Langsung ke konten utama

Panglipuran #4 (Atau Kita Sebut Saja Cinta yang Paripurna)

Pada suatu ketika,
cinta bukan lagi tentang kencan malammalam atau
bercinta diamdiam di pagi buta,
bukan lagi tentang saling berkirim puisi tiap pagi atau
menghabis malam minggu berdua.
Pada suatu ketika,
cinta ialah tentang menyisa uang jajan untuk membeli susu formula,
pun terbangun dini hari demi mereda tangismu rintikrintik.
Cinta bukan lagi perkara kenikmatan bawah perut
pun peluk cium yang sengkarut.
Cinta ialah bahagia kala menidurkanmu di dada,
ialah menghitung jemarimu,
pun menghidu nafasmu tiap kali kau terjaga.
Pada suatu ketika,
cinta bukan lagi sekedar senyumku
terbit di tendanganmu dalam ruang dada,
bukan sekedar irisan melintang di perut,
pun sepenuh payudara.

Cinta ialah engkau, A,
kepadamu aku pulang tanpa perlu rumah.
Cinta ialah seluruh engkau, A,
seutuh penuhmu di tiap lingkar semestaku.
Karena pada selamanya, A,
engkau ialah cinta yang paripurna.


Bandung, 18 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...

Waktu untuk Tidak Menikah

Di hari pernikahannya, Nursri bangun menjelang subuh, pukul tiga lewat tiga puluh menit, persis ribuan pagi sebelumnya saat ia masih berkerja di Timalayah sebagai buruh pabrik buku tulis. Beberapa orang, kerabat yang samar-samar ia kenali, tampak sibuk di dapur. Ia dengan canggung melempar senyum santun, sembari melangkah menuju tali jemuran, mengambil handuk dan bergegas masuk bilik kecil di sebelah sumur berkatrol. Ia tidak bisa menikmati kesegaran air yang selalu diidam-idamkannya dulu saat masih di Timalayah. Ia merasa dadanya bergemuruh, mengetahui bahwa pernikahannya akan menjadi prosesi upacara yang singkat, lalu tahu-tahu malam tiba. Saat itulah, Laksmo akan menuntutnya bercumbu untuk kawin secara sah. Nursri ingin berlama-lama di kamar mandi, padahal tak perlu lagi terlalu rinci membersihkan tubuh. Seminggu yang lalu bulek-budenya sudah memojokkannya untuk menjalani lulur satu badan dengan berbagai ritual perawatan diri agar keponakan yang sudah molek itu semakin bersina...

Masasoul

Aku diliputi sensasi keanehan yang membeku dalam udara pengap kamarku, tatkala cermin setinggi dua meter berdiri kokoh di depan ranjangku, persis. Hawa dingin menyeruak serasa menggelitik tengkuk. Cermin itu berbingkai hiasan sulur, yang merambat ke atas dan berhenti di puncak dengan kepala ular menganga lebar. Entah ular jenis apa, aku tak peduli, namun ia seolah-olah memamerkan taring berbisanya, mengancamku.  Aku terpaku di depannya, mendongak. Entah kenapa, yang kurasa justru ular itu hidup, menyeringai memberi salam. Kuamati sekujur bingkai cermin yang berkaki dua, mengadopsi kaki elang yang berkuku tajam. Lagi-lagi aku dilanda perasaan ngeri saat kaki kaki itu seolah nyata dan akan segera mengoyak seonggok daging perempuan muda.  “Apa kubilang? Cermin ini sangat menakjubkan bukan? Aku senang melihatmu sampai terbengong-bengong mengagumi benda temuanku ini,” ujar seseorang sembari mengalungkan lengannya ke pinggangku dari belakang. Aku menoleh, ku...