Aku masih ingat, tentu saja, bukankah aku ditakdirkan untuk mengingat detail-detail sederhana tentangmu? Kita berdua duduk-duduk di bawah Pohon Ketapang yang rindang siang itu, memandang ke depan. Sepetak lapangan voli yang tak seberapa besar tampak lengang. Saat itu Jumat, sebagian besar teman kita sedang shalat Jumat berjamaah di masjid kampus. Sekumpulan pelanggan kantin telah berangsur-angsur bubar. Kau menyalakan sebatang rokok dan aku sibuk memelintir ujung jilbabku.
“Aku
sudah cerita belum?” tanyamu, mendongak sekilas ke atas rerimbunan daun yang
berbentuk bulat telur terbalik.
“Tentang
apa? Petilasan di Gunung Lawu? Misteri Ranu Kumbolo? Atau... Misteri Gunung
Merapi?” tanyaku balik dengan seringai jahil.
Kau
mengumpat pelan, seraya mengatai tawaku yang mirip Mak Lampir. “Kau percaya
dengan cerita-ceritaku yang seram itu?” sekarang wajahmu seserius asap rokok,
tampak keruh.
“Bagaimana
aku mau percaya? Naik gunung saja aku tak pernah, wahai Pecinta Alam! Hahaha,
apa kau akan tersinggung kalau aku hanya jadi pendengar untuk kumpulan mitos
favoritmu? Bukan pengikut setiamu?”
“Coba
saja panjat Merbabu minggu depan setelah ujian, berani?”
“Untuk
membuktikan mitos?”
“Bukan.
Yang benar untuk merasakan kehadiran ruh-ruh di alam bebas,” jawabmu yang kini
seperti balon tersangkut dahan terendah Pohon Ketapang. Sepasang matamu
menatapku lekat, menantang nyaliku agar mengiyakan ajakanmu.
“Minggu
depan kita semua bergerak. Aku akan ke Senayan. Firasatku bilang, mungkin ini
saatnya Soeharto lengser,” bisikku, lantas tersadar ujung kain jilbabku telah
kusut karena ulahku menutupi kegelisahan.
“Jadi
masa depan kita berada di tangan reformasi? Kau percaya demokrasi itu bukan
mitos belaka yang selalu digembar-gemborkan kaum utopis?”
Aku
memelintir kembali ujung jilbabku. Kepalaku menunduk, bergeming, aku sudah
terbiasa melihatmu menyulut debat. Jika aku menjawab, kamu akan lontarkan
pemikiran pemikiran para filsuf. Dan kau akhir-akhir ini suka sekali mengutip
Heidegger. Kau tak lagi menjadi penganut eksistensialismenya Sartre. Tapi di
ujung debat, kau akan merobohkan semua opinimu, dan berkata kelak kau akan
menjadi Marxis.
“Masa
depan kita... di tangan kita,” ucapku akhirnya, menarik premis paling ambigu
untuk kelas para aktivis yang dilanda balada asmara. Ganti engkau yang terdiam.
Aku membatin, semoga bukan jilbab lalu agama lalu budaya lalu bergulir hingga
ke Timur Tengah dan sampailah kita seperti hari-hari kemarin, di Iran. Aku
angkat tangan, lelah dengan topik Revolusi Islam.
“Kau
mau berjanji satu hal?” tanyanya tiba-tiba, dengan penekanan misterius.
“Haruskah?”
“Berjanjilah
untuk bertemu di satu masa kelak. Tak ada pagar apapun lagi yang membuatmu
khawatir. Jika salah satu dari kita harus pergi lebih dulu... salah satu dari
kita bisa menyusul ke Aokigahara.”
Dua
detik lamanya otakku lumpuh. Kupanggil memori, segala informasi apapun tentang
Aokigahara. Nama itu tidak asing. Aku pernah mendengarnya. Berhubungan dengan
mitos dan misteri sebuah hutan. Aku terkesiap.
“Kowe edan, Rob!”[1]
Kali
itu aku setengah memekik, kusenggol bahunya yang gempal keras-keras. Aku
beringsut pergi.
***
Pertengahan
Mei 1998, nyawaku masih utuh berbaur dengan ratusan ribu mahasiswa. Jasadku
sempat menjadi mimpi buruk bagimu. Berkali kali kau menanyakan pada sesama
demonstran, memastikan bahwa aku baik-baik saja, bahwa negeri ini tidak lebih
penting di atas keselamatanku. Katamu, kau melihatku terkapar di atas aspal, di
tepi ban dan tong-tong oli yang dibakar, tergulung spanduk perlawanan. Katamu,
jilbabku bersimbah darah segar, sesekali terinjak kaki-kaki tentara berzirah.
Kau tak dapat tidur nyenyak dua minggu lamanya. Tapi kupikir, tak ada seorang
dewasa pun yang dapat tidur nyenyak kala itu.
Setelah
semuanya berangsur angsur mereda, gelombang mahasiswa yang tumpah seperti
longsoran tanah mampu mengubur masa kejayaan rezim Orde Baru. Aku kembali ke
Jogja, memikirkan rencana baru, memikirkan kelulusan yang sebentar lagi datang,
memikirkanmu yang tak kunjung mengerti bahwa kita tidak mungkin bersatu.
“Piye carane kudu isa!”[2]
Kalimat
pamungkasmu di bawah Ketapang, yang memaksaku mengiris hati. Aku tak tahan
dengan emosi yang kau sembunyikan di balik kalimatmu yang bernada kasar. Itu
adalah percampuran dari sifat keras kepala dan kegetiran luar biasa yang selama
ini kau tumpuk di sudut sanubarimu. Aku tak mungkin menikah denganmu, kataku
nyaris tercekik.
Lalu
kita berdua sepakat mengubur rasa bersama-sama, dalam-dalam, di bawah pohon
Ketapang. Dengan hati-hati, masing-masing dari kita memilih menjauh, agar tak
satu pun dari kita semakin pilu.
***
Lima
belas tahun seharusnya sudah lebih dari cukup untuk tak lagi memikirkanmu. Tak
ada lagi yang tersisa, kecuali kenangan yang menjelma menjadi bunga es. Bahkan
Pohon Ketapang kesukaan kita telah tewas di tangan gergaji mesin ketika kampus
ingin wajah baru. Kau sudah menjadi sosok bapak untuk dua putramu, kau sudah
menjadi suami untuk istri yang seiman denganmu, dan kau sudah menjadi pejuang
untuk gerakan lingkungan di kotamu. Sedangkan aku tetap menjadi aku yang sibuk
dengan kebijakan. Sesekali konfrontatif, lebih sering mati kutu melawan
koalisi. Tentu saja, Senayan bukan mimpiku. Tapi ulahku dulu, memanjat
tempurung gedung dewan rakyat, sedikit banyak ikut ambil andil untuk jabatanku
yang sekarang.
Hari
ini jatuh pada angka kedua puluh enam di bulan kelima. Acara seminar dan
diskusi seputar refleksi reformasi telah menyusut dari agendaku. Rencanaku,
hari libur ini akan kunikmati seorang diri di apartemen sembari menonton
beberapa DVD yang belum terjamah di bawah meja televisi.
Aku menyetrika lembaran jilbab sambil sesekali
mengecek linimasa di ponsel pintarku. Awalnya, aku hanya tertarik dengan
kicauan-kicauan seputar Waisak di Borobudur. Namun mendadak jempolku tak
berkutik, berhenti pada satu kalimat dari akunmu. Jantungku seraya ikut
berhenti berdegup. Beberapa tautan dan kicauan membuatku panik, cemas setengah
mati. Segera kutelepon salah seorang teman kita dulu di kampus. Kutanyakan
kebenaran dari kicauan-kicauan yang tiba-tiba saja seolah merusak sel-sel
otakku. Aku tak sanggup memastikan, karena aku kenal watakmu. Aku hapal betul
keresahan dan keseriusan yang sering kali kau lanjutkan dengan kenekatan.
“Benar
acara penggalangan dananya batal, Yud?” tanyaku, lirih.
“Ancur, Ta.. bukan cuma
batal.”
“Separah
apa?”
Hening
di ujung sana. “Kowe wes tau beritanya
kan? Banyak band yang ngundurin
diri waktu tahu uang muka belum sanggup dia bayar. Banyak yang ngefitnah kalau
dia kabur kemarin malam bawa uang event.
Sebelum tadi pagi, dia udah kenyang dibantai di media, Ta.”
Aku
terhantam badai memori. Mungkin alteregoku sedang berusaha kabur dari
kenyataan. Kepingan kepingan detail tentang kabarmu, profesimu, mimpimu,
idealismemu, bahkan tentang orang orang yang kau ajak bersama masuk dalam
duniamu kini berhamburan, dan secara sistematis tersusun menjadi satu gambaran
besar tentang kematianmu.
“Kowe sing sabar ya, dhe’e ndhisiki awak e dewe. Sing kuat
yo, Ta.. didungakke bareng-bareng Bocahe.”[3]
Kamu
berhasil pergi, mendahuluiku yang kemungkinan besar lebih cepat mati karena
frustrasi, kemacetan, kolesterol, uang haram, kubu partai, hutang Pilkada,
dan... kesepian. Kau tampak lebih heroik saat tadi pagi berkalungkan seutas
tali tambang untuk menarik ruhmu keluar dari ragamu yang sempurna. Kau bahkan
tampak seperti khayalan untuk hidup orang-orang sepertiku, yang gampang lari ke
negara lain, yang adem ayem di sel tahanan kelas istimewa.
***
Aku
tak tahu apakah aku pingsan atau hanya tertidur. Bagaimana aku bisa
mengetahuinya jika hanya aku yang berada di ruangan ini? Aku tergeragap saat
menyadari langit telah pekat, gelap gulita. Aku bisa merasakan mimpiku masih
terbawa melalui kegelapan yang nyata.
Sepotong
hutan lebat menghampar di kaki gunung Fuji. Kau tidak ada di sana, tapi serakan
tulang belulang manusia menyeretku semakin jauh ke dalam. Mungkin sebentar lagi
aku akan menemukan jasadmu tergantung di salah satu dahan pohon. Atau mungkin
kau lebih memilih teronggok di semak semak, melakukan ritual ubasute[4]
seperti kebanyakan yang mereka lakukan sejak abad kesembilan belas.
Peluh
keringat membasahi dahiku. Tubuhku masih bergetar dengan degup jantung yang
berdebar kencang. Tak kuhampiri saklar lampu. Aku beralih ke pantry, menuju lemari es. Aku berusaha
membayangkan dirimu ada di dalam kotak pendingin. Saat kubuka pintunya yang
tebal, kau tertawa lebar, dan bilang bahwa semua ini hanya bagian dari acara
televisi, reality show.
Hutan
yang menghantuiku, yang bahkan berjarak ribuan mil itu hanyalah hutan yang
gelap dan tenang. Tak ada suara gergaji mesin yang mengusik para manusia yang
hendak bunuh diri. Lima ratus nama yang terdaftar di kepolisian sejak setengah
abad yang lalu, hanyalah jumlah manusia yang sadar diri mengakhiri hidup, bukan
karena godaan mitos maupun kekuatan mistik yang tak terjelaskan.
“Kau
tahu, bahkan sekarang di sana dipenuhi kamera CCTV. Mereka merekam setiap
percobaan bunuh diri. Tontonan yang menakjubkan bukan?” katamu sambil menatap
kerongkonganku yang dialiri air es.
Aku
tak sempat meresponmu, ponselku berbunyi. Kusapa rekan kerjaku di ujung sana
dengan suara serak.
“Gua
cuma mau ngabarin, visa elo udah beres. Tinggal pesangon sama packing aja yang belum,” ia terkikik.
“Menurut elo, gua perlu ngajak si kecil nggak? Maklum suami gua perpanjangan
dinas di Belgia.”
Ia
kesepian, meski tampak tak sama denganku. Dari tiga bulan yang lalu ia menunggu
tamasya ke Jepang. Tentu saja, sambil menjinjing draft rancangan undang undang
advokat yang telah kami susun. Kami akan ke Tokyo minggu depan. Mungkin bus
rombongan kami akan mampir sejenak ke Aokigahara, di barat Tokyo. Dan mungkin
hanya aku yang akan memilih untuk tetap tinggal untuk menepati janji.
Kututup
pintu kulkas yang masih terbuka. Kamu telah lenyap. Senyap.
060613—tiket2009 masih
tertempel di sterofoam
