Langsung ke konten utama

Riwayat Kesedihan

Pada malammalam dingin,
orangorang terbangun meracau dari tidurnya yang gelisah.
Sedang pagi masihlah jauh,
mimpi buruk mengintai di tiap sudut kamar dan lipatan selimut.
Punggung dan lengannya berderak kesakitan
sehabis terlalu lama menangis
memeluk dirinya sendiri.
Lehernya memanjang merenggang mematah tulang demi tulang,
tetapi masa lalu tak pernah usai ditengokratapi.

Wajahwajah tersenyum sinis dan bersuara sumbang,
nama mereka hanyalah doadoa baik yang lesap terlupakan.
Subuh menjelang dan menjerang tubuhtubuh dalam himpitan asap kendaraan.
Kopi pertama di pagi hari,
mendidih berbuih lalu merintih kedinginan,
tak sempat hangatkan jiwajiwa yang bimbang,
tak sempat menyembuh sakit kepala yang berdentumdentum memecah kewarasan.
Waktu tetaplah tiktok tiktok mengayun entah dari satu luka ke luka lainnya.

Ada bintangbintang yang dilahirkan pun memutih lalu mati di galaksi jauh,
ada debudebu yang bergulung menggunung padang pasir baru.
Ada kesedihan yang nampak fana pun artifisial di hadapan noda matahari dan cincin planet.

Di dalam perutmu mungkin ada sekawanan kupukupu atau ngengat yang sedang bersarang.
Kau kira dirimu tengah jatuh cinta,
padahal kau hanya sedang diserang kerumunan lebah yang bersiap menyengat.
Bukankah cinta hanyalah senyawa kimia
yang mempermainkan gelombang listrik
di tubuhmu yang meragu?
Lalu perasaan selain itu jadi wagu dan tak terucapbahasakan.

Kenangan telah menguning dan gemetar menua.
Separuh ranjang telah dingin,
seperti bau tubuh kekasih yang menguar memudar dari pelukan yang silam.
Tapi manusia tetap keras kepala dan bertahan mengenangrindukan masa lalu.
Dalam riwayat kesedihannya, manusia terkadang lupa
untuk sesekali saja berbahagia.

Ada yang sibuk bersedih menulis puisi menjualnya ke surat kabar,
tapi lupa bercakapcakap dengan dirinya sendiri.
Ada yang sibuk memikirkan penciptaan semesta,
tapi lupa menjawab salam tetangganya.
Ada yang sibuk sembahyang menyembah dewadewa,
tapi lupa bagaimana caranya menjadi manusia.

Sementara itu,
bayibayi tetap saja dibunuh,
perang masih saja membakar gedunggedung hutan pemukiman.
Kesedihan teramat erat mencengkeram jiwajiwa yang lupa berbahagia,
seperti hidup yang kepalang brengsek pun menolak diberi makna.
Waktu masihlah tiktok tiktok mengejar kakikaki yang berlarian
dari satu mati ke mati lainnya.

Jakarta, 8 November 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...

Denyut Merah, Kuning, Kelabu

Jantungku berdenyut cepat. Aku memimpikannya lagi. Ia tertelan kabut di sebuah jalan beraspal. Lenyap. Tak dapat kucegah. Mengapa aku harus terjebak atas kehilangan yang anomali ini? Aku tidak sungguh-sungguh mengenalnya. Akrab pun tidak. Mengapa ia mendatangiku di sepertiga malam? Seolah malaikat menundukkan diri di atas ranjang, mengatupkan sayapnya yang lebar dan menitipkan kode-kode dalam kepingan mimpiku. Lima hari ini. Terus-menerus. Saat terbangun tubuhku telah menggigil. Jemariku kaku. Ujung kaki ngilu. Sendi-sendiku rasanya menegang. Gigi bergemelutuk. Daster yang kukenakan lembab oleh keringat. Hampir saja kupastikan bahwa aku terkena demam berdarah. Nyamuk beredar lebih banyak di musim kemarau ini. Apakah gigitan nyamuk sekarang mampu menciptakan mimpi buruk? Mungkinkah mereka telah bermutasi tanpa seorang ahli serangga pun tahu? Namun, dokter mengatakan aku baik-baik saja dan aku sama sekali tak merasa demikian. *** Ia bernama Noni. Menjadi tetangga sebelah ka...