Nak, kelak ketika tubuhmu
tak lagi wangi minyak telon dan bedak
bayi,
tapi campuran bau keringat,
parfum maskulin, dan asap jalanan,
ingatkan ibu agar tak pernah jengah mencium
keningmu tiap pagi dan malam hari.
Kelak ketika kau tak lagi merengek
minta susu
atau ganti popok,
tapi merengek minta motor gede
atau uang saku lebih banyak,
ingatkan ibu bahwa isi dompet ibu
sepenuh
cinta di ruang dada.
Kelak ketika yang kau tanyakan tak
lagi tentang
mengapa matahari terbit dari timur
pun
rembulan berganti rupa tiap
malamnya,
tapi tentang mengapa engkau lahir
tak berayah,
ingatkan ibu untuk mendekapmu
dan tak memarahimu karena telah
bertanya.
* * *
Akan tiba masanya engkau melukis
biru jingga kelabu
langitmu sendiri, nak,
sedang ibu masih setia menggantung
cuaca
cerah di jendela.
Akan tiba masanya engkau kian gemar
mengerat
airmata ibu
dan mengemasnya dalam botol kaca,
nak,
sedang ibu masih rajin menyirami
luka tiap pagi
di pekarangan.
Akan tiba masanya engkau ‘kan
temukan
sayap kupukupu di sela keriput
wajah
pun putih rambut ibu, nak,
sedang ibu tak pernah bosan
mengamini doadoa
dalam hening namamu.
Akan tiba masanya engkau mulai
belajar
merindukan ibu, nak,
sedang ibu telah pandai merangkai
puisi perpisahan.
* * *
Kelak ibu akan tetap terjaga
untukmu, nak,
bukan lagi karena hingga pagi
menyusuimu
pun ninabobokan pecah tangismu,
tapi menunggumu pulang ke pelukan
ibu
: seperti dulu waktu kau
dilahirkan;
meski malam telah larut,
meski usiaku hampir surut.
Bandung,
6 November 2014
Komentar