Langsung ke konten utama

Hantu di Celah Rak-Rak



Rak-rak yang diam. Rak-rak yang angkuh. Aku menyusuri celah per celah dengan gelisah. Sesekali terpekur di depan rak yang menjulang, melejitkan nama banyak orang. Sesekali aku melirik, ke kanan ke kiri, siapa tahu sekelebat bayangan mengikutiku diam-diam. Langkahku terhenti, bermula dari deretan paling ramai. Fiksi.
Kupicingkan kedua kelopak mataku, membaca dua kata yang melekat di rak bagian paling atas. Novel Sastra.  Lalu pandanganku turun ke lapis demi lapis rak. Buku-buku bersampul menarik berjejer-jejer, menjual diri. Kulihat dari ujung kanan hingga ujung kiri. Semua fiksi. Semua sedang menuturkan kisah. Koridor pendek di antara rak menjadi sempit. Sebagian besar pengunjung berkutat di sini. Mereka memilah buku berdasarkan sampul dan judul. Para pemudi dan para pemuda. Sepertinya mereka sibuk membatin, kisah apa yang akan menjadi kudapan mereka akhir minggu ini?
Kulihat novel-novel bersampul manis berjudul melodramatis. Kuambil salah satunya, tentu saja acak, berdasarkan naluri yang seringkali asal-asalan. Kubaca sekilas sinopsisnya. Kucari-cari label penerbitnya. Lalu kubuka bagian tengahnya.
Satu paragraf saja. Cukup.
Kuraba kertasnya yang ringan, kuning langsat. Lalu kukembalikan, hati-hati.
Di sampingku, seorang wanita kurus dengan rambut tergerai semrawut, melirik novel yang kupegang. Mungkin ia novelis. Mungkin pula ia penulis buku yang baru kulirik tadi. Apa yang sedang ia pikirkan? Apa setiap penulis akan ke toko buku hanya untuk mengecek karyanya sudah ditata manis apa belum? Memastikan para mafia industri ini tidak seenaknya menempatkan karyanya di kolong rak, di tumpukan paling bawah. Atau, apa mungkin mereka sedang menjalin kontak batin dengan tokoh-tokoh fiksinya?
Membayangkan protagonis patah hati, antagonis mengkhianati, membuatku pusing seketika. Aku bergegas ke rak-rak di sampingnya. Masih dipenuhi karya fiksi.
Tren kali ini dipenuhi cerita-cerita hantu yang gemar melawak. Namun aku tidak tertarik. Bagiku, hantu tetap mengerikan. Mereka masih punya haknya untuk menjadi misterius. Tetapi yang menyakitkan kini, hantu kehilangan jati diri dan martabatnya. Segerombolan pemuda berdiri khusuk di rak horor komedi. Kuduga, lima tahun yang lalu mereka masih mengompol karena cerita seram dari para seniornya.
Aku tidak berniat mengusik mereka. Kali ini aku berhenti ke buku-buku yang berkicau. Isinya memang tentang kicauan. Bukan peribahasa, tenang, tak akan keluar di soal ujian bahasa. Kicauan-kicauan ini menggantikan ribuan pepatah sang pertapa. Menggantikan pula wejangan-wejangan orang tua. Hanya di dunia yang sekarang ini, penulis tak perlu repot-repot merasa menulis. Mereka cukup berkicau sesering mungkin, maka akan banyak burung yang menyimak. Mereka tidak akan terbang ke mana-mana, selain di pucuk ranting yang tetap sama. Menciptakan republik baru bersama burung-burung pengikutnya.
Aku menyeberang jauh kini, ke bagian yang lebih lengang dan remang. Aku berhenti di rak yang hanya menyediakan keindahan. Dengan tekun, kubuka satu per satu halaman. Kerajinan merajut, menyulam, merangkai bunga, mendaur ulang kertas, hingga membuat bingkisan hantaran pernikahan. Inilah rak yang tak pernah membuat kakiku lunglai pegal. Konyolnya, aku tak pernah mempraktekkan satu pun di antara puluhan buku panduan ini. Kurasa aku tidak berbakat dalam menggulung kertas untuk dijadikan paper quilling, atau meracik adonan bahan untuk dijadikan clay.
Yang aku bisa hanyalah menikmati keindahan foto-foto kerajinan tangan ini.
Kecuali, aku menjadi seorang ibu. Akan kupertimbangkan untuk membeli satu saja buku kerajinan, untuk menghabiskan waktu luang di sore hari bersama anakku kelak. Kami mungkin akan sibuk menggunting dan melipat kertas origami.
Semakin lama, pusaran buku-buku bergambar mengaduk-aduk emosiku.  Buku dongeng, ensiklopedia fauna dan flora, kumpulan resep kue, panduan asupan gizi balita, hingga kumpulan nama-nama bayi, menguliti satu per satu keegoisanku sebagai perempuan muda. Rak-rak seakan doyong ke kanan dan ke kiri. Melambai-lambai padaku, menyenandungkan lagu nina bobo.
Kulangkahkan kaki panjang panjang ke rak yang masih menawarkan kedamaian. Rak budidaya ikan dan berkebun menenangkanku sejenak. Namun para lelaki di sana, yang khusyuk menyusun strategi berwirausaha, yang berdiri dengan mengalkulasi modal di kepalanya, mengingatkanku pada pasangan hidup yang terselip di negeri antah berantah.
Aku melintas ke sudut ruang yang lain. Rak-rak yang pongah dengan penggemarnya yang mayoritas seusiaku. Dengan ceria aku ke sana. Tiba-tiba saja, satu rak penuh buku biografi menghadang.
Akan kau kemanakan takdirmu?
Aku terhenyak, wajahku pias. Para tokoh mendelik ke arahku.
Kalau kau pergi tanpa meninggalkan catatan, tidakkah keturunanmu percaya begitu saja pada cerita-cerita manipulatif para tetangga?
Sebelum aku membantah dan berargumen, sebuah rak menarikku dengan kekuatan yang dimiliki koleksi bukunya. Kekuatan kolektif dari buku-buku kuliah nan ilmiah, memaksaku menelan ludah yang telah asam rasanya. Harga mereka relatif mahal. Sebaiknya kutemui mereka di perpustakaan. Kuputuskan menepi, mlipir, ke pojokan paling sunyi. Rak-rak sedingin batu nisan. Di sanalah, aku menyerah.
***

“Kau habis dari mana?”
“Toko buku.”
“Beli buku apa?”
“Asmaul Husna.”
“Buat apa?”
“Jimat.”
***       
Di ruang ini, hanya ada kasur, meja belajar, dan lemari. Tidak ada rak rak yang bergentayangan. Kecuali di bilik-bilik kamar yang lain. Kuhempaskan diri ke kasur yang semakin tipis. Kukeluarkan buku Faedah Asmaul Husna dari tas kanvas kumal. Kutandaskan malamku dengan membaca sambil tiduran tiap-tiap nama Tuhan lengkap dengan penjelasan dan kegunaannya. Saat subuh menjelang, kurapal Asmaul Husna tujuh kali, persis seperti merapal mantra.
Aku siap.
Menemui hantu itu.
***
Sudah dua minggu ini, saban aku menuruni tangga asrama, hendak ke dapur, hantu itu menggodaku. Bukan penampakan. Hanya suara-suara yang kudengar. Suara orang muntah di wastafel. Aku tak pernah berani melongok sumber suara. Namun suara itu terus terdengar, menyakitkan, saat subuh menjelang.
Kupikir, salah satu penghuni asrama ini sakit. Bisa jadi bulimia, atau radang tungkak, atau keracunan. Namun menurut pengakuan Destari, penghuni asrama yang paling rajin berjamaah sholat subuh di masjid, tak ada siapa pun yang muntah-muntah di pagi buta.
Kali ini, aku akan menegur hantu itu. Meski agak takut. Tapi aku punya Nama-Nama Tuhan yang akan melindungiku dari serangan makhluk gaib. Betapa pun jahilnya mereka, mereka tak akan tahan berhadapan dengan nama-nama suci, yang luar biasa indah, yang paling agung, yang maha perkasa.
***
Rak-rak yang diam. Orang-orang yang berisik. Aku menyusuri mereka, menuju pojokan tersenyap, bagian Agama dan Spiritual. Dengan gugup, kuletakkan kembali buku Asmaul Husna pada tempatnya semula. Persis di sana, di samping buku Dashyatnya Puasa Senin Kamis.
“Kau mencurinya.”
“Nggak. Aku hanya meminjamnya.”
“Buat apa?”
“Tadinya, untuk menghalau hantu.”
“Berhasil?”
“Enggak.”
“Bagaimana dengan Yasiin atau Ayat Kursi?”
“Sudah kucoba. Tapi, memang nggak ada hantu.”
“Hm, jadi itu sebabnya kau kembalikan? Tetap saja, Tuhan nggak suka kau mencuri buku kumpulan namaNya.”
“Aku nggak punya uang. Lagipula, Tuhan tidak memaksa hambaNya beli buku kumpulan namaNya.”
“Ayolah! Kau sudah merobek plastik pembungkusnya.”
“Aku menyesal. Tapi buku itu tidak kuperlukan sekarang. Mungkin lain kali.”
Aku berniat pulang. Mencoba menepis ingatan tentang bayangan mengenaskan yang terpantul di cermin wastafel. Namun, ia, yang kini terjepit di antara rak-rak buku, yang biasa melolong di anak tangga, yang cekikikan di belakang kulkas dapur, merutukiku. Terus menerus. Hingga aku frustrasi dibuatnya.
“Kau butuh! Kau butuh! Kau membelinya bukan untuk mengusir hantu asrama. Aku tahu. Aku tahu. Aku tidak peduli siapa bapaknya. Siapa pun boleh. Asal kau beli buku yang kau curi. Aku menuntutmu! Aku menuntutmu! Kau butuh nama buat bayimu!”
Aku berbalik, kesal. Berdebat dengannya sama seperti berdebat dengan penjaga asrama yang menagih iuran keamanan tiap bulan. Sia-sia. “Baiklah! Baiklah kalau itu maumu!” aku menyambar buku Faedah Asmaul Husna. “Dan jangan pernah lagi menguntitku! Kau paham?!” hardikku, bergegas menuju meja kasir.

080313

Apa kabar rak bukumu? Lengkapkah koleksimu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...