Aku tahu. Ya, aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Pembaca. Aku
berusaha untuk sok tahu. Karena memang aku terlahir sebagai wanita percaya diri
yang kadang tampil sok tahu, menebak apa yang tercetak di pikiranmu. Eh, pikiran kita sama bukan? Setidaknya
agak sepaham. Ini mengenai tempat umum, terpusatnya transportasi publik dan
beginilah hidup kita, nasib menjadi manusia modern. Bergerak ke sana ke mari,
menyusutkan jarak dan waktu demi kepentingan-kepentingan globalisasi. Kita
membuat tempat umum menjadi persinggahan sementara untuk perpindahan yang
nyata, secara spasial, dan tiba-tiba saja banyak kisah yang tertimbun di
dalamnya.
Kau sepakat jika terminal bus menjadi tempat yang romantis?
Kau punya kenangan khusus tentang terminal? Berkaitan dengan
orang-orang istimewa yang kau temui dan kau lepas dengan berat hati di sana.
Hidupku dipenuhi potongan-potongan memori dari terminal bus. Kau
salah, aku bukan bagian dari terminal bus, jika kau berharap aku akan
menceritakan suka duka menjadi kondektur angkutan umum, pedagang asongan atau
pengamen jalanan.
Aku sepertimu.
Salah satu penumpang bus.
Yang hapal betul salam deras dari bibir mereka yang suka
menyorongkan kantong bekas permen atau gelas bekas air mineral ke depan
penumpang berwajah datar seperti plesteran tembok. Yang hapal betul dengan aksi
ringan nan cekatan penjual asongan. Biasanya mereka mengedarkan segepok kacang
telur, kacang mete dan permen jahe dengan melempar sekenanya satu persatu ke
pangkuan kita.
Atau yang biasanya berteriak, “Sayang anak, sayang anak…,” sambil
melempar buku mewarnai, hapalan doa sehari-hari, bacaan sholat, hingga kumpulan
resep makanan nusantara.
Aku sepertimu. Kadang berselera merogoh dompet. Kadang tidak.
Terakhir kali aku beli sesuatu di bus—untuk kenang-kenangan—tasbih
kayu berwarna coklat legam. Harganya sepuluh ribu. Aku beli di Terminal
Bungurasih, di dalam bus menuju Malang, dalam rangka hendak menculik teman yang
tengah mengandung dan sedang ditelantarkan kekasihnya.
Aku menimbang nimbang, apakah aku perlu memberikan tasbih pada
temanku yang malang itu, jika pada akhirnya ia menolak tawaranku, jika ia
bersikukuh memilih kekasih-tak-bermoral ketimbang teman-sok-nekat yang dengan
santai mengajaknya kabur ke Jogja.
Maka, ya, tepat! Tasbih itu untuknya, biar ia simpan agar ia ingat
Tuhan mencoba berbaik hati padanya.
Dan ternyata, Tuhan benar-benar baik padanya.
Ia kini aman, dan bayinya sehat-sehat saja.
Menurutku, terminal menjadi sangat romantis saat seorang kekasih
merasa berat hati melepaskanmu di dalam bus. Aku pernah mendapati yang
demikian. Seorang lelaki duduk di sampingku hanya untuk beberapa menit yang
singkat, merasai jok kursi bus yang nyaman dan ia tampak begitu ingin
menemaniku dalam perjalanan. Lalu sang kondektur bilang, bus mau berangkat. Mau
tak mau, ia turun dan melambai di samping bawah bus. Aku bisa melihat
punggungnya menjauh dan semakin menjauh menuju tempat parkir. Saat lampu bus
dimatikan—aku biasa naik bus tengah malam—kegelapan yang menemaniku pulang
membungkus rindu dengan hangat, sehangat handuk tebal yang telah direndam di
air termos. Seolah aku bagian dari bus antar provinsi yang melebur dengan
hasrat ngebut sang sopir, dengan
beberapa kali guncangan serta salipan, dan dengan makanan yang tidak pernah
betul betul lezat di perjalanan, aku pasrahkan jiwa ragaku dalam kendali sopir
bus.
Aku bisa menangis dalam bus. Ini
rahasia, ya. Maksudku, mataku bisa berair dan aku tak perlu khawatir seisi
bus melongok penuh tanya ke arahku.
Tidakkah itu romantis?
Menurutmu apakah jauh lebih romantis stasiun?
Berapa kali kau menjumpai stasiun sebagai bagian dari kisah cinta
klasik?
Leo Tolstoy perlu menggambarkan beberapa adegan romantis kelam nan
suram di stasiun. Anna Karenina, bangsawan cantik Rusia dalam rekaan Tolstoy
harus jatuh cinta dan mati di antara dinginnya jelujur rel.
Kau masih bisa mendapati gaya klasik dari arsitektur stasiun yang
usang namun semakin artistik. Jam dinding kuno yang masih awet berdetak,
lengkungan pintu dan kusen jendela tua tapi mengilap karena dicat rutin, peron
peron yang tegar dan angkuh, serta atap memanjang yang memayungi beberapa ruas
rel yang tak pernah lekang digerogoti zaman. Tapi terlepas dari dorongan
arsitektur stasiun yang membentuk suasana melankolis, aku pernah melihat
sepasang kekasih berpelukan hangat di sana. Aku juga pernah menyusupkan
tanganku dari celah jendela untuk bersentuhan dengan tangan seorang pemuda yang
berat hati melepasku.
Tidak, tidak seperti yang
kau bayangkan. Ada adegan sang lelaki mengejar
kereta yang mulai berjalan lamat lamat, ditingkahi desisan cerobong lokomotif
dan sempritan petugas kereta api… lalu sang wanita mengibarkan sapu tangannya
yang tertiup angin. Dan bulir air mata terbang ke mana-mana.
Maaf, tidak sedramatis itu. Aku yakin, Anna Karenina juga tidak akan
senorak itu. Dan lelaki yang mengejar kereta yang berisi pujaan hatinya
hanyalah laki laki yang putus asa dalam kesia-siaan total. Bagaimana mungkin
seorang lelaki modern membalap kereta api yang mampu menabrak apa pun yang
melintas di depannya, meremukkan bongkahan kerangka kendaraan bermotor dan
memotong motong tubuh manusia? Meski ya, aku berani bertaruh adegan seperti itu
tidak sepenuhnya khayalan pengarang yang serba memuja bunga-bunga perpisahan.
Hm, jika bus membuatku lebih leluasa untuk mengeluarkan air
mata—didukung dengan kegelapan yang hangat—kereta tidaklah demikian. Aku nyaris
putus asa, karena berkali kali belum pernah menemukan teman duduk seperjalanan
yang asyik. Biasanya, aku akan teronggok di sudut jendela, menatap tak bosan
bosan sawah dan permukiman alih alih mati bosan dengan buku bacaan atau ponsel
yang senyap.
Terakhir kali aku naik kereta api, aku bahkan harus membawa diriku
sendiri ke stasiun. Tidak ada yang mengantar apalagi memandangku dengan mata
berkaca kaca. Tapi itu bukan adegan paling menyayat yang pernah kualami di
stasiun.
Adegan-melankolis-di-stasiun yang paling membuatku tabah hingga hari
ini adalah kenyataan bahwa seorang laki laki yang kutunggu tidak menemuiku di
stasiun setahun yang lalu. Ia harusnya datang dengan membawa tiket yang
berisikan nomor kursi di sebelah nomor kursiku, yang kuselipkan dalam secarik
amplop lalu kumasukkan di dalam kotak parcel yang kubingkiskan padanya.
Dan ia tidak hadir, bahkan untuk berucap “maaf, aku tidak ingin liburan bersamamu”.
Ia tidak hadir, bahkan untuk menampakkan ujung hidungnya atau
sekadar memamerkan punggung yang berbalik arah setelah mengembalikan tiket yang
sengaja kubeli untuknya.
Ia tidak hadir, bahkan tanpa perlu merasa repot-repot mengirimiku
sepotong pesan singkat.
Jadi, di tengah tengah ketidakhadirannya, dan kebetulan kereta malam
itu terlambat hadir, aku terduduk seorang diri dengan ransel dan tas
menggelembung, dengan sepasang kaos kaki oranye, dengan baju abu-abu, dengan
jaket bintik bintik kecil, berusaha tegar dan ceria. Bagaimana pun hadir
tidaknya ia dalam perjalanan kali ini, aku tetap berangkat berpetualang seorang
diri ke barat.
Ketidakhadirannya di stasiun membawaku pada suatu keyakinan bahwa ia
yakin aku baik baik saja tanpa ia terpaksa menemaniku dalam perjalanan panjang.
Ia yakin aku akan selamat sampai di tujuan seorang diri. Ia yakin… aku wanita
paling dramatis yang membodohi diri sendiri dengan cara cara ajaib yang membuat
beberapa orang tak sabar menunggu akhir ceritaku. Diam-diam mereka penasaran.
Diam-diam mereka geli melihatku tampak begitu keras kepala menggantungkan mimpi
pada lelaki yang membeku senyap.
Malam itu, aku tidur meringkuk memeluk ransel di gerbong kereta api
yang terang benderang. Ibu ibu di sebelahku dengan pongah merentangkan kakinya
dan menduduki kursi yang kupesan jauh jauh hari untuk lelaki yang tak kunjung
hadir. Aku tidak kuasa protes. Aku tidak punya bukti, selain hati yang berlubang
dan beberapa balok batu bata yang kususun untuk memagari lubang itu.
Pembaca yang budiman, tibalah kita membayangkan adegan apa yang
terjadi di bandara. Sesuai dengan judul kisah di atas, marilah kita sama sama
melukis keindahan yang tercipta di bandara.
Hari ini pertama kalinya aku mengantar seseorang ke bandara. Adegan
menjadi lumayan romantis, karena ia menggenggam jemariku, seperti layaknya
seorang kekasih menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Di tengah lalu lalang
orang di depan pintu gerbang keberangkatan, ia menautkan jemarinya.
…..Lalu melepasnya.
…..Lalu melangkah masuk menuju loket yang bertugas sebagai tempat
mencetak tiket dan mencocokkan kode penerbangan.
…..Lalu punggungnya menghilang.
…..Lalu… begitu saja.
Ia tak menoleh, tak melambaikan tangan, atau melempar senyum sedih
padaku.
Aku dilanda sensasi pusing. Alasanku: aku belum sempat makan nasi,
siang sangat terik, bandara terlalu riuh, dan ia pergi ke luar pulau selama
seminggu.
Tertawalah.
Kau menduga ia adalah kekasih yang akan meninggalkanku dalam waktu
yang sangat lama?
Sayangnya, ia bukan kekasihku dan ia hanya perlu kerja lapangan
beberapa hari di luar pulau.
Kau berharap adegan yang tercipta adalah aku menahannya, terisak
isak dalam pelukannya atau setidaknya ia mengusap kepalaku sambil
berbisik—berjanji akan lekas kembali?
Sayang sekali, yang ia pastikan hanyalah keberadaan karcis parkir
motor dan berpesan supaya hati hati di jalan.
Dan aku perlu beberapa waktu untuk menstabilkan sensasi pusing
sembari menunggu ia sedikit romantis dalam percakapan di aplikasi obrolan di
ponsel. Ia tiga kali mengucapkan hati-hati di jalan, seolah risiko kecelakaan
lebih besar saat kita mengendarai motor daripada naik pesawat. Ia mengucapkan, aku tunggu cerpen barumu, seolah olah
aku memutuskan duduk duduk sejenak di depan stand churros—kudapan sosialita yang sedang trend—untuk mencari
inspirasi, menggali ide cerita.
Ia menjadi manusia yang tiba-tiba menyatu dengan ritme bandara.
Fakta ini membuatku terdiam sejenak. Dan aku terdampar pada suatu
ketidakberdayaan yang pahit, aku asing di bandara. Tersisih dari gejolak luapan
antusiasme orang orang di sekitarku. Terasing dari gerak tubuh
anggap-saja-rumah-sendiri orang orang di sekelilingku.
Aku bingung melihat lusinan koper warna warni berbagai ukuran
berderet di seberang kiriku. Aku membayangkan rombongan dari mana yang akan
pergi atau baru datang yang sangat kaya untuk menyewa separuh kabin pesawat.
Aku bingung melihat seorang wanita berjilbab lebar tergesa gesa mendorong troli
kosong, dan ternyata ia menghampiri suaminya yang sedang menyodorkan kotak
barbie pada sang anak. Aku lihat, mereka sekeluarga menghampiri gerbang
keberangkatan. Troli kosong tadi langsung penuh dengan dua koper besar dan
empat kotak kardus yang ditumpuk. Mengapa sang anak harus dihibur dengan mainan
baru jika ia pun memakai ransel dan ikut pergi bersama orangtuanya?
Aku bingung melihat sebuah rombongan terdiri dari enam orang yang
sedang tertawa tawa, berfoto di seberang kananku. Ternyata, hanya dua orang
yang akan pergi, dan yang lain semacam kerabat yang melepas kepergian mereka
dengan mengambil foto bersama lalu melambai-lambaikan tangan. Mengabadikan
perpisahan rupanya.
Tapi aku tidak bingung melihat seorang gadis di sebelahku memasang
tampang suntuk. Sepasang earphone menyumbat
telinganya. Akhir-akhir ini, entah di terminal maupun stasiun aku sering
mendapati tampang-tampang khas demikian.
“This is my first time I
take someone to…”
“to the airport,” sambungnya cepat.
“Ya.”
“Mengharukan,” komentarnya pendek. Pukulan lemah melayang ke
lengannya yang berotot. Aku putuskan bahwa baru saja ia meledekku.
Tapi, apa yang sebenarnya ia imajinasikan hingga mengeluarkan kata
‘mengharukan’ dari perbendaharaan kosa katanya?
Ia berkali kali naik pesawat, mulai antar provinsi, antar pulau,
hingga antar benua. Ia berkali kali melewati gerbang keberangkatan dan
kedatangan dan sangat hapal mekanisme pelayanan bandara. Ia berkali kali datang
dan pergi dari bandara ini, sendiri atau dengan kekasih, oh ya, atau dengan
mantan kekasih, dan tambahkan sekarang, atau dengan teman yang tampak seperti
kekasih.
Aku bingung harus membingkai kenangan di bandara dengan warna apa.
Aku bahkan tidak mengantar orangtuaku ke bandara saat mereka naik haji. Memang,
empat bulan yang lalu aku menjemput sepupuku di bandara ini, dan dua bulan yang
lalu untuk pertama kalinya aku naik pesawat dan menginjakkan kaki di bandara
ini dalam rangka urusan kemanusiaan yang tak elok aku ceritakan di sini. Tapi
semua serba terburu-buru dan aku tidak punya waktu berlama lama menikmati
pemandangan di bandara. Bagiku yang selalu mudik dengan bus atau kereta api,
pemandangan ini langka dan mewah.
Jadi omong-omong, fenomena apa yang telah terjadi di bandara tadi
siang?
Rekan kerja mengantar rekan kerja yang lain untuk kerja lapangan?
Teman baik yang mengantar teman kerennya untuk pergi ke luar kota?
Atau, seseorang yang sedang menyiapkan mental menjadi kekasih dari
seseorang yang sering ke bandara?
Tiba-tiba aku cukup terpukul mendapati kenyataan bahwa ia
kemungkinan besar akan ke luar benua enam bulan ke depan. Memang, diam-diam aku
sempat membayangkan hal itu terjadi. Mungkin akan terjadi beberapa kali pelukan
erat dengan degupan jantungnya yang sangat dalam menembus dadaku. Mungkin akan
ada beberapa sendok airmata dan sepotong bingkisan dan sepasang mata sembab.
Tapi, mungkin semua adegan itu sudah ia lampaui jauh sebelum bertemu denganku.
Tidak ada yang mengesankan yang melekat di diriku dan bandara tadi
siang, yang harus ia masukkan dalam kategori kenangan-yang-perlu-dipertahankan.
Ia mungkin justru telah melalui pengalaman yang lebih romantis yang belum
pernah ia tuturkan padaku mengenai bandara. Kecuali, ah ya, trauma ketinggalan
pesawat karena sibuk menjernihkan hubungan dengan mantan kekasih.
Jadi, apa aku cukup mengharukan dengan segala kenorakan ini,
Pembaca?
Apa kau sepakat bahwa bandara menciptakan ilusi yang terlampau
utopis mengenai drama drama yang kelewat dramatis?
Astaga, jangan-jangan aku adalah bagian dari kaum yang selama ini
mengagungkan bandara sebagai tempat perpisahan yang adiluhung.
Tunggu! Jangan-jangan kau juga telah terperdaya narasi pop yang
bertaburan dalam novel dan film mengenai kesakralan sebuah bandara atas nama
puncak perjuangan cinta.
Jangan-jangan pula, temanku tadi telah berhasil melepaskan diri dari
bekapan kabut ilusi bandara yang memabukkan dan hanya memandang bandara
selayaknya halte bus yang biasa-biasa saja. Karena ia tak pernah memintaku
mengantar atau menjemputnya ke bandara. Jadi, tak menarik diantar seorang teman
yang kemudian mendadak pusing melihat hilir mudik orang berbagai rupa. Toh,
jarak rumah dan bandaranya hanya sejengkal jalan raya.
Aku masih terduduk di bangku panjang dan bercakap melalui aplikasi
kotak obrolan di ponsel dengannya. Kami hanya disekat dinding, dan jadwal
penerbangnnya masih satu jam lagi. Ia sibuk berkonsentrasi dengan urusan riset
yang tampak serius di akhir pekan.
“Bandara kejam ya,” ketikku, menyadari keangkuhan sistem pelayanan
yang memisahkan semena mena dua manusia yang masih ingin berdekatan.
“Buanget,” sambungnya.
Entah, mungkin ia sedang merujuk ke koleksi kenangan yang paling
getir atau sedang merujuk dengan nyinyir pembangunan bandara di suatu pelosok
kota ini, yang katanya mendapat banyak penolakan petani, yang bisa
kubayangkan—kali ini tanpa perlu kebingungan—bagaimana pahitnya para petani itu
harus menyaksikan lalu lalang para turis dan calon penumpang, yang penuh
kepercayaan diri menyeret koper koper berwarna warni, yang heboh sendiri dengan
keriuhan atas ritual menuju langit.
Nyeri kepalaku sudah agak mendingan,
saatnya pulang. Meninggalkan bandara yang berbalut ilusi-romantis. Meninggalkan
kawanan burung yang hendak terbang serombongan menuju kaki langit. Cepat atau
lambat, aku akan bergabung, dengan atau tanpa jepretan kamera di depan papan
penunjuk arah. Namun sebelumnya, kuubah dulu judul manis di atas menjadi Pengantar di Depan Bandara.
Judul ini lebih sesuai
dengan citarasamu, tidak?
Jogja, 010614, ini untuk
TNKS.
Kapan lagi aku menulis
untuk Taman Nasional?

Komentar