Langsung ke konten utama

Hari yang Sempurna untuk Pindah


Hari ini hari kepindahan Remi. Sebuah rumah mungil berdekor minimalis di sebuah kompleks pinggir kota siap menyambut barang-barangnya. Lima tahun lamanya ia menabung untuk membeli sebidang kapling tanah. Jauh-jauh hari ia memesan jasa arsitek untuk memperinci konsep rumah idamannya.
“Jadi, saya tambahkan mushola kecil di samping kamar utama untuk pengantin baru kelak, bagaimana?” goda Aeron, sang Arsitek kepada kliennya, tepat satu  tahun yang lalu. Sang klien hanya tersipu malu.
Hari Minggu, hari yang sempurna untuk urusan tetek bengek pindahan. Lima tahun sudah ia tidur di ketinggian lantai 14. Di dalam apartemennya, hanya ada satu ruang tidur, satu ruang tamu, satu pantri lengkap dengan bar sebagai pengganti meja makan, satu kamar mandi, dan satu balkon.
Satu ruang tidur itu dipenuhi sepotong ranjang ukurang besar, satu set meja kerja, dan satu set wardrobe yang menyatu dengan dinding. Tidak ada yang istimewa, kecuali perabotan itu seragam warnanya, putih gading. Tidak ada yang repot-repot memindahkan, karena hampir semua furnitur di dalamnya akan Remi jual pada penghuni yang baru.
“Masih halus, tidak cacat sedikit pun,” terang Remi tempo hari pada seorang calon pembeli. Ia mengusap usap pintu wardrobenya. Sedangkan perempuan sebayanya, berambut kecoklatan, sibuk duduk duduk di ranjang, meraba tepiannya.
“Kamar yang nyaman, tidak berhantu bukan?” canda Celine sambil merebahkan diri badannya di ranjang.
“Bebas penampakan. Percayalah, aku bahkan jarang sekali mimpi buruk saat malam hari,” jawab Remi meyakinkan.
“Karena malam hari sangat tepat bukan untuk... ehm.. lembur?”
“Ah, aku bukan tipe orang yang suka membawa kerjaan pulang ke sini.”
“Oke,” Celline tersenyum simpul. “Bisa tunjukkan di mana kamar mandinya?”
“Ya, kamar mandi di sisi kiri. Bisa terhubung langsung dengan ruang ganti. Jadi kau bisa sekaligus mendapat wardrobe tambahan. Aku bisa bayangkan betapa banyak koleksi high heels, tas, dan gaun yang akan kau bawa kemari. Lemari sepatu khusus yang menyatu di dinding pun bebas rayap. Tambahan lagi, cermin lebar menempel pada dinding di kamar ganti, cocok ditambahkan dengan meja rias,” ucap Remi panjang lebar mempromosikan segala sesuatunya di ruangan itu.
“Menarik,” longok Celine sambil menilai kamar mandi berkeramik kuning tua tersebut. “Tetapi, kurasa kamar ganti akan aku maksimalkan menjadi ruang yoga.”
Remi mengangkat alisnya, “oke, terserah Anda, Nona.”
Mereka selanjutnya berkeliling apartemen. Remi menunjukkan dengan bangga, tentang kebersihan yang ia jaga. Pantrinya bebas debu dan berkilau. Air kran mengalir lancar. Kompor listrik menyala dengan sempurna. Engsel kabinetnya pun bebas karat.
“Kau suka memasak?” tanya Celine asal, sambil menggigit apel yang Remi lemparkan dari dalam lemari es.
“Sedikit, dan aku suka sekali memasak masakan Eropa.”
“Berarti kau suka memasak dan pintar memasak.”
“Tidak juga. Aku tidak bisa masak masakan Padang, Jawa, Cina... dan banyak lagi.”
“Tapi pasti kau suka memasakkan orang lain sepiring spaghetti, risotto, dan lasagna..”
“Kadang kadang,” ujar Remi merendah.
Selanjutnya mereka berdua mengunjungi balkon. Udara siang metropolitan berhembus hangat. Gedung-gedung penggelitik langit tampak pongah di kejauhan. Jalan raya di bawah tampak seperti ruas hitam yang dijejali semut-semut berknalpot. Balkon yang hanya sepanjang empat meter itu disesaki pot-pot tanaman hias. Beberapa pot menggantung dengan daun serta kelopak anggrek menjuntai. Lili putih tengah mekar, dan daun anyelir masih basah oleh air.
“Kau baru menyiramnya, luar biasa. Aku tidak menyangka kau seorang gardener.”
“Mereka mirip hewan peliharaan buatku.”
“Kau tidak merasa kesepian? Maksudku, tanaman beda dengan anjing atau kucing yang dapat tidur dengan kita, mondar mandir di antara ruangan, lalu bergelung di pangkuan kita.”
“Aku pernah tidur dengan Lili. Menunggui ia semalaman mekar lalu aku jatuh tertidur di balkon.”
“Hahaha.. sebesar itukah cintamu pada bunga Lili?” Celine terbahak.
Wajah Remi bersemu merah. Entah mengapa, calon pembeli apartemennya itu seakan sedari tadi berusaha menguliknya.
“Jadi bagaimana? Deal?” tanya Remi akhirnya di ambang pintu.
Celine terdiam. Ia tampak menimbang nimbang sesuatu di dalam hatinya.
“Kau tahu, kau calon pembeli pertama yang kemari. Sejujurnya, aku tidak berniat secepat ini melepas apartemenku. Hanya saja, aku jamin kau tidak akan menyesal Celine, jika kau jadi membeli apartemen ini lengkap dengan isinya.”
Celine masih mengerutkan kening.
“Oh ya, kecuali pot pot tanaman itu tentu saja. Not for sale.”
Kali ini perempuan di ambang pintu itu tertawa lepas. Senyumnya renyah dan menawan.
“Aku minta maaf padamu, Re. Aku memang sangat luang hari ini, sampai bingung harus menyibukkan diri untuk apa. Maksudku—“ Celine menggigit bibirnya, “aku iseng mengunjungi teman facebook-ku selama setengah tahun ini. Aku Lily Ken, kau kenal?”
***
“Oh, Sial. Aku benar-benar terperdaya olehmu. Aktingmu sangat meyakinkan sebagai pembeli apartemen,” Remi menuangkan wine sekali lagi ke gelasnya. Celine nyengir tak berdosa. Lampu balkon yang temaram menghangatkan malam minggu yang dingin di Jakarta. Mereka berdua duduk selonjoran di balkon dengan sofa dan meja yang digotong bersama dari ruang tamu.
 Sambil menikmati spaghetti saus kepiting kreasi Remi, mereka berdua melepas lelah. Seharian ini mereka sibuk mengepak barang barang ke dalam kardus-kardus besar. Tanpa sengaja Celine menemukan album foto Remi dan kekasihnya. Ia tahu secara singkat masalah yang menimpa Remi, dua minggu sebelum rencana kepindahan Remi yang mendadak. Terkadang, mengeluh pada teman asing di dunia maya jauh lebih melegakan. Remi bercerita padanya melalui facebook, tanpa berharap Lily akan sangat menghayati nuansa berkabungnya.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Ini malam terakhir kau tinggal di apartemen kesayanganmu, banyak kenangan yang tertinggal di sini bukan?” tanya Celine perlahan.
“Hm.. lumayan. Setidaknya setiap orang membutuhkan fase baru, lembar baru.”
“Kau masih tidak dapat memaafkannya?”
Remi meneguk banyak-banyak wine-nya. “Tidak sekarang Celine. Hei, boleh aku tahu kenapa nama penamu harus Lily Ken? Aku menambahkanmu sebagai teman karena namamu, hahaha... Seandainya kau tetap menggunakan nama Celine, mungkin sekarang kita belum berteman.”
“Ya, dan kalau aku tidak memasang foto sepupuku yang seksi, mungkin dari dulu kau enggan chatting denganku.”
“Hahaha.... ayolah, kau sempurna sebagai wanita,” ujar Remi, refleks mengusap kepala Celine.
Celine terkesiap. Ia menyeruput sedikit koktailnya. Berdebar-debar jantungnya.
“Wanita di dunia ini kadang bisa lebih sadis daripada penguasa yang otoriter. Lelaki sudah menyiapkan segalanya, menabung untuk rumah idaman. Berkerja sangat keras. Melamar dengan romantis di balkon yang penuh bintang... tapi ditendang begitu saja.. hahaha, setelah ia merasa puas dengan kartu kreditku yang setiap bulan overlimit. Setelah ia mendapat promosi baru yang lebih baik di kantornya...”
Badan Remi mulai terguncang, antara menangis dan tersedak.
“Kau mulai mabuk, mau aku ambilkan segelas air putih?” tawar Celine lembut seraya bangun dari posisinya yang selonjoran. Namun tangannya tertahan kuat-kuat. Cengkeraman Remi tiba-tiba mengisyaratkan banyak hal. Tatapan Remi sendu, berair dengan mata merah. Kali ini, Remi tidak kuasa lagi menyembunyikan kerapuhannya.
“Lili.. Kasihku, bosankah kau lembur untuk bercinta denganku? Di kamar, di ruang ganti, di balkon, di mana pun yang kau inginkan sampai kita pernah menjatuhkan satu pot lidah buaya ke bawah sana. Lupakah kau? Lupa..?”
Celine ternganga. Ia memahami dengan cepat, nama yang terucap dari mulut beralkohol Remi. Tanpa banyak pertimbangan, ia sambar vas bunga berisi bunga lili yang baru ia petik tadi sore sembari menunggu Remi memasak. Dengan cepat pula ia guyurkan air vas tepat ke wajah Remi yang seketika gelagapan. Cengkeraman tangan mengendur. Celine tergesa tanpa mengucap salam, berlari ke arah pintu.
***
Hari ini hari kepindahan Remi. Matahari terbit sekali lagi, menyapa Jakarta di Minggu yang cerah, seolah ikut menyambut hari kepindahan Remi ke rumah barunya. Biasanya, matahari selalu gagal membangunkan sebagian besar penghuni apartemen yang masih terlelap, yang kelelahan, setelah menikmati malam minggu sampai subuh tiba. Namun tradisi tidur sampai siang tidak berlaku hari ini. Matahari tak perlu repot-repot menunggui mereka bangun hingga jam makan siang.
Belum juga ia menanjak kaki langit terlalu tinggi, seluruh penghuni apartemen telah ribut di bawah sana. Mereka berkerumun di jalan raya membentuk lingkaran dan terus berkasak kusuk. Sirine mobil polisi bersaing dengan ambulans. Jalanan macet, banyak orang melongok dari balik kemudi.
Mereka tahu bahwa pagi ini ada yang bunuh diri. Melemparkan diri dari lantai 14. Tapi mereka tidak tahu, Remi, sang mayat, tadi malam telah berhasil membunuh mimpinya seorang diri. Dari dulu ia bermimpi hidup bahagia bersama Lili, mantan kekasihnya, di sebuah rumah mungil di pinggiran kota.
Malangnya, 19 kilometer dari sana, di depan sebuah rumah minimalis, Celine tengah menunggu Remi datang dengan truk angkut. Ia hendak memberi kejutan, jasa bantu angkut barang secara mendadak. Ia menyesal berbuat kasar tadi malam.
Sambil dipandanginya rumah baru itu dengan saksama, ia mulai menabung asa. Atapnya berwarna coklat, catnya berwarna hijau gelap, halamannya luas, pagarnya rendah, ventilasinya mencukupi, dan rimbun dengan pohon mangga.
 Celine diam-diam tahu, sudah cukup lama tahu, ia ingin tinggal bersama pemilik rumah ini. Hanya saja, ia belum tahu bahwa subuh tadi Remi sempat berpikir, hari ini hari yang terlalu sempurna untuk pergi.
Jogja, 220912

Kepergian itu selalu mengubur banyak asa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai silent reader

Mungkin ada yang diam-diam bertanya, mengapa kabarkamar sempat hiatus untuk beberapa waktu. Sulit untuk dijelaskan. Banyak alasan yang bisa kami (ya, blog ini menjadi wilayah kekuasaan lebih dari satu orang) berikan kepada pembaca yang setia. Memang kami tidak memiliki tujuan pasti pada saat kumpulan tulisan di dalam komputer diupload via blog. Beberapa kali kami berdiskusi, hanya diskusi kecil, tentang keinginan-keinginan mengenai tulisan yang ada disini dan sebagian lain yang belum terupload. Dan moment itu tiba Kami mengalami transisi dalam hidup. Terkesan sangat drama, tetapi itu yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, kami memilih untuk melihat lebih jauh. Apakah blog ini layak untuk menjadi salah satu pengisi waktu senggang kami. Menikmati onani intelektual, kalau boleh dibilang, atau hanya menjadi ruang bagi mengekspresikan diri di saat tulsisan-tulisan liar lebih laku utuk disebarkan. Dalam hiatus  ini kami kemudian melihat, berhenti sejenak itu tidak mengapa. Dalam pember...

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...

Denyut Merah, Kuning, Kelabu

Jantungku berdenyut cepat. Aku memimpikannya lagi. Ia tertelan kabut di sebuah jalan beraspal. Lenyap. Tak dapat kucegah. Mengapa aku harus terjebak atas kehilangan yang anomali ini? Aku tidak sungguh-sungguh mengenalnya. Akrab pun tidak. Mengapa ia mendatangiku di sepertiga malam? Seolah malaikat menundukkan diri di atas ranjang, mengatupkan sayapnya yang lebar dan menitipkan kode-kode dalam kepingan mimpiku. Lima hari ini. Terus-menerus. Saat terbangun tubuhku telah menggigil. Jemariku kaku. Ujung kaki ngilu. Sendi-sendiku rasanya menegang. Gigi bergemelutuk. Daster yang kukenakan lembab oleh keringat. Hampir saja kupastikan bahwa aku terkena demam berdarah. Nyamuk beredar lebih banyak di musim kemarau ini. Apakah gigitan nyamuk sekarang mampu menciptakan mimpi buruk? Mungkinkah mereka telah bermutasi tanpa seorang ahli serangga pun tahu? Namun, dokter mengatakan aku baik-baik saja dan aku sama sekali tak merasa demikian. *** Ia bernama Noni. Menjadi tetangga sebelah ka...