Langsung ke konten utama

Sepasang Bulu Mata Merah


Bagi Nurul, menangis adalah bentuk keputusasaan. Ia nyaris tidak pernah ditemukan menangis. Ia tidak mengizinkan kedua pelupuk matanya berair diterjang gelombang kesedihan. Ia benci menangis. Potongan-potongan kepahitan yang berjatuhan dalam hidupnya, ia telan satu-satu, tanpa menangis. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. Airmata bergulir, tetes demi tetes, semakin banyak, menggenang, menganak sungai. Tidak dapat dihentikan. Ia menangis tanpa suara.
“Aku menyerah,” putus seorang perias dengan nada pedih.
“Maafkan aku,” ujar Nurul. Lelehan airmata melunturkan maskara, eyeliner dan alas bedak yang tadinya menempel dengan sempurna.
Kau rusak hasil karyaku selama dua jam,” keluh perias sambil memasukkan bermacam ukuran kuas, botol kuteks, perona pipi, penjepit bulu mata, lipstick, dan kotak-kotak eyeshadow dengan gusar ke dalam peti kosmetik berwarna merah.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Biasanya, klienku menangis saat akad nikah berlangsung. Itu mengesalkan. Tapi kau—sudah begini parah—ini masih acara pertunangan bukan? Segala kemungkinan bisa terjadi. Asal kau tahu, kehidupan rumah tangga lebih berat jutaan kali lipat. Kau harusnya menghemat airmatamu.”
Nurul menahan tawa getir dalam tangisnya. “Terimakasih sudah meriasku. Semoga Anda mendapatkan banyak klien yang jauh lebih menyenangkan dari saya.”
“Ya, pasti! Kau menyedihkan!” gerutu perias malang tersebut sambil menggeret peti kosmetiknya yang dilengkapi empat roda kecil dan tuas, keluar dari kamar tamu.
Airmata Nurul masih belum sudi berhenti. Terus mengalir. Hingga Gunawan menghampirinya di tepian meja rias. Ia menyeka airmata Nurul dengan lembut. Genggaman tangannya yang hangat tak mampu meredakan tangis calon tunangannya.
“Kumohon, kali ini ceritakan padaku, Nurul. Dua lebih baik dari satu untuk menghapus airmatamu,” ujar Gunawan.
Nurul tampak berpikir, lalu ia pun berkata, “Kau benar, Gun. Tak ada orang yang paling kupercayai sekarang kecuali dirimu. Mungkin kita perlu bikin perjanjian kecil. Aku tak pernah meminta apa-apa padamu bukan?”
“Ya, mari kita bicarakan. Satu jam lagi acara akan dimulai. Keluarga besar sudah mulai gaduh di bawah.”
“Kau bisa lepaskan benda ini dari mataku?” tanya Nurul, menunjuk bulu mata palsu tebal yang terpasang sempurna, bertumpuk tiga lapis.
“Kau alergi dengan kosmetik? Apakah gatal?” tanya Gunawan, dengan hati-hati melepaskan bulu mata palsu itu.
“Benda ini menyiksaku. Menyiksa keluargaku. Menyiksa kampungku. Berpuluh-puluh tahun.”
***
Gunawan tak menyangka, ia jatuh cinta pada gadis yang dapat membuatnya terkejut berkali-kali. Mungkin karena itulah, ia jatuh cinta, semakin jatuh ke dalam pesona Nurul. Rekan kerja dan mahasiswa Gunawan terheran-heran, bagaimana seorang lelaki kaya raya sepertinya justru menautkan hati pada seorang penjaga kantin? Yang lebih mengherankan lagi, Gunawan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia mendapati Nurul dengan cekatan melipat karton kardus untuk nasi kotak. Terkadang Gunawan menemukan Nurul nyaris tenggelam oleh puluhan kotak makanan.
“Kau tidak bosan melipat kardus?” tanya Gunawan, memberanikan diri, di suatu siang, selepas mengajar.
“Nggak. Ini pekerjaan yang mudah,” jawab Nurul tanpa menatap pelanggan kantin yang menyapanya.
“Sejak kapan kantin ini menyediakan katering?”
“Sejak aku di sini dan hanya bisa melipat kardus.”
Gunawan merutuk diri. Ia baru menyadari bahwa mata Nurul buta. Menatap kosong, lurus ke depan. 
***
Nurul tidak ingat persis kapan tepatnya ia membenci bulu mata palsu. Mungkin, jika kerabat dan teman-teman Nurul mengetahui kebenciannya, mereka tak habis pikir. Mengapa Nurul harus membenci bulu mata? Bukankah bulu mata adalah sumber penghidupan lima puluh ribu orang di daerahnya? Bukankah dengan bulu mata, Nurul dapat bersekolah? Bukankah dengan bulu mata, ia merasakan pembangunan yang terjadi di kota kecilnya? Alun-alun bertambah ramai oleh penjual kaki lima, jalan dipenuhi motor bebek keluaran terbaru dan swalayan lokal mulai menjamur.
“Sejak aku lahir, tak ada bedanya dengan bayi-bayi perempuan yang baru lahir di desaku, garis hidup seolah sudah ditetapkan. Kelak, saat kami sudah remaja, kami akan menjadi buruh idep. Bagaimana tidak? Di desaku, Desa Mewek, semua ibu menjadi buruh idep. Ada yang mburuh di pabrik milik orang Korea, ada yang mburuh di pabrik milik artis, ada juga yang mburuh di rumah, setiap hari menyetor idep. Ibuku sendiri mburuh idep sejak tahun ‘76. Ia mburuh demi ketiga anak perempuannya. Bapakku mburuh bikin knalpot di kecamatan sebelah. Lalu saat mbakku bisa bantu ngidep juga, di rumah tinggal aku dan Nisa, dan tivi butut yang terus menyala.”
“Setiap malam, sepulang dari kerja, Ibu yang kelelahan sering minta dipijat kepalanya. Sambil dipijat ia cerita banyak sekali tentang kehidupan di pabrik. Mulai dari gosip antar buruh, lalu bentakan-bentakan mandornya, sampai kejadian-kejadian lucu yang menegangkan di kamar mandi. Karena pabrik yang punya empat ribu karyawan itu cuma punya sepuluh puluh kamar mandi. Kebayang kan kalau kebelet pipis bagaimana antriannya?”
“Suatu ketika, Ibu dan Bapak bertengkar hebat. Bapak sampai memukul kening Ibu dengan hape. Ibu ketahuan selingkuh dengan temannya di pabrik. Mereka akhirnya cerai. Bapak pindah ke kecamatan sebelah. Mungkin bagimu aneh, bercerai di usia lima puluh tahun. Melelahkan sekali bukan? Ribuan hari berumah tangga, mengurusi anak, membagi-bagi upah yang nggak seberapa, ujung-ujungnya pisah. Tapi kasus semacam ini sudah biasa. Di Mewek, banyak pasangan yang terpaksa bercerai.”
“Sejak bercerai, Ibu jadi pemurung. Ia keluar dari pabrik. Maunya ngidep di rumah saja sambil nonton sinetron atau gosip. Hiburannya, ya, kalau ada artis-artis yang nampang di tivi dengan bulu mata tebal. Ia selalu bilang, kalau beberapa artis itu pernah berkunjung ke pabrik. Mereka pasti penasaran, cara bikin bulu mata yang njelimetnya minta ampun itu. Lalu ibu dengan bangga bilang pernah salaman sama mereka. Bau tangannya wangi sekali. Dan yah, namanya juga artis, cantik sekali, mulus sekali. Mata Ibu tampak bersinar saat membayangkan salah satu bulu mata buatannya mungkin dipakai mereka. Ia pernah bilang ke aku dan Nisa, inyong gawe idep puluhan tahun, ra tau nyoba kepriwe rasane neng mripat. Koe dadi artis bae, sing ben dino mripate kudu dipasangi idep, ojo sing saben dino metani idep.
“Tapi aku nggak pingin jadi artis. Diam-diam aku ingin jadi presiden. Edan sekali bukan cita-citaku? Mungkin di Mewek, satu-satunya yang punya cita-cita seperti itu cuma aku. Sedih sekali, satu per satu teman baikku saat lulus SD memilih jadi buruh idep. Mereka mulai tidak nyambung denganku. Mereka sibuk nabung buat beli hape atau baju bagus, aku malah sibuk nabung buat beli buku. Aku harus kuliah, pikirku. Ya, untuk jadi presiden aku harus kuliah. Soekarno saja jaman penjajahan bisa sarjana. Kenapa aku nggak?”
“Mbakku, Nuri, mendukungku. Ah, aku sayang sekali padanya. Suatu malam ia pernah bilang, jangan kuatir soal biaya kuliah. Mbak akan cari uang buat kuliahmu dan Nisa. Tapi niat mulianya tertahan. Dia diperkosa sama mandornya di pabrik. Dan yang justru bertanggungjawab adalah satpam pabrik. Brengsek sekali mandor itu! Mbakku jadi pemurung. Ia mburuh idep di rumah. Mengurung diri di kamar yang lampunya redup. Penerangan dua puluh watt untuk ngidep, milih helai demi helai rambut, diukur dengan penggaris.. kau bisa bayangkan?”
“Kenapa kamu ingin jadi presiden?”
“Pikiran luguku saat itu, siapa lagi yang bisa mengubah kehidupan kami di Mewek kalau bukan seorang presiden? Bayangkan, desa kami memproduksi jutaan bulu mata untuk artis-artis Jakarta dan luar negeri, sedangkan upah untuk sepasang bulu mata hanya 200 perak sampai 500 perak. Satu pasang bulu mata bisa memakan waktu setengah sampai satu jam. Mburuh idep sangat melelahkan. Mata harus tetap awas. Ah, apakah kau berpikir betapa beruntungnya aku menjadi buta dan tak pernah merasakan penderitaan ngidep? Aku pernah! Tentu saja! Bagaimana mungkin aku tak turut serta bergotong royong menghidupi keluargaku. Selepas sekolah, sejak SMP aku bantu mburuh idep. Uangnya kutabung buat beli buku, buat kuliah. Pedih sekali mataku saat harus mengerjakan pesanan hingga jam sepuluh malam. Belum lagi teringat sama PR yang harus dikumpulkan besok pagi. Yang bikin sakit hati saat hasil karyaku ditolak karena kurang rapi. Dan itu nggak dibayar.”
Semua semakin memburuk. Aku bertengkar dengan Nisa. Ia masih kelas enam SD saat itu. Ia menyatakan kalau tidak mau lanjut ke SMP. Ia mau mburuh idep saja. Aku luar biasa marah. Kumaki-maki dan kujambak adikku. Ibu sudah kembali ke pabrik, meski matanya sudah rabun, ia masuk bagian pengepakan. Mbak Nuri juga akhirnya ke pabrik lagi. Upah suaminya nggak cukup buat beli susu bayi. Rumah kosong. Nuri meraung dan lari. Aku mengejarnya hingga ke jalan raya. Dan saat itu aku tertabrak. Mataku hilang.”
Gunawan kehilangan kata-kata. Dalam satu jam ia harus menelan sebuntel kepahitan yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh Nurul. Ia pikir hidup Nurul sudah cukup keras, dengan kondisinya yang tak mampu melihat, menumpang kerja di kantin Pakdhenya di kampus milik Kakek Gunawan. Kini ia tahu, alasan Nurul untuk pindah adalah karena ia tak tahan dengan segala kepahitan yang melingkupi dirinya di kampung halaman.
“Andai sekarang bukan hari pertunangan, mungkin aku sudah tertidur setelah menangis lama dan menceracau padamu. Tiba-tiba aku merasa lelah dan mengantuk. Ayo kita bereskan ini semua,” ujar Nurul sambil tertawa, menggosok matanya keras keras. “Kau tak keberatan kan aku menghapus sisa riasan ini?”
“Hapus saja, Sayang. Kau sudah cantik tanpa polesan apapun.”
***

Di hari pernikahannya, Nurul tetap tak mau mengenakan bulu mata. Setelah dibujuk Nuri, barulah ia mau dirias dengan satu syarat, tanpa bulu mata palsu. Padahal matanya masih bengkak dan sembab karena menangis. Bulu mata akan mampu menyamarkan gumpalan kelabu hidupnya. Tapi ia lebih memilih tidak. Ia bersikeras menikah tanpa bulu mata palsu.
Pesta pernikahan Nurul diadakan besar-besaran. Ia mengundang semua teman sekolahnya. Gunawan, seorang lelaki kaya raya dari Jakarta, lelaki yang jatuh cinta setengah mati padanya, bersedia membayar semua ongkos resepsi. Tak seorang pun yang tahu, diam-diam sepasang pengantin muda ini memiliki perjanjian rahasia.
“Demi semua yang sudah terjadi, aku tidak akan tinggal diam, Gun. Aku bersumpah!” bisik Nurul, tepat seminggu yang lalu, saat kebakaran melahap sebuah pabrik bulu mata dan rambut palsu di Desa Mewek. Pabrik ini merupakan salah satu pabrik terbesar di antara 33 pabrik yang tersebar di seluruh penjuru kabupaten. Kebakaran hebat terjadi di siang hari yang terik, di saat angin kencang bertiup menuruni kaki gunung Slamet. Desas-desus berhembus, kebakaran terjadi karena sabotase pesaing. Lima belas buruh tewas. Termasuk Nisa. Ia terjebak di dalam bilik kamar mandi, terkunci, saat api menjalar dari gudang dan memberangus berton-ton rambut.
Bukan karena hendak menciptakan kebahagian palsu, maka Nurul menggelar resepsi besar. Bukan pula untuk memamerkan nasibnya yang jauh lebih beruntung. Bukan pula untuk berpura-pura lupa pada penderitaan yang dikunyah warga Mewek. Bukan pula untuk benar-benar merasa berhak bahagia, karena bagaimana pun hari ini adalah hari pernikahannya. Nurul hanya sedang memulai rencana besar
***
Tamu undangan kaget. Tidak hanya satu dua. Semua tamu undangan berdengung. Mereka mendapat sekotak souvenir pernikahan yang tak wajar. Selembar surat dari seorang buta dan sepasang bulu mata berwarna merah tanpa merek.
Surat ajakan melawan tersebar. Nurul mengajak semua teman dan kerabatnya untuk tidak berpasrah diri. Suratnya membuat warga sekampung berkasak-kusuk semalaman. Suratnya menampar satu, dua, tiga orang. Suratnya dibaca oleh semua warga yang mampu membaca. Yang buta huruf, minta dibacakan. Malam itu, berbondong-bondong warga pergi ke rumah Nurul. Tenda pesta masih berdiri tegak, kursi-kursi plastik yang sudah ditumpuk tinggi kembali disebar. Kali ini melingkar. Mereka mengadakan rapat. Nurul berbicara lantang. Menyerukan perlawanan.
Keesokan harinya, keanehan-keanehan mulai terjadi di setiap pabrik. Satu per satu buruh perempuan berteriak histeris, menjerit-jerit, melempar benang, gulungan rambut, gunting, penggaris, gerigi pemintal dan semua yang bisa disambar. Para peliput berdatangan, mengabarkan telah terjadi kesurupan massal di delapan pabrik secara serentak. Jika kesurupan adalah perbuatan jin nakal, siapa yang bertanggungjawab atas kenakalan segerombolan jin? Para mandor, satpam dan polisi tak mampu meredakan amukan para buruh yang kesurupan. Dukun-dukun mulai berdatangan. Kepala bagian produksi dengan berat hati meliburkan buruhnya. Diyakini, kesurupan dapat menular. Itulah mengapa ada istilah kesurupan massal. Meski tak dapat dipahami dengan logika, sang Bos, orang Korea, terpaksa meliburkan ribuan orang.
Para buruh pulang. Pura-pura takjub dengan hari yang mistis. Setelah sampai rumah, mereka diam-diam pergi ke rumah Nurul. Mengatur strategi. Besok, mereka akan menggelar aksi besar-besaran.
***
“Kau yakin, demo besok akan berhasil, Sayang?” tanya Gunawan di atas kasur. Ia masih meragu, bagaimana istrinya akan memimpin pemberontakan melalui kegelapan. Ia merasa Nurul masih menyembunyikan banyak hal, banyak masa lalu, dan rencana yang belum diungkap. Ya, ia telah jatuh cinta setengah mati pada perempuan yang mampu membuatnya terkejut berkali-kali.
“Aku nggak tahu. Ini masih permulaan, Sayang. Bagaimana pun, kelak kau harus jadi bupati dan melibas habis para juragan bulu mata.”
“Ya, aku sudah sepakat soal itu. Tapi apa mungkin?

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...