Langsung ke konten utama

Sepotong Pertemuan Para Pengantri


Devi melangkah cepat. Ia seperti mengejar sesuatu bersama sepatu bertumit tingginya. Napasnya sedikit tersengal, entah mengapa ia merasa tidak tenang. Berkali-kali ditengoknya jam tangan yang melingkar di pergelangan sebelah kiri. Setelah mengisi blanko biru bertumpuk ganda, ia segera mengambil posisi antrian yang sudah mengular panjang di depan teller bank.
Ia sedikit kesal karena terpaksa pergi ke bank pagi-pagi di hari Senin untuk sebuah urusan kecil. Kakaknya, Devana, menyuruhnya mampir ke bank sebelum ia ke kampus, mentransfer sejumlah uang ke seorang rekan bisnis di luar kota. Sembari menunggu antrian semakin menyusut, Devi memejamkan matanya. Ia masih mengantuk. Tentu saja, semalaman ia begadang mengerjakan  tesisnya. Beruntung, mesin pendingin ruangan sanggup menenangkan kegelisahan Devi.
Tiba-tiba seorang wanita bertubuh tambun di depannya menoleh ke belakang, melengos pada Devi. Selanjutnya ia berjalan pergi, meninggalkan posisi antriannya pada Devi. Sekuriti yang luar biasa ramah pun tak lama kemudian menunjukkan letak toilet ke wanita tambun. Mata Devi terus mengekor langkah wanita tambun yang agak sempoyongan. Devi menahan senyum, dengan enteng, ia melangkah maju.
Ia tertegun. Langkah kakinya refleks mundur.
“Mbak, maju.. kok malah balik mundur?” tegur seorang gadis di belakangnya yang dengan sigap menempati posisinya tadi.
Hampir saja Devi menginjak kaki pengantri di belakangnya. Devi kembali mengatur napasnya. Bukan karena sisa sisa terik matahari di luar yang membuatnya sumpek, ia merasa salah mengambil baris antrian. Di depannya, seorang laki-laki tengah berdiri tegap. Kokoh tidak tergoyahkan panjang antrian.
Ya Tuhan, aku kenal punggung ini.
Aku sangat hapal  aroma ini.
Aku kenal siapa dia.
Laki-laki itu menoleh ke samping, menatap televisi yang menggantung di langit-langit ruangan. Layar datar, tanpa suara. Infotainment pun menjadi hambar.
Ya Tuhan, aku rindu punggung ini.
Merasa ada yang mengawasi, laki laki itu menoleh ke belakang. Ekspresinya datar, tanpa suara. Namun pertemuan apa pun, persinggungan apa pun dengan dunia Devi, tidak pernah membuatnya hambar.
“Jim, hai..” sapa Devi sepelan mungkin, nyaris seperti televisi yang dikecilkan volume suaranya hingga capai batas minimal.
“Hai,” kaku, penuh penekanan. Jim kembali memfokuskan pandangannya pada punggung orang di depannya.
“Tiga tahun cukup terasa lama ya,” ucap Devi lirih.
Tidak ada respon. Devi menghela napas. “Jim, kau masih membenciku?”
“Aku tidak bisa melupakan perbuatanmu,” ujarnya, memutar lehernya serong ke samping kiri. Devi menelan ludah. Ia menunduk, memandangi sepatunya yang mengkilap. “Minggu depan sidang tesisku, Jim.. kalau kau mau datang.. aku sangat...”
“Aku sibuk, paham?”
Masih sibuk menjauh dariku ya,  Jim?
“Kau tahu, aku menunggu undangan pernikahanmu setiap hari,” ujarnya sambil tersenyum nyinyir.
“Kau masih mengira aku bersama teman proyekku dulu?” tanya Devi sambil melangkah ke depan, antrian mulai bergerak.
“Aku harap. Bukankah kau jatuh cinta padanya dan memilih menikmati jatuhmu?”
Devi terhenyak. Diam diam, kedua tangannya bersembunyi di balik punggungnya. Perlahan dilepasnya sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. “Ya, aku sangat menikmati jatuhku dan terpuruk saat kau langsung meninggalkanku,” jawab Devi, mencoba mempertahankan intonasi suaranya.
Jim maju selangkah. Ia kini kembali sibuk mengamati televisi yang sengaja dinyalakan  tanpa suara. Devi menyusupkan tangannya pada saku blazer merah marun yang ia kenakan. Diletakkannya hati-hati cincin pertunangannya. Ia tidak mau Jim melihat cincin itu, dan semakin membencinya. Ia berharap besar pada pertemuan siang ini.
“Bagaimana kabar pasanganmu itu? kalian tidak lagi menggemparkan dunia pergosipan bukan?”
“Itu sudah lama berakhir Jim. Tiga tahun yang lalu. Kau salah besar jika mengira keputusanmu meninggalkanku sangat tepat.”
“Aku masih mengira begitu sekarang..”
Devi tertawa kering, “betapa naif Jim.. kau pikir kau sudah berhasil melalui tiga tahun ini dengan sempurna? Dengan menutup semua akses dariku, dengan stok kebencian yang menumpuk, dengan tanpa maaf sedikit pun... kau pikir, kau tangguh?”
“Lantas kau pikir kau hebat sudah berhasil membuatku merasakan kebencian yang mendalam?”
Tiba-tiba sorot mata Devi meredup, berganti warna, memerah.
“Aku minta maaf.. maaf, Jim,” ucapnya lirih, tercekat.
Jim kembali fokus ke televisi sekarang. Rahangnya mengeras, kedua tangannya yang terlipat tampak begitu kaku. Devi menunduk, mencengkeram cincinnya yang terasa dingin di dalam saku blazer. Tiga bulan yang lalu ia bertunangan, dengan teman lama Devana. Kedua belah pihak keluarga bergembira, merayakan pesta pertunangan dengan penuh suka cita. Tidak pernah sedikit pun ia membayangkan dirinya akan menikah dengan calon pilihan keluarganya. Bertahun-tahun lamanya, imajinasinya berkelana pada lelaki-lelaki yang ia temui sendiri. Mereka yang mencintai Devi, namun selalu berpamitan pergi meninggalkannya.
Dulu ia sempat berpikir, suatu saat lelaki yang tepat itu pasti datang. Lelaki yang akan memperjuangkannya. Lelaki yang tangguh. Ia pikir, Dani bukan lelaki yang tangguh. Dani sama sekali tidak perlu repot-repot merebut perhatian keluarga Devi karena memang mereka telah lama saling mengenal. Dani juga tidak perlu susah payah merebut perhatian Devi, karena Devi tidak berselera untuk kasmaran dengannya.
Rasanya, pertunangan itu hambar baginya.
Empat orang lagi sebelum Devi akhirnya menyelesaikan urusannya dengan teller bank. Devi memandangi diam-diam kaki Jim.
Tiga orang lagi sebelum Devi akhirnya menyerahkan sejumlah uang yang akan ditransfer. Devi menghirup lama-lama aroma parfum bercampur keringat Jim yang masih sama sejak lima tahun yang lalu.
Dua orang lagi sebelum Devi akhirnya berhasil menjalankan budaya antri yang tertib. Devi memandangi bahu Jim yang tegap. Ia ingat, bahu di depannya selalu ada dulu saat ia butuh menangis, butuh melepas penat, dan untuk menggantung mimpi bersama.
Satu orang lagi, dan orang itu Jim.
Devi maju dua langkah, jaraknya sangat dekat di belakang Jim.
“Selamat siang, bisa saya bantu Pak Jim?” tanya seorang teller berparas cantik dengan riasan wajah sempurna.
“Bantu saya mencari wanita yang tidak pernah suka dengan bunga bank,” jawab Jim lancar. Ia letakkan sebuah amplop merah di meja teller.
Devi tertegun. Sang teller merona pipinya. “Ssst.. Jim, kau usil lagi. Pergilah, nanti manajer-ku menangkap basah kita,” bisiknya sambil tersenyum malu.
“Baiklah. Aku tunggu jam 12 di tempat biasa, see you,” Jim berbalik, lalu pergi, tanpa repot-repot menganggap Devi ada di belakangnya.
Beberapa teller yang lain terkikik melihat temannya masih bersemu merah.
“Selamat Siang, Bu. Bisa saya bantu?”
“Siang, Faza..” sapa Devi, memaksa senyum tertulusnya hari ini. ia letakkan sejumlah uang berserta sehelai blanko di meja teller.
Teller tersebut tertegun, lantas ia pun tersenyum simpul sembari melongok sekilas pada papan nama yang tergantung di seragam kerjanya.
“Silakan tanda tangan di sini Bu Devi..” Faza menunjukkan area kecil blanko yang kosong. Devi menunduk, meraih sebatang pena.
“Terimakasih. Ada lagi yang bisa saya bantu?”
Bisakah saya menitipkan rindu saya ke Jim padamu?
Devi menggeleng cepat. Ia segera beranjak dari sana, sebelum air matanya berhasil meluruh jatuh.

Yogyakarta, 230912
Menghibur diri dengan lakon








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...