Ada masanya ketika lidah tak lagi peduli rasa makanan
yang tak jelas mana asin
mana pahit
mana pedas.
Manusia makan hanya untuk bertahan hidup;
Manusia makan hanya untuk bertahan hidup;
pun manusia berbahagia agar siap bersedih lagi di satuan waktu berikutnya.
Toh kau tetap saja mengajakku makan,
Toh kau tetap saja mengajakku makan,
di suatu kafe murah di tengah riuh kota, mengenang
masa muda yang tergesa
tergelincir dari jemari kita yang penuh noda tinta dan bilur luka.
masa muda yang tergesa
tergelincir dari jemari kita yang penuh noda tinta dan bilur luka.
Ada masanya ketika gelisah tak lagi menyembunyikan diri
di balik kaca helm dan senyum palsu.
Katakata mengoyak kesedihan di udara,
Katakata mengoyak kesedihan di udara,
terbentur denting garpu dan gelas berembun.
Di luar jendela ada pohon berbunga kuning seperti di halaman Fakultas;
di dahannya tergantung mimpimimpi
di dahannya tergantung mimpimimpi
yang tak pernah kita beri nama.
Aku pernah punya satu bibit pohon itu, lalu hilang
Aku pernah punya satu bibit pohon itu, lalu hilang
ke mana entah, seperti juga cinta yang enggan kusimpankenang.
Di setapak berbatu itu, sayangku,
pada malammalam gelap mencari semangkuk kebahagiaan.
Telur dadar terlempar jauh dari teflon
Telur dadar terlempar jauh dari teflon
dan mendarat di permukaan langit
: kau sebut itu bulan dan kusebut itu lengkung senyuman.
Hidup sudah kepalang brengsek jika hanya dihabiskan dengan
Hidup sudah kepalang brengsek jika hanya dihabiskan dengan
tidur dan makan enak lalu mabuk seperlunya di akhir pekan, tetapi
ada tagihan yang harus dibayar dan bayibayi yang perlu diberi makan.
Manusia pada akhirnya berhenti menjadi kanakkanak
ada tagihan yang harus dibayar dan bayibayi yang perlu diberi makan.
Manusia pada akhirnya berhenti menjadi kanakkanak
dan mulai bekerja agar mampu membeli obat pereda nyeri.
Kurasa kita harus berhenti mencoba berbahagia
Kurasa kita harus berhenti mencoba berbahagia
dan jalani saja tiap tajam kerikilnya.
Hari belum usai dan kopi belum tandas,
tapi perempuan tak boleh pulang larut malam, kata ibuku,
dunia penuh orangorang jahat, petaka mengintai di tiap sudut dan bayang jalanan.
Lalu kita tergesa merapikan meja,
dunia penuh orangorang jahat, petaka mengintai di tiap sudut dan bayang jalanan.
Lalu kita tergesa merapikan meja,
membereskan airmata dan tanda tanya yang tercecer.
Lampu kota memudar dalam malam yang hampir tinggi, menanti
pelukan perpisahanmu
atau kacamataku yang buram saat aku menangis.
Lampu kota memudar dalam malam yang hampir tinggi, menanti
pelukan perpisahanmu
atau kacamataku yang buram saat aku menangis.
Pulang? tanyamu.
Rumah ialah di mana saja prasangka dan kebencian
Rumah ialah di mana saja prasangka dan kebencian
enggan mengetuk pintu, jawabku, bisa kau turunkan aku di sana?
Jakarta, 20 September 2016
Komentar