Langsung ke konten utama

Kutitipkan Rindu

Kutitipkan rindu pada ibuibu penjaja pagi di sunyian pasar, 
kepada kayuh tukang pos pengantar kabar dari rumah ke rumah, 
kepada geliat anakanak enggan berangkat sekolah; 
barangkali kelak kita saling merindu mencari di ujung hari.

Kau tahu, kekasih? 
Hidup kian redup seperti langit riau tertutup asap polusi jakarta, 
seperti kamar anakanak yang belum sempat kau ganti lampunya. 
Hidup kian sempit terhimpit seperti derit dinding rumah kita dan rumah tetangga, 
seperti jerit putus asa para artis di televisi
yang mencoba menghibur kursi meja pintu jendela.
Tapi seredup sesempit entah hidup kita, kekasih, 
selalu ada sekenyang nasi pun remah roti
untuk menyumpal tangis di sudut mata anakanak kita.

Kau boleh bertani berdagang berperang
melawan rasa lapar dan kemiskinan, 
aku bisa menulis berpuisi mengajar memasak
menjerang mimpi dan kehidupan, 
sedang anakanak tetap lahap mengudap waktu dalam keriangan masa kanak.

Kotakota menjelma kekunang plastik dalam warnawarni neon, 
mengenalkan kita pada sejenak kembara, 
melupakan pulang, memulangkan lupa.
Klakson memekik mengabarkan dolar naik
pun kemanusiaan tercabik di sepenuh bumi. 
Rumah yang tangis anakanak yang pelik amarah
apakah pulang bagi sejauh kelana?
Rindu terentang sepanjang jalan,
tak mampu menunjukkan arah pulang
bagi sepasang kita yang saling asing.
Kita sibuk mencari bahagia
pada gelak kawan masa muda pun ketenangan waktu bujang, 
pada bukubuku tebal, taman, dan kuil kuno di kejauhan;
sedang usia belumlah bosan mengajarkan makna jarak dan kerinduan
pada sepasang kekasih
yang saling melupa meluka.

Lelah, kekasih, kita kini lelah
mengunyah perjalanan yang tak lekas pulang.
Tetiba saja kita diringkus waktu, dibungkus rindu.

Maukah kau jemput aku, kekasih? 
Kutunggu kau di asing jalanan yang mengarah kemana entah.
Maukah kau temukan aku, kekasih?
Cari aku di hilang kata dan bunyibunyi yang silam. 
Maukah kau bawa aku pulang, kekasih? 
Pulang kepada selingkar pelukmu, kekasih,
kepada riuh anakanak berlarian di pematang,
kepada kecupmu menguncup di dahiku,
pun sekerat penatku kusimpan diamdiam di liat bahumu.
Pulang kepada engkau yang rumah.

Karena sepanjang apapun aku membuang langkah
dan setinggi apapun aku menerbang mimpi
tertulis rapi di pesawat kertas, kekasih,
tiada jarak terjauh yang tak sanggup kutempuh 
kecuali sebalik punggungmu.

Malang, 8 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...

Masasoul

Aku diliputi sensasi keanehan yang membeku dalam udara pengap kamarku, tatkala cermin setinggi dua meter berdiri kokoh di depan ranjangku, persis. Hawa dingin menyeruak serasa menggelitik tengkuk. Cermin itu berbingkai hiasan sulur, yang merambat ke atas dan berhenti di puncak dengan kepala ular menganga lebar. Entah ular jenis apa, aku tak peduli, namun ia seolah-olah memamerkan taring berbisanya, mengancamku.  Aku terpaku di depannya, mendongak. Entah kenapa, yang kurasa justru ular itu hidup, menyeringai memberi salam. Kuamati sekujur bingkai cermin yang berkaki dua, mengadopsi kaki elang yang berkuku tajam. Lagi-lagi aku dilanda perasaan ngeri saat kaki kaki itu seolah nyata dan akan segera mengoyak seonggok daging perempuan muda.  “Apa kubilang? Cermin ini sangat menakjubkan bukan? Aku senang melihatmu sampai terbengong-bengong mengagumi benda temuanku ini,” ujar seseorang sembari mengalungkan lengannya ke pinggangku dari belakang. Aku menoleh, ku...