Sarapan itu seperti menguap, menembus hawa yang berangsur-angsur
hangat, melayang tak kasat mata sebab tertelan cahaya pagi. Kalori tampak
semakin tidak berarti dalam sepiring penuh nasi jagung lauk tempe bongkrek dengan sayur daun singkong
bersantan, tatkala tanjakan semakin tajam. Warung pinggir desa yang terletak di
kaki bukit sudah jauh tertinggal di belakang. Setapak yang berkelok-kelok
panjang ini kami lewati dengan jalan kaki. Kepayahan aku mengimbangi
langkah-langkah lebar, yang seolah medan gravitasi diciptakan lemah di tapak
kakinya. Ia dengan ringan menyusuri jalan tak bertuan, semakin cepat saat
puncak bukit semakin dekat.
Bulir-bulir keringat mulai menetesi kemeja hitamku. Sesekali aku
mengacuhkannya, dan sesekali sebulir air asin itu meluncur bebas, melewati
seleret alis dan jatuh di kelopak mata yang berkedip. Pedas. Aku sembari sibuk
menghirup udara pedesaan yang sangat bersahaja, sibuk pula membayangkan siapa
yang sedang menunggu kami di atas sana. Jika rasa keingintahuanku tak terlampau
besar, mungkin pagi ini aku masih berada di kota, sedang berprosesi dengan
khidmat. Mengheningkan cipta.
***
Pertemuanku dengannya diawali dengan adegan penuh ketegangan. Seperti
terekam dalam kamera sutradara, ia berlari, berderap, berpacu dengan pelarian
sang penjambret di antara gang-gang kumuh permukiman kaum urban. Ia berusaha
menggapai ujung kerah baju preman bertato ular. Ia menariknya dan penjahat
terjungkal. Adegan menggebuk tanpa basa-basi ia salurkan melalui kepalan tangan
yang kekar dengan wajah yang beringas. Aku yang menyaksikannya –setelah
kepayahan menyusul—hanya ingin jauh-jauh dari anarkisme ini.
“Cek dulu isinya,” sempat ia berujar demikian. Mengangsurkan selempang
tas kain, dan nyaris berbalik pergi ketika aku menahannya.
“Aku tidak butuh mengeceknya. Koreksi, justru nyawaku sudah kucek
terlebih dahulu. Masih ada,” tolakku sambil tersenyum mencairkan ketegangan.
Preman di samping kami telah terseok-seok pergi dengan membawa bulatan-bulatan
lebam yang terhias indah di wajahnya. Tanganku terjulur bersahabat, “Tere.
Terimakasih banyak sudah menolong.”
“Dewe,” suara bariton penyelamatku terhenti di ujung lengannya yang
kekar. Ia sama sekali tidak berminat dengan juluran tangan menyambut
perkenalan.
***
Pada hari-hari selanjutnya, kami banyak bertemu di jam-jam istirahat
makan siang. Seruas jalan sepanjang dua kilometer yang dijejali aneka kuliner
kami coba satu persatu. Tidak ada alasan yang pasti, mengapa kami hanya ingin
lewatkan siang dengan percakapan ringan di atas semangkuk bakso dan segelas es
teh. Esoknya sepiring nasi padang dan segelas es jeruk. Esoknya lagi, sepincuk
pecel dan segelas es blewah. Hingga berangsur-angsur menu kuliner jalan A.Yani
telah habis kami santap.
“Kurasa setiap kota selalu punya jalan A.Yani bukan?” tanyaku tiba-tiba
sambil mengamati lalu lalang kendaraan bermotor.
“Oh ya? Mengapa bisa begitu?” responnya, acuh tak acuh.
“Mungkin karena A.Yani seorang pahlawan..” sahutku lirih.
Dewe meletakkan piring kotor bekas lotek makan siangnya. Ia menatapku
sejurus, lalu alih alih mengusap bibirnya dengan punggung telapak tangan.
Sejatinya ia menahan tawa. Geli.
“Ada protes?” aku mengedikkan bahu. Ia terlalu sering bereaksi seperti
itu tatkala aku menyinggung-nyinggung topik pahlawan.
“Ada. Argumenmu sangat tidak berbobot. A.Yani teramat dikenang karena
ia salah satu pihak militer oposisi garis keras PKI. Dan setelah ia tewas,
Soeharto adalah seorang pihak militer yang menggulingkan PKI.. lalu kondisi
Indonesia menjadi serba anti komunis. Wajar saja, saat zaman Orba, proyek pembangunan
menghasilkan banyak jalan protokol, lalu diberi namalah A.Yani..”
“Oh, ayolah..” aku mengerang. “A.Yani banyak berjasa sebelum peristiwa
naas malam itu. Dan kematiannya sungguh tragis. Masuk lubang buaya. Kau bisa
bayangkan betapa kej..”
“Yang bisa kubayangkan sekarang betapa seorang Tere sangat mania pada
segala hal berbau pahlawan,” potongnya cepat.
Aku mati kutu.
Aku memang terkenal sebagai pengidap hero syndrome vonis teman-temanku. Entahlah, bagaimana aku bisa
terlahir demikian? Mungkin satu-satunya alasan yang tepat adalah karena aku
tidak lahir di zaman peperangan berkecamuk sedangkan orangtuaku selalu
menjejaliku dengan konsep pahlawan. Masih terkenang hingga sekarang, bagaimana
ayah selalu bangga menceritakan kehebatan kakek yang gugur dalam agresi militer
II. Aku selalu membayangkan sosok kakek yang gagah dengan bermodalkan senapan
hasil rampasan serta bambu runcing mengoyak perut penjajah. Bertahun-tahun
lamanya, ketika masih di bangku sekolah dasar, tiap malam aku berdoa semoga
kakek mengunjungiku di mimpi dan berkata, “Nak,
kau terlahir sebagai darah pejuang..” Jadi aku pun lantas berpikir, kalau
saja aku terlahir setidaknya enam dekade lebih cepat, mungkin kini aku telah
bergelar pahlawan nasional. Sindrom memuja pahlawan pun tergantikan menjadi
obsesi sebagai pahlawan jika aku hidup di zaman perang bergejolak.
Sejak kecil, aku pun telah mengoleksi buku cerita berseri pahlawan
lengkap dengan poster-poster Pangeran Diponegoro, R.A Kartini, Ir. Soekarno dan
sosok lain yang sangat berjasa bagi Indonesia. Aku juga tergila-gila dengan
tokoh film heroik seperti Spyderman,
Superman, dan Batman. Pelajaran
yang paling aku sukai adalah Sejarah. Sampai-sampai nilai Sejarahku selalu
tercetak angka 9 di rapor.
***
10 November.
Setiap sore di Hari Pahlawan, aku selalu menyempatkan diri datang ke
Taman Makam Pahlawan. Aku datang membawa sekeranjang kelopak bunga mawar merah
dan menaburkannya segenggam-segenggam ke perkuburan yang tanahnya tak lagi
menggunduk coklat kemerahan. Sebelum membagi rata bunga, aku berdiri diam,
menunduk untuk berdoa dengan tulus. Berusaha menyapa arwah-arwah pejuang yang
telah berkorban sedemikian besar bagi bangsa, bagi penerus, dan bagi kehidupan
yang lebih baik di masa depan. Terkadang aku mengusap pucuk nisan mereka seolah
hanya dengan cara bersentuhan itulah aku bisa merasakan perkenalan senyatanya
dengan para pejuang.
Sore ini aku ditemani Dewe. Meski ia berdiri tenang di sampingku, namun
aku tak pernah tahu apakah ia benar-benar berdoa untuk arwah para pejuang.
Beberapa kali aku dapati ia melirikku yang sedang menangkupkan tangan, berdoa.
Berdiri di sebelahnya dengan ritual seperti ini sebenarnya membuatku agak
canggung. Baru kali ini ada seseorang yang benar-benar mau menemaniku melakukan
prosesi takziah. Namun terlebih lagi, yah, aku menganggap Dewe adalah seorang
pahlawan juga bagiku –aku tidak pernah mengatakan padanya—dan aneh rasanya
berdoa untuk pejuang yang telah meninggal sementara mendapati seorang pejuang
yang lain telah menyelamatkan nyawaku dan masih bernapas.
Kemudian tibalah kami di deretan makam pojok TMP. Di bawah naungan
pohon kamboja dengan bunganya yang menyembul lebat, aku berjongkok, mengusap
nisan tak bernama dengan lembut. “Ini makam kakekku. Yang aku ceritakan
padamu,” ujarku, campuran rasa terharu dan bangga.
“Lihat, aku pernah nekat mengukir nisannya. Coba raba..” bujukku pada
Dewe yang ikut berjongkok. Samar-samar ia pun melihat kata “KAKEK” terukir di
nisan. “Hahaha.. tulisan itu kuukir saat kelas enam SD. Ayah akhirnya
menunjukkan letak makam kakek. Tanpa sepengetahuannya, sepulang sekolah aku
kesini dan nekat mengukirnya dengan silet pensil,” jelasku sambil tertawa.
“Tidak kusangka.. kamu yang budiman cukup berani melakukan tindak
vandalisme,” komentar Dewe yang langsung mendapat pukulan lemah dariku.
“Saking aku rindunya mungkin sama kakek,” ucapku.
“Sekangen itu ya?”
“Iya, memang kenapa?’ tanyaku, menoleh pada lelaki muda di sampingku
yang tiba-tiba mengubah raut mukanya menjadi kaku. Rahangnya mengeras. Ia
bangkit, lantas mengajakku pulang.
***
Sekembalinya dari TMP aku mendapati bunda terisak lirih di kamar. Rumah
kosong. Genta, adikku, masih belum pulang karena ikut bimbingan belajar tiap
sore hingga petang. Sedangkan ayah tentu masih di kantor, setidaknya dalam
perjalanan pulang dan terjebak macet. Dengan perlahan aku menghampiri bunda
yang terduduk di atas ranjang. Sejenak beliau tampak terkejut saat segelas air
putih aku sodorkan. Melihatku telah berdiri di depannya, suara tangis justru
semakin keras. Pecah, berderai-derai.
“Bunda, kenapa?” tanyaku lembut, mengusap bahunya.
Bunda menggeleng, berusaha menahan-nahan isak tangisnya namun air mata
semakin membanjir. Perlu setengah jam lamanya hingga kalimat itu pun keluar
dari bibirnya yang bergetar, “Ayahmu, Tere.. ia seorang pembohong.”
“Maksud Bunda? Bohong bagaimana?” tanyaku tidak mengerti.
“Kita akan jatuh miskin Tere.. Oh, Nak.. kamu tidak akan dapat
melanjutkan kuliah. Semua ini salah ayahmu!” raung ibu dan aku semakin bingung
dibuatnya. “Keluarga ini terbelit hutang, Nak.. bisnis ayahmu bangkrut. Dulu,
ia menenangkan bunda dengan jaminan tanah waris dari mendiang kakekmu yang
luas. Ia juga bilang bahwa kakekmu seorang veteran yang mempunyai simpanan emas
hadiah dari negara untuk menutupi modal bisnisnya. Tapi bohong! Ia penipu..!
kakekmu sama sekali bukan veteran yang kaya...”
“Te..
terus.. kakek..?” aku tak mampu berucap lebih jauh.
“Kakekmu seorang bapak yang
kabur meninggalkan keluarganya dengan segunung hutang. Sampai sekarang hutang
itu belum selesai terlunasi dan ayahmu-lah yang harus menanggung semuanya. Duh,
Gusti.. berat sekali cobaan ini...!”
ratap Bunda sambil memelukku.
Aku kaku, membeku. Tiba-tiba
pintu kamar terdorong, membuka. Ayah tengah berdiri dengan muka pucat. Ia
berdiri tanpa berani mendekat pada kami berdua. Pemandangan di depannya terlalu
beresiko untuk membuatnya berani menghampiri kami. Ia melangkah mundur dan
berbalik. Aku tersenyum pada punggung seorang ayah. Tersenyum miris.
***
Aku diculik. Dewe nekat melakukannya dengan cara menarikku kasar,
menjauhkanku dari pintu gerbang sekolah. Senin pagi itu seharusnya aku menjadi
guru piket bagi murid-murid yang akan bertugas di upacara bendera. Sudah dua
minggu berlalu, sejak aku menjalani KKN, menjadi guru SD. Dan telah seminggu
lamanya, sejak aku dan Dewe bertengkar hebat karena ucapannya yang sangat
menyinggung.
“Bagiku, Bunda sungguh tegar dalam menghadapi musibah ini. Lelaki itu
beruntung karena Bunda tidak menceraikannya dan bersedia mencari jalan keluar
bersama..” ujarku, seminggu yang lalu di warung bakmie.
“Kamu sangat membenci ayahmu sekarang,” komentar Dewe, menghakimi tanpa
nada setuju maupun tidak setuju.
“Wajar bukan membenci seseorang yang telah menipu kita sejak kecil?
Selama ini lelaki itu menciptakan tokoh khayalan atas diri kakek. Berusaha
menghibur dirinya yang malang sebagai anak yang ditinggal bapaknya sekaligus
mencoba menempatkan dirinya dengan bermartabat di depanku. Pecundang sekali,”
ucapku cepat, mulai emosi.
“Jadi, apa kamu akan masih mengunjungi TMP tiap 10 November dan berdoa
juga di makam yang kamu kira makam kakekmu?”
Entah mengapa, pertanyaan Dewe membuatku amat gusar. Lalu aku menatapnya
tajam. “Dew, dengar, aku sama sekali tidak akan berhenti sedetik pun untuk
tidak menghargai jasa pahlawan seperti yang biasa kamu ungkapkan dengan nada
satir. Aku tidak peduli bahwa kau bilang R.A Kartini adalah wanita hobi
surat-suratan dan sama sekali tidak berbakat menjadi Srikandi. Aku tidak peduli
bahwa kau bilang Soekarno hanyalah seorang ambisius yang keras kepala. Aku
bahkan tidak peduli bahwa makam tanpa nama itu bukan makam kakekku!”
“Dan lantas sekarang kamu memuja Bundamu pula?” pemantik demi pemantik
ia sulut.
“Ya. Kenapa tidak? Ia ibu kandungku. Ia yang membesarkanku dengan susah
payah. Bagaimana pun juga tetap seorang ibu adalah pahlawan bagi semua
anak-anaknya.”
“Aku rasa tidak,” potongnya, enteng.
“Jelaskan,” seruku tegas.
“Wanita yang menjadi ibu hanyalah seorang yang ditakdirkan melahirkan
seorang jabang bayi. Ia bertugas mengeluarkannya dari perut dan merawatnya
hingga sang anak mampu bertahan hidup sendiri. Itulah kodrat wanita hamil.”
“Begitukah? Jadi kau hanya menilai peran dan jasa ibu hanya sebatas
kewajiban?”
“Tepat sekali. Menjadi seorang ibu bukanlah tugas mulia.”
“Kau sangat..” aku tak mampu mendebatnya lagi. Kehabisan kata-kata.
“Bahkan sebenarnya tak ada istilah untuk pahlawan tanpa pamrih. Semua
orang butuh makan dan menjadi guru pun adalah pilihan profesi.”
“Aku guru untuk saat ini. Sekadar mengingatkan. Tanpa gaji,” tekanku,
menahan emosi yang bisa meledak kapan pun.
“Ya, tapi itu untuk persyaratan kelulusan bukan?”
Aku putus asa, dan akhirnya keluarlah pengakuan itu. “Bagaimana kalau
aku bilang kamu pahlawanku? Kamu menyelamatkanku tanpa pamrih bukan?”
Dewe tersenyum, tipis. “Asal kau tahu, malam saat kejadian penjambretan
itu, aku sedang ingin sekali melampiaskan emosi. Dan aku melihat seorang preman
menarik tas seorang gadis. Hah! Menyenangkan sekali rasanya mampu menggebuk
orang tanpa perasaan bersalah. Lagipula, kamu cantik. Kalau kamu bocah
laki-laki. Mungkin aku akan berlalu saja...”
Aku tertegun. Rasanya seperti dihantam seseorang dari belakang. Aku
menelan ludah melewati tenggorokan yang kering karena terlalu banyak mendebat.
“Lupakan Dew, sebaiknya kita tak bertemu lagi,” pamitku, bergegas menjauh
darinya. Di antara langkah-langkah panjang, mataku menghangat. Aku tak mampu
lagi membendung nyeri yang teramat berasa di hati. Meski demikian, aku masih
sempat berharap Dewe akan menyusulku dan meminta maaf. Nyatanya tidak. Ia tidak
mengejarku. Aku semakin yakin bahwa Dewe benar-benar sosok keras yang tak tahu
apa itu perasaan manusiawi.
***
“Aku minta maaf,” ucapnya dengan nada yang tak pernah aku dengar
sebelumnya dari seorang Dewe.
“Tidak kuberi,” responku tajam.
“Kumohon..” nyaris saja ia merintih.
“Nggak perlu. Hiduplah dengan dunia apatismu sendiri,” ujarku tetap
menusuk sambil berlalu dari hadapannya.
“Tunggu! Aku akan beri tahu siapa pahlawanku padamu, jika kamu bersedia
ikut hari ini dan memaafkanku..” tangannya telah mencengkeram keras lenganku.
Tertahan di pijakanku berada, aku benar-benar merasa ingin tahu. Selama ini aku
tak pernah menanyakan perihal seseorang yang berarti baginya. Aku kira Dewe tak
punya, lebih tepatnya tak kenal arti pahlawan di kehidupannya.
***
Jadi di sinilah kami berdua sekarang. Di atas sebuah bukit yang
menjulang dengan suguhan pemandangan pedesaan yang asri. Setelah dua jam
lamanya menelusuri jalan setapak akhirnya kami sampai di puncak bukit. Hanya
ada sebatang pohon Trembesi yang berdiri kokoh di sana. Selebihnya hanya
rerimbunan semak belukar diselingi bebungaan liar. Sesekali melintas beberapa
ekor kupu-kupu dan setiap kakiku menginjak rerumputan, belalang belalang mungil
berloncatan kian kemari. Suasana sangat hening. Tidak ada tanda tanda kehidupan
manusia di sana. Tidak ada sebuah gubuk reyot yang aku bayangkan sejak tadi.
Tidak ada seorang nenek tua, atau setidaknya siapa pun lah yang akan menyambut
kami ramah dan memeluk Dewe dengan hangat.
Dewe mengajakku melintasi area
puncak bukit, menuju balik batang pohon Trembesi yang berdiameter cukup lebar.
Pohon ini tampak sangat menakjubkan dengan cabang pohon yang malang melintang
dan dahan dahan rimbunnya membentuk payung raksasa yang teduh. Di balik batang
pohon Trembesi aku menemukan gundukan kecil makam dengan tumpukan bebatuan yang
disusun sedemikian rupa sebagai tanda atau nisan. Di kanan kiri batu-batuan
tersebut tampak tanaman pandan wangi tumbuh setinggi satu meter.
Dewe terduduk di tanah. Belum pernah kulihat sebelumnya, sorot matanya
meredup dan raut wajahnya teramat sendu. Ia menangkupkan tangan, berdoa. Aku
pun turut meniru apa yang dilakukan Dewe meski tidak yakin betul makam siapakah
ini. Terlalu pendek untuk ukuran tubuh seorang manusia.
“Namaku Dewe –bermakna sendiri—aku
lahir seorang diri di dunia ini. Wanita yang melahirkanku di kandang Sapi
meninggalkanku di sana. Kata orang-orang desa aku anak terkutuk. Anak yang sama
sekali tidak diharapkan..” kisahnya, menggantung di langit langit tenggorokan.
“Tidak ada seorang pun hingga saat ini yang mengakui aku sebagai keluarga.
Tidak juga Kepala Dukuh yang akhirnya repot-repot membesarkanku. Ia bukan
seorang pahlawan bagiku. Ia hanya seorang lelaki tua yang terpaksa menjadikanku
anak angkat karena tak satu pun orang di desa yang mau merawatku. Aku masih
ingat, cacian makinya, pukulannya, bahkan hukumannya, saat aku berbuat
kesalahan. Aku diharuskan tidur di kandang sapi miliknya dan selalu
mengungkit-ungkit asal muasalku. Anak haram.”
Senyap sekian menit. Aku berusaha mencerna kembali kisah Dewe yang tak
pernah kubayangkan akan sekelabu ini. Aku merutuk dalam hati betapa bodohnya
seorang Tere yang tidak peka terhadap Dewe dan selalu menyalahkan dan tak habis
pikir dengan tabiat Dewe yang keras. Memang, pernah beberapa kali kudesak Dewe
untuk ceritakan apa pun tentang dirinya, masa kecilnya, dan keluarganya. Namun
selalu ditolak. Wajar saja, jika Dewe tidak pernah mengerti jalan pikiranku dan
kegilaanku terhadap sosok pahlawan.
Aku menarik napas panjang, bingung untuk bersuara di jeda yang terasa
dilematis.
“Kamu tidak bertanya Re, siapa sosok yang paling berjasa buat hidupku?”
tanya Dewe sambil mengacak rambutku. Ia berusaha menunjukkan nada seriang
mungkin meski itu dibuat-buat.
Aku mengangguk, semakin pilu melihat sorot matanya yang kesepian.
“Makam ini makam seekor anjing yang menyeretku dari kandang Sapi. Ia
menggonggong pagi buta di jalan desa. Berusaha memanggil penduduk untuk segera
menyelamatkanku. Aku beri dia nama Dewa. Dia anjing kampung, namun satu-satunya
sosok yang kuanggap sebagai keluarga. Dewa meninggal setahun yang lalu karena
memang sudah cukup tua..”
Aku terhenyak. Makam di depanku bukanlah makam manusia. Pahlawan untuk
Dewe adalah seekor anjing. Tiba-tiba aku berkata, tanpa banyak pertimbangan,
sebelum sempat kutahan, “Dewe, kamu ingat tidak? Aku pernah cerita ingin
tinggal di Surabaya kelak dan ingin menamai putraku dengan nama Robin Hood atau
si Pitung. Aku tahu itu norak..” suaraku menggantung di pucuk ranting-ranting
Trembesi.
Dewe mengernyit, antara geli dan tidak mengerti. Menungguku menuntaskan
maksud.
“Sekarang, kamu pun tak sendirian lagi. Kamu bukan Dewe yang dulu.
Meski yah.. aku bukan pahlawan buatmu.. tapi..”
“Ah, susah amat Re. Berbelit-belit. Aku mau kok tinggal di Surabaya dan
jadi bapak Robin Hood kelak,” potong Dewe cepat.
Pagi beranjak siang. Matahari masih tak mampu menembus payung hijau
Trembesi. Namun aku telah merasa gerah. Pipiku merona merah di depan makam
Dewa.