Langsung ke konten utama

Panglipuran #5

Lelaki memanjat payudara,
mencari cinta.
Disana ia temukan gua garba.
Disana ia berdiam nyaman, menghempas jiwa purbanya,
nyalakan perapian dan hangatkan tubuh.
Lelaki memanjat payudara,
ditanamnya cinta, meneluhku.
Lelaki memanjat payudara,
membakar cinta, membunuhku.
* * *
Perempuan terpasung di relung tubuhnya sendiri.
Darah menetes di lubang mata dan celah paha.
Jantungnya dicincang manusiamanusia tak berkepala,
disantap mentahmentah.
Perempuan meronta dikoyak luka,
ditelanjangi airmata, disetubuhi duka.
* * *
Lelaki bergelung sunyi di gua garba, menggenapi nyawa.
Diterjemahkannya cinta, yang tak hanya darah airmata.
Lelaki memanjat payudara,
mendaras cinta,
merebah nafas,
menidurkan airmata.
Disana ia temukan rumah,
disana ia dirikan pulang.
Lelaki memanjat payudara, menyembuh cinta
pada perempuan ‘nganga luka.

Bandung, 22 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai silent reader

Mungkin ada yang diam-diam bertanya, mengapa kabarkamar sempat hiatus untuk beberapa waktu. Sulit untuk dijelaskan. Banyak alasan yang bisa kami (ya, blog ini menjadi wilayah kekuasaan lebih dari satu orang) berikan kepada pembaca yang setia. Memang kami tidak memiliki tujuan pasti pada saat kumpulan tulisan di dalam komputer diupload via blog. Beberapa kali kami berdiskusi, hanya diskusi kecil, tentang keinginan-keinginan mengenai tulisan yang ada disini dan sebagian lain yang belum terupload. Dan moment itu tiba Kami mengalami transisi dalam hidup. Terkesan sangat drama, tetapi itu yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, kami memilih untuk melihat lebih jauh. Apakah blog ini layak untuk menjadi salah satu pengisi waktu senggang kami. Menikmati onani intelektual, kalau boleh dibilang, atau hanya menjadi ruang bagi mengekspresikan diri di saat tulsisan-tulisan liar lebih laku utuk disebarkan. Dalam hiatus  ini kami kemudian melihat, berhenti sejenak itu tidak mengapa. Dalam pember...

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...

Denyut Merah, Kuning, Kelabu

Jantungku berdenyut cepat. Aku memimpikannya lagi. Ia tertelan kabut di sebuah jalan beraspal. Lenyap. Tak dapat kucegah. Mengapa aku harus terjebak atas kehilangan yang anomali ini? Aku tidak sungguh-sungguh mengenalnya. Akrab pun tidak. Mengapa ia mendatangiku di sepertiga malam? Seolah malaikat menundukkan diri di atas ranjang, mengatupkan sayapnya yang lebar dan menitipkan kode-kode dalam kepingan mimpiku. Lima hari ini. Terus-menerus. Saat terbangun tubuhku telah menggigil. Jemariku kaku. Ujung kaki ngilu. Sendi-sendiku rasanya menegang. Gigi bergemelutuk. Daster yang kukenakan lembab oleh keringat. Hampir saja kupastikan bahwa aku terkena demam berdarah. Nyamuk beredar lebih banyak di musim kemarau ini. Apakah gigitan nyamuk sekarang mampu menciptakan mimpi buruk? Mungkinkah mereka telah bermutasi tanpa seorang ahli serangga pun tahu? Namun, dokter mengatakan aku baik-baik saja dan aku sama sekali tak merasa demikian. *** Ia bernama Noni. Menjadi tetangga sebelah ka...