Bagi Nurul, menangis adalah bentuk keputusasaan. Ia nyaris tidak pernah ditemukan menangis. Ia tidak mengizinkan kedua pelupuk matanya berair diterjang gelombang kesedihan. Ia benci menangis. Potongan-potongan kepahitan yang berjatuhan dalam hidupnya, ia telan satu-satu, tanpa menangis. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. Airmata bergulir, tetes demi tetes, semakin banyak, menggenang, menganak sungai. Tidak dapat dihentikan. Ia menangis tanpa suara.
“Aku menyerah,” putus
seorang perias dengan nada pedih.
“Maafkan aku,” ujar
Nurul. Lelehan airmata melunturkan maskara, eyeliner
dan alas bedak yang tadinya
menempel dengan sempurna.
“Kau rusak hasil karyaku selama dua
jam,” keluh perias sambil memasukkan bermacam ukuran kuas, botol kuteks, perona pipi,
penjepit
bulu mata, lipstick, dan kotak-kotak eyeshadow
dengan gusar ke dalam peti kosmetik berwarna merah.
“Aku tidak tahu apa yang
terjadi padamu. Biasanya, klienku menangis saat akad nikah berlangsung. Itu
mengesalkan. Tapi kau—sudah begini parah—ini masih acara pertunangan bukan?
Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih
berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat airmatamu.”
Nurul menahan tawa getir
dalam tangisnya. “Terimakasih sudah meriasku. Semoga Anda mendapatkan banyak klien yang jauh lebih menyenangkan
dari saya.”
“Ya, pasti! Kau
menyedihkan!” gerutu perias malang tersebut
sambil menggeret peti kosmetiknya yang dilengkapi empat roda kecil dan tuas,
keluar dari kamar tamu.
Airmata Nurul masih
belum sudi berhenti. Terus mengalir. Hingga Gunawan menghampirinya di tepian
meja rias. Ia menyeka airmata Nurul dengan lembut. Genggaman tangannya yang
hangat tak mampu meredakan tangis calon tunangannya.
“Kumohon, kali ini
ceritakan padaku, Nurul. Dua lebih baik dari satu untuk menghapus airmatamu,”
ujar Gunawan.
Nurul tampak berpikir, lalu ia pun berkata, “Kau benar, Gun. Tak ada
orang yang paling kupercayai sekarang kecuali dirimu. Mungkin kita perlu bikin
perjanjian kecil. Aku tak pernah meminta apa-apa padamu bukan?”
“Ya, mari kita
bicarakan. Satu jam lagi acara akan dimulai. Keluarga besar sudah mulai gaduh
di bawah.”
“Kau bisa lepaskan benda
ini dari mataku?” tanya Nurul, menunjuk bulu mata palsu tebal yang terpasang
sempurna, bertumpuk tiga lapis.
“Kau alergi dengan kosmetik?
Apakah gatal?” tanya Gunawan, dengan hati-hati melepaskan bulu
mata palsu itu.
“Benda ini menyiksaku.
Menyiksa keluargaku. Menyiksa kampungku. Berpuluh-puluh tahun.”
***
Gunawan tak menyangka,
ia jatuh cinta pada gadis yang dapat membuatnya terkejut berkali-kali. Mungkin
karena itulah, ia jatuh cinta, semakin jatuh ke
dalam pesona
Nurul. Rekan kerja dan mahasiswa Gunawan
terheran-heran, bagaimana seorang lelaki kaya raya sepertinya justru menautkan
hati pada seorang penjaga kantin? Yang lebih mengherankan lagi, Gunawan jatuh
cinta pada pandangan pertama. Ia mendapati Nurul dengan cekatan melipat karton
kardus untuk nasi kotak. Terkadang Gunawan menemukan Nurul nyaris tenggelam
oleh puluhan kotak makanan.
“Kau tidak bosan melipat
kardus?” tanya Gunawan, memberanikan diri, di suatu siang, selepas mengajar.
“Nggak. Ini pekerjaan
yang mudah,” jawab Nurul tanpa menatap pelanggan kantin yang menyapanya.
“Sejak kapan kantin ini
menyediakan katering?”
“Sejak aku di sini dan
hanya bisa melipat kardus.”
Gunawan merutuk diri. Ia
baru menyadari bahwa mata Nurul buta. Menatap
kosong, lurus ke depan.
***
Nurul tidak ingat persis
kapan tepatnya ia membenci bulu mata palsu. Mungkin, jika kerabat dan
teman-teman Nurul mengetahui kebenciannya, mereka tak habis pikir. Mengapa
Nurul harus membenci bulu mata? Bukankah bulu mata adalah sumber penghidupan
lima puluh ribu orang di daerahnya? Bukankah dengan bulu mata, Nurul dapat
bersekolah? Bukankah dengan bulu mata, ia merasakan pembangunan yang terjadi di
kota kecilnya? Alun-alun bertambah ramai oleh penjual kaki lima, jalan dipenuhi
motor bebek keluaran terbaru dan swalayan lokal mulai menjamur.
“Sejak aku lahir, tak
ada bedanya dengan bayi-bayi perempuan yang baru lahir di desaku, garis hidup
seolah sudah ditetapkan. Kelak, saat kami sudah remaja, kami akan menjadi buruh
idep. Bagaimana tidak? Di desaku,
Desa Mewek, semua ibu menjadi buruh idep. Ada yang mburuh di pabrik milik orang Korea, ada yang mburuh di pabrik milik artis, ada juga yang mburuh di rumah, setiap hari
menyetor idep. Ibuku sendiri mburuh idep sejak tahun
‘76. Ia
mburuh demi ketiga anak perempuannya. Bapakku mburuh bikin knalpot di kecamatan
sebelah. Lalu saat mbakku bisa bantu ngidep juga, di rumah tinggal aku dan
Nisa, dan tivi butut yang terus menyala.”
“Setiap malam, sepulang
dari kerja, Ibu yang kelelahan sering minta dipijat kepalanya. Sambil dipijat
ia cerita banyak sekali tentang kehidupan di pabrik. Mulai dari gosip antar
buruh, lalu bentakan-bentakan mandornya, sampai kejadian-kejadian lucu yang
menegangkan di kamar mandi. Karena pabrik yang punya empat ribu karyawan itu
cuma punya sepuluh puluh kamar mandi.
Kebayang kan kalau kebelet pipis bagaimana antriannya?”
“Suatu ketika, Ibu dan
Bapak bertengkar hebat. Bapak sampai memukul kening Ibu dengan hape. Ibu
ketahuan selingkuh dengan temannya di pabrik. Mereka akhirnya cerai. Bapak
pindah ke kecamatan sebelah. Mungkin bagimu aneh, bercerai di usia lima puluh
tahun. Melelahkan sekali bukan? Ribuan hari berumah tangga, mengurusi anak,
membagi-bagi upah yang nggak seberapa, ujung-ujungnya pisah. Tapi kasus semacam ini sudah biasa. Di Mewek, banyak
pasangan yang terpaksa bercerai.”
“Sejak bercerai, Ibu
jadi pemurung. Ia keluar dari pabrik. Maunya ngidep di rumah saja sambil nonton
sinetron atau gosip. Hiburannya, ya, kalau ada artis-artis yang nampang di tivi
dengan bulu mata tebal. Ia selalu bilang, kalau beberapa artis itu pernah
berkunjung ke pabrik. Mereka pasti
penasaran, cara bikin bulu mata yang njelimetnya minta ampun itu. Lalu ibu
dengan bangga bilang pernah salaman sama mereka. Bau tangannya wangi sekali.
Dan yah, namanya juga artis, cantik sekali, mulus sekali. Mata Ibu tampak
bersinar saat membayangkan salah satu bulu mata
buatannya mungkin dipakai mereka. Ia pernah bilang ke aku dan Nisa, inyong gawe idep puluhan tahun, ra tau nyoba
kepriwe rasane neng mripat.
Koe dadi artis bae, sing ben dino mripate kudu dipasangi idep, ojo sing
saben dino metani idep.”
“Tapi aku nggak pingin
jadi artis. Diam-diam aku ingin jadi presiden. Edan sekali bukan cita-citaku?
Mungkin di Mewek, satu-satunya yang punya cita-cita seperti itu cuma aku. Sedih
sekali, satu per satu teman
baikku saat lulus SD memilih jadi
buruh idep. Mereka mulai tidak nyambung denganku. Mereka sibuk nabung buat beli
hape atau baju bagus, aku malah sibuk nabung buat beli buku. Aku harus kuliah,
pikirku. Ya, untuk jadi presiden aku harus kuliah. Soekarno saja jaman
penjajahan bisa sarjana. Kenapa aku nggak?”
“Mbakku, Nuri,
mendukungku. Ah, aku sayang sekali padanya. Suatu malam ia pernah bilang,
jangan kuatir soal biaya kuliah. Mbak akan cari uang buat kuliahmu dan Nisa.
Tapi niat mulianya tertahan. Dia diperkosa sama mandornya di pabrik. Dan yang
justru bertanggungjawab adalah satpam pabrik. Brengsek sekali mandor itu!
Mbakku jadi pemurung. Ia mburuh idep di rumah. Mengurung diri di kamar yang
lampunya redup. Penerangan dua puluh watt
untuk ngidep, milih helai demi
helai rambut, diukur
dengan penggaris.. kau bisa bayangkan?”
“Kenapa kamu ingin jadi
presiden?”
“Pikiran luguku saat
itu, siapa lagi yang bisa mengubah kehidupan kami di Mewek kalau bukan seorang
presiden? Bayangkan, desa kami memproduksi jutaan bulu mata untuk artis-artis
Jakarta dan luar negeri, sedangkan upah untuk sepasang bulu mata hanya 200
perak sampai 500 perak. Satu pasang bulu mata bisa memakan waktu setengah
sampai satu jam. Mburuh idep sangat melelahkan. Mata harus tetap awas. Ah,
apakah kau berpikir betapa beruntungnya aku menjadi buta dan tak pernah
merasakan penderitaan ngidep? Aku pernah! Tentu saja! Bagaimana mungkin aku tak
turut serta bergotong royong menghidupi keluargaku. Selepas sekolah, sejak SMP
aku bantu mburuh idep. Uangnya kutabung buat beli buku, buat kuliah. Pedih
sekali mataku saat harus mengerjakan pesanan hingga jam sepuluh malam. Belum
lagi teringat sama PR yang harus dikumpulkan besok pagi. Yang bikin sakit hati
saat hasil karyaku ditolak karena kurang rapi. Dan itu nggak dibayar.”
“Semua semakin memburuk. Aku bertengkar dengan Nisa. Ia
masih kelas enam SD saat itu. Ia menyatakan kalau tidak mau lanjut ke SMP. Ia
mau mburuh idep saja. Aku luar biasa marah. Kumaki-maki dan kujambak adikku.
Ibu sudah kembali ke pabrik, meski matanya sudah rabun, ia masuk bagian
pengepakan. Mbak Nuri juga akhirnya ke pabrik lagi. Upah suaminya nggak cukup
buat beli susu bayi. Rumah kosong. Nuri meraung dan lari. Aku mengejarnya
hingga ke jalan raya. Dan saat itu aku tertabrak. Mataku hilang.”
Gunawan kehilangan kata-kata.
Dalam satu jam ia harus menelan sebuntel kepahitan yang selama ini disimpan
rapat-rapat oleh Nurul. Ia pikir hidup Nurul sudah cukup keras, dengan
kondisinya yang tak mampu melihat, menumpang kerja di kantin Pakdhenya di
kampus milik Kakek Gunawan. Kini ia tahu, alasan
Nurul untuk pindah adalah karena ia tak tahan dengan segala kepahitan yang
melingkupi dirinya di kampung halaman.
“Andai sekarang bukan
hari pertunangan, mungkin aku sudah tertidur setelah menangis lama dan
menceracau padamu. Tiba-tiba aku merasa lelah dan mengantuk. Ayo kita bereskan
ini semua,” ujar Nurul sambil tertawa, menggosok matanya keras keras. “Kau tak
keberatan kan aku menghapus sisa riasan ini?”
“Hapus saja, Sayang. Kau
sudah cantik tanpa polesan apapun.”
***
Di hari pernikahannya,
Nurul tetap tak mau mengenakan bulu mata. Setelah dibujuk Nuri, barulah ia mau
dirias dengan satu syarat, tanpa bulu mata palsu. Padahal matanya masih bengkak
dan sembab karena menangis. Bulu mata akan mampu menyamarkan gumpalan kelabu
hidupnya. Tapi ia lebih memilih tidak. Ia bersikeras menikah tanpa bulu mata
palsu.
Pesta pernikahan Nurul
diadakan besar-besaran. Ia mengundang semua teman sekolahnya. Gunawan, seorang
lelaki kaya raya dari Jakarta, lelaki yang jatuh cinta setengah mati padanya,
bersedia membayar semua ongkos resepsi. Tak seorang pun yang tahu, diam-diam
sepasang pengantin muda ini memiliki perjanjian rahasia.
“Demi semua yang sudah
terjadi, aku tidak akan tinggal diam, Gun. Aku bersumpah!” bisik Nurul, tepat
seminggu yang lalu, saat kebakaran melahap sebuah pabrik bulu mata dan rambut
palsu di Desa Mewek. Pabrik ini merupakan salah satu pabrik terbesar di antara
33 pabrik yang tersebar di seluruh penjuru kabupaten. Kebakaran hebat terjadi
di siang hari yang terik, di saat angin kencang bertiup menuruni kaki gunung Slamet. Desas-desus berhembus, kebakaran
terjadi karena sabotase pesaing. Lima belas buruh tewas. Termasuk Nisa. Ia
terjebak di dalam bilik kamar mandi, terkunci, saat api menjalar dari gudang
dan memberangus berton-ton rambut.
Bukan karena hendak
menciptakan kebahagian palsu, maka Nurul menggelar resepsi besar.
Bukan pula untuk memamerkan nasibnya yang jauh lebih beruntung. Bukan pula
untuk berpura-pura lupa pada penderitaan yang dikunyah warga Mewek. Bukan pula
untuk benar-benar merasa berhak bahagia, karena bagaimana pun hari ini adalah
hari pernikahannya. Nurul hanya sedang memulai rencana besar
***
Tamu undangan kaget.
Tidak hanya satu dua. Semua tamu undangan berdengung. Mereka mendapat sekotak souvenir pernikahan yang tak wajar. Selembar surat
dari seorang buta dan sepasang bulu mata berwarna merah tanpa merek.
Surat ajakan melawan
tersebar. Nurul mengajak semua teman dan kerabatnya untuk tidak berpasrah diri.
Suratnya membuat warga sekampung berkasak-kusuk semalaman.
Suratnya menampar satu, dua, tiga orang. Suratnya dibaca oleh semua warga yang
mampu membaca. Yang buta huruf, minta dibacakan. Malam itu, berbondong-bondong
warga pergi ke rumah Nurul. Tenda pesta masih berdiri tegak, kursi-kursi plastik yang sudah ditumpuk tinggi kembali disebar. Kali ini
melingkar. Mereka mengadakan rapat. Nurul berbicara lantang. Menyerukan
perlawanan.
Keesokan harinya,
keanehan-keanehan mulai terjadi di setiap pabrik. Satu per satu buruh perempuan
berteriak histeris, menjerit-jerit, melempar benang, gulungan rambut,
gunting, penggaris, gerigi pemintal dan semua yang bisa disambar. Para peliput
berdatangan, mengabarkan telah terjadi kesurupan massal di delapan pabrik
secara serentak. Jika kesurupan adalah perbuatan jin nakal, siapa yang
bertanggungjawab atas kenakalan segerombolan jin? Para mandor, satpam dan
polisi tak mampu meredakan amukan para buruh yang kesurupan. Dukun-dukun mulai
berdatangan. Kepala bagian produksi dengan berat hati meliburkan buruhnya.
Diyakini, kesurupan dapat menular. Itulah mengapa ada istilah kesurupan massal.
Meski tak dapat dipahami dengan logika, sang Bos, orang Korea, terpaksa
meliburkan ribuan orang.
Para buruh pulang.
Pura-pura takjub dengan hari yang mistis. Setelah sampai rumah, mereka
diam-diam pergi ke rumah Nurul. Mengatur strategi. Besok, mereka akan menggelar
aksi besar-besaran.
***
“Kau yakin, demo besok
akan berhasil, Sayang?” tanya Gunawan di atas kasur. Ia masih meragu, bagaimana
istrinya akan memimpin pemberontakan melalui kegelapan. Ia merasa Nurul masih
menyembunyikan banyak hal, banyak masa lalu, dan rencana yang belum diungkap.
Ya, ia telah jatuh cinta setengah mati pada perempuan yang mampu membuatnya
terkejut berkali-kali.
“Aku nggak tahu. Ini
masih permulaan, Sayang. Bagaimana pun, kelak kau harus jadi bupati dan melibas
habis para juragan bulu mata.”
“Ya, aku sudah sepakat soal itu. Tapi apa mungkin?