Langsung ke konten utama

Menjelang Waktu Pulang

Ada masanya ketika lidah tak lagi peduli rasa makanan
yang tak jelas mana asin
mana pahit
mana pedas.
Manusia makan hanya untuk bertahan hidup;
pun manusia berbahagia agar siap bersedih lagi di satuan waktu berikutnya.
Toh kau tetap saja mengajakku makan,
di suatu kafe murah di tengah riuh kota, mengenang
masa muda yang tergesa
tergelincir dari jemari kita yang penuh noda tinta dan bilur luka.

Ada masanya ketika gelisah tak lagi menyembunyikan diri
di balik kaca helm dan senyum palsu.
Katakata mengoyak kesedihan di udara,
terbentur denting garpu dan gelas berembun.
Di luar jendela ada pohon berbunga kuning seperti di halaman Fakultas;
di dahannya tergantung mimpimimpi
yang tak pernah kita beri nama.
Aku pernah punya satu bibit pohon itu, lalu hilang
ke mana entah, seperti juga cinta yang enggan kusimpankenang.

Di setapak berbatu itu, sayangku,
pada malammalam gelap mencari semangkuk kebahagiaan.
Telur dadar terlempar jauh dari teflon
dan mendarat di permukaan langit
: kau sebut itu bulan dan kusebut itu lengkung senyuman.
Hidup sudah kepalang brengsek jika hanya dihabiskan dengan
tidur dan makan enak lalu mabuk seperlunya di akhir pekan, tetapi
ada tagihan yang harus dibayar dan bayibayi yang perlu diberi makan.
Manusia pada akhirnya berhenti menjadi kanakkanak
dan mulai bekerja agar mampu membeli obat pereda nyeri.
Kurasa kita harus berhenti mencoba berbahagia
dan jalani saja tiap tajam kerikilnya.

Hari belum usai dan kopi belum tandas,
tapi perempuan tak boleh pulang larut malam, kata ibuku,
dunia penuh orangorang jahat, petaka mengintai di tiap sudut dan bayang jalanan.
Lalu kita tergesa merapikan meja,
membereskan airmata dan tanda tanya yang tercecer.
Lampu kota memudar dalam malam yang hampir tinggi, menanti
pelukan perpisahanmu
atau kacamataku yang buram saat aku menangis.

Pulang? tanyamu.
Rumah ialah di mana saja prasangka dan kebencian
enggan mengetuk pintu, jawabku, bisa kau turunkan aku di sana?

Jakarta, 20 September 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...