Langsung ke konten utama

Panglipuran #3 (Untuk Anakku di Masa Depan)

Nak, kelak ketika tubuhmu
tak lagi wangi minyak telon dan bedak bayi,
tapi campuran bau keringat,
parfum maskulin, dan asap jalanan,
ingatkan ibu agar tak pernah jengah mencium
keningmu tiap pagi dan malam hari.

Kelak ketika kau tak lagi merengek minta susu
atau ganti popok,
tapi merengek minta motor gede
atau uang saku lebih banyak,
ingatkan ibu bahwa isi dompet ibu sepenuh
cinta di ruang dada.

Kelak ketika yang kau tanyakan tak lagi tentang
mengapa matahari terbit dari timur pun
rembulan berganti rupa tiap malamnya,
tapi tentang mengapa engkau lahir
tak berayah,
ingatkan ibu untuk mendekapmu
dan tak memarahimu karena telah bertanya.
* * *
Akan tiba masanya engkau melukis biru jingga kelabu
langitmu sendiri, nak,
sedang ibu masih setia menggantung cuaca
cerah di jendela.

Akan tiba masanya engkau kian gemar mengerat
airmata ibu
dan mengemasnya dalam botol kaca, nak,
sedang ibu masih rajin menyirami luka tiap pagi
di pekarangan.

Akan tiba masanya engkau ‘kan temukan
sayap kupukupu di sela keriput wajah
pun putih rambut ibu, nak,
sedang ibu tak pernah bosan mengamini doadoa
dalam hening namamu.

Akan tiba masanya engkau mulai belajar
merindukan ibu, nak,
sedang ibu telah pandai merangkai
puisi perpisahan.
* * *
Kelak ibu akan tetap terjaga untukmu, nak,
bukan lagi karena hingga pagi menyusuimu
pun ninabobokan pecah tangismu,
tapi menunggumu pulang ke pelukan ibu
: seperti dulu waktu kau dilahirkan;
meski malam telah larut,
meski usiaku hampir surut.


Bandung, 6 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...