cermin Masa berputar, pertanda gerbang ke masa lain dibuka. Sukma menjemputku dan aku akan pergi. Akhir dari masaku di sini. Aku akan bebas!
***
Rumah Tahanan Wanita
Ini untuk pertama kalinya Danang menginjakkan kaki di Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita. Ia hendak menemui seorang gadis yang akhir-akhir ini menghebohkan masyarakat dengan tindak menyimpangnya. Gadis itu mengenakan seragam khas tahana, biru tua, lusuh. Ia duduk di bangku panjang tempat para tamu menjenguk kerabat masing masing.
“Maafkan aku,” bibir keringnya mengeluarkan suara tercekat.
“Aku tadi ke sana, menemuinya,” ungkap Danang bergetar, tak mempedulikan permohonan maaf gadis tersebut. Danang bersusah payah tidak menyamakan gadis tersebut dengan seorang mutilasi sejati.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya cemas. Sedangkan Danang hanya mampu menatapnya, penuh kebencian.
Gadis itu kembali terisak untuk kesekian kalinya. “Aku tak menyangka semua berakhir seperti ini. Kita sama-sama sangat mencintai Regi. Tapi aku justru merusak hidupnya. Seharusnya aku membiarkannya hidup bahagia denganmu, atau melepasnya dari Keramat. Tapi aku tak rela… aku ingin ia menjadi milikku selamanya. Aku... aku telah membunuhnya!”
Danang menutup matanya sejenak. Hatinya seperti ditusuk tusuk pisau. Ia tak ingin menangis di depan para sipir wanita.
Dua jam yang lalu ia mendapati Regi, sang kekasih sedang duduk di pelataran rumah sakit jiwa. Ia sedang tersenyum sendiri dengan tatapan kosong layaknya penghuni yang lain. Entah apa yang berada dalam pikirannya. Cinta Danang tak sanggup menarik jiwanya kembali ke masa ini. Regi telah terperangkap dalam dunia ciptaannya sendiri.
“Apa gila bisa diwariskan?” tanya Danang, tiba-tiba.
Sekaraji mendongak, giliran ia membisu.
