Langsung ke konten utama

Pisah Ranjang


Sepasang suami istri yang dulu hidupnya dijamuri kebahagiaan, kini mengharap-harap rejeki yang tercurah dari langit bak hujan deras. Mereka berdua tinggal di sepetak rumah kontrakan di permukiman. Berhimpit-himpitan dengan kediaman ibu-ibu muda yang gemar mengeluhkan upah suaminya sebagai buruh bangunan, pelayan bersih-bersih, atau sopir bemo. Mereka berdua telah dikaruniai tiga orang putri yang kini telah menyebar di sudut-sudut kota besar.
“Agisti menanyakan mengapa telepon rumah tak lagi bisa dihubungi,” kabar Sang Istri datar.
“Kamu belum bilang ke Agisti kalau rumah kita disita dan kita terpaksa pindah kemari?” tanya suaminya keheranan.
“Tidak bilang tepatnya. Ketiga anakku tidak boleh tahu kita terkapar di gubuk reot ini. Kemarin Intan pun akhirnya meneleponku,” sang Istri menunjukkan ponsel barunya yang bekas.
“Perlu apa kamu membeli ponsel lagi? Kita-sudah-punya-satu!”
“Itu ponselmu! Aku suka yang berwarna dan berkamera biar aku tak seperti nenek-nenek yang ketinggalan zaman. Aku juga tak suka kita berbagi barang apa pun lagi.”
Argumentasi itu teramat menohok sang suami. Istrinya sungguh keras kepala, namun tak dapat dipersalahkan begitu saja. Jika ia kembali mengomel, sang Istri akan kembali mengungkit kebodohannya dalam berbisnis, lalu pailit. Jika ia pun ikut bersikeras agar anak-anaknya tahu keadaan mereka, sang istri akan ketakutan setengah mati bahwa ketiga cucunya tidak akan menemukan halaman luas untuk bermain di kala menjenguknya.
Hubungan suami istri ini seperti gemuruh mendung yang bergulung-gulung di sepetak rumah berdinding triplek. Gumaman-gumaman yang nyinyir bagai awan kelabu terus berdengung di bawah atap kontrakan. Sang istri sibuk mencari kerja, pengganti profesinya sebagai kurator galeri seni. Sedangkan sang suami sibuk melingkari lowongan pekerjaan di rumah sambil mencuci baju, menyapu lantai, dan menanak nasi.
“Dulu kamu seorang istri yang menyukai eksperimen dalam memasak,” ujar sang suami pelan sambil mencolek sambal dengan terong goreng.
“Benar, menyukai lantaran aku punya uang untuk sekadar melengkapi seri buku resep dan memenuhi kulkas dengan bahan-bahan makanan,” sahut sang istri sambil membersihkan perabot makan yang kotor, hendak mencucinya di samping sumur.
“Kita sudah kakek nenek, berhentilah untuk menuntut banyak hal, Sayang..”
“Kita sudah kakek nenek, cobalah untuk membuat hidup kita lebih mapan, bukan malah serba kekurangan seperti ini. Rasanya, aku ingin cerai saja.”
“Kamu yakin bicara seperti itu?”
“Hm.. sayangnya, biaya cerai 1,5 hingga 2 juta rupiah. Oleh karena itu, mungkin sebaiknya kita pisah ranjang dahulu sampai aku bisa kumpulkan uang sebanyak itu,” putus sang istri sambil menimbang-nimbang respon sang suami. Nyatanya, si suami justru bergegas mencari gergaji.
Mereka kini pisah ranjang. Sesuai apa yang diinginkan sang istri. Seharian sang suami sibuk membelah dipan kayu menjadi dua. Ia menambahkan sepasang kaki dipan pada dua bagian yang terbelah. Tak lupa ia memotong kasur menjadi dua lantas menjahit kedua sisi yang baru. Gumpalan kapas randu berterbangan di sela-sela keasikannya menjahit kasur dengan jarum besar.
“Rasanya aneh,” gumam sang istri malam itu. Malam pertamanya pisah ranjang.
“Aneh kenapa?” sahut suaminya sambil membalikkan badan, menghadap sang istri.
“Pisah ranjang seperti ini hanya akan membuatku sedikit nyenyak karena tidak terganggu dengkuranmu.”
“Jadi, kamu tega melihatku tidur di bale-bale depan rumah dan masuk angin?!” tiba-tiba saja emosi sang suami membuncah. Ia kesal karena pengorbanannya sama sekali tidak membuat istrinya tersentuh.
“Harusnya aku tega. Rumah kita memang sempit sih. Sudahlah, aku akan mencoba tidur sambil membayangkan kita sedang berada di kamar double bed di hotel berbintang.”
Keesokan harinya, keadaan semakin bertambah panas. Uang mereka menipis. Cincin kawin telah tergadai untuk membayar sewa kontrakan. Mereka tak mampu membeli lagi lauk pauk. Dan pemadaman listrik kontan membuat mereka saling menuduh. Si istri menuduh bahwa sang suami belum bayar tagihan listrik, sebaliknya si suami menuduh bahwa sang istri tidak cermat mencari lokasi kontrakan yang bebas dari pemadaman bergilir. Sang suami pun lantas pergi dari rumah, entah kemana.
Sang istri terdiam. Rumah mendadak senyap. Ia tak menyangka bahwa suaminya bisa sangat marah lantaran listrik mati. Sang istri hanya dapat terduduk di tepian dipan sambil memandangi dipan sang suami yang masih berantakan. Lantas kemudian ia membenahi kekacauan dipan tersebut dengan hati-hati. Ia tarik ujung-ujung sprei yang koyak dari bawah dipan. Ia lipat selimut dan sarung suaminya menjadi bentuk bujur sangkar sempurna, lalu ia pun menepuk-nepuk pelan bantal dan guling suaminya.
Dan ia pun terhenyak. Sepertinya sudah berjarak lama sekali, sejak terakhir kali ia merapikan ranjang untuk suaminya. Bukan untuk rutinitas, bukan untuk ritme.
Mendadak ia lapar. Ia berjalan di dapur dan mendapati nasi dari persediaan beras terakhir mereka sudah ditanak oleh suaminya. Namun tak ada lauk. Ia mengintip bumbu-bumbu yang ada. Hanya ada tiga siung bawang putih, dua siung bawang merah, sejumput cabe rawit, dan garam serta gula. Ia mencari-cari kecap. Ia temukan satu sachet yang belum terpakai. Ia goreng bawang dan cabe. Ia siapkan cobek lalu menakar garam dan gula.
Sang istri dengan tekun mengulek sambal, dan terakhir menuangkan kecap dalam cobek. Senja telah turun. Sebentar lagi gelap. Tidak ada suara lain di dalam rumah selain suara langkahnya. Sang istri mulai kebingungan. Ia letakkan secobek kecil sambal kecap di kursi plastik. Mereka berdua tak punya meja makan.
Rasa lapar sang istri menguap dibawa matahari balik ke peraduan. Ia kembali masuk kamar, lalu berbaring begitu saja di dipan suaminya. Aroma seseorang yang teramat melekat di kehidupannya dua puluh delapan tahun ini tiba-tiba menggelitik hidungnya. Suasana semakin sendu dan gelap. Namun dalam mata menuanya, ia tiba-tiba mengerti mengapa sang suami membelah dipan menjadi dua.
Ia pun tertidur.
 Dua jam kemudian, ia terbangun oleh belaian halus di tangannya. Sang suami telah berada di sampingnya, mengajak makan bersama.
“Kita tak punya lauk,” ujar sang istri mengingatkan.
“Aku beli empat buah kerupuk,” jawab sang suami.
“Kita makan dalam gelap?”
“Aku membeli dua batang lilin.”
Sang istri mengangguk. Mereka berdua makan dalam diam dengan duduk lesehan. Suara renyah kerupuk beradu dengan desisan dan kecapan dari bibir mereka. Kepedesan.
“Ini pertama kalinya kamu membuat secobek sambal kecap seperti yang biasa aku lakukan,” komentar sang suami.
“Tak ada lagi yang tersisa di dapur, kecuali ini,” respon sang istri getir.
“Tapi juga tak ada resep bukan? Kamu membuat sambal ini sesuai dengan takaranku. Sesuai seleraku,” ujar sang suami memuji.
“Oh ya?” sang istri sedikit terkejut. Selama ini selera masakan mereka berdua berbeda.
“Kamu menyadari sesuatu?” tanya sang suami sambil menatap sudut-sudut keriput mata sang istri.
“Aku—kita terlalu lama menjadi satu bagian,” jawab istrinya lirih, menunduk.
“Hingga kita pun lupa untuk saling menatap saat kita hendak tidur. Aku baru menyadari hal itu saat kamu memutuskan kita pisah ranjang. Dan aku terus memandangimu di sepanjang satu setengah meter jarak dipan kita hingga terlelap.”
Sang istri tertegun sejenak. Namun cepat-cepat keheningan terpecahkan oleh senyum pertamanya di rumah kontrakan. “Pantas saja, aku tak mendengar dengkurmu,” ia memutar bola matanya dengan ekspresi dibuat setengah jengkel.
Sisa malam bergulir cepat. Mereka berdua terus terkekeh dalam balutan cahaya lilin. Saat lilin semakin meluber, seiring dengan aliran kenangan, lalu padam, mereka pun bergegas tidur. Dengan naungan gelap, dalam sempit sepotong ranjang yang telah terbelah.


Yogyakarta, hampir-senja

250112

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...