Ajarkan padaku bagaimana kau menanam airmata
yang lupa bagaimana caranya ‘tuk berbunga.
Waktu ialah tanah yang pantang kerontang, katamu,
ditumbuhkannya benih hujan pada keabadian.
Ajarkan padaku bagaimana kau menggembur menyubur
melankolia karbitan
yang membusuk sebelum waktunya berbuah.
Kelak bolehkah aku membantumu menuai bahagia
yang mungkin saja selamat dari serbuan hama?
Jangan berharap pada musim yang penyaru, katamu,
menunggu bukanlah bagian dari seni bercocok tanam airmata.
Maka musim panen yang kau banggakan itu
hanyalah ragu
yang meranggas di layu matamu.
Hei petani sunyi, tahukah kau bahwa istirah ketika lelah
hanya akan membuatmu
terbakar gersang di kebun dukamu?
Bersiaplah memangkas doadoa yang tumbuh liar di balik capingmu.
Tangismu ialah bunyi bagi matahari
yang terisak lebat di subur kebunmu.
Aku mengerat nyeri di kejauhan, menutup telinga
dari teriakan cangkulmu.
Ulat dan bulu berpesta di bayang bulu matamu,
hujan berdiri gemetar di celahcelahnya.
Punggungmu liat menggelap,
jejak kenangan melumpur di bilur lukamu.
Tak usah meneduh matahari dari hujan
ketika rindu t’lah pandai menyimpan sayupnya sendiri
pada rerumputan.
Ini ada sebiji mimpi, kataku, tanamlah di musim berikutnya
agar kau punya tanaman yang ‘kan mengajarkanmu
bagaimana caranya tidur nyenyak.
Jakarta, 14 Januari 2016
Komentar