Di usia dua puluh empat tahun, ia masih sama, layaknya empat tahun
silam. Minus di kedua matanya tak bertambah, empat koma lima. Itu berarti ia
tak butuh kacamata baru. Kacamata yang saban hari menggantung di batang
hidungnya adalah kacamata yang ia beli empat tahun yang lalu. Kacamata yang
sebelumnya, bertangkai goyah dan lensa sebelah kirinya retak. Sebenarnya bisa
diperbaiki. Tapi ia memilih untuk tidak. Ia biarkan begitu saja kacamata
berbingkai merah tua yang teronggok di laci lemari. Ia diamkan dan mengganti
dengan bingkai cokelat warna kayu mahoni. Ia memilih begitu.
***
Seorang perempuan berjerawat matang duduk di ujung bangku berwarna
metalik dekat teralis yang membatasi peron stasiun dengan teras loket. Ada
empat loket, dua dengan antrian mengular untuk pembelian tiket kereta jarak
dekat, dan dua yang lain untuk reservasi kereta jarak jauh. Tampaknya
melompong, tapi antrian di loket kereta jarak jauh yang pemesannya dilayani
hingga sembilan puluh hari sebelum keberangkatan itu juga panjang. Sistem
antrian yang diterapkan seperti bank dan pusat perawatan wajah. Ada mesin mini
yang mempunyai tombol untuk mengeluarkan secarik struk nomor antrian. Perempuan
berjerawat matang memegang struk bertuliskan 322. Di layar masih tertera angka
286. Ia telah beritikad kuat untuk sabar mengantri.
***
Ia suka membaca buku, namun tak suka membeli buku. Betapa pun
pameran buku diadakan empat kali sepanjang tahun di gedung yang sama, ia jarang
sekali mengunjunginya. Ia merasa sia-sia menumpuk buku di kamar kosnya yang
kecil, toh suatu saat ia harus meninggalkan kota ini. Ia merasa uang saku
bulanannya tak mencukupi jika harus dialokasikan untuk memuaskan nafsu
membacanya. Ia merasa lebih baik memanfaatkan kartu keanggotaan perpustakaan di
kampus dengan sebaik mungkin. Ia pun merasa, teman-temannya, sesama pecinta
buku, entah pembeli yang loyal atau pembaca yang loyal adalah mereka yang
selalu royal meminjaminya buku. Ia yakin, suatu saat semua buku yang ia idamkan
telah tersedia di laman internet dan bebas diunduh dengan percuma.
***
Hari ini hari ulangtahunnya. Istimewa. Setahun yang lalu, ia
merayakan ulang tahun di tempat magang. Teman-teman sekantornya membeli sekotak
donat lezat saat makan siang dan menyanyikan lagu ulang tahun. Dua tahun yang
lalu, ia merayakan ulang tahunnya dengan teman-teman sekontrakan yang jahilnya
minta ampun. Ia dikurung di kamar mandi lima jam. Tiga tahun yang lalu, ia
merayakan ulang tahunnya dengan teman-teman kampusnya di warung kopi. Empat
tahun yang lalu, ia merayakan ulang tahunnya dengan sahabat perempuan. Lima tahun
yang lalu—ulang tahunnya dirayakan dengan sederhana oleh kekasih yang sedang
tidak punya uang untuk membeli kado.
***
Perempuan berjerawat matang sibuk menggeser-geser telunjuknya di
layar telepon genggam sembari menunggu perempuan di pengeras suara menyebut
nomor 322. Telepon genggamnya adalah telepon genggam terbaru yang dikeluarkan
perusahaan laptop ternama. Akses internetnya cukup lancar, meski tidak
ditunjang oleh layanan internet gratis di stasiun. Ia sibuk membaca ulasan
pernikahan selebritis yang tayang eksklusif selama empat belas jam di dua kanal
tivi nasional. Di sebelahnya, seorang lelaki yang sedang mengantri dengan duduk
diam pun khidmat berkutat pada layar telepon genggam. Mereknya sama, hanya
berbeda tipe.
***
Ia suka membaca. Apapun. Sodorkan pertanyaan tentang buku favorit
yang ia baca berkali-kali, maka kau akan keliru besar. Ia lebih menyukai
membaca seorang perempuan yang seringkali ia dapati membaca majalah Trubus di
lorong perpustakaan lantai dua. Ia sudah lama—empat tahun—menyimpan kegemaran
membaca perempuan itu dalam setiap kesempatan.
Ia membaca gerak tubuh, air muka, penampilan dan majalah Trubus yang
dibaca si perempuan. Ia membaca nomor induk mahasiswa dan plat nomer sepeda
motor si perempuan hingga hapal di luar kepala. Ia memaknai bintik-bintik halus
di pipi kanan dan kiri si perempuan sebagai taburan bintang. Betapa si
perempuan saat mengangguk dan berbicara pada petugas perpustakaan telah mampu
membuatnya berdebar. Karena aroma colonye lavender yang menguar, suara yang renyah,
dan air muka yang tenang mengakibatkan jemarinya gemetar menuliskan daftar buku
yang dipinjam.
***
Di hari ulang tahun yang kedua puluh empat, ia tidak memiliki doa
lain daripada yang lain, kecuali segera lulus. Teman-teman kuliahnya telah jauh
berkurang, lenyap dari peredaran kampus. Tahukah kau perasaan seorang lelaki
muda di usia dua puluh empat tahun dan masih menjadi mahasiswa S1 di tengah
kehidupan akademik yang setenang rawa-rawa?
Ia sedih saat mamanya menelepon untuk segera wisuda sebelum adiknya
menikah. Kebingungan, ia mencoba menjelaskan untuk kesekian kali pada papanya,
bahwa kuliah di peminatan periklanan itu sulit. Ia tengah mengatur strategi
untuk menghadapi persaingan kerja dengan mempertebal portofolio. Kesibukan
magang, ikut kompetisi sana-sini dan aktif berjejaring dengan pegiat industri
kreatif menjauhkannya dari ritual-ritual lazim yang dihadapi teman-teman
seangkatannya.
Setelah bangun dari tidur dan menerima kenyataan bahwa hari ini ia
berulang tahun, ia memutuskan berdoa. Lalu mengecek akun twitter dan facebook dan kotak masuk surelnya.
Berbasa-basi sebentar, ia menulis status tentang calon presiden yang gagal
legawa.
***
“Apa yang ada dipikiranmu belakangan ini?”
“Mantan pacarku.”
“Oh, jadi itu sebabnya akhir-akhir ini kau tampak murung?”
“Nggak. Aku murung karena kurang piknik.”
“Lalu?”
“Sekarang November. Agak bersejarah dalam hubungan kami. Maksudku,
apapun yang bersejarah itu kan mudah diingat. Ah, tapi aku sudah tidak
mencintainya atau merasa harus melankolis karena kisah cinta kami.”
“Lantas?”
“Minggu lalu aku terbangun dan menemukan fakta yang tiba-tiba berasa
tidak wajar. Kami tidak pernah mengobrol lagi sejak aku menamparnya empat tahun
silam.”
“Aih! Kenapa kau menamparnya?”
“Dia tidak menjawab pertanyaanku, soal apakah ia mencintai
sahabatku.”
“Dia selingkuh?”
“Entah. Hanya saja, tak berselang lama kami berpisah, mereka
mengumumkan jadian.”
“Wow!”
“Kenapa wow?”
“Bagaimana rasanya menampar?”
“Rasanya seperti orangtua yang kelewat kesal menghadapi anaknya yang
bandel. Aku jengkel sekali saat itu karena dia tak mau menjawab pertanyaanku.
Bahkan aku tidak akan menamparnya kalau ia jujur dan bilang kalau dia menyukai
sahabatku.”
“Tapi tetap saja kau akan sakit hati terus mutusin dia. Benar
tidak?”
***
Karena ia suka membaca, selepas lulus kuliah, ia melamar di sebuah
penerbitan untuk menjadi editor. Di sela-sela menyunting buku, ia sempatkan
mengintip akun media sosial si perempuan yang suka membaca majalah Trubus itu.
Koleksi foto, komentar-komentar, status-status, catatan-catatan, tautan berita
yang dibagikan, semua dibaca.
Mereka berdua, antara pemuja rahasia dan yang dipuja diam-diam
saling berteman di facebook dan
saling mengikuti di twitter. Lalu
mereka pun terhubung ke LinkedIn,
Instagram dan Path.
Ya, Path. Ruang ekslusif
untuk menyeleksi teman yang didefinisikan sebagai siapa yang kira-kira penting
diketahui informasi terbarunya. Layanan ini membatasi pertemanan. Tapi ia pun
telah berhasil menjadi teman si perempuan pembaca Trubus di Path.
Path dan keberhasilan menjadi teman yang terseleksi di akun gadis
pembaca Trubus adalah prestasi terbesarnya selama empat tahun ini.
***
Setahun lagi, ia akan berumur dua puluh lima tahun. Dulu ia
merencanakan suatu target besar saat usianya mencapai seperempat abad. Program
itu adalah proyek rahasianya selama empat tahun ini. Program silaturahmi ke
mantan pacar. Ia rahasiakan karena takut ditertawai. Ia putuskan butuh
setidaknya lima tahun untuk berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu hanyalah
akan menjadi masa lalu. Ratusan kali ia berhasil membayangkan suatu pertemuan
yang dipenuhi kedalaman rasa akan kebutuhan saling memaafkan. Karena hanya
dengan saling memaafkan manusia akan benar-benar dapat berdamai dengan dirinya
sendiri.
Sudah empat kali Idul Fitri terlewat tanpa ia mengirim pesan ucapan
mohon maaf lahir batin atau pun menerima pesan serupa dari mantan kekasihnya.
Ia tahu, ucapan seperti itu hanyalah ucapan yang umum, yang membikin upacara
berdamai untuk diri sendiri menjadi prosesi yang remeh temeh. Padahal, ada
banyak kesakitan-kesakitan yang diderita, lusinan mimpi buruk, lelehan airmata,
serta berbagai dampak yang tak mengenakkan dari suatu perpisahan yang tak
baik-baik saja.
Namun, misi mulianya—program silaturahmi ke mantan pacar—nyaris
gagal.
Di suatu pagi yang biasa saja, saat cuaca cepat memanas meski awan
mendung berarakan, ia mendapat pesan singkat berbunyi; “Hai, apa kabar? Lama
nggak ngobrol. Ngopi yuk.”
Mantan kekasihnya itu menyapa dan buyarlah segala gairah hidup untuk
hari itu.
“Baik. Siapa ini? Maaf, hapeku baru saja diperbaiki. Banyak kontak
yang hilang.”
“Ina.”
“Oh. Oke. Mau ketemu dimana? Kapan?”
“Terserah. Ada rekomendasi tempat yang oke?”
***
Nomor antriannya disebut. Perempuan berjerawat matang segera
menghampiri loket. Bayangannya terpantul di kaca loket. Ia menunggui petugas
loket yang sedang mengetikkan keterangan identitas calon penumpang, tujuan dan
tanggal keberangkatan. Suara mesin tiket berbunyi nyaring. Selembar tiket
kereta api di tangan. Sebelum harga tiket melambung naik dua bulan ke depan, ia
telah bersiap diri membeli tiket untuk mudik.
Untuk menghadiri acara pertunangannya.
***
Ada satu pembacaan ilegal yang pernah dilakukan oleh lelaki penyuka
buku pada perempuan yang selama ini ia puja secara tersamar. Diam-diam ia
pernah mencuri tablet perempuan pembaca majalah Trubus tersebut. Hal itu
sebenarnya tidak disengaja, saat loker bernomer 21 tidak terkunci secara
sempurna. Ia tahu pasti, loker tersebut dihuni tas cangklong milik sang pujaan
hati. Suasana perpustakaan yang lengang ditambah petugas bagian peminjaman
sibuk bermain game di komputer
seperti biasa, ditambah pula petugas lain sedang sholat dhuhur dan makan siang,
maka ia nekat mengambil tablet buatan china
tersebut.
Ia baca semua data yang ada di tablet tanpa terkecuali kotak masuk
pesan.
Akhirnya, ia tahu bahwa sang pujaan hati punya empat mantan pacar,
status single, dan neneknya
bersikeras menjodohkannya dengan saudara jauh di kampung halaman.
***
“Mengapa ia menghubungiku sekarang?”
Pertanyaan itu diulang-ulang dalam batin yang tak menentu cuacanya.
Ia tak habis pikir, mengapa mantan kekasihnya tiba-tiba mengirim pesan singkat
yang terkesan sangat santai dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa dengan
mereka. seolah-olah mereka adalah sepasang teman lama yang lama tak bersua dan
alangkah ingin perempuan itu nostalgia.
Tapi benarkah?
Ia kini berusia dua puluh empat tahun dan menjadi sangat hati-hati,
kalau tidak bisa dibilang penuh kecurigaan.
“Mungkin Ina sedang galau dan baru putus dan butuh pengalih
perhatian,” pikirnya, sambil menuang kopi bubuk ke dalam mug yang telah
mengusam.
“Mungkin Ina memang selama ini tidak berhasil melupakanku,” pikirnya
kemudian, sembari menyeruput kopi panas di depan layar laptop.
“Mungkin Ina merasa selama ini hubungan kami tak pernah selesai. Ada
sesuatu yang harus ia utarakan atau bicarakan berdua. Hm, soal apa?” tanyanya,
mengklik akun facebook mantan
kekasih, berusaha mencari petunjuk atas keajaiban yang tengah disodorkan Tuhan.
Tapi ia tak pernah menemukan sesuatu selain tautan-tautan yang membosankan.
“Mungkin Ina mau menikah dan hendak memberiku undangan pernikahan
secara langsung,” simpulnya di titik di mana ia merasa tak bisa mengabaikan
situasi ini. Komik Hunter x Hunter yang selalu rutin ia baca untuk pengalih
perhatian di laman manga online tiba-tiba
menjadi tawar.
“Atau mungkin ia mau memberiku kado. Ia pasti masih ingat hari ulang
tahunku.”
***
“Ina.”
“Ya?”
“Darimana?”
“Stasiun.”
“Ada yang mencarimu barusan.”
“Siapa?”
“Nggak tahu. Laki-laki. Ia menitipkan ini.”
“Gimana ciri-cirinya?”
“Rambutnya tipis klimis. Punya tahi lalat di dahi. Pacar barumu, ya?
Benar tidak?”
Perempuan berjerawat matang tertawa kering. Ia mengamati paket yang
disodorkan teman kosnya. Segera ia sobek pembungkusnya. Alangkah terkejut, saat
tablet buatan china miliknya kembali
setelah setengah tahun lenyap.
***
Sang pemuja rahasia merasa harus pensiun dini. Ia merasa sudah cukup
memiliki keberanian untuk mengembalikan barang curiannya dan mengakui semua
yang telah ia simpan rapat-rapat selama ini. Malam sebelum ia berniat mengubah
jalan hidupnya, terjadi keanehan pada tablet china tersebut. Tablet yang semula mati dan sedang diisi daya
tiba-tiba berbunyi sendiri, seolah ada seseorang yang menekan nomor telepon.
Lantas ia menutup mata rapat-rapat, tak berani mengecek. Ia semakin merapatkan
selimut yang membungkusnya dan diam kaku tak bergerak.
Keesokan harinya, saat ia cek tablet yang telah penuh daya dan telah
menyala itu, ia menemukan deret angka, sebuah nomor. Ia tak tahu nomor ponsel
siapa, dan siapa gerangan yang memencetnya. Dengan ketakutan segera ia matikan
tablet china hasil curian itu lalu ia
bungkus kertas kado yang sudah dipersiapkan.
***
“Apa aku masih sama?”
Ia bertanya di depan cermin dengan bingkai kacamata merah yang
miring sebelah. Dilihatnya, dari balik lensa kiri yang retak, wajahnya tak
banyak berubah selama empat tahun belakangan.
“Apakah kamu masih sama?”
Kali ini disambarnya kotak rokok. Sekarang ia merokok. Sudah dua
tahun belakangan ia merokok.
Ia memutuskan bahwa dirinya masih sama, masih menjadi mahasiswa. Ia
merutuki nasib yang membawanya ke kota ini. Aneh, ia menyesali pilihannya enam
tahun silam. Lalu bertanya-tanya kembali, apa maksud Ina menghubunginya? Tempat
apa yang kira-kira cocok untuk reuni berdua? Apa saja pertanyaan yang akan ia
lontarkan? Apa ia perlu mengaku bahwa mimpi buruk terlalu sering menghampirinya
di jam-jam menjelang subuh? Apa ia sebaiknya menyiapkan bahan omongan yang
standar dan umum saja?
“Ina, kamu kemarin nyoblos Pemilu presiden tidak?”
“Kamu milih siapa? Kalau aku golput.”
“Katanya, angkatan baru kuliah maksimal lima tahun ya? Haha.”
“Pernah nonton film horror Korea nggak?”
“Kamu nonton pernikahan miliaran itu? Gila sekali ya kuasa media ini
atas frekuensi publik. Tapi soal sponsor pernikahan yang berhasil didapat—“
Ia merinding, sepotong kenangan meluncur dari sarang yang selama ini
ia tinggalkan. Adegan penamparan itu, kacamata yang terjatuh, pipi yang terasa
terbakar, hati yang mengeras, dan hari-hari selanjutnya yang penuh kekalutan.
Tak terbantahkan, ia menangisi kehilangannya atas segala bentuk
hubungan yang normal.
***
“Ia seorang pecundang sejati.”
“Siapa?”
“Mantanku.”
“Gara-gara ia nggak balas ajakanmu buat ketemu?”
“Ya.”
“Memangnya penting kalian harus bertemu lagi?”
“Nggak juga, sih.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin ngobrol. Sejauh apa kami berubah.”
“Kalau ternyata nggak ada yang berubah?”
“Lho, setidaknya aku sudah jauh lebih banyak berubah.”
“Misal?”
“Aku sekarang merokok. Dia pasti kaget.”
“Hm. Apa kira-kira yang bikin dia nggak balas SMSmu lagi?”
Perempuan berjerawat matang terdiam sebentar. Dirangkainya sebuket
prasangka.
“Pertama karena dia tidak mau bertemu denganku lagi. Kedua, bagi dia
sudah tidak ada gunanya masa lalu itu, toh mungkin dia sudah punya kekasih yang
entah kesekian kali. Ketiga, mungkin dia anggap SMS yang kukirim iseng belaka.
Bisa jadi dia kira itu dari teman-temannya yang usil. Keempat, terlalu rumit.
Dia nggak mau ada terusan dari drama-drama lawas di hidupnya.”
“Ah, kau ini. Dengan empat alasan itu sebenarnya sudah cukup.
Bertemu atau tidak, sama saja buatmu. Benar tidak?”
***
“Hai, selamat malam.”
“Ini siapa ya?”
“Aku yang nitipin paket ke teman kosmu tadi siang. Sudah diterima?”
“Oh, sudah. Aku pikir sudah kehilangan tabku selamanya. Kamu
menemukannya dimana? Dan bagaimana aku harus mengucapkan terimakasih?”
“Ah, tidak perlu. Hanya saja tabmu sedikit seram.”
“Maksudnya?”
“Ia bisa menyala sendiri dan mengetikkan nomor asing. Aku
menyimpannya di buku kontak dengan nama ‘anonim’. Mungkin kamu bisa mengeceknya
dan coba telepon. Mungkin kamu punya sesuatu yang belum diselesaikan dengan
seseorang.”
Jeda sejenak.
“Halo? Kamu masih di situ?”
“Ya. aku masih ada,” suara di seberang tak sabar. “Dengarlah, Tukang
Klepto. Aku sebenarnya tahu kalau tabku dicuri di perpus. Kamu pasti nggak
sadar, perpus sudah dipasangi kamera CCTV saat itu. Cuma yang tertangkap kamera hanya punggungmu.
Dan tak ada gunanya kamu mengarang cerita seram. Aku sudah menjualnya tadi
sore. Aku butuh untuk melunasi hutangku.”
“Aku—aku minta maaf.”
Sambungan diputus. Sebongkah kekecewaan jatuh ke dasar lubang hati
sang pemuja rahasia. Usahanya gagal. Ia kecewa karena nomor ponselnya yang ia
simpan dengan sengaja di buku kontak perempuan pembaca majalah Trubus sia-sia.
Kekecewaan itu lantas ia teguk bersama dua kaleng minuman soda yang ia tenggak
di depan minimarket. Dari kejauhan, pada kentalnya malam yang berhias bulan
sabit yang menggantung, ia melihat seorang lelaki berjalan gontai menuju
minimarket.
Dari dekat, ia mengenalinya. Mantan kekasih nomor urut dua dari
perempuan pembaca Trubus yang sudah lama tidak diintainya di laman media
sosial.
Lelaki berkacamata miring dengan lensa kiri yang retak itu masuk ke
dalam minimarket, lalu memborong es krim aneka rasa. Ia mengambil duduk di
dekat lelaki penyuka buku, memakan satu persatu es krimnya mulai dari rasa
cokelat almond, tiramisu, vanilla, kacang hijau, pisang, dan terakhir yoghurt.
Suasana hening, hanya ada penyiar radio yang memutar lagu-lagu sendu dari
pengeras suara yang ditempatkan pemilik minimarket di sudut atas teras.
Berharap ada yang memeluk kegundahan seperti dirinya yang gundah di jam kerja
yang sunyi, di antara jam Indonesia bagian galau.
Beberapa pemuda-pemudi keluar masuk minimarket tanpa suara. Beberapa
kendaraan bermotor melintas di jalan raya yang lengang. Kehidupan berjalan
lambat dan nyaris tanpa perlawanan. Sudah lewat tengah malam.
181014
Komentar