Dia baru selesai menyelesaikan makan siang, saat kenangan itu meluncur
jatuh dari rak teratas di otaknya. Berdebam. Membuatnya tersentak dan kukunya yang
berkuteks tergelincir dari layar gawai. Tidak ada yang memantik. Tidak ada
lagu, tidak ada aroma, tidak ada sesuatu di hadapannya yang membuat kenangan
itu harus terjatuh. Menggelinding. Menghampiri ujung kakinya.
“Kau pernah mengalami yang demikian?” coleknya pada teman kantor yang
kebetulan melintas di samping mejanya.
“Pernah. Mungkin kamu butuh istirahat sebentar.”
“Tidur siang?”
“Ya,” ujar temannya sambil menunjuk ruangan di sudut kantor yang berkelambu
misterius.
Ia mengangguk. Melangkah menuju bilik rehat. Di dalam bilik tersebut ada
sofa empuk yang dapat direbahkan menjadi kasur lipat. Ia mencoba berbaring.
Kenangan yang menggelinding itu telah dipungutnya dan kini mengeluarkan gas
untuk memenuhi otaknya.
Kenangan itu berisi luka. Ia masih merasakan ngilunya, meski samar. Sesosok
bayangan berkabut muncul. Lelaki yang membuatnya memutuskan untuk bekerja di
kantor, mengenakan kemeja licin dan blazer modis. Kenangan yang terjatuh itu
tentang janji mentraktir es krim di Jalan Jayaranda yang belum sempat ia
tunaikan.
“Janji adalah hutang,” gumamnya lirih.
“Trauma adalah kelemahan,” gerutunya kemudian.
“Pengkhianatan adalah cara membatalkan semua janji,” simpulnya sembari
memejamkan mata.
***
“Apa kau punya agenda sore ini?” tanyanya pelan pada Yas, seorang lajang,
tiga tahun lebih muda darinya.
“Kosong, kecuali dengerin radio di jalan.”
“Cuaca panas sekali di luar. Mau ngemil es krim dulu?”
“Boleh. Aku selesaikan dulu materi presentasi besok.”
Ia tersenyum. Yas yang kalem adalah lelaki yang suka sekali mengomentari
kantong matanya. Yas suka menebak pukul berapa ia tidur. Yas yang akan tertawa
jika ia menceritakan mimpi-mimpi acaknya. Ia tertarik pada Yas.
Dengan sisa-sisa gairah dan tenaga yang baru diisi ulang dan bayangan
mengenai kencan singkat di café gelato yang manis, ia melangkah ringan kembali
ke meja kerjanya. Ia sambut data yang belum selesai ia analisis. Ia letakkan
kembali kenangan di posisi semula. Dan di kabin ia tengah menyusun segala macam
topik segar yang akan menjadi inti sore pembicaraan dua manusia. Dibuai denting
sendok mini. Es yang lembut dan manis akan melumerkan kepenatan. Es yang sejuk
akan menetralkan emosinya.
***
Mereka berdua berjalan kaki menuju café gelato bernama Redberry di Jalan
Jayaranda. Hanya perlu dua puluh menit berjalan ke sana, dua blok dari kantor
yang gedungnya setinggi tiga puluh tiga lantai. Mereka menginjak aspal menjauhi
sangkar. Berjalan cepat sambil sesekali saling mengomentari situasi kota yang
tak pernah sekarat, kecuali jelujur jalan dan ruas-ruas sungainya.
“Kau mengerti, kebodohan terbesar kita adalah menunggu orang-orang yang tak
pernah datang,” katanya sambil melirik baliho kampanye Pilkada.
“Ya, tapi kita tetap menunggu. Salah satu kesibukan manusia adalah
menunggu.”
“Kau pernah merasa putus asa saat mendengar radio dan bersumpah tidak akan
bertemu lagi dengan macet di atas jam lima sore lima tahun mendatang?”
“Tidak pernah. Tidak akan pernah. Ini risiko. Lagipula aku menikmati
kesunyian di tengah rasa frustrasi banyak orang.”
“Kau gila.”
“Sungguh. Meditasiku justru ada di dalam bus kota, berhimpitan, sebelum
yah, aku ambil kredit mobil.”
“Dan kau bisa meneruskan meditasi di dalam mobil berpendingin dan klakson
yang sesekali kau pencet keras?”
“Tidak. Aku pantang membunyikan klakson saat macet.”
“Mengapa?”
“Ini soal ketenangan batin. Menantang kita untuk menjadi penyabar dan
bijak.”
“Ayolah, aku nggak paham.”
“Ya, aku tidak bisa memaksamu paham.”
“Bermeditasi di tengah macet dengan suara cerewet penyiar radio? Kenapa
tidak kau putar lagu rohani atau semacam instrumen-instrumen sendu?”
“Macet dan kebawelan penyiar adalah yin dan yang.”
Ia tertawa keras. Yas berhasil membuat sebuah kenangan konyol terjatuh dari
rak sebelah tengah. Agak berdebu. Tapi menggairahkan saat dibuka bersama orang
lain.
“Bicara mengenai yin dan yang dan kemacetan, aku pernah sangat gila. Kau
jangan bilang siapa-siapa ya. Aku pernah bercinta by phone di dalam mobil saking lelahnya mentalku menghadapi macet.”
“Itu pengalaman yang mengesankan.”
“Tapi sumpah deh, tak kan kucoba lagi.”
“Kenapa?”
Sosok berkabut itu kembali muncul. Menyergapnya di lampu merah. Café
Redberry tampak di seberang, melambai mesra. Tiba-tiba ia merasa sedang
berlari. Terengah-engah. Membawa serta seorang lelaki yang tak menyadari
labirin yang tengah ia masuki. Bagaimana caranya menghentikan kaki yang terus
berlari jika sosok berkabut terus menguntit dan menagih rasa putus asa. Atau
sedikit jejak air mata di bantal. Atau selembar puisi di tumpukan berkas-berkas
kertas kerja. Ia tahu, keliru ia membangun rak-rak susun. Tapi membakarnya
sekarang hanya akan membuat otaknya berhenti bekerja. Jika berhenti, ia tak
akan bertahan di tengah gempuran yang lebih nyata. Tak akan mampu membayar
tagihan apartemen. Tak akan sanggup mengirimi uang kuliah adiknya yang kuliah.
Dan tak akan rela membayar hutang-hutang orang tuanya.
“Karena aku pasti teringat dengan momen yang mengerikan.”
Yas menengok, menahan langkahnya untuk menyeberang. “Ayo kita coba, Nil.”
Café Redberry berteriak, tapi mereka tak menoleh lagi. Yas mengajaknya ke sebuah
gedung tua setinggi 12 lantai. Mereka menaiki tangga darurat sampai berkeringat
untuk sampai ke puncak atap gedung. Yas mungkin tipe yang romantis. Tapi Nil
merasa Yas tengah menguji staminanya. Sepatu hak tingginya harus ia jinjing dan
dengan menahan keluhan, ia merasa sedang menampilkan diri sebagai sesosok
perempuan tangguh sekaligus polos.
Sesampainya di atas gedung yang sunyi, senja belum benar-benar datang. Di
kejauhan pelangi muncul dari bias titik-titik air.
“Ada kebakaran?” tanya Nil, tiba-tiba panik.
Terlihat sisa-sisa asap dari arah tenggara.
“Tidak ada api,” jawab Yas kalem. Punggungnya basah. Kemejanya menjadi
lengket.
“Ada pelangi dan kau sore ini, Nil.”
“Lalu?”
“Kau tidur siang tadi.”
“Lantas?”
“Aku baru pertama kali melihatmu menyerah dan istirahat. Meski aku nggak
yakin kau tidur pulas di bilik rehat. Aku ingin kau berbagi cerita. Cerita yang
mengalir tanpa terbebani pemandangan yang mengerikan. Kau beruntung melihat
pelangi dari sini. Padahal jika kita tadi lihat dari bawah, melintas di depan
gedung yang terbakar, kita hanya akan melihat ketegangan, kesengsaraan,
kehilangan.”
“Aku cuma ingin menikmati semangkuk es krim, mungkin rasa coklat almond dan
sedikit rasa rum raisin. Itu terpikirkan tadi siang di kantor.”
“Dengan siapa kau ingin sebenarnya..?”
“Kau sudah bisa menebak. Tapi itu terlalu menyakitkan jika kusebut.”
“Baiklah. Pelangi masih ada. Es krim masih di bawah sana. Kita nikmati dulu
sore yang ini. Dan aku yang akan mentraktir es krim di Redberry untukmu.”
Nil mengangguk. Ia menikmati pelangi di atap gedung tua tanpa banyak lagi
kata.
“Aku haus,” mereka bersamaan berujar saat pelangi buatan memudar.
Tawa mereka bersamaan. Nil semakin yakin Yas menyukainya. Yas sedang
mengajaknya untuk berhenti berlari dan mengawali olahraga yang baru, naik
tanggu darurat. Hanya saja, ia tak tahu jika Yas mematikan ponsel segera
setelah keluar lift dari sangkar mereka—setelah mendapat pesan bahwa apartemen
yang baru saja ia lunasi untuk kado pertunangan ludes terbakar.

Komentar