Langsung ke konten utama

Pada Makam Memanusiakan


Sarapan itu seperti menguap, menembus hawa yang berangsur-angsur hangat, melayang tak kasat mata sebab tertelan cahaya pagi. Kalori tampak semakin tidak berarti dalam sepiring penuh nasi jagung lauk tempe bongkrek dengan sayur daun singkong bersantan, tatkala tanjakan semakin tajam. Warung pinggir desa yang terletak di kaki bukit sudah jauh tertinggal di belakang. Setapak yang berkelok-kelok panjang ini kami lewati dengan jalan kaki. Kepayahan aku mengimbangi langkah-langkah lebar, yang seolah medan gravitasi diciptakan lemah di tapak kakinya. Ia dengan ringan menyusuri jalan tak bertuan, semakin cepat saat puncak bukit semakin dekat.
Bulir-bulir keringat mulai menetesi kemeja hitamku. Sesekali aku mengacuhkannya, dan sesekali sebulir air asin itu meluncur bebas, melewati seleret alis dan jatuh di kelopak mata yang berkedip. Pedas. Aku sembari sibuk menghirup udara pedesaan yang sangat bersahaja, sibuk pula membayangkan siapa yang sedang menunggu kami di atas sana. Jika rasa keingintahuanku tak terlampau besar, mungkin pagi ini aku masih berada di kota, sedang berprosesi dengan khidmat. Mengheningkan cipta.
***
Pertemuanku dengannya diawali dengan adegan penuh ketegangan. Seperti terekam dalam kamera sutradara, ia berlari, berderap, berpacu dengan pelarian sang penjambret di antara gang-gang kumuh permukiman kaum urban. Ia berusaha menggapai ujung kerah baju preman bertato ular. Ia menariknya dan penjahat terjungkal. Adegan menggebuk tanpa basa-basi ia salurkan melalui kepalan tangan yang kekar dengan wajah yang beringas. Aku yang menyaksikannya –setelah kepayahan menyusul—hanya ingin jauh-jauh dari anarkisme ini.
“Cek dulu isinya,” sempat ia berujar demikian. Mengangsurkan selempang tas kain, dan nyaris berbalik pergi ketika aku menahannya.
“Aku tidak butuh mengeceknya. Koreksi, justru nyawaku sudah kucek terlebih dahulu. Masih ada,” tolakku sambil tersenyum mencairkan ketegangan. Preman di samping kami telah terseok-seok pergi dengan membawa bulatan-bulatan lebam yang terhias indah di wajahnya. Tanganku terjulur bersahabat, “Tere. Terimakasih banyak sudah menolong.”
“Dewe,” suara bariton penyelamatku terhenti di ujung lengannya yang kekar. Ia sama sekali tidak berminat dengan juluran tangan menyambut perkenalan.
***
Pada hari-hari selanjutnya, kami banyak bertemu di jam-jam istirahat makan siang. Seruas jalan sepanjang dua kilometer yang dijejali aneka kuliner kami coba satu persatu. Tidak ada alasan yang pasti, mengapa kami hanya ingin lewatkan siang dengan percakapan ringan di atas semangkuk bakso dan segelas es teh. Esoknya sepiring nasi padang dan segelas es jeruk. Esoknya lagi, sepincuk pecel dan segelas es blewah. Hingga berangsur-angsur menu kuliner jalan A.Yani telah habis kami santap.
“Kurasa setiap kota selalu punya jalan A.Yani bukan?” tanyaku tiba-tiba sambil mengamati lalu lalang kendaraan bermotor.
“Oh ya? Mengapa bisa begitu?” responnya, acuh tak acuh.
“Mungkin karena A.Yani seorang pahlawan..” sahutku lirih.
Dewe meletakkan piring kotor bekas lotek makan siangnya. Ia menatapku sejurus, lalu alih alih mengusap bibirnya dengan punggung telapak tangan. Sejatinya ia menahan tawa. Geli.
“Ada protes?” aku mengedikkan bahu. Ia terlalu sering bereaksi seperti itu tatkala aku menyinggung-nyinggung topik pahlawan.
“Ada. Argumenmu sangat tidak berbobot. A.Yani teramat dikenang karena ia salah satu pihak militer oposisi garis keras PKI. Dan setelah ia tewas, Soeharto adalah seorang pihak militer yang menggulingkan PKI.. lalu kondisi Indonesia menjadi serba anti komunis. Wajar saja, saat zaman Orba, proyek pembangunan menghasilkan banyak jalan protokol, lalu diberi namalah A.Yani..”
“Oh, ayolah..” aku mengerang. “A.Yani banyak berjasa sebelum peristiwa naas malam itu. Dan kematiannya sungguh tragis. Masuk lubang buaya. Kau bisa bayangkan betapa kej..”
“Yang bisa kubayangkan sekarang betapa seorang Tere sangat mania pada segala hal berbau pahlawan,” potongnya cepat.
Aku mati kutu.
Aku memang terkenal sebagai pengidap hero syndrome vonis teman-temanku. Entahlah, bagaimana aku bisa terlahir demikian? Mungkin satu-satunya alasan yang tepat adalah karena aku tidak lahir di zaman peperangan berkecamuk sedangkan orangtuaku selalu menjejaliku dengan konsep pahlawan. Masih terkenang hingga sekarang, bagaimana ayah selalu bangga menceritakan kehebatan kakek yang gugur dalam agresi militer II. Aku selalu membayangkan sosok kakek yang gagah dengan bermodalkan senapan hasil rampasan serta bambu runcing mengoyak perut penjajah. Bertahun-tahun lamanya, ketika masih di bangku sekolah dasar, tiap malam aku berdoa semoga kakek mengunjungiku di mimpi dan berkata, “Nak, kau terlahir sebagai darah pejuang..” Jadi aku pun lantas berpikir, kalau saja aku terlahir setidaknya enam dekade lebih cepat, mungkin kini aku telah bergelar pahlawan nasional. Sindrom memuja pahlawan pun tergantikan menjadi obsesi sebagai pahlawan jika aku hidup di zaman perang bergejolak.
Sejak kecil, aku pun telah mengoleksi buku cerita berseri pahlawan lengkap dengan poster-poster Pangeran Diponegoro, R.A Kartini, Ir. Soekarno dan sosok lain yang sangat berjasa bagi Indonesia. Aku juga tergila-gila dengan tokoh film heroik seperti Spyderman, Superman, dan Batman. Pelajaran yang paling aku sukai adalah Sejarah. Sampai-sampai nilai Sejarahku selalu tercetak angka 9 di rapor.
***
10 November.
Setiap sore di Hari Pahlawan, aku selalu menyempatkan diri datang ke Taman Makam Pahlawan. Aku datang membawa sekeranjang kelopak bunga mawar merah dan menaburkannya segenggam-segenggam ke perkuburan yang tanahnya tak lagi menggunduk coklat kemerahan. Sebelum membagi rata bunga, aku berdiri diam, menunduk untuk berdoa dengan tulus. Berusaha menyapa arwah-arwah pejuang yang telah berkorban sedemikian besar bagi bangsa, bagi penerus, dan bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan. Terkadang aku mengusap pucuk nisan mereka seolah hanya dengan cara bersentuhan itulah aku bisa merasakan perkenalan senyatanya dengan para pejuang.
Sore ini aku ditemani Dewe. Meski ia berdiri tenang di sampingku, namun aku tak pernah tahu apakah ia benar-benar berdoa untuk arwah para pejuang. Beberapa kali aku dapati ia melirikku yang sedang menangkupkan tangan, berdoa. Berdiri di sebelahnya dengan ritual seperti ini sebenarnya membuatku agak canggung. Baru kali ini ada seseorang yang benar-benar mau menemaniku melakukan prosesi takziah. Namun terlebih lagi, yah, aku menganggap Dewe adalah seorang pahlawan juga bagiku –aku tidak pernah mengatakan padanya—dan aneh rasanya berdoa untuk pejuang yang telah meninggal sementara mendapati seorang pejuang yang lain telah menyelamatkan nyawaku dan masih bernapas.
Kemudian tibalah kami di deretan makam pojok TMP. Di bawah naungan pohon kamboja dengan bunganya yang menyembul lebat, aku berjongkok, mengusap nisan tak bernama dengan lembut. “Ini makam kakekku. Yang aku ceritakan padamu,” ujarku, campuran rasa terharu dan bangga.
“Lihat, aku pernah nekat mengukir nisannya. Coba raba..” bujukku pada Dewe yang ikut berjongkok. Samar-samar ia pun melihat kata “KAKEK” terukir di nisan. “Hahaha.. tulisan itu kuukir saat kelas enam SD. Ayah akhirnya menunjukkan letak makam kakek. Tanpa sepengetahuannya, sepulang sekolah aku kesini dan nekat mengukirnya dengan silet pensil,” jelasku sambil tertawa.
“Tidak kusangka.. kamu yang budiman cukup berani melakukan tindak vandalisme,” komentar Dewe yang langsung mendapat pukulan lemah dariku.
“Saking aku rindunya mungkin sama kakek,” ucapku.
“Sekangen itu ya?”
“Iya, memang kenapa?’ tanyaku, menoleh pada lelaki muda di sampingku yang tiba-tiba mengubah raut mukanya menjadi kaku. Rahangnya mengeras. Ia bangkit, lantas mengajakku pulang.
***
Sekembalinya dari TMP aku mendapati bunda terisak lirih di kamar. Rumah kosong. Genta, adikku, masih belum pulang karena ikut bimbingan belajar tiap sore hingga petang. Sedangkan ayah tentu masih di kantor, setidaknya dalam perjalanan pulang dan terjebak macet. Dengan perlahan aku menghampiri bunda yang terduduk di atas ranjang. Sejenak beliau tampak terkejut saat segelas air putih aku sodorkan. Melihatku telah berdiri di depannya, suara tangis justru semakin keras. Pecah, berderai-derai.
“Bunda, kenapa?” tanyaku lembut, mengusap bahunya.
Bunda menggeleng, berusaha menahan-nahan isak tangisnya namun air mata semakin membanjir. Perlu setengah jam lamanya hingga kalimat itu pun keluar dari bibirnya yang bergetar, “Ayahmu, Tere.. ia seorang pembohong.”
“Maksud Bunda? Bohong bagaimana?” tanyaku tidak mengerti.
“Kita akan jatuh miskin Tere.. Oh, Nak.. kamu tidak akan dapat melanjutkan kuliah. Semua ini salah ayahmu!” raung ibu dan aku semakin bingung dibuatnya. “Keluarga ini terbelit hutang, Nak.. bisnis ayahmu bangkrut. Dulu, ia menenangkan bunda dengan jaminan tanah waris dari mendiang kakekmu yang luas. Ia juga bilang bahwa kakekmu seorang veteran yang mempunyai simpanan emas hadiah dari negara untuk menutupi modal bisnisnya. Tapi bohong! Ia penipu..! kakekmu sama sekali bukan veteran yang kaya...”
                “Te.. terus.. kakek..?” aku tak mampu berucap lebih jauh.
                “Kakekmu seorang bapak yang kabur meninggalkan keluarganya dengan segunung hutang. Sampai sekarang hutang itu belum selesai terlunasi dan ayahmu-lah yang harus menanggung semuanya. Duh, Gusti.. berat sekali cobaan ini...!” ratap Bunda sambil memelukku.
                Aku kaku, membeku. Tiba-tiba pintu kamar terdorong, membuka. Ayah tengah berdiri dengan muka pucat. Ia berdiri tanpa berani mendekat pada kami berdua. Pemandangan di depannya terlalu beresiko untuk membuatnya berani menghampiri kami. Ia melangkah mundur dan berbalik. Aku tersenyum pada punggung seorang ayah. Tersenyum miris.
***
Aku diculik. Dewe nekat melakukannya dengan cara menarikku kasar, menjauhkanku dari pintu gerbang sekolah. Senin pagi itu seharusnya aku menjadi guru piket bagi murid-murid yang akan bertugas di upacara bendera. Sudah dua minggu berlalu, sejak aku menjalani KKN, menjadi guru SD. Dan telah seminggu lamanya, sejak aku dan Dewe bertengkar hebat karena ucapannya yang sangat menyinggung.
“Bagiku, Bunda sungguh tegar dalam menghadapi musibah ini. Lelaki itu beruntung karena Bunda tidak menceraikannya dan bersedia mencari jalan keluar bersama..” ujarku, seminggu yang lalu di warung bakmie.
“Kamu sangat membenci ayahmu sekarang,” komentar Dewe, menghakimi tanpa nada setuju maupun tidak setuju.
“Wajar bukan membenci seseorang yang telah menipu kita sejak kecil? Selama ini lelaki itu menciptakan tokoh khayalan atas diri kakek. Berusaha menghibur dirinya yang malang sebagai anak yang ditinggal bapaknya sekaligus mencoba menempatkan dirinya dengan bermartabat di depanku. Pecundang sekali,” ucapku cepat, mulai emosi.
“Jadi, apa kamu akan masih mengunjungi TMP tiap 10 November dan berdoa juga di makam yang kamu kira makam kakekmu?”
Entah mengapa, pertanyaan Dewe membuatku amat gusar. Lalu aku menatapnya tajam. “Dew, dengar, aku sama sekali tidak akan berhenti sedetik pun untuk tidak menghargai jasa pahlawan seperti yang biasa kamu ungkapkan dengan nada satir. Aku tidak peduli bahwa kau bilang R.A Kartini adalah wanita hobi surat-suratan dan sama sekali tidak berbakat menjadi Srikandi. Aku tidak peduli bahwa kau bilang Soekarno hanyalah seorang ambisius yang keras kepala. Aku bahkan tidak peduli bahwa makam tanpa nama itu bukan makam kakekku!”
“Dan lantas sekarang kamu memuja Bundamu pula?” pemantik demi pemantik ia sulut.
“Ya. Kenapa tidak? Ia ibu kandungku. Ia yang membesarkanku dengan susah payah. Bagaimana pun juga tetap seorang ibu adalah pahlawan bagi semua anak-anaknya.”
“Aku rasa tidak,” potongnya, enteng.
“Jelaskan,” seruku tegas.
“Wanita yang menjadi ibu hanyalah seorang yang ditakdirkan melahirkan seorang jabang bayi. Ia bertugas mengeluarkannya dari perut dan merawatnya hingga sang anak mampu bertahan hidup sendiri. Itulah kodrat wanita hamil.”
“Begitukah? Jadi kau hanya menilai peran dan jasa ibu hanya sebatas kewajiban?”
“Tepat sekali. Menjadi seorang ibu bukanlah tugas mulia.”
“Kau sangat..” aku tak mampu mendebatnya lagi. Kehabisan kata-kata.
“Bahkan sebenarnya tak ada istilah untuk pahlawan tanpa pamrih. Semua orang butuh makan dan menjadi guru pun adalah pilihan profesi.”
“Aku guru untuk saat ini. Sekadar mengingatkan. Tanpa gaji,” tekanku, menahan emosi yang bisa meledak kapan pun.
“Ya, tapi itu untuk persyaratan kelulusan bukan?”
Aku putus asa, dan akhirnya keluarlah pengakuan itu. “Bagaimana kalau aku bilang kamu pahlawanku? Kamu menyelamatkanku tanpa pamrih bukan?”
Dewe tersenyum, tipis. “Asal kau tahu, malam saat kejadian penjambretan itu, aku sedang ingin sekali melampiaskan emosi. Dan aku melihat seorang preman menarik tas seorang gadis. Hah! Menyenangkan sekali rasanya mampu menggebuk orang tanpa perasaan bersalah. Lagipula, kamu cantik. Kalau kamu bocah laki-laki. Mungkin aku akan berlalu saja...”
Aku tertegun. Rasanya seperti dihantam seseorang dari belakang. Aku menelan ludah melewati tenggorokan yang kering karena terlalu banyak mendebat. “Lupakan Dew, sebaiknya kita tak bertemu lagi,” pamitku, bergegas menjauh darinya. Di antara langkah-langkah panjang, mataku menghangat. Aku tak mampu lagi membendung nyeri yang teramat berasa di hati. Meski demikian, aku masih sempat berharap Dewe akan menyusulku dan meminta maaf. Nyatanya tidak. Ia tidak mengejarku. Aku semakin yakin bahwa Dewe benar-benar sosok keras yang tak tahu apa itu perasaan manusiawi.
***
“Aku minta maaf,” ucapnya dengan nada yang tak pernah aku dengar sebelumnya dari seorang Dewe.
“Tidak kuberi,” responku tajam.
“Kumohon..” nyaris saja ia merintih.
“Nggak perlu. Hiduplah dengan dunia apatismu sendiri,” ujarku tetap menusuk sambil berlalu dari hadapannya.
“Tunggu! Aku akan beri tahu siapa pahlawanku padamu, jika kamu bersedia ikut hari ini dan memaafkanku..” tangannya telah mencengkeram keras lenganku. Tertahan di pijakanku berada, aku benar-benar merasa ingin tahu. Selama ini aku tak pernah menanyakan perihal seseorang yang berarti baginya. Aku kira Dewe tak punya, lebih tepatnya tak kenal arti pahlawan di kehidupannya.
***
Jadi di sinilah kami berdua sekarang. Di atas sebuah bukit yang menjulang dengan suguhan pemandangan pedesaan yang asri. Setelah dua jam lamanya menelusuri jalan setapak akhirnya kami sampai di puncak bukit. Hanya ada sebatang pohon Trembesi yang berdiri kokoh di sana. Selebihnya hanya rerimbunan semak belukar diselingi bebungaan liar. Sesekali melintas beberapa ekor kupu-kupu dan setiap kakiku menginjak rerumputan, belalang belalang mungil berloncatan kian kemari. Suasana sangat hening. Tidak ada tanda tanda kehidupan manusia di sana. Tidak ada sebuah gubuk reyot yang aku bayangkan sejak tadi. Tidak ada seorang nenek tua, atau setidaknya siapa pun lah yang akan menyambut kami ramah dan memeluk Dewe dengan hangat.
Dewe mengajakku melintasi  area puncak bukit, menuju balik batang pohon Trembesi yang berdiameter cukup lebar. Pohon ini tampak sangat menakjubkan dengan cabang pohon yang malang melintang dan dahan dahan rimbunnya membentuk payung raksasa yang teduh. Di balik batang pohon Trembesi aku menemukan gundukan kecil makam dengan tumpukan bebatuan yang disusun sedemikian rupa sebagai tanda atau nisan. Di kanan kiri batu-batuan tersebut tampak tanaman pandan wangi tumbuh setinggi satu meter.
Dewe terduduk di tanah. Belum pernah kulihat sebelumnya, sorot matanya meredup dan raut wajahnya teramat sendu. Ia menangkupkan tangan, berdoa. Aku pun turut meniru apa yang dilakukan Dewe meski tidak yakin betul makam siapakah ini. Terlalu pendek untuk ukuran tubuh seorang manusia.
“Namaku Dewe –bermakna sendiri—aku lahir seorang diri di dunia ini. Wanita yang melahirkanku di kandang Sapi meninggalkanku di sana. Kata orang-orang desa aku anak terkutuk. Anak yang sama sekali tidak diharapkan..” kisahnya, menggantung di langit langit tenggorokan. “Tidak ada seorang pun hingga saat ini yang mengakui aku sebagai keluarga. Tidak juga Kepala Dukuh yang akhirnya repot-repot membesarkanku. Ia bukan seorang pahlawan bagiku. Ia hanya seorang lelaki tua yang terpaksa menjadikanku anak angkat karena tak satu pun orang di desa yang mau merawatku. Aku masih ingat, cacian makinya, pukulannya, bahkan hukumannya, saat aku berbuat kesalahan. Aku diharuskan tidur di kandang sapi miliknya dan selalu mengungkit-ungkit asal muasalku. Anak haram.”
Senyap sekian menit. Aku berusaha mencerna kembali kisah Dewe yang tak pernah kubayangkan akan sekelabu ini. Aku merutuk dalam hati betapa bodohnya seorang Tere yang tidak peka terhadap Dewe dan selalu menyalahkan dan tak habis pikir dengan tabiat Dewe yang keras. Memang, pernah beberapa kali kudesak Dewe untuk ceritakan apa pun tentang dirinya, masa kecilnya, dan keluarganya. Namun selalu ditolak. Wajar saja, jika Dewe tidak pernah mengerti jalan pikiranku dan kegilaanku terhadap sosok pahlawan.
Aku menarik napas panjang, bingung untuk bersuara di jeda yang terasa dilematis.
“Kamu tidak bertanya Re, siapa sosok yang paling berjasa buat hidupku?” tanya Dewe sambil mengacak rambutku. Ia berusaha menunjukkan nada seriang mungkin meski itu dibuat-buat.
Aku mengangguk, semakin pilu melihat sorot matanya yang kesepian.
“Makam ini makam seekor anjing yang menyeretku dari kandang Sapi. Ia menggonggong pagi buta di jalan desa. Berusaha memanggil penduduk untuk segera menyelamatkanku. Aku beri dia nama Dewa. Dia anjing kampung, namun satu-satunya sosok yang kuanggap sebagai keluarga. Dewa meninggal setahun yang lalu karena memang sudah cukup tua..”
Aku terhenyak. Makam di depanku bukanlah makam manusia. Pahlawan untuk Dewe adalah seekor anjing. Tiba-tiba aku berkata, tanpa banyak pertimbangan, sebelum sempat kutahan, “Dewe, kamu ingat tidak? Aku pernah cerita ingin tinggal di Surabaya kelak dan ingin menamai putraku dengan nama Robin Hood atau si Pitung. Aku tahu itu norak..” suaraku menggantung di pucuk ranting-ranting Trembesi.
Dewe mengernyit, antara geli dan tidak mengerti. Menungguku menuntaskan maksud.
“Sekarang, kamu pun tak sendirian lagi. Kamu bukan Dewe yang dulu. Meski yah.. aku bukan pahlawan buatmu.. tapi..”
“Ah, susah amat Re. Berbelit-belit. Aku mau kok tinggal di Surabaya dan jadi bapak Robin Hood kelak,” potong Dewe cepat.
Pagi beranjak siang. Matahari masih tak mampu menembus payung hijau Trembesi. Namun aku telah merasa gerah. Pipiku merona merah di depan makam Dewa.

Subuh-manik, 20112011

Postingan populer dari blog ini

Nyanyian Lidi

Olika tertahan dalam sel pengap. Suara tetesan sisa hujan melengkapi kebekuan yang menyiksa. Buku-buku catatannya telah diberangus api di depan sel. Bekas abunya pucat seperti wajah kematian. Ia menatap serdadu dengan tatapan ngilu. Dihampirinya serdadu yang tengah berdiri di luar sel. Di dekat pintu yang tergembok sempurna. “Kita satu bangsa, kau tahu?” desis Olika. Serdadu tersebut menoleh ke belakang. Meludahinya. *** Mereka datang, serombongan dengan pelbagai plat motor menghambur di pekarangan rumah joglo Kepala Desa Tangkup. Mereka berasal dari kota sejauh 135 kilometer arah timur. Mereka datang, seolah-olah tamasya di akhir pekan. Beberapa di antara mereka selalu terkikik-kikik renyah di sepanjang jalan. Pak Chaz mengundang mereka untuk meneruskan jejak langkah perjuangan kaum tani. Kepala desa muda yang bernampilan mirip penyanyi ibukota tersebut mendapati serombongan pemuda bernyali besar. Mereka bersenjatakan jimbe, biola, gong, akordion, kuas, pena, dan papan sablon...

Kunjungan Tetangga

Kapan terakhir kali kau menemui Kakek? Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa. Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris,...

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...