Langsung ke konten utama

Denyut Merah, Kuning, Kelabu


Jantungku berdenyut cepat. Aku memimpikannya lagi. Ia tertelan kabut di sebuah jalan beraspal. Lenyap. Tak dapat kucegah. Mengapa aku harus terjebak atas kehilangan yang anomali ini?
Aku tidak sungguh-sungguh mengenalnya. Akrab pun tidak. Mengapa ia mendatangiku di sepertiga malam? Seolah malaikat menundukkan diri di atas ranjang, mengatupkan sayapnya yang lebar dan menitipkan kode-kode dalam kepingan mimpiku. Lima hari ini. Terus-menerus.
Saat terbangun tubuhku telah menggigil. Jemariku kaku. Ujung kaki ngilu. Sendi-sendiku rasanya menegang. Gigi bergemelutuk. Daster yang kukenakan lembab oleh keringat. Hampir saja kupastikan bahwa aku terkena demam berdarah. Nyamuk beredar lebih banyak di musim kemarau ini. Apakah gigitan nyamuk sekarang mampu menciptakan mimpi buruk? Mungkinkah mereka telah bermutasi tanpa seorang ahli serangga pun tahu? Namun, dokter mengatakan aku baik-baik saja dan aku sama sekali tak merasa demikian.

***
Ia bernama Noni. Menjadi tetangga sebelah kamarku sejak delapan bulan lalu. Tidak ada yang istimewa. Perawakannya tinggi, kurus dan bermata sipit. Ia mahasiswi semester tiga Ilmu Statistika. Berambut pendek. Cepak. Tak berponi. Dari jauh, ia tampak seperti sosok laki-laki. Apalagi dadanya cukup datar. Ia sering sekali mengenakan kaos jersey bola, celana jins dan kets. Tak ada klub khusus yang dijagokan, karena pernah kulihat ia menjemur kaos Manchester United, Real Madrid, Arsenal, dan Barcelona sekaligus di halaman belakang.
Kami tak pernah mengobrol panjang sebelumnya. Ia hanya akan melempar sepotong senyum saat berpapasan di dapur. Biasanya ia memasak mie instan sesuai gambar di kemasan. Lengkap dengan ayam dan telur mata sapi sempurna.
Aku tak perlu menebak apakah ia tipe perempuan pendiam atau tidak. Sudah terlalu banyak kujumpai penghuni kos-kosan yang saling tak kenal. Sudah terlalu sering di antara penghuni kos bertemu di ujung lorong dan tak saling menyapa. Handuk yang tersampir dan layar ponsel yang menyala adalah tanda bahwa kami sedang tak mau diganggu.
Suatu hari Noni menghilang. Jumat, 23 Oktober. Ah, kami—para tetangganya—tak tahu persis kapan ia pergi. Tapi beberapa saksi mata mengatakan bahwa mereka melihat Noni untuk terakhir kalinya di depan kamar, di garasi, di dekat gudang. Beberapa dari kami dimintai keterangan dari polisi. Termasuk aku.
Tidak ada hal menarik dan penting yang perlu kuceritakan. Dan polisi sepertinya menyadari bahwa aku adalah tipikal tetangga yang membosankan. Yang tak acuh. Yang tak akan meributkan hal-hal ganjil di sekitarnya. Mereka tak mengulik banyak dariku.
“Terakhir aku melihatnya, siang. 22 Oktober. Hari Kamis. Di dekat bak cucian, tempat kami mencuci segalanya.” –mencuci celana dalam yang berdarah, mencuci kenangan, mencuci kecemasan.
“Apakah ia tampak berlaku aneh atau tidak seperti biasanya?”
“Apa yang Anda maksud dengan aneh?”
“Kau tidak akrab dengannya?”
“Apa ukuran akrab?”
“Hm.. menggosipkan sesuatu?”
Aku menggeleng. Kami bahkan tidak sempat menggosipkan Elena, penghuni kamar nomor tiga yang berisik minta ampun tiap kali pukul sebelas malam. Suara desahan sesekali terdengar dari kamarnya.
Seorang lelaki tua datang ke kos. Mengaku sebagai kakak sulung ayah Noni. Mirip orang linglung yang tengah kepayahan setelah seharian menyusuri gang-gang kota. Keponakannya menghilang dan ia hampir kehilangan akal. Mengapa Noni justru menghilang di saat orangtuanya batal bercerai dan sebentar lagi resmi bertunangan dengan seorang pemuda dari kampungnya? Mengapa tak meninggalkan pesan apa pun?
Desas-desus berhembus. Dugaan-dugaan. Prasangka-prasangka. Bumbu-bumbu. Semua penghuni kos membicarakannya sekarang. Mereka merasa perlu membahasnya di setiap sudut kos.
Anjing pelacak menyalak keras di depan kamar Noni kemarin dan segerombolan anjing masuk ke dalam mimpiku. Kemudian burung yang berkoak-koak menderita. Kemudian tubuh Noni yang dibungkus jubah dan terbuat dari ribuan laron. Sayap-sayap laron berjatuhan dari langit, melayang lemah.
Desas-desus berhembus. Dugaan-dugaan. Prasangka-prasangka. Bumbu-bumbu. Kusimak semuanya tanpa terkesan.
 “Menurutku, suatu saat polisi akan menemukannya mengambang di danau kampus.”
“Tidak mungkin. Ia diculik dan disekap jauh dari kota ini. Ia ditemukan di gudang, setengah gila.”
“Atau mungkin ia tengah kabur dengan selingkuhannya? Dengan laki-laki tajir?”
“Noni pasti habis ribut dengan pacarnya, ia tak kuat pacaran jarak jauh.”
“…bisa jadi. Dia frustrasi dan IP-nya jeblok.”
“Apa ia salah gaul selama ini?”
“Kau tebak ia ikut jaringan kelompok radikal? Yang benar saja!”
“Ingat tahun di mana mahasiswa banyak yang hilang? Mereka dicuci otak untuk jihad!”
“Mm.. Apa dia ditelan kekuatan supranatural? Aku mengecek kalender Jawa. Saat itu Jumat Kliwon.”
Kepergian Noni menjadi topik teratas selama sepekan. Mengalahkan topik ongkos sewa yang naik mulai semester depan. Aku merinding mendengar komentar-komentar tak bersalah dari bibir-bibir tetangga. Mereka penasaran. Dan rasa kehilangan itu, diam-diam absen dari lubuk hati mereka.
Bagaimana merasa kehilangan jika tidak betul-betul mengenal?
“Apa yang tengah kau pikirkan?” tanya Imanuel merespon kesenyapan meja kami berdua.
“Tak ada,” dustaku. Kekalutan yang tak mudah kuungkap terendus olehnya. Menyergapku di pojokan. Kami berdua sedang terlibat kerja advokasi pada para petani Madura. Tidak adil rasanya aku menambahkan komponen kekalutan pribadi untuk kami bahas berlarut-larut.
“Aku mulai pusing lihat layar. Berita-berita buruk itu tiada habis dibagi,” gumamku sambil tersenyum bersalah mendapati tatapan menyelidik Imanuel.
Topik itu tak terhindarkan lagi. Aku dikepung berita-berita yang semakin buruk. Tiga bulan yang lalu selimut asap terjahit dari titik-titik api bekas pembakaran areal kebun sawit. Perlahan asap menggerogoti kebahagiaan yang sedikit saja kupunya. Asap meninggalkan ampas di kala malam. Mengunjungiku bersama Noni.
  Salah satu suratkabar nasional sampai hati mengaburkan halaman mukanya demi efek kabut asap yang sarkas. Kabut asap membuat berita-berita baik tampak seperti kerupuk yang mengempis pasrah. Separuh Sumatera berwarna abu-abu. Pucat. Orang-orang mengenakan masker murah. Anak-anak tak sekolah. Lansia terbatuk-batuk. Bayi-bayi sesak napas.
Satu-dua orang menyatakan ingin keluar dari republik ini.
Tujuh-delapan orang tergeletak, sekarat di bangsal rumah sakit.
“Apa yang bisa kita lakukan?” tanyaku, tercekat.
“Tidak ada. Aku tak mau membahasnya seperti kebanyakan orang. Karena aku tahu aku nggak bisa berbuat apa-apa kali ini.”
Bagaimana mungkin seorang Imanuel berkata demikian?
“Pembakaran itu kejahatan terbesar tahun ini,” tambahku.
“Ya. Lantas bagaimana? Tiap tahun seperti itu. Sekarang kebetulan lebih parah.”
“Paling parah.”—semenjak 1997? Koreksiku tertahan di udara.
Tidak ada yang bisa kulakukan di Jawa. Kecuali terus-menerus terpapar radiasi dari hiruk-pikuk kabar buruk. Mungkin bukan hanya aku yang merasa tidak berdaya. Noni salah satunya.
Ketiadaannya kudapati lebih dulu dari siapa pun. Diam-diam aku masuk ke kamarnya, pukul dua dini hari di Hari Jumat. Tiada seorang yang kuberitahu, bahkan Imanuel sekali pun. Saat itu vertigo menyerangku. Di saat yang sama pintu kamar Noni setengah terbuka. Dari celah yang gelap, samar-samar kulihat seberkas cahaya. Sayup-sayup suara berisik terdengar. Kupikir Noni merasa gerah di dalam. Mungkin kamarnya terasa pengap.
Setelah kuaduk isi laci dan tak menemukan persediaan obat, kuputuskan keluar kamar. Tiba-tiba aku ingin mengintip sepulas apa tidur Noni. Jika ia masih terjaga, aku akan memintanya mengantarkanku ke apotek.
Kupanggil namanya dan mengetuk pintu. Tiada sahutan. Hanya seorang reporter yang menyambut dengan segumpal narasi. Kulongok ke dalam kamar. Televisi tabung menyala, sumber suara berisik yang hinggap ke kamarku. Kuberanikan diri menekan tombol saklar. Ruangan seketika terang-benderang.
Noni tidak ada di atas pembaringan. Boneka jerapah dan selimut teronggok hampir jatuh ke lantai. Bentangan sprei sedikit koyak. Sebuah novel tergeletak, terbuka, terbalik di atas kursi.
                “…BMKG melaporkan, kadar polusi telah mencapai 600 persen di atas ambang bahaya. 1300 persen di ambang kualitas udara yang sehat bagi manusia. Dengan kondisi ini, Kementerian Kesehatan menyatakan darurat asap. Udara Palangkaraya berada di level berbahaya. Sudah semestinya pemerintah mengevakuasi penduduk yang rentan. Menurut keterangan Sutopo…”
                Kepalaku berdenyut hebat.
                “….titik api meningkat drastis, tercatat 3.226 titik api di seluruh Indonesia. Jumlah terbanyak di kawasan Kalimantan Tengah, yakni 910 titik api.”
                Layar televisi menampilkan peta kepulauan Indonesia dengan titik-titik merah berpendar. Merata. Dari Barat ke Timur. Gambar beralih ke pemandangan sebuah kota berwarna kuning tua. Relawan membagikan masker di tepi jalan, ambulans meraung-raung, ruang kelas kosong, spanduk-spanduk kemarahan berkibar di pagar gedung pemerintahan.
                “….Kebakaran hutan sudah memasuki areal Taman-Taman Nasional… dan menjalar ke Sulawesi, Maluku dan Papua. Terdeteksi 584 titik—“
                Perempuan berblazer kuning lenyap. Kumatikan televisi dan suara perempuan itu masih berdengung di dalam kepalaku. Kusambar novel yang mungkin baru saja dibaca oleh Noni. Halaman 20. Potongan syair dari Jalaluddin Rumi, abad tiga belas, meluncur seperti bongkahan es batu. Seketika otakku membunyikan alarm.
                …Orang-orang pergi dan kembali melalui ambang pintu
                                                tempat dua dunia bersinggungan.
                Dengan gusar kututup novel yang bahkan tak sempat kubaca judul dan nama pengarangnya. Aku beranjak pergi, menutup pintu. Membiarkan lampu menyala. Dan ujung kakiku terantuk ember hitam di sebelah keranjang sampah.
                Ember itu berisi air garam. Aku mengetahuinya saat Noni menaruhnya di tengah-tengah halaman belakang. Ia menuang sebungkus garam. Saat kutanya untuk apa, ia balik bertanya apakah aku belum mendapat pesan berantai dari grup-grup obrolan. Kabarnya dari BMKG. Departemen pemantau cuaca itu menganjurkan setiap warga menyediakan sebaskom air garam untuk dijemur. Katanya, semakin banyak uap air di udara, makin baik untuk mempercepat kondensasi. Itu seperti ramuan pemancing hujan. Jika jutaan warga melakukan anjuran itu, harapannya awan mendung lekas bergumul lalu mencurahkan air kerinduan.
                “Kau yakin itu bukan hoax?” tanyaku mengerutkan dahi, sembari terus mengucek pakaian.
                “Semua cara dicoba,” ucap Noni lirih.
                “Apa saja yang sudah kau coba?”
                “Sholat memanggil hujan, merapal doa tolak bala, mentransfer uang untuk bantuan, tanda tangan petisi online…”
                “Kau sudah tahu ada lowongan relawan ke sana untuk padamkan api?”
                “Sudah. Aku pikir aku bisa ke sana setelah ujian tengah semester selesai.”
                “Kau nekat ya, orangnya?”
                “Tidak juga. Aku punya masalah serius dengan kendali emosi.”
                Aku berhenti mengucek selembar singlet di bagian ketiak, kutatap sebentar Noni yang berjongkok di sebelahku.
                “Aku tidak tahu apa namanya. Bukan fobia, sih,” lanjutnya. Ia balas menatapku sekilas.
                “Aku nggak paham.”
                “Aku bisa menjerit spontan kalau melihat sebatang pohon ditebang. Kau tahu, saat pohon jambu itu dipangkas di halaman depan, aku menangis semalaman.”
                “Benarkah?”
                “Apa kau juga sedih setiap melihat tayangan itu? Api melalap pohon-pohon dan aku hanya bisa menggaruk lengan hingga berdarah.” Ditunjukkannya padaku bekas luka guratan di sekujur lengan kirinya.
                Aku bingung harus merespon seperti apa. Untuk pertama kalinya kami bercakap panjang. Ini bukan percakapan dua orang tetangga yang pernah kubayangkan sebelumnya.
“Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu. Maksudku, pemerintah yang harusnya paling bertanggungjawab atas bencana ini. Memang mengerikan. Kau sudah baca daftar perusahaan yang diduga menjadi pembakar lahan? Kau bisa ikut memboikot produk kertas, tisu dan minyak gorengnya di supermarket…” nasihatku sambil menuang isi bak yang telah keruh. Air kotor, kelabu, berbuih, mengalir hanyut ke selokan.
“Bahkan jika setiap orang di negeri ini mengumpulkan air matanya untuk diuapkan seperti yang sedang kamu lakukan, mereka tidak akan tergerak. Mereka kelewat keji.”
                Noni terdiam, menggaruk lengannya pelan.
                “Apa airmata yang dituang ke ember bisa menggantikan fungsi garam?” tanyanya tiba-tiba.
                Aku melongo. Pertanyaan yang tidak masuk akal.
                “Mungkin berguna jadi sesajen.”
                Komentar terakhirku asal saja. Keringat mulai merambat turun ke punggung. Aku bergegas berdiri. Kuputuskan mandi untuk kedua kalinya sebelum membilas cucian, meski belum ada tiga jam yang lalu aku mengguyur tubuh.
                Saat itu Kamis siang, 22 Oktober.
                Aku meninggalkan Noni sendirian, termangu di dekat bak cucian.

Postingan populer dari blog ini

Nyanyian Lidi

Olika tertahan dalam sel pengap. Suara tetesan sisa hujan melengkapi kebekuan yang menyiksa. Buku-buku catatannya telah diberangus api di depan sel. Bekas abunya pucat seperti wajah kematian. Ia menatap serdadu dengan tatapan ngilu. Dihampirinya serdadu yang tengah berdiri di luar sel. Di dekat pintu yang tergembok sempurna. “Kita satu bangsa, kau tahu?” desis Olika. Serdadu tersebut menoleh ke belakang. Meludahinya. *** Mereka datang, serombongan dengan pelbagai plat motor menghambur di pekarangan rumah joglo Kepala Desa Tangkup. Mereka berasal dari kota sejauh 135 kilometer arah timur. Mereka datang, seolah-olah tamasya di akhir pekan. Beberapa di antara mereka selalu terkikik-kikik renyah di sepanjang jalan. Pak Chaz mengundang mereka untuk meneruskan jejak langkah perjuangan kaum tani. Kepala desa muda yang bernampilan mirip penyanyi ibukota tersebut mendapati serombongan pemuda bernyali besar. Mereka bersenjatakan jimbe, biola, gong, akordion, kuas, pena, dan papan sablon...

Kunjungan Tetangga

Kapan terakhir kali kau menemui Kakek? Kalimat tanya itu tertera di balik selembar foto. Hanya satu kalimat. Tiada ungkap yang lain. Napasku tertahan saat membuka sepucuk amplop ukuran sedang yang terbuat dari kertas suratkabar bekas. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mendapati amplop semacam itu. Tiada satu pun toko kelontong yang menjual amplop semacam itu. Amplop suratkabar yang kuterima kali ini hampir menguning ujungnya, pasti dibuat khusus oleh seorang lelaki tua, dengan menimbun terlebih dahulu lusinan halaman acak suratkabar yang menurutnya menarik, yang ia selipkan barang satu dua halaman ke kantong bajunya, setelah hanya tersisa ampas kopi di dasar gelas belimbing di warung Yu Dasima, transmigran asal Jawa. Kebiasaan itu entah bagaimana awalnya dimulai. Ia punya setumpuk amplop bekas suratkabar yang ia bikin sendiri dengan adonan tepung kanji panas sebagai bahan perekatnya. Ia tidak sekadar melipat kertas suratkabar secara asal-asalan. Amplop buatannya selalu simetris,...

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...