“Tampak
dari pilihan menumu,” komentarnya datar seraya melirik segelas susu jahe dan
nasi sarden yang telah kupinggirkan di tepian meja bundar. Biasanya aku akan
memesan segelas teh hijau dan segulung serabi manis.
Aku
ikut melirik menu yang terlanjur kupesan, sekilas. Agak merasa bersalah. “Aku
rikuh jika mengeluhkan kegelisahanku yang satu ini padamu.”
Ia
tersenyum, menuang bir murahan ke dalam ceruk lebar menganga yang sangat
kuminati. Aku selalu heran pada tabiatnya, seolah bir adalah air kendi—dan pada
seleranya, seolah tidak ada lagi minuman berkelas di kedai ini.
“Aku
takut kau akan berburuk sangka. Berpikir yang tidak-tidak tentangku.”
“Sejak
kapan prasangkaku yang tidak-tidak menjadi benar di matamu?”
Duh, dia lagi-lagi memelintir pertanyaan yang membuatku mulas.
Aku melirik kembali pada gelas susu dan piring nasi yang masih penuh. Tampak
ikan sarden kepala buntung itu lebih tegar dariku.
“Kalau
kau gugup dan tak nyaman, mending kita obrolkan yang lain saja,” usulnya. Ia
seolah memindai tatapanku dengan mata lasernya. Ia tahu onggokan sarden hanya
akan menjadi pelarianku berjam-jam kemudian. Maka lantas ia memancing di air
keruh. Ia mencelupkan umpan dan ikan selalu terdesak untuk menyangkutkan diri
dengan tarian gemulai, dan tiba-tiba saja ikan itu tersadar, siripnya telah
terbelit benang pancing.
“Kau
selalu mendapatkanku,” kataku sebal, menghembuskan napas panjang. Ia seperti
rival bermain monopoli yang sulit ditaklukkan. Mendengar dengusanku, ia pun
tertawa terbahak sampai bersinnya muncrat. Aku semakin geregetan karenanya.
“Ini
tentang tetangga di flatku. Aku sebal dengannya,” keluhku memulai, memajukan
bibir.
“Gara-gara
tetangga jadi semonyong itu?”
Kukibaskan
tangan, semakin kesal oleh karenanya yang memang dasarnya menyebalkan yang
semakin menjengkelkan karena aku jatuh cinta pada tabiatnya. Dongkol sekali
sore ini. Kubuang muka, lagi-lagi ke bangkai anak ikan tuna berwarna oranye.
Mungkin kelak aku akan masak sarden warna cokelat kecap.
“Aku
tak tahu pasti siapa yang kumaksud, yang jelas tersangka adalah orang yang ikut
memakai kamar mandi nomor tiga.”
“Hm,
kamar mandi favoritmu.”
“Benar.
Dan kuduga usianya sudah lumayan tua. Ia pikun!”
Wah,
kini suaraku menaik. Biasanya, semakin tinggi nadaku, semakin hening kekasihku.
Nah, benar saja... Ia mulai sepi dan sibuk mengunyah gulungan wafel berisi
coklat lumer.
“Tetanggaku
itu selalu lupa dengan bekas pembalutnya. Digeletakkan begitu saja di sebelah
peralatan mandiku.”
“Belum
menopause, masih cukup muda,” gumamnya.
Wah,
ia tak jadi diam. Diam-diam, aku curiga ia selalu bergumam tiap kali
mendengarkan khotbah.
“Seram
sekali rasanya saat tengah malam aku terbangun untuk pipis. Saat mendapati
pembalutnya, hantu penghisap pembalut selalu hadir dalam ingatanku.”
“Kau
pernah melihat hantu?” tanyanya datar.
“Enggak, sih. Itu cerita populer di
asramaku dulu. Bisa jadi mitos, agar kami mencuci pembalut dan membuang kantong
plastik besar isi pembalut bekas setiap pagi sesuai jadwal piket. Tapi atasanku
kemarin bercerita, ia bertemu hantu penghisap pembalut di toilet hotel.”
Aku
bergidik sendiri, membayangkan hantu wanita yang menjilati pembalut bekas
seperti menjilat roti selai stroberi. Lelaki di hadapanku justru menelan
sisa-sisa penekuk karamelnya dengan lahap, sama sekali tidak terpengaruh oleh
kisah hantu yang menjijikkan. Hampir dua porsi menu ia tandaskan.
“Lalu
si tersangka juga sering meninggalkan celana dalamnya di balik pintu kamar
mandi,” lanjutku; keluhan nomor dua.
Aku pun menceritakan bahwa terakhir kali
celana dalam itu tertinggal atau memang sengaja ditinggalkan berwarna kuning
menyala, bermotifkan sarang lebah. Seolah-olah memang habitat benda itu di
situ, di gantungan kamar mandi. Pemiliknya menggantungkan harapan pada celana
dalam alih-alih bunuh diri menenggelamkan kepalanya di bak kamar mandi.
“Kau
perlu cek setiap koleksi celana dalam di lemari tetangga-tetanggamu dan di
jemuran,” responnya, tak masuk akal.
Bagaimana
mungkin?
“Kau
sajalah,” sungutku, sebal.
“Dengan
senang hati, Nona,” balasnya cepat lalu, nyengir lebar.
“Ia juga sering lupa mematikan
keran, atau mengisi penuh bak air selesai mandi. Aku juga heran, mengapa aku
bisa tahan tetap mandi di kamar mandi itu, yang sering pula air klosetnya
berwarna keruh karena tersangka lupa menyiramnya.”
“Ceritamu
semakin lama semakin mirip keluhan bibiku yang merawat nenek buyut kami empat
tahun silam.”
“Sepakat!
Si tetangga alias tersangka itu memang sudah pikun!”
“Hm, saranku..”
ucapnya dengan senyum setipis kulit lumpia, “kau pindah atau kau bikin tulisan
teguran dan tempel di tembok kamar mandi nomor tiga.”
Kali
ini sarannya lumayan masuk akal. Tapi teringat tempelan serupa yang kujumpai
minggu lalu, seketika membuatku tak berselera mengabulkan usulannya.
“Ah,
aku enggak mau seperti tetanggaku yang lain—yang bukan tersangka—ia punya
tingkat kedisiplinan level dewa. Ia menuliskan ancaman di kamar mandi nomor
dua: Dilarang Menggunakan dan Mengambil
Perlengkapan Mandi Orang Lain atau Kesialan Akan Menimpamu!”
“Wahah! Dia mengutuk orang mandi yang sembrono seperti mengutuk
Malin Kundang!” serunya, tepok jidat.
“Iya,
dan aku bukan tipikal manusia seperti itu, kau mengerti.”
Ia
tersenyum, memahami. Hanya itu. Iya, tersenyum. Sudah empat bulan ini ia selalu
tersenyum mendengarkan ceritaku tanpa reaksi yang lebih romantis. Ia tak lagi
mengusap rambutku, membelai tanganku, bahkan tak lagi mencubit pipiku dengan
gemas.
“Tapi
kau tahu, yah.. jelas kau tahu, pasti itu.. selalu.. inti dari kegelisahanku
sebenarnya bukan benar-benar karena tetangga. Kepikunannya hanyalah pemantik
yang menjengkelkan dan barulah kemarin menimbulkan keresahan baru yang lebih
serius.”
Ia
tersenyum, setengah nanggung. Bakat
alami yang dimiliki kekasihku jika ia menghadapi sesi curahan hati yang
terlampau berbelit belit.
“Kemarin
tengah malam, saat perutku mulas sekali, aku berangkat ke kamar mandi untuk
pipis. Lagi-lagi pembalut itu ada dan masih berlumuran darah. Aku jongkok dan
menyibukkan diri dengan melihat selangkanganku.”
Ia
diam, kali ini diam yang beku. Menyimak dan—tunggu, tatapan apa itu? Ia lebih
dari sekadar menyimak.
“Ternyata
bukan cuma air pipis, tapi juga cairan kental merah yang menggantung di tengah
daerah kewanitaanku, terus.... lama... dan menggenang di lantai kamar mandi.
Aku mengamatinya dan tiba-tiba iba, entah kenapa.”
Kebekuannya
menjadi gerak-gerik yang aneh. Ia meraih tanganku sekarang dan menggenggamnya
hangat, seolah memberi kekuatan untukku terus bercerita.
“Bukan
pertama kali ini aku melihatnya. Tapi malam itu seolah-olah momen pertamaku
menstruasi. Aku mendadak sadar kalau cairan itu setiap bulan terbuang sia-sia
masuk lubang pembuangan. Ia berasal dari rahimku, dari kantong yang akan dihuni
jabang bayiku. Aku mengandaikan kalau saja cairan ini tidak dibuang-buang
mubazir... Mungkin sekarang aku sudah punya banyak bayi. Jadi, saat aku menatap
terus cairan itu, aku sedih seperti calon ibu yang mengugurkan janinnya,”
ungkapku, menunduk dengan wajah muram.
Jakun
kekasihku naik turun. Mungkin ia tengah membayangkan yang tidak-tidak. Ia membenarkan letak kacamatanya dan bilang,
“Tenanglah, menstruasi ada dua siklus. Kau tahu, apakah yang keluar itu cairan
dari selaput rahimmu yang menggelontor, indung telur yang busuk, atau.. bisa
jadi dua duanya? Mungkin kemarin hanya dinding rahim yang roboh, bukan calon
bayi yang belum dibuahi,” hiburnya, dengan nada sekonsisten nasehat dokter pada
seorang pasien.
Wajahku
memerah, ia selalu lebih tahu daripada aku. “Tapi bukan berarti aku ingin kau buahi,”
kataku cepat.
Dia
menatapku, tak percaya.
“Aku
hanya bertanya-tanya siapa yang kelak membuahi cairan yang terbuang sia-sia
itu. Bisa siapa pun bukan? Bahkan tukang permak jins sekalipun,” tandasku.
Ia
menghela napas layaknya seorang bapak yang menahan nahan geram pada putri
semata wayangnya.
“Aku
menjahit beberapa celanamu yang sobek kemarin. Itu.. di ranselku, bisa kau
ambil.”
“Oh,
terimakasih,” ujarku, memutar bola mata. Mengapa ekspresinya justru terluka? Ia
bukan tukang permak jins, ia guru kimia, dan bukan pula dokter kandungan.
“Bolehkah
aku mengatakan satu hal?” tanyanya tiba-tiba, begitu hati-hati.
Sekilas
aku seperti tak mengenalinya, tapi aku tetap mengangguk.
“Dengar,
mungkin tersangka yang pikun itu kau, Honey...”
Aku
tercekat beberapa saat. Bagaimana mungkin kesimpulannya menjadi konyol begini?
Tak masuk akal!
“Kau
tak mempercayaiku? Kupikir... kau mendengarkan keluhanku dengan tenang. Mungkin
leluconmu efek dari alkohol.”
“Dengarlah,
kumohon,” bisiknya, tegas. “Aku-menyimak-seluruh-keluh-kesahmu-sejak-tadi.”
Aku
tertawa keras, berusaha memecahkan kaca pembatas yang memerangkap udara pengap
di antara kami berdua. Tapi yang keluar justru menyerupai ringikan kuda betina
yang sumbang.
“Ingatlah
pelan-pelan urutan peristiwanya, keanehan-keanehan di kamar mandi. Apa kau
ingat saat pertama kali kita bertemu dulu di depan toilet pom bensin? Kau lupa
menutup keran, menyiram kloset, dan meninggalkan jaketmu di gantungan.
“Kau
membuatku malu. Tapi kejadian di flat bukan aku pelakunya, Darling...” rintihku sambil menyembunyikan wajahku yang merona di
dalam tangkupan telapak tangan.
“Kalau
kau masih bersikeras, bukalah ranselku. Ada celana dalam kuning menyala motif
sarang lebah di sana.”
“Benarkah?
Bisa jadi aku dan tetanggaku beli di tempat yang sama.”
Dia
mendengus, “Kau bahkan lupa kadoku saat memperingati satu tahun hari ulang
tahun hubungan kita?”
“Tapi—“
“Lupakah
kau, aku menjahit dan menyulamnya sendiri, celana dalam motif sarang lebah.
Tiga potong celana dalam baru kubingkiskan padamu saat itu.”
Aku
semakin tertunduk hingga ingin mencium kaki meja. Aku berpikir cepat.
“Anggap
saja aku pelakunya, beres bukan? Dan lupakan soal darah yang menggenang. Mari
pulang,” ajakku spontan, seraya mengucir ulang rambutku, dan menata kembali
poni tebal di dahiku.
“Aku
tak akan pernah bisa lupa.”
“Oke,
terserah. Tapi kau tak akan pernah merasakan kegelisahan wanita haid. Kau tak
akan pernah bisa membayangkan seperti apa rasanya memakai sumpalan di celana
dalammu, mulas tengah malam, dan terutama cara cairan itu keluar lalu pergi
dengan sia-sia.”
“Aku
menghayatinya. Aku bisa merasakan penderitaan lahir batinmu saat menstruasi,”
tekannya.
“Oh,
syukurlah! Aku punya kekasih yang menjadi pendengar terbaik seeedunia!”
“Kumohon
jangan mencibir. Aku tak hanya mendengar, tapi juga menginginkan penderitaanmu.
Berbagilah terus...” ujarnya akhirnya. Seolah pertahanannya sebagai lelaki yang
tangguh jebol. Ia meminta dan nyaris mengemis.
“Kau
lelaki paling pengertian seeedunia!” pujiku dengan bunyi resleting jaket
ditarik, nyaring.
“Aku
iri padamu,” ucapnya sambil menatapku lekat, nanar. “Aku pernah melihatnya
langsung, bukan hanya membayangkan. Cairan seperti apa yang keluar dari ruang
yang tak pernah kumiliki. Sejak kecil aku merindukannya. Sejak ibuku sering
buang air di sebelahku saat aku mandi.”
“Kau-bilang-apa?”
Rasa-rasanya
jaket ini mencekik leherku.
“Lagi-lagi
kau tak mendengarkanku?!” tuntutnya. Gurat di wajahnya kentara, lelah.
“Aku-dengar,”
tekanku, menahan napas.
“Tapi
selalu melarikan diri. Seolah yang kau dengar hanya gema. Kau selalu yang
berbicara dan melarikan diri ke segala sesuatu dari hal-hal yang tak kau sukai.
Tetangga yang pikun itu kau, dan lelaki yang merindukan haid itu kekasihmu!”
Aku
tertohok, rasanya bukan main. Entah aku lupa pernah mendengar pengakuan serupa
yang lebih gamblang atau memang benar yang dikatakannya, aku selama ini lari,
pura-pura tak mendengar. Memainkan porsi bicara lebih banyak dan tiba-tiba saja
segalanya tampak memburuk sekarang. Ini akibat dari keluhan yang tiba-tiba
berasa fiktif. Oh, Tuhan, kumohon, cukupkan kebisingan ini dari telingaku.
Tina, pacarmu tampil di pertunjukan kabaret tadi malam..
Na, aku perhatikan pacarmu.. agak berbeda saat tidak
bersamamu.
Eh, pacarmu kok beli bedak di minimarket dekat rumahku, ya?
“Lupakan.
Kau bisa berhasil melupakan benda-benda intimmu, tak ada alasan kau tak bisa
melupakan perkara sore ini.”
Aku
ingin mengunyah semua benda sial yang kusebut sebut tadi untuk menahannya tetap
di depanku.“Kumohon, ganti aturan mainnya sekarang. Aku akan menjadi pendengar
terbaik buatmu dan kita bisa bersama sama mengalihkan keinginanmu yang itu.”
“Yang
itu, yang mana, Honey?”
“Aku
sayang Darling.”
“Sayang
itu yang mana? Sayang pada mas-mas maskulin atau sayang pada mas-mas yang
feminin?” tanyanya, tajam. Sorot matanya meredup. Ia berkedip cepat,
menyamarkan warna matanya yang memerah. Kini, bola matanya berbinar.
Lantas
aku memejamkan mata. Tak ada hal lain yang kuinginkan selain memejamkan mata.
Binar mata itu muncul di penghujung, binar mata yang sama, yang paling jujur
yang pernah kudapati saat aku membeli gaun pilihannya, binar yang ingin ikut
mencoba gaun di ruang pas. Binar mata yang berkabut.
Di
dalam gelap, kelebatan-kelebatan kenangan berseliweran,
pertengkaran-pertengkaran hebat antara aku dan dia. Otakku mencari peristiwa
yang setidaknya mirip sore ini—dan menemukan semacam senjata untuk berdamai. Aha, kita bisa bertukar minuman seperti
empat bulan yang lalu. Tantangan kecil. Aku meneguk habis birnya dan ia meneguk
habis susu jaheku. Lalu ia akan segera mengajakku pulang, karena ia kebelet
muntah. Di jalan kami mampir di warung depan klinik psikiater, ia muntah di
selokan. Kami akan saling menghujat kegilaan pasangan masing masing di
sepanjang jalan. Setelah itu kami bercinta hingga teler dan kala terbangun,
kami mendapati otak kami sudah terasa jauh lebih ringan.
Bagaimana?
Maukah ia mencoba tantangan itu sekali lagi?
Kubuka
kedua kelopak mataku. Ia telah lenyap dari hadapanku. Kursinya telah diduduki
kehampaan yang beku. Lalu angin sepoi meniup harapanku di sore hari.
Ia
pergi.
Tidak
meninggalkan apa pun kecuali ransel berisi celana dan celana dalamku.
Kata-penghancur-lelap
050713
