Langsung ke konten utama

Dialog dengan Bulan


Sebingkai jendela, persegi panjang, kala siang larut dan di tengah bolongnya malam selalu tertutup. Rapat. Tergembok. Sepasang engselnya nyaris ingin berkarat, dan sepasang ranting besi penyangganya lunglai tak mengait. Dari luar tampak jendela itu miskin makna. Jendela tidak ingin memaknai mentari pagi yang hangat dan bersahabat, tidak pula sudi memaknai semilir angin sepoi yang berdesir-desir. Bahkan ia pun tidak lagi sempat memaknai pecahan air hujan yang menombaki permukaan kacanya dengan kukuh namun tetap romantis dalam ritmenya.
Dari dalam rumah berlantai dua, jendela sekotak itu saja yang terus tertutup kelambu rapat-rapat. Jendela yang membuka sekat antara sebilik kamar dengan dunia luar. Namun apa daya, kerangka kayu kusennya bisu, kacanya pun buram berdebu. Sebab, penghuninya sedang rapuh.
Aih, lantas mengapa aku kisahkan padamu tentang jendela yang tak berdaya guna? Kemarilah, aku toh berniat kisahkan kenanganku yang sepenggal-sepenggal tentang bulan dan jendela adalah penghubungnya. Ia seperti jembatan lalu menjelma menjadi tangga yang berundak-undak menuju langit, ke bulan bulat di atas sana.
Dahulu, ketika aku sampai di usia pasca balita, bulan adalah benda langit yang paling ajaib menurutku. Kata Bunda, di bulan terdapat banyak bidadari dan bidadara. Lusinan jumlahnya. Mereka tiap pertengahan bulan berdansa, bergandengan tangan membentuk lingkaran. Oleh karena itu, bulan menjadi bulat dan disebutlah sebagai bulan purnama. Aku mengerjap, takjub. Bulan yang tiap tanggal belasan kuintip dari balik kelambu jendela seakan berkedip padaku. Kedipan itu seolah berasal dari pangeran bidadara, yang wajahnya membayang dan bersinar keemasan. Maka nyenyaklah tidurku, seusai gosok gigi, menyimak dongeng, lalu berdoa. Bunda mengizinkanku membuka sedikit celah jendela, agar kapan pun mereka mau, bidadara bidadari di atas sana dapat hadir, menyelinap lalu mengecup keningku.
Dahulu kala juga, saat usia memperbolehkanku belajar di bangku sekolah dasar, bulan tidak lagi memesona seperti bidadara-bidadari. Bagiku, bulan menggemaskan. Kamu tahu? Tiap malam aku mengamati diam-diam sang bulan. Eh, rupanya permukaan bulan tidak halus seperti pipi bidadari, justru tampak bentol-bentol. Dan saat kuamati lagi betul-betul, permukaan bulan seperti rekahan biskuit bayi yang biasa dikudap adikku, si Bintang. Jadi, aku pun gemas ingin suatu saat memakan bulan.
Kraus.. kraus... alangkah lezatnya! Pasti bulan terbuat dari biji gandum terbaik dengan campuran madu hutan paling murni. Aku sampaikan hasratku itu pada Bunda. Beliau tersenyum dan berujar “Kalau begitu Rahkoso, si Raksasa jahat pasti suka mengudap bulan juga. Dia mencurinya sampai bulan hilang dari langit lalu memakannya hingga bersisa sedikit menjadi bulan sabit.”
Untuk pertama kalinya aku punya musuh bebuyutan, Rahkoso si Raksasa rakus.
Dahulu itu.. terasa sangat jauh. Seolah beratus-ratus tahun lamanya. Seolah masa lalu sudah menjelma menjadi dongeng dan dongeng Bunda lantas menjadi lantunan samar yang hampir lenyap dari memori. Mengapa dahuluku sangat jauh ya, Lintang?
***
“Bulan..! Bulan, kamu baik-baik saja?!” suara itu menyahut tiba-tiba, disusul tindakan tak sopan, mendobrak pintu kamarku. Ia menghambur menghampiriku, gadis yang tergeletak di atas ranjang, lemas. Ia Lintang. Ia sepupuku, teman sebaya, partner sebangku sejak SD.
Aku mengerjap, lemah. Ia tergopoh-gopoh membopongku keluar dari kamar yang suram. Ia mencoba membuat badanku tegak biar tak merosot jatuh ke lantai. “Bulan.. dengar, aku akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga. Kamu masih sanggup berdiri bukan?”
Wajahku pucat, sepucat kain beledu sofa ruang tamu yang berwarna krem kusam.
***
Ruangan ini luas dan riuh. Terang benderang. Aku seperti diungsikan ke ruang yang tak pernah merasakan malam. Lantas kini aku hanya berbaring saja, terlentang dan membisu. Dokter geleng-geleng kepala sambil menekan-nekan perutku. Sisi kiri, sisi kanan, sisi tengah, sisi atas.
“Mulai jam berapa sakitnya berlangsung? Apa saja gejalanya?” tanya dokter muda pada Lintang yang berdiri gugup di sebelah pembaringanku.
“Saya kurang tahu, Dok. Belum lama ini dia punya sakit maag. Saya menerima teleponnya dua jam yang lalu. Saya kira obat generik itu berfungsi seperti biasanya. Tapi ternyata keadaannya terlampau parah. Dia sudah muntah dua kali di jalan menuju kemari.”
Aku meringis lemah. Sewaktu di jalan tadi, di atas motor bebeknya, berkali-kali aku ketuk punggung Lintang. Itu isyarat aku hendak menyemburkan lendir dan lahar hangat. Di tepi jalan beraspal aku muntah, di depan minimarket waralaba dan di samping kantor pos.
Dokter lekas menyuntik lenganku. Dulu aku selalu mengelak saat diimunisasi dengan jarum suntik. Namun sekarang tidak lagi. Tidak lagi bertingkah menyebalkan semenjak Bunda pergi dari rumah membawa Bintang ketika aku memasuki awal sebelas tahun.
Ruang Instalasi Gawat Darurat sejatinya memang ditujukan untuk hal-hal darurat. Aku menghibur diri dengan membaui aroma antiseptik di kala kram pada perutku tak kunjung reda. Lalu aku memandangi satu persatu perangkat medis, menaksir harganya, di kala cairan suntik yang mahal itu, yang telah begitu kebas menusuk venaku, sama sekali tidak ampuh.
Tiga jam berlalu, dan aku masih berbaring di IGD. Dokter mulai mengusirku untuk pulang. Ini risiko jika kita mengeluh di IGD. Mirip toilet, semua orang mengantri untuk segera membuang hajatnya. Hajat kesakitan. Namun masalahnya, tempat terbatas.
Awalnya aku bersikukuh tak beranjak dari ranjang bersprei biru muda. Entah mengapa, aku merasa aman di antara kumpulan orang berjas putih ini. Meski mereka tak lihai berkompromi dengan perutku, namun mereka bagaikan malaikat tak bersayap. Lebih sering memberi jaminan berupa sugesti kesembuhan daripada kematian.
Tiba-tiba sirine ambulans meraung-raung. Perhatian kami seruangan serta merta teralih pada penghuni baru yang kritis. Seorang lelaki segera dilarikan ke samping ranjangku. Tirai ditarik, menutup, menyembunyikan misteri pada rasa ketidakpedulianku dan rasa penasaran Lintang. Aku tidak sama dengan yang lain di ruangan ini yang tengah diliputi ketegangan. Bagiku, semua yang harus terbaring di IGD adalah semua orang yang bernasib sama, sedang naas. Sedang dimabuk nestapa.
Tak lama kemudian koor tangisan pecah. Berderai-derai. “Bapak! Bapaak!”
Lolongan histeris itu terjadi. Anggota keluarga lelaki yang baru saja wafat itu saling berpelukan. Pandanganku nyalang, mencari-cari malaikat maut di sela-sela ujung tirai yang menggantung pada besi yang melintang. Lalu aku segera mencarinya di langit-langit ruangan, siapa tahu malaikat maut lenyap bagai uap air panas bersama sang ruh yang dibawanya. Dari dulu aku menduga, sang malaikat maut bersembunyi di kolong ranjang, menunggu turunnya SK dari Bos Besar, selembar Surat Kematian yang terbang dari kediamanNya.
 Belum selesai drama manusia ini dipentaskan, sang istri dari lelaki yang wafat mendadak melepaskan pelukan dari anak-anaknya. Perutnya yang menggelembung menjadi sumber dari ketegangan baru. Kamu tahu? Secepat itu, air mengalir dari balik dasternya, menderas membasahi selangkangan, lalu turun ke paha, meleleh ke betis.
Tersentak, seorang dokter yang rupanya agak mengantuk di sudut ruangan, segera siaga penuh menyambut nyawa baru.
Kali ini aku sungguh tegang. Sikap dinginku memudar bersama imaji akan uap dan ruh yang lenyap. Kram perutku—tidak berlebihan rasanya—berada di level kontraksi. Tak sampai satu jam, dokter perempuan berkacamata keluar dari sekat ranjang yang lain. Ia menggendong bayi merah, wajahnya sumringah tiada terkira. Tangis jabang bayi itu pecah dengan kemurnian yang bermelodi mesra. Terkadang, sepahit apapun momen itu, dalam keadaan getir sekali pun atas baru saja berpulangnya sang bapak, tetap saja tangis bayi adalah hal paling mengharukan dalam naluri keibuan. 
....hingga aku pun nyaris lupa atas kesakitan yang masih berdenyut-denyut di perut. Aku tenggelam dalam lautan suka cita yang tak seorang pun mengetahuinya.
“Ayo pulang,” ajak Lintang setengah sadar. Sama sepertiku, ia turut terguncang sebagai penonton—saksi bisu kematian dan kelahiran sekaligus.
 Aku mengangguk. Kali ini mengiyakan.
***
Dialog itu terjadi, antara aku dan Lintang, saat kami kembali ke kamarku yang pengap.
“Sejak kapan kamu memasang teralis pada jendela itu?” tanyanya, menyelidik.
“Tiga bulan yang lalu.”
“Mengapa? Bukankah jendela itu sudut favoritmu? Kalau begini pandanganmu ke bulan jadi terhalang, tidak sempurna,” kritiknya, berintonasi.
“Pencuri telah masuk ke kamarku.”
Lintang terbelalak, “Mengapa kamu tidak cerita? Sudah lapor polisi? Apa yang ia ambil?”
“Pencuri itu tidak meloncat dari jendela.”
“Lalu..?” kukenal betul nada frustrasi itu jika aku sudah mulai melingkar-lingkar dari jawaban yang ingin ia dapatkan. “Bulan, ada apa sebenarnya?” bisiknya dengan tak sabar.
“Ia masuk dari pintu rumah bersama ayah yang sedang mabuk. Ia lalu masuk ke kamarku. Esoknya ia kabur bersama ayah dan keduanya tidak pernah muncul lagi.”
Lintang terkesiap, senyap beberapa saat.
“Ia.. mengambilmu dariku,” bisiknya lirih, terduduk lemas di lantai. Sekarang, justru pemuda ini yang terlihat sangat rapuh.
“Oh Lintang, jangan bersedih,” aku pun ikut terduduk di sampingnya, bersandar pada kaki ranjang yang dingin. “Ngomong-ngomong kamu tidak dicari Bibi Leni? Sudah petang, pulanglah. Aku akan istirahat sebentar.”
Lintang menatapku nanar sekarang, “Mengapa kamu tidak cerita?! Mengapa kamu justru mengurung diri di kamar berbulan-bulan?!” nafas Lintang tersengal sengal. “Mengapa… kamu justru kini terlihat baik-baik saja?”
Aku bangkit dari dudukku, berjalan menghampiri jendela. Untuk pertama kalinya sejak peristiwa itu, kusibak kelambu dan kukaitkan kembali penyangga daun jendela. Benar saja, angin menyentuh ujung hidungku.
“Kamu tahu? Aku memasang teralis ini agar sewaktu-waktu aku tak bisa loncat dari jendela untuk bunuh diri.” Aku menghirup udara malam yang segar, sepuasnya, “Terimakasih ya sudah melarikanku ke IGD. Tadi adalah momen untuk sebuah alasan mengapa aku harus pertahankan janin ini..” refleks tanganku bergerak menyusuri perutku yang tak lagi berontak. Sisa-sisa kesakitan masih berasa namun tak lagi membuatku putus asa.
“Nyatanya, pencuri itu justru menitipkan nyawa kepadaku, setelah ia mengambil mahkota Putri Bulan.” 
“Tapi setidaknya janinmu masih tiga bulan, belum ditiupkan roh!” sangkalnya keras kepala.
“Yah, dan menurutmu mudah menggugurkan janin? Semudah malaikat maut mengambil rohku, misalnya? Kukatakan padamu, berhari-hari aku tersiksa menunggu malaikat itu muncul dari kolong ranjangku, sedangkan aku tak dapat lagi mengelak dari teror ini. Aku butuh bayiku untuk bertahan hidup!” semburku, tak kalah sengit.
Aku menoleh ke Lintang yang masih membenamkan wajah di ruang sempit di celah kedua lututnya. “Oh, ayolah, Lintang.. setidaknya, pencuri itu tidak berhasil merenggutku darimu,” bisikku lelah, dan beralih memandang bulan yang belum sempat dicuri Rahkoso.        

 110412

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...