Kami adalah sepasang kekasih. Kami
adalah ruh yang dipertemukan Tuhan dalam banyak masa. Kami adalah raga yang
mendiami pulau kecil, yang kami namai, Planet Tanpa Gravitasi.
Pernah kutulis demikian di secarik kertas, dari tepian koran bekas
yang kami duduki. Kugulung sobekan kecil itu, kugulung dengan hati-hati, lalu
kumasukkan dalam sedotan, terakhir kupotong kedua ujung plastik sedotan. Mirip ulah ibu-ibu arisan tiap sore Jumat Legi,
ledeknya siang itu. Gulungan bertuah,
sahutku, riang.
Kubuka dompetku. Di selipan yang seharusnya berisi kartu debit ATM, kusimpan sedotan sepanjang dua senti berisi gulungan
kertas koran yang semakin koyak. Aku selalu tersenyum setiap kali membaca kata
kata yang tertulis di sana. Seberkas mimpi pernah kuciptakan demi kebersamaan
kami di Pantai Sunyi.
Siang itu, air melimpah ruah
di depan kami, seolah tanpa tuan. Ombak bergulung-gulung, serasa gemas ingin
mencumbu kami berdua. Kami tengah bersandar di bawah pohon kelapa. Nyiurnya
melambai-lambai, melenakan jika dipandangi terus menerus.
“Aku tahu maksudmu. Kau hendak memasukkan kertas itu ke dalam botol
bukan? Lalu kau lemparkan ke sana,” tuding Lampu, mengerling padaku. “Berharap
botolmu dihanyutkan ombak jauh ke istana Nyai Roro Kidul. Benar kan?”
“Sayang sekali, Anda salah kali ini. Wek!” bantahku sambil menjulurkan lidah.
“Masukkan saja ke dalam botol plastik itu, nanti aku bantu
melemparkannya sejauh mungkin.”
“Sudah kubilang, aku tidak sedang menulis pesan untuk Nyai Roro
Kidul. Lagipula, botolnya mau aku isi pasir dan kerang kerangan.”
“Yah. Jangan ditujukan ke
Nyai yang satu itu, Rek! Bisa gawat
kalau dia malah ke sini terus menculikku.”
Aku terkikik, membayangkan ekspresinya lima tahun yang lalu.
Tuhan, seperti apa rupa Lampu sekarang? Sudah 382 hari kami
berpisah.
Ndut, besok aku ke Jogja. Penasaran, bobotmu berapa sekarang.
Asem! dia tak pernah berubah, Dasar Tengil! umpatku dengan setengah
manyun saat membaca surel di sore yang cerah ini.
Terakhir kali dia mengecek berat badanku, saat aku digendongnya di
Pantai Sunyi. Sensasinya menegangkan! Rasa-rasanya aku melayang dan hendak
terpental menyambut ombak. Tapi ia tak pernah melemparku seperti mengenyahkan
sekarung beras di pojokan dapur. Langkah langkah lebarnya menjejak pasir krem
kecoklatan, seolah olah planet ini tercipta tanpa gravitasi di bawah telapak kakinya.
***
“Apa rencanamu?” tanyaku sambil mengulik daging di rongga capit
kepiting.
“Liburan,”
jawabnya pendek sambil menyisihkan duri Bawal ke pinggiran piring.
“Hanya itu?
Yakin? Tidak ada kepentingan lain?” selidikku tajam.
“Anggap saja
aku ingin ketemu Nuril Ilmi,” godanya.
Aku terkesiap.
Pipiku memerah. Asem! Dia mulai
membuatku salah tingkah.
“Ngomong-ngomong
Pemerintah Pusat udah mengesahkan Undang Undang Keistimewaan akhir Agustus
kemarin. Ada 16 Bab 51 Pasal.. ada lima aspek keistimewaan yang...” ucapku
cepat, menggelar info nasional sebelum mulutku lepas kendali dan berteriak
lantang bahwa aku sangat merindukannya sejak ratusan hari terakhir.
“Baguslah.
Presiden seharusnya sejak dulu paham sejarah,” tandas Lampu tak kalah cepat. Ia
sedang mengantisipasi kemungkinan aku akan mengurai pasal per pasal kebijakan
baru.
“Iya, sih,”
kataku, sepakat. Lantas aku berpikir sejenak. “Tapi menurutku.. Jogja tidak
akan lebih istimewa tanpa kehadiranmu.”
Giliran Lampu
yang mustinya terkesiap! Tapi ia justru menjepit hidungku dengan alibi ia ingin
mengetes kadar minyak yang mengendap di pori pori hidungku. Asem.
***
“Ndut! Kemari! Ada salju!” teriak Lampu, bersemangat.
Malam itu, Malioboro telah lengang. Para pedagang kaki lima sibuk
berkemas-kemas, menutup lapaknya. Aku menghampirinya dengan dua buah jagung
bakar pedas manis. Lampu tengah duduk di tepi trotoar. Kepalanya terus
mendongak ke atas.
“Mana saljunya?”
“Lihat baik baik,” ia menunjuk lampu jalan yang berada tepat di atas
kami. Sebutir air melayang layang ringan di udara, putih berkilau, tertimpa
sorot lampu jalan. Aku mengerjap, takjub. Salju turun di Malioboro. Butirannya
bagai mutiara dari kedalaman laut selatan. Semakin lama, butiran air semakin
banyak, tercurah dari langit, seperti parade di udara.
“Indah sekali,” bisikku.
“Iya. Cantik ya..”
“Mungkin kalau Ridwan masih ingusan, pasti dia senangnya bukan
main,” celutukku, teringat pada insiden yang ditimbulkan adik bungsuku saat ia
masih TK. Saat itu aku secara de jure
adalah seorang gadis kecil tambun yang menjadi bulan-bulanan Lampu dan secara de facto aku adalah tetangganya. Rumah
kami hanya dipisahkan sepetak barongan, yang
ditanami pohon pisang.
***
“Mbaak, pingiiin! Pokoknya pingin saljuuu!” teriak Ridwan keras
kepala. Entah darimana ide makan salju untuk bocah yang hidup di iklim tropis.
Aku hanya bisa menyeret adikku dengan sabar, membujuknya pulang ke rumah.
Lampu di belakangku, mengikutiku, sambil menendang nendang kerikil.
“Adekmu kenapa sih, Ndut?”
“Nggak tahu! Duh, mana uang jajanku habis lagi,” gerutuku sambil
merogoh saku tas butut warisan Mas Muhaimin, kakak tertuaku.
“Lidwan nggak mau dibeliin es limuuun! Mau saljuu!” jerit Ridwan
seketika.
Lampu terbahak di belakangku. Andai saja saat itu aku tidak sedang
kepayahan membujuk Ridwan, ia bisa kutimpuk dengan pelepah pisang. Namun
kemarahanku lenyap tak berbekas saat Lampu berlari menghampiri Ridwan dari
dalam rumahnya.
“Nih!” dia menyodorkan semangkuk bunga es pada Ridwan. Lalu kembali
lari masuk ke rumah berlantai dua sebelum sempat aku tanyakan tentang
keberadaan kulkas barunya.
***
“Kau tahu, aku mencintai kota
ini, Lampu..” ungkapku lirih, sambil tetap memandangi salju yang melayang di
Malioboro.
“Aku juga. Kuharap aku bisa ganti kewarganegaraan habis ini. Jadi
warga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.”
“Aku ikut! Aku ikut, ya? Aku nggak mau kita terpisah,” ucapku,
dengan nada seserius mungkin.
Lampu terbahak kala malam itu. Ia selalu berhasil menciptakan
guyonan yang kutanggapi dengan sepenuh hati. Ia mengusap kepalaku. Semenjak
kami menjadi mahasiswa dan berhijrah ke Jogja, hubungan kami semakin dekat.
Seolah tidak ada lagi jarak di antara kami. Kebekuan yang berlangsung selama
kami remaja akhirnya melumer karena kehangatan kota ini.
“Besok aku mau ke maiyahan.
Mau ikut?” ajaknya, menawariku datang ke pengajian rutin Cak Nun. Kami tengah
berjalan menuju parkir motor. Buliran Salju telah berubah menjadi garis garis
lembut gerimis.
Aku mengangguk. Saat di sekolah menengah, Lampu masuk pesantren,
sebagaimana riwayat pendidikan keluarga besarnya. Sedangkan aku, tetap
melanjutkan di sekolah negeri yang biasa biasa saja. Dan aku mencoba mengikuti
selera religiusitasnya. Setidaknya, agar Lampu sesekali melirikku.
Seorang santri di pesantren salafiyah jarang sekali pulang. Ia hanya
terlihat saat liburan sekolah dan liburan menjelang hari raya. Aku sering
mengintip diam diam dari jendela kamar. Mencari-cari sosok tegap remaja yang
baru saja puber waktu itu. Namun sialnya, barongan
selalu menghalangi pandanganku ke rumah bertingkat di sebelah.
***
Fragmen fragmen kehidupan kami terpenggal di rentang waktu yang
terjal. Kami berpisah pada saat kedua belah pihak tertekan oleh banyak ambisi.
Kami cukup lama merangkai kisah. Bahkan kutabung asa itu sejak kami duduk di
bangku sekolah dasar. Aku kira kami telah menemukan rumah. Di kota yang selalu
hangat pada pendatang. Aku kira, semenjak kami menemukan butiran salju di
Malioboro, kami berdua telah sepakat akan tetap tinggal, setia pada Bumi
Mataram.
Kami terpencar, dan aku memutuskan masih ingin bertahan di sini.
Menjadi penghuni yang membaur dengan ceruk ceruk wajah yang baru. Aku berusaha
menikmati tiap jengkal kenangan. Merapatkan jaket saat musim hujan tiba.
Melonggarkan paru paru saat kemarau datang, dengan berdiam di sebuah gardu
pandang di lereng Merapi.
Aku terus mengirim surat elektronik padanya. Berharap suatu saat ia
membalasnya. Terakhir, aku ceritakan padanya tentang penemuanku yang
menakjubkan. Sebuah pulau mungil yang tak berpenghuni.
Aku dan teman temanku memasang tenda di sana saat malam tahun baru.
Langit sangat cerah. Tidak ada lusinan kembang api yang berani mengganggu kami.
Senyap, dipecah deburan ombak. Kami dengan khidmat berkontemplasi. Mengharap
mimpi mimpi kami didengar, sementara bintang di atas sana terus berkedap kedip.
Hai, apa kabar Lampu? Malam itu, aku
sekali lagi membacakan untaian sajak yang kugulung dalam sedotan. Itu doaku. Itu pintaku, Lampu.
***
Kami bertemu setelah 382 hari berjejer, seolah berabad abad lamanya
kami terpencar. Tentu, dimana lagi tempat yang pantas untuk merajut romansa
selain di sini? Di kota tempat para pendatang menyimpan kenangan terbaiknya.
Fisik Lampu memang tak banyak berubah, kecuali rambutnya yang
gondrong, dan bibirnya yang kelabu, kebanyakan tembakau. Jantungku berdegup
setiap kali kupergoki ia tengah menatapku lama, diam diam.
Kami melewatkan satu malam di Pasar Malam Sekaten. Lampu
membelikanku gula kapas. Ia berkali kali mengambil gambarku melalui lensa
kameranya yang canggih. Bahkan ia pun bersemangat mengajakku menelusuri
timbunan baju bekas, awul awul,
hingga aku terbatuk batuk dibuatnya. Akhirnya, kita pun naik bianglala.
Sepasang manusia yang bernostalgia dalam keranjang sempit.
“Kau tampak bahagia, Ndut,” ujarnya, membuka percakapan.
“Semoga tidak hanya malam ini,” responku singkat. Sibuk mengintip
suasana pasar malam yang semarak dari ketinggian.
“Aku besok harus pulang ke kampung.”
“Ada apa? Kenapa terburu buru? Ayah sakit? Atau Cahaya yang sakit?”
tanyaku tiba-tiba, tampak cemas. Cahaya, adik Lampu, sangat sering rawat inap
di rumah sakit.
“Nggak ada yang sakit, Ndut. Besok keluargaku akan menemui
keluarganya.”
Aku terhenyak beberapa detik. Kupandangi mata Lampu yang mendadak
sayu, tak berkedip. Wacana itu terwujud juga akhirnya. Hal yang selama ini
dianggap Lampu sebagai takdirnya. Ia seolah olah tak sanggup menolak, tak
berani mengusik otoritas keluarga besarnya. Tradisi leluhur yang selama ini tak
pernah diganggu gugat.
“Kau akan dipingit?” tanyaku, menggigit bibir perlahan.
Lampu tertawa, kering, “Aku bukan Siti Nurbaya, Ndut.”
“Memang bukan. Tapi kau sungguh tak ingin membatalkan perjodohan
itu?”
Sorot mata Lampu semakin meredup. Ia membisu.
“Siapa dia? Anak Kyai pesantren mana?”
“Ia bukan putri Kyai, Ilmi.. hanya saja dia masih keturunan
pesantren Tebu Ireng.”
“Oh, jadi mulai sekarang kau memanggilku Ilmi? Dan aku mulai
sekarang akan membiasakan diri memanggilmu, Gus!”
“Kumohon, jangan begitu.. mengertilah,” rintihnya. “Aku nggak punya
kuasa, kau paham dari lima tahun yang lalu.”
“Ya, aku paham bagaimana kultur feodal yang dikultuskan. Aku berkali-kali
menyalahkan struktur sosial atas wacana ala Siti Nurbaya ini. Tapi nyatanya...”
tenggorokanku rasanya tercekat, “....sebentar lagi kau akan menikah. Dan apakah
Tuhan akan mengutukmu, jika kau menikahi wanita yang kau cintai sejak dulu?”
“Yang kutahu, aku tidak ingin dianggap sebagai anak durhaka kelak.”
“Oleh siapa?” tanyaku dengan
tatapan menantang.
Ia menatapku sepersekian detik, dengan sorot yang mengindikasikan
ngilu yang tertahan.
“Ridho orangtua segalanya bagiku, Ndut.”
Aku mati kutu, sekarat, memang seperti kutu yang dilindas kuku.
“Aku ingin di sini saja. Aku ingin kita hidup di sangkar ini,”
kataku tiba-tiba, bersikukuh, sambil menggenggam jeruji keranjang bianglala
dengan erat erat. Kutepis jauh jauh pertanyaan pertanyaan yang berkecamuk di
batinku. Apa ia cantik? Apa ia akan menjadi ibu yang baik buat anak anak Lampu
kelak? Apa ia kalem? Apa ia gadis penurut? Apa ia anggun dan sopan? Apa ia
alim?
Kusadari bahwa tingkahku ini kekanak-kanakan. Namun Lampu tidak
ingin lagi mengusap rambutku lembut seperti saat kami masih bersama.
Seharusnya, sejak 382 hari yang lalu, aku sudah menyiapkan diri untuk peristiwa
seperti ini. Jauh-jauh hari, harusnya aku sudah berhasil berdamai dengan sistem
budaya yang patriarki.
“Kau sengaja ke Jogja untuk berpamitan,
ya,” ucapku, lirih. Cengkeraman tanganku melonggar, beberapa ruas jeruji basah
oleh keringatku.
Lampu hanya terdiam. Roda bianglala berhenti sejenak. Kami di
puncak, keranjang kami berayun ayun lemah, tertiup angin malam. Pandanganku
menyapu areal pasar malam. Hatiku seolah robek, dan tanganku tak berdaya
menopang asa kali ini.
“Lampu, kau mau nggak naik Ombak
Banyu bersamaku?” tanyaku, lemah.
***
Entah berapa kali, aku mengunjungi Pasar Malam Sekaten. Tak pernah
sekali pun aku berani naik Ombak Banyu.
Wahana itu seperti roda yang berputar layaknya piring terbang. Terbuat dari
kayu dengan besi besi pengaitnya yang terkumpul dalam satu poros. Tak ada mesin
di sana. Roda akan digerakkan oleh beberapa pemuda. Mereka luar biasa terampil,
layaknya pemain sirkus. Melompat ke sana ke mari, agar roda terus berayun ayun
hebat.
Kami menaiki salah satu sisi roda. Lampu memegang erat erat
lenganku, takut tubuhku terlepas dari pegangan. Wajahku tenang, tanpa ekspresi.
Kepalaku terkulai di bahunya. Para penumpang semakin memadati Ombak Banyu.
Beberapa orang pemuda mulai berakrobat. Mereka berlompatan di tanah dan
melayang di belakang kami. Para muda mudi memekik senang.
“Lampu, pakai ini,” ujarku, mengulurkan sebuah earphone dari saku tas.
Ia patuh, lalu menyumbat telinganya dengan kabel yang juga telah
terpasang di telingaku. Kutekan tombol pengeras hingga batas maksimum. Lagu
Frau mengalun, melodinya menyihirku. Membawa kami berdua ke Pantai Sunyi, ke
pulau mungil, ke jalan bersalju.
Di rentang waktu
yang berjejal dan memburai, kau berikan
Sepasang tanganmu
terbuka dan membiru, enggan.*
Tangan Lampu terasa sangat dingin, melekat di tanganku. Aku menoleh.
Ia tengah tersenyum, kedua matanya terpejam. Ia tampak damai. Aku pun ikut
tersenyum, ikut memejamkan mata.
Seperti takkan
pernah pulang, kau membias di udara dan
terhempaskan cahaya
Seperti takkan
pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan*
Ombak Banyu telah menjelma menjadi sebuah bahtera. Dihempas badai
berkali-kali. Kapal koyak, namun kami semakin menikmatinya.
Jalan pulang yang
menghilang, tertulis dan menghilang,
karena kita, telah
bercinta di luar angkasa.*
Ombak Banyu semakin kencang berayun. Semakin tinggi melambung.
Mungkin sebentar lagi, roda kayu akan terlepas dari porosnya. Terlempar ke
langit, dan kami berjatuhan ke tanah. Menggelepar.
***
Kami adalah
sepasang kekasih. Entah sejak kapan.
Kami adalah ruh
yang dipertemukan Tuhan dalam banyak masa. Entah kapan dipersatukan.
Kami adalah raga
yang mendiami pulau kecil, yang kami namai, Planet Tanpa Gravitasi.
Dan Tuhan
menamainya, Surga.
Tengah malam,
meninggalkan peron 8/14
*dalam lagu yang berjudul, Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Ruang Angkasa, Frau dan
Ugoran Prasad.
Komentar