Langsung ke konten utama

Panglipuran #2

Kau mengapung di permulaan semesta
sebelum bintangbintang menyala,
sebelum planet planet muncul dari dalam kabut.

Kau cabik daging rapuh di tubuhku, ajarkanku
tentang ngilu serupa candu.
Pernah hendak kucuci bersih engkau dari tubuhku, tapi
denyut kardiamu terlanjur menjelma denyut kardiaku,
nafasmu terlanjur mengikat nafasku.
Kulitku menggemakan irama tubuhmu sebagai rasa sakit,
tak sanggup menyambung kembali tulang belulangku
yang tak henti kau patahkan.

Matamu terik matahari;
kau koyak tubuhku dengan jinggamu
menghangat puncak kepala pun membakar poripori.
Nafasmu tajam ilalang;
kau iris nadiku kau benamkan tubuhmu di deras darahku.
Tubuhmu wangi bunga perdu;
engkau ialah tanah ialah matahari ialah rerumput
menggeliat menyobek lubang kulitku.
Engkau segumpal darah tumbuh di kulitku;
kau potong kau cincang kau kunyah kelenjar tubuhku lamatlamat.
Telan aku habiskan aku, kataku,
sebelum kutelan kau dalam rahimku.

Teringat sore itu, ketika
kau menjelma daging mentah menyeruak muntah
dari gua garbaku.
Upacara segera dimulai, kata mereka.
tangantangan plastik mengikat tubuhku di besi dingin.
Disuapinya aku dengan pisau dengan jarum.
Dindingdinding menggemakan nyawaku yang beterbangan.
Nyeri berlompatan menuntunku ‘nuju ruang lembab.
Inikah mati? Bisikku panik.

Lalu kau mulai menjerit. Segumpal darah
yang menjelma kehidupan.
Bau apakah ini? Amis darah
membungkus rapat liat tubuh kecilmu.
Udara menelanjangi tubuhku, tapi
sentuhan kulitmu hangat selimut beludru.
Kaukah itu yang tiga puluh sembilan minggu mengerat tubuhku?
Tangismu pecah berhamburan di ‘nganga tubuhku, membanjir
ke kaki ranjang dan celah ubin.
Luka ialah cinta yang bersimbah merah pekat, batinku,
engkau ialah sepisau perih pun sesuntik pereda nyeri.
Memelukmu ialah sakit
yang berhenti menjerit tibatiba, hening
memantulkan senja di matamu
yang rembulan tanggal lima belas.

Tapi upacara masih belum berakhir.
Hari masih panjang.
Sesaji masih diasapi, orangorang suci
masih sibuk merapal doadoa.
Lalu kau ulurkan tanganmu,
kau ajak aku keluar dari nyala api, keluar ke dunia
yang hiruk pikuk upacara besar berikutnya.

Bandung, 30 Oktober 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai silent reader

Mungkin ada yang diam-diam bertanya, mengapa kabarkamar sempat hiatus untuk beberapa waktu. Sulit untuk dijelaskan. Banyak alasan yang bisa kami (ya, blog ini menjadi wilayah kekuasaan lebih dari satu orang) berikan kepada pembaca yang setia. Memang kami tidak memiliki tujuan pasti pada saat kumpulan tulisan di dalam komputer diupload via blog. Beberapa kali kami berdiskusi, hanya diskusi kecil, tentang keinginan-keinginan mengenai tulisan yang ada disini dan sebagian lain yang belum terupload. Dan moment itu tiba Kami mengalami transisi dalam hidup. Terkesan sangat drama, tetapi itu yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, kami memilih untuk melihat lebih jauh. Apakah blog ini layak untuk menjadi salah satu pengisi waktu senggang kami. Menikmati onani intelektual, kalau boleh dibilang, atau hanya menjadi ruang bagi mengekspresikan diri di saat tulsisan-tulisan liar lebih laku utuk disebarkan. Dalam hiatus  ini kami kemudian melihat, berhenti sejenak itu tidak mengapa. Dalam pember...

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...

Denyut Merah, Kuning, Kelabu

Jantungku berdenyut cepat. Aku memimpikannya lagi. Ia tertelan kabut di sebuah jalan beraspal. Lenyap. Tak dapat kucegah. Mengapa aku harus terjebak atas kehilangan yang anomali ini? Aku tidak sungguh-sungguh mengenalnya. Akrab pun tidak. Mengapa ia mendatangiku di sepertiga malam? Seolah malaikat menundukkan diri di atas ranjang, mengatupkan sayapnya yang lebar dan menitipkan kode-kode dalam kepingan mimpiku. Lima hari ini. Terus-menerus. Saat terbangun tubuhku telah menggigil. Jemariku kaku. Ujung kaki ngilu. Sendi-sendiku rasanya menegang. Gigi bergemelutuk. Daster yang kukenakan lembab oleh keringat. Hampir saja kupastikan bahwa aku terkena demam berdarah. Nyamuk beredar lebih banyak di musim kemarau ini. Apakah gigitan nyamuk sekarang mampu menciptakan mimpi buruk? Mungkinkah mereka telah bermutasi tanpa seorang ahli serangga pun tahu? Namun, dokter mengatakan aku baik-baik saja dan aku sama sekali tak merasa demikian. *** Ia bernama Noni. Menjadi tetangga sebelah ka...