Kau berhias bukan untuk ke pesta
–ataukah iya?
Seperti bedak yang tak pernah
cukup tebal untuk sembunyikan bekas airmata
atau keriput tubuhmu yang kian renta;
seperti parfum yang tak pernah
cukup wangi untuk menyamarkan
bau busuk dukacita
menyeruak dari rongga tergelap di ruang dada;
seperti itulah kau akan dipaksa untuk menghadiri pesta
demi merayakan kehidupan yang entah.
Kau bersulang bukan untuk perayaan
–ataukah lelah?
Bukankah kenangan seperti lilin terakhir yang padam di meja perjamuan?
: padanya segala gempita pesta nyata terasa,
padanya kau kehabisan alasan
untuk membedakan mana yang anggur sungguhan
dan mana yang darah penebusan.
Kenangan akan tersisa pada remah terakhir roti perjamuan,
lalu lenyap
terlupakan dalam hidangan dan perjamuan berikutnya.
Tapi kau tak akan sungguhsungguh berpesta hingga
kau ucapbahasakan syukurmu akan roti yang satu itu.
Seberapa enggan kau mengenangrindukan yang luka,
pun menghilanglesapkan yang cinta?
Seberapa enggan kau menjadi bukan diri sendiri dan
menikmati pesta perjamuan?
Jadi marilah isi piringmu tinggitinggi
dengan darah dan daging kurban,
lalu teguklah senyuman yang kau poles serupa gincu.
Jangan tergesa berpurapura mabuk atau kekenyangan, sayangku,
karena pesta belum juga dimulai,
tuan rumah belum pula muncul ‘tuk menyambut tamutamunya.
Tunggulah hingga dentang jarum jam terakhir berdentang,
hingga sebelah sepatu kaca tertinggal di tangga,
hingga kereta kencana berubah labu dan gaunmu
diganti celemek buruk rupa.
Tunggulah hingga engkau terbangun dari tidur panjangmu dan
mendapati kenyataan yang tak seburuk
mimpi di malammalammu yang gelisah.
Kau pun mabuk bukan untuk berdansa
–ataukah lupa?
Jakarta, 23 Oktober 2016
Komentar