Langsung ke konten utama

Pada Sebuah Perjamuan

Kau berhias bukan untuk ke pesta
–ataukah iya?
Seperti bedak yang tak pernah
cukup tebal untuk sembunyikan bekas airmata
atau keriput tubuhmu yang kian renta;
seperti parfum yang tak pernah
cukup wangi untuk menyamarkan
bau busuk dukacita
menyeruak dari rongga tergelap di ruang dada;
seperti itulah kau akan dipaksa untuk menghadiri pesta
demi merayakan kehidupan yang entah.

Kau bersulang bukan untuk perayaan
–ataukah lelah?
Bukankah kenangan seperti lilin terakhir yang padam di meja perjamuan?
: padanya segala gempita pesta nyata terasa,
padanya kau kehabisan alasan
untuk membedakan mana yang anggur sungguhan
dan mana yang darah penebusan.
Kenangan akan tersisa pada remah terakhir roti perjamuan,
lalu lenyap
terlupakan dalam hidangan dan perjamuan berikutnya.
Tapi kau tak akan sungguhsungguh berpesta hingga
kau ucapbahasakan syukurmu akan roti yang satu itu.

Seberapa enggan kau mengenangrindukan yang luka,
pun menghilanglesapkan yang cinta?
Seberapa enggan kau menjadi bukan diri sendiri dan
menikmati pesta perjamuan?
Jadi marilah isi piringmu tinggitinggi
dengan darah dan daging kurban,
lalu teguklah senyuman yang kau poles serupa gincu.
Jangan tergesa berpurapura mabuk atau kekenyangan, sayangku,
karena pesta belum juga dimulai,
tuan rumah belum pula muncul ‘tuk menyambut tamutamunya.
Tunggulah hingga dentang jarum jam terakhir berdentang,
hingga sebelah sepatu kaca tertinggal di tangga,
hingga kereta kencana berubah labu dan gaunmu
diganti celemek buruk rupa.
Tunggulah hingga engkau terbangun dari tidur panjangmu dan
mendapati kenyataan yang tak seburuk
mimpi di malammalammu yang gelisah.

Kau pun mabuk bukan untuk berdansa
–ataukah lupa?

Jakarta, 23 Oktober 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...