“Sob, ayo kita mengobrolkan rasa kangen.”
Ajakanku itu membuatnya tersedak. Cepat-cepat ia menyingkirkan
laptopnya. Ini bukan kesekian kalinya ia tersedak oleh omonganku yang sering
menjebak. Ia bilang begitu.
“Kampretlah! Kau menjebakku. Kau yang gundah, kenapa aku yang
melakukan pengakuan dosa?” tuntutnya, geram. Biasanya begitu. Setelah aku
berhasil membuatnya kebingungan dengan bahasan soal teori, hukum alam, sampah
daur ulang, mahkamah konstitusi, dan pertumbuhan musik indie, ia pun sudah
habis dua botol bir. Lalu setengah teler, menceracau. Keluarlah sudah sampah
serapahnya.
“Baiklah. Jawab pertanyaanku tanpa kau perlu bertanya balik.”
Aku tersenyum simpul. Ia sudah mengambil langkah maju untuk
antisipasi acara pengakuan dosa.
“Apa itu, Sob?”
“Itu pertanyaan!”
“Ah, iya! Maaf, maaf. Aku sepakat dengan aturan sesi ini.”
Ia menjeda sejenak. Menunggui layar laptopnya meredup lalu gelap.
“Jadi kau tengah kangen seseorang?”
“Sepertinya.”
“Kau nggak yakin dengan kangenmu.”
“Itulah kenapa aku ajak kamu membahasnya.”
“Kampret.”
“Kangen memang seperti kampret, Sob.”
“Kau mengharapkan aku sebagai apa sekarang? Penetralisir kangen? Pengurai
kangen?”
“Hm, sebentar. Aku pikir dulu,” kataku sambil menyenderkan punggung
ke tembok kamar.
“Aku butuh kau menjadi pembasmi kangen.”
“Susah itu. Kangen bukan penyakit.”
“Tapi aku dibikin lemas lho gara-gara kangen.”
Ia menatapku, agak iba. “Sob, kasihan banget hidupmu. Sudah jomblo,
merasakan kangen, tapi tidak tahu kangennya untuk siapa.”
Aku tergelak, keras.
“Ah, suram deh. Yuk, beli indomie. Aku lapar,” putusku, menyudahi
topik kangen seraya bangkit dari duduk.
“Aku nitip ya!”
“Kau yang masak.”
“Beres.”
Kemudian aku segera merogoh lembaran uang kusut di saku jaket dan
melangkah pergi.
Aku menyusuri sebuah gang sempit menuju warung mungil di ujung gang.
Tidak kutemui seekor kucing pun untuk kujahili. Aku tidak menemukan apa pun,
kecuali bau selokan yang tak sedap.
“Aku kangen kamu.”
Aku lari sekencang-kencangnya. Suara bisikan itu sontak membuatku
terbirit-birit. Suara halus perempuan, suara tanpa wujud fisik.
“Hosh.. hosh.. hosh.”
Aku ngos-ngosan di depan pintu rumah.
Ia memandangku keheranan. “Kangen bikin sehat ya?” komentarnya.
Spontan kupeluk tubuhnya. “Eits! Apa-apaan ini?!” pekiknya, kaget.
“Hosh.. hosh.. hosh.. aku butuh.. hosh.. peredam hosh..” ujarku di
sela sela sengalan nafas.
“Ada apa sih?” tanyanya penasaran, setelah indomie porsi dobel aku
tandaskan.
“Ada hantu di jalan tadi.”
“Terus?”
“Ya, aku takut dong.”
“Seperti apa detilnya?”
“Ia mendesis di samping kupingku. Bilang kalau ia kangen aku.”
“Hiii…!” pekiknya tertahan. Tapi lima detik kemudian ia merengut.
“Ngaco! Mana ada hantu yang kangen elu. Bohong lu!”
“Suer! Masa’ aku akting jogging tadi?”
“Yah.. tapi nggak masuk akal kalau ada hantu tiba-tiba berbisik
begitu.”
“Keberadaan hantu itu sendiri udah nggak masuk akal, Sob. Kita nggak
bisa dong melarangnya bisik–bisik soal apa. Kurasa ini sesuai konteks. Hantu
tahu apa yang sedang dipikirkan manusia. Contohnya, hantu yang suka nyamperin
pedagang sate keliling. Dia akan bilang, Bang, sate dua puluh tusuk ya..”
“Kampret lu!” umpatnya sambil melempar sekotak tisu ke wajahku. Kami
terbahak bersama.
Suara tawa kami memenuhi udara dapur yang pengap. Kami menghangati
setiap ruang di rumah ini dengan tawa, dengan topik-topik random, dengan segala
hal yang bisa membuat kami saling terhibur. Hingga akhirnya ia memutuskan
pindah.
“Kau tahu kan, aku nggak enak sama kalian berdua, kau dan Robi.
Terutama kau, Sob!” tuturnya dengan raut wajah memelas.
“Aku nggak keberatan kalian pacaran di rumah ini.”
“Tapi kau akan terganggu.”
“Aku bisa masuk kamar, nonton film, main game—”
“Kita sama-sama butuh privasi, Sob.”
“Oke. Aku paham.”
“Aku pergi ya?”
Setelah itu rumahku menjadi sesenyap gang sempit yang menuju warung
kelontong. Bahkan tak ada kucing yang mau mampir lagi kemari. Kulkas melompong,
tabung gas penuh, bungkus mie instan sekali seduh berserakan, kolong tempat
tidur berdebu, dan lampu kamar mandi mati. Rumah ini seperti kehilangan gairah
hidupnya. Maksudku, aku yang kehilangan gairah hidup di dalam rumahku sendiri.
Lebih sering aku tidur di kos atau di kontrakan teman.
“Carilah pacar, Sob,” sarannya via telepon genggam. Aku
menghubunginya setelah tiga bulan tak bersua. Aku menanyakan dimana satu set paku dan palu ia
simpan. Aku tidak dapat menemukan perkakas itu di gudang.
“Aku mau cari pacar yang berprofesi jadi tukang kayu ya, Sob,”
ujarku, lemah.
“Ngapain? Carilah yang keibuan dan yang bisa masak banyak variasi
menu. Yang rajin mengepel dan bersih-bersih kebun belakang.”
“Kok jadi kedengeran aku butuh asisten rumah tangga ya?”
Ia terkikik.
“Nggak. Kau lebih butuh baby sitter. Kurang kasih sayang lu!”
“Robi gimana kabar?” tanyaku mengalihkan topik.
“Oh, dia lagi ada pelatihan di luar kota dua minggu. Gila, lama
banget deh. Kangen setengah mampus gua.”
“Enak ya, ada yang bisa dikangenin,” komentarku nyinyir.
“Kau nggak kangen siapa-siapa, Sob?” tanyanya.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Emang kangen perlu direkayasa?”
“Tapi kangen bagus buat kesehatan,” serunya, meyakinkan.
“Ah, siapa bilang. Bikin lemes. Ga’ napsu ngapa-ngapain.”
“Kangen bikin kau jadi merasakan sisi kemanusiaanmu,” bisiknya,
dengan nada bijak.
“Aih. Berat banget sih omonganmu.”
“Eh, aku serius.”
“Hm. Iya deh, kupertimbangkan buat kangen malam ini.”
“Nanti laporan ya?”
“Ya.”
Keesokan harinya, aku merasa harus mengirim laporan.
“Siapa? Siapa yang berhasil kau kangenin?” tanyanya antusias.
“Nggak ada.”
“Lho, kok?”
“Aku mau melapor kalau kangen itu cuma kamuflase dari suasana sepi.
Kemarin aku nongkrong di bar. Pesta dengan banyak orang. Aku tidak perlu merasa
kangen.”
“Oh, begitu.”
“Kalau kau kangen Robi, biasanya apa yang kau lakuin?”
“Telepon, kirim sms, chatting…”
“Menulis surat pernah?”
“Belum. Nggak kepikiran.”
“Sepertinya seru, lho.
Surat lebih emosional. Banyak yang tak terucapkan jadi terungkap.”
“Semuanya sudah kuungkap deh sama Bobi. Kalau kangen, aku tinggal
bilang kangen atau merengek rengek di telepon. Lagipula kami bukan pasangan
yang romantis.”
“Hm, jadi nggak menarik kalau gitu.”
“Ah! Udah deh, cari cewek sana! Berani taruhan, kau akan cabut
omonganmu.”
Aku tertawa kering. “Nanti aku cari di benua lain saja ya..”
“Kau mau bilang kalau kau—“ suaranya tercekat.
“Ya, aku mau pergi. Beasiswaku lolos.”
Hening sejenak.
“Lho, halo? Sob?”
“Kita harus tetep kontak ya..”
“Pastilah. Apa gunanya facebook dan skype?”
“Ayo adain pesta syukuran sekaligus farewell.”
“Aku nggak suka pesta begituan.”
“Kenapa?”
“Aku nggak suka liat orang nangis.”
“Bagus deh. Sekarang lu juga nggak bisa liat aku mewek saking
bahagianya.”
Giliran aku yang tercekat
***.
Dua tahun kemudian terasa begitu cepat. Aku kembali dengan berat
hati dan gamang. Aku disambut sepucuk undangan pernikahan. Sob terbaikku akan
menikah minggu depan, di saat aku masih ingin melampiaskan rasa kangen pada
masakan mama dan mencium ubun-ubun keponakan tanpa jemu-jemu. Tapi kakakku
menyarankan aku tetap datang ke pesta pernikahannya. Biar aku kecipratan dan
segera menikah pula. Ide yang konyol. Keinginan menikah semakin pudar tertelan
keriuhan dunia. Terlebih setelah kutinggalkan Lorenza di desa perkebunan anggur
merah di benua lain.
“Kabarnya Sobku yang makin keren ini sudah balik,” ujarnya cerah di
telepon genggam.
“Oleh-oleh sudah habis.”
“Ih, jahat sekali.”
“Oleh-oleh hanya untuk pengantar dan penjemput di bandara.”
“Oh, aku paham. Masih sakit hati nih ye, yang dulu nggak diantar ke
bandara.”
Aku tertawa. Ia tetap sama.
“Ngopi yuk,” ajaknya.
“Nggak lagi ribet nyobain gaun pengantin?”
“Udah beres, kok. Aku perlu kabur sebentar dari aneka kerepotan
kampret pesta akbar penyatuan dua keluarga ini.”
Aku kembali tergelak. Kali ini suaraku pecah di dalam kamar, hingga
tidur keponakanku terusik, lalu ia menangis.
“Kasihan sekali. Oke, ayo ngopi. Aku yang traktir.”
“Dengan senang hati.”
Jadi, akhirnya kami bertemu setelah tiga tahun lamanya. Setahun
sebelum kepindahanku ke benua lain, kami sudah tidak pernah bertemu. Meski
kepindahannya dulu masih di satu kota yang sama, tapi hanya telepon yang
menautkan kami berdua.
“Apa yang paling kau kangenin dari negeri ini?” tanyanya. Ia nampak
cantik dengan blus berkerah tumpuk. Rambutnya kini terurai panjang sempurna.
Wajahnya berpoles kosmetik. Ia merawat dirinya. Bukan lagi pecandu indomie yang
memiliki banyak bintik komedo hitam di ujung hidungnya.
“Presiden yang buruk kinerjanya.”
“Ya ampun…!” komentarnya sambil menahan sebal.
“Aku becanda. Aku sudah berhasil kangen kok.”
“Selamat!”
“Kangen jalanan yang macet, selokan yang bau, koneksi internet yang
lemot, dan omelan tetangga kita dulu setiap pagi.”
Ia hanya geleng-geleng kepala. “Kangenmu nggak mainstream, Sob.”
Aku tertawa. Dan kemudian pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja.
“Jawaban apa sih yang kau tunggu dariku soal kangen?”
Ia terhenyak. Lalu menyibak rambutnya dengan luwes. Air mukanya
berubah. Resah.
“Aku justru bertanya-tanya, apa yang bikin kita harus berbelit-belit
membicarakan perihal ini,” ungkapnya.
“Aku nggak tahu. Semua topik yang sering keluar dari mulut kita asal
saja kan?”
“Aku lelah, lho.”
“Lelah? Maksudmu lelah dengan perbincangan soal kangen?”
“Iya. Karena kau nggak pernah terbuka soal yang satu ini.”
“Jadi nggak sederhana ya?”
“Bener banget. Aku cuma penasaran selama ini…” ucapnya menggantung
di udara beraroma kopi pekat. “Kau pernah kangen aku nggak sih?” pungkasnya,
cepat.
Akhirnya.
“Aku kangen Stella Artois.”
“Siapa? Pacarmu di sana?” tanyanya curiga.
“Bukan,” aku tertawa melihat raut mukanya yang kekanak-kanakan.
Ekspresi demikian yang dulu selalu kujumpai tiap hari.
“Itu merek bir di sana. Nikmat betul.”
Sob terbaikku itu mendengus. “Aku ke toilet sebentar..” pamitnya,
beranjak pergi.
“Eh, aku kangen semua teman baikku di sini. Termasuk elu, Sob!”
seruku, cukup keras, hingga membuatnya berhenti di jarak tiga meter dari bibir
meja kami berdua.
Ia menoleh, luka menggantung di sudut bibirnya yang melengkung. Ia
paksakan sepotong senyum untukku.
Sekembalinya dari toilet, kami benar-benar tidak membahas kangen
lagi. Persetan dengan topik yang bisa mengacaukan nostalgia sepasang sahabat.
Kami mengobrolkan tentang apa pun hingga pagi. Lalu ia pamit pulang.
Aku tidak jadi memeluknya di parkiran. Aku tidak kepingin hanyut dan
melihatnya menangis pilu. Tapi hatiku remuk redam. Aku resmi menjadi lelaki
pengecut yang menyimpan rasa bertahun-tahun lamanya tanpa pernah
mengucapkannya. Aku akan mati dengan gelar nista ini: lelaki yang merahasiakan
kangen untuk ritual menyiksa diri. Sepanjang jalan pulang aku terus-menerus
mengucapkan aku kangen kamu hingga
sebanyak ribuan kali.
Hingga aku merasa kekenyangan dan lupa jalan pulang ke rumah.
Tiga hari kemudian, ia meneleponku.
“Sob, kampretlah ini. Aku harus mengakui sebuah pengakuan dosa
besar. Ya, aku harus bilang. Ini aku dalam keadaan sadar, Sob. Aku nggak sedang
teler dan ngelantur. Aku kangen mampus sama kamu. Berton-ton beratnya. Aku jadi sesak dan malam
pertamaku rusak. Aku nggak peduli kalau kau nggak sayang aku. Cuma aku perlu
bilang itu saja. Biar lega, Sob. Sudah ya, aku ke pantai dulu.”
Suara Robi yang nyaring memanggil Sobku terkasih.
“Iya, Sob. Selamat berbulan madu ya. Bikin anak yang banyak,”
pesanku, datar. Sekuat mungkin terdengar datar.
Ia tertawa. Mungkin tertawa dan setengah menangis. Mungkin tertawa
untuk menyamarkan tangis di dalam kamar mandi hotel. Mungkin tertawa untuk
menyamarkan tangis dan menahan umpatan di dalam kamar mandi hotel yang mewah.
Mungkin ini terakhir kalinya ia menghubungiku.
***
Benar saja. Ia sudah berusaha keras dan tampak bahagia dengan
sepasang bayi kembar di laman facebook.
Lantas kuputuskan satu hal yang sejak enam tahun yang lalu kupersiapkan.
Kuambil kotak perkakas berselimut debu dari kolong tempat tidur. Di dalam
kotak, selain paku, palu, obeng dan tang, terdapat dua lusin surat cinta tanpa
alamat. Kubawa artefak itu ke kebun belakang, lalu kubakar dengan air mata di
tong sampah.
230814

Komentar