Langsung ke konten utama

Elegi Perantau


Seorang perantau tidak akan mudah menjadi peziarah sewaktu-waktu. Kenyataan ini sudah diketahui Lekang ketika ia hanya bisa termangu di samping meja operator warnet, setelah mendapat kabar kematian dari Arah, Sang Ibu. Hari itu hari ketiga ia resmi menjadi perantau pemula. Arah dengan suara serak mengabarkan bahwa Khadim meninggal. Bocah berusia 12 tahun itu adalah anak tetangga yang pernah menjadi anak asuh di keluarga Lekang. Khadim istimewa bagi Lekang. Ia telah menganggap Khadim sebagai adiknya karena selama dua tahun berbagi kasur di loteng rumah.
Namun, Ibu Khadim, Fatmah, tidak menyukai anaknya diambil alih oleh keluarga Lekang. Khadim anak ketiga dari lima bersaudara dan sudah dianggap mampu membantu keluarga batihnya membanting tulang. Suatu pagi Fatmah pamit pada guru-guru di sekolah, mencabut hak Khadim bersenang senang di ruang kelas.
Khadim resmi menjadi asisten bapaknya, Pak Saeri, penjual nasi goreng.
“Truk menabraknya saat ia mendorong gerobak nasi goreng bersama Saeri,” ucap Arah dengan kegetiran yang terhantar sejauh 864 kilometer.
Lekang menahan kehangatan yang menggenang di ceruk matanya. Ia menatap kotak televisi di belakang operator yang sedang mengabarkan berita duka cita atas kematian Sang Pujangga Revolusioner. Sementara di pangkuannya tergeletak surat kabar yang menampilkan berita utama kematian Penyanyi Penganut Rastafari. Ia berpikir bahwa ia tak mungkin pulang untuk sekadar mengucapkan kata perpisahan di gundukan makam Khadim, sama halnya ia tak mungkin pergi mengantar kepergian Sang Pujangga dan Sang Penyanyi.
Khadim menjelma menjadi sosok yang hanya membanjiri Lekang dengan kenangan hari itu. Seharian, Lekang gunakan untuk larut dalam kubangan kesedihan yang mendalam. Teringat bagaimana setiap malam ia bercanda di atas dipan dan mengacak acak rambut keriting coklat terang adik angkatnya, membuat Lekang menyimpulkan kematian adalah sekian cara untuk menyambungkan ruhnya pada kampung halaman nun jauh di sana.  Dengan kematian ia menikmati kemanusiaannya yang terguncang, seperti sensasi menaiki bus antar provinsi yang selalu oleng untuk sampai tujuan.
“Pak Asep meninggal, kau sudah tahu Dik?” tanya Ilalang, kakak Lekang.
Ini tahun kelima Lekang menjadi seorang perantau. Setahun sekali ia pulang ke kampung halaman jelang lebaran. Selama ini, ia lebih suka menambahkan daftar pertemanan dengan keluarga dan kerabatnya di facebook. Baginya, ini cara bersilaturahmi yang cemerlang ketimbang mampir ke rumah demi rumah.
“Aku tahu,” jawab Lekang tercekat.
Kedua matanya sembab. Baru saja ia usai menangis diam diam di bilik kerjanya. Layar komputer jinjing di hadapannya masih terang benderang. Sebelum Ilalang menelepon, ia sudah membaca status berkabung kakaknya di facebook.
Pak Asep adalah guru mengaji di kampungnya. Semua orang kenal Pak Asep yang setiap jam tiga sore mengayuh onthel berwarna hijau tua ke Masjid Al Barokah dengan peci beludru hitam, baju taqwa dan sarung kotak kotak hijau pula kesayangannya. Hampir semua anak kecil di RW-nya mengaji pada Pak Asep, termasuk Lekang, Ilalang, maupun Khadim. Lekang lupa kapan terakhir kali ia menyapa Pak Asep. Ia tidak terlalu akrab karena diam diam selalu menyimpan rasa bersalah terhadap Pak Asep. Saat kelas lima SD Lekang menjadi pembangkang. Ia tidak mau mengaji lagi di Al Barokah. Keluarganya terheran-heran, mengapa ia meninggalkan setoran nderesnya yang hanya tersisa 8 juz lagi untuk resmi mencapai kesempurnaan sebagai pembaca kitab suci. Bahkan Lekang lupa apa alasannya memberontak saat itu. Ia bersembunyi di dalam almari ketika Pak Asep mengunjungi rumahnya, mencari penampakan ujung hidung yang sudah lama tidak terendus keberadaannya di Al Barokah.
Berbeda dengan Ilalang, gadis cilik kesayangan Pak Asep yang memiliki bulatan pipi semanis kue terang bulan. Ia sangat rajin berangkat ke masjid dengan menyangking kitab suci dan kitab kuning. Ia selalu bersila di antrian paling depan untuk semakan. Ia khatam 30 juz sebelum ia lulus MI. Betapa sempurna kenangan Kakak dengan Pak Asep! batin Lekang.
Ia terguncang membaca status Ilalang atas kematian Pak Asep. Seketika dinding facebook menjelma menjadi tembok ratapan. Yang membuatnya menangis adalah kenyataan Ilalang mampu menarik Lekang turut larut dalam kenangan masa kecil. Wanita itu bilang bahwa ia masih ingat sejak umur tiga tahun ia sudah mengaji di Al Barokah. Sesekali Pak Asep menggendongnya. Pak Asep juga selalu membela dan menghardik teman teman ngaji yang gemar menggoda Ilalang. Namun, momen yang paling berkesan untuk Ilalang adalah kemenangannya atas lomba baca tartil tingkat kampung, bersaing dengan lima TPQ yang lain. Ia tak bisa melupakan pancaran kebahagiaan di kedua bola mata guru ngajinya.
Lekang tak tahu darimana datangnya gelombang kesedihan ini. Ia bukan murid istimewa di Al Barokah. Banyak adegan-adegan masa mengajinya di Al Barokah yang telah menguap entah kemana. Namun tiba-tiba ia teringat, seseorang pernah berkata padanya bahwa ikatan emosional guru mengaji dan murid adalah bentuk ikatan spiritual yang kuat. Karena pengetahuan mengenai ritual keagamaan dibangun dengan ketelatenan luar biasa guru ngaji yang mayoritas tanpa pamrih alias tidak mengharapkan besaran gaji tertentu.
Pak Asep orang pertama yang mengajarinya mengeja abjad arab dengan kitab tipis Iqro’ yang terdiri dari enam jilid dan cara membaca huruf pego untuk membaca kitab kuning level pemula.
Karena Pak Asep yang membuatnya lancar melafadzkan kalam Ilahi, tiba-tiba pula ia ingin memaketkan Surah Yasiin untuk gurunya tersebut. Ini tidak akan sama jika Guru Akuntansi yang meninggal atau Dosen Tata Negara yang meninggal. Tidak mungkin Lekang memaketkan rincian saldo rekeningnya atau rancangan undang undang.
“Kamu sudah tahu Pak Asep meninggal, Leh?” tanya Arah, menelepon Lekang enam jam berselang setelah anak lelaki semata wayangnya itu menangis.
“Sudah. Tadi Kak Ila nelepon juga.”
“Kamu bisa pulang?”
Asep terdiam. Ia hapal pertanyaan itu adalah modifikasi tingkat lanjut dari ‘Kamu kapan pulang?’.
“Ikutlah tahlilan tujuh hari sedhane Pak Asep.”
Salah satu problem paling dilematis bagi perantau adalah betapa susah menjadi peziarah sewaktu-waktu.
“Lekang lihat agenda dulu, Buk.”
Arah terdiam.
“Pak Asep sakit apa ya Buk?” tanya Lekang kemudian.
“Liver. Baru saja itu dia dideteksi kena liver. Dia stres memikirkan sengketa tanah dan uang korupsi.”
“Siapa yang korupsi?”
“Kabarnya Haji Jali. Pak Asep kan panitia evakuasi. Pak Haji Jali itu bendahara di kepanitiaan. Ia katanya nilep uang setengah milyar. Pak Asep pusing dibuatnya. Harusnya dana itu buat anggaran pembangunan mushola dan tanah untuk kuburan.”
Lekang mau tak mau lega, ia sudah menghabiskan airmatanya yang terbatas enam jam yang lalu.
“Terus tanah milik siapa yang bermasalah?”
“Tanah kaplingan di sudut jalan raya Serambi. Yang beli anaknya Wak Nus dari Jakarta. Walah, sengketanya itu karena nggak jelas uang mukanya sudah diterima Haji Jali apa belum. Itulah, naseb menungso. Kasihan Pak Asep. Minggu lalu, sebelum dia ngamar, aku masih sempat bertemu dengannya. Matanya merah, seperti orang menahan sakit. Waktu itu aku sambat soal listrik yang belum beres-beres. Katanya PLN mau nanam tiang listriknya Mei. Ini sudah Juni akhir, eh, listrik masih sering mati gara gara rebutan dipakai banyak orang.”
“Anak anak Pak Asep gimana?”
“Yah ikhlas. Daripada bapaknya nanggung stres? Itungannya utang uang orang banyak, meskipun tersangkanya Haji Jali. Dia ketua panitia,” komentar Arah lalu menghela napas berat. “Yang bikin kasihan, Pak Asep belum sempat menikmati rumah barunya. Padahal dia bangun rumahnya bagus, pinggir jalan, rencananya anaknya mau buka butik pakaian di situ.”
Lekang teringat profesi resmi Pak Asep, penjahit seragam sekolah. Rumahnya dulu di sela sela gang sempit, mungil berhimpitan dengan rumah anak-anaknya.
“Terus Haji Jali?”
“Sepertinya mau dicopot jabatannya. Orang orang sudah mulai protes.”
Lalu Arah mengalihkan topik pada perihal administrasi sertifikat tanah, pada pemilihan warna cat fasad rumah, pada harga granit yang melambung, lalu jatuh pada kerinduannya untuk jamaah kembali di Al Barokah.
“Bukannya ada masjid di dekat jalan raya Serambi?”
“Terlalu jauh buat jalan kaki. Lebih dekat jarak rumah lawas ke Al Barokah,” keluh Arah.
“Tapi Al Barokah pasti juga sudah sepi sekarang kalau masih mau tarawih di sana.”     
“Yah, masjid kalau sepi kiamat nanti!” tegas Arah.
Lekang tertawa. Getir. Baginya kiamat sudah menahun di kampung halamannya, sejak perusahaan milik orang terkaya di negeri ini mengebor cadangan gas alam dengan keblabasan. Desanya yang dekat namun tidak terkena luberan lumpur panas terpaksa menikmati aroma busuk dari dalam perut bumi setiap kali angin berhembus. Belum ditambah air sumur berbau anyir. Baru tahun ini, penduduk desanya dipaksa eksodus dengan dalih tanah beserta bangunan dibeli oleh negara. Namun tak seorang pun yang tahu pasti, setelah itu negara ingin mengubah bekas desanya menjadi apa. Mungkin negara hendak membangun Disney Land sebagai wahana rekreasi dari rangkaian atraksi wisata bencana.
Lekang terhempas dalam suatu kepahitan yang mendalam. Jika dulu ia sempat membenci Fatmah sebagai pelaku yang membuat Khadim putus sekolah dan kemudian tewas terlindas ban-ban besar truk tebu, kini alih alih membenci Haji Jali, ia semakin membenci Dagu Maju, taipan kelas kakap yang meluluhlantakkan kehidupan sebuah distrik berjarak 864 kilometer dari tempatnya berpijak.
Ia merasa mendapati kematian yang berlapis lapis pagi ini. Kepulangan Pak Asep adalah pertanda bahwa DM Corp, gurita modal milik Dagu Maju, menjadikan orang-orang tak bersalah sebagai tumbal secara perlahan. Orang-orang dialihkan perhatiannya pada persaingan membangun rumah baru, pada bursa tukang dan kuli bangunan yang semakin riuh. RT RW yang sepakat bersatu saat pengumpulan sertifikat tanah lantas tidak lagi rukun-rukun saja, melainkan berubah menjadi Ribut Tetangga dan Ricuh Warga.
 Kematian juga melekat pada memori ribuan manusia yang dengan berbagai rasa berkecamuk saat harus meninggalkan tanahnya untuk berpindah ke tanah baru dengan kerabat yang tercerai berai. Mereka yang mendapat dana tambahan sepuluh persen adalah mereka yang memilih mempreteli bangunan rumah demi tegaknya rumah baru yang akan dibangun dengan menggunakan material bekas agar hemat. Arah pun terpaksa membunuh kehidupan rumah 23 tahun episode rumah tangganya, yang berarti ia harus berpisah dengan masjid kesayangannya. DM Corp juga membunuh keceriaan anak anak kecil yang mengaji tiap bada’ Ashar di Al Barokah. Masjid terbesar di distrik itu sekarang melompong seperti kakek kakek yang ompong giginya, yang selalu melamun di depan kaleng blek kerupuk yang kosong. Kini Al Barokah ditinggal satu per satu jamaah loyalis yang sibuk mendirikan babak baru kehidupan. Pemakaman di belakang Al Barokah pun menjadi terbengkalai, peziarah menjadi sangat langka.
Lekang membayangkan, sebagai perantau yang hanya mudik setahun sekali, jika ia pulang nanti, ia akan menjelma menjadi peziarah puing puing bangunan bekas rumah lawasnya, bekas rumah handai tolan masa kecilnya, dan merasai kepasrahan Al Barokah dengan duduk duduk dekat kolam cuci kaki, dan tentu mampir ke makam Buyut Siah, Simbah Umi, dan Mas Chus. Ia telah menjadi peziarah atas memori yang semena-mena dibunuh penguasa.


010714-07.00. Hari kedua Ramadhan.
 Demi masa yang sepanjang jeda Dzuhur dan Ashar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...