Kau mengapung di permulaan semesta
sebelum
bintangbintang menyala,
sebelum
planet planet muncul dari dalam kabut.
Kau cabik daging rapuh di tubuhku,
ajarkanku
tentang
ngilu serupa candu.
Pernah hendak kucuci bersih engkau
dari tubuhku, tapi
denyut kardiamu terlanjur menjelma
denyut kardiaku,
nafasmu terlanjur mengikat nafasku.
Kulitku menggemakan irama tubuhmu
sebagai rasa sakit,
tak sanggup menyambung kembali
tulang belulangku
yang tak henti kau patahkan.
Matamu terik matahari;
kau koyak tubuhku dengan jinggamu
menghangat puncak kepala pun
membakar poripori.
Nafasmu tajam ilalang;
kau iris nadiku kau benamkan
tubuhmu di deras darahku.
Tubuhmu wangi bunga perdu;
engkau ialah tanah ialah matahari
ialah rerumput
menggeliat menyobek lubang kulitku.
Engkau segumpal darah tumbuh di
kulitku;
kau potong kau cincang kau kunyah
kelenjar tubuhku lamatlamat.
Telan aku habiskan aku, kataku,
sebelum kutelan kau dalam rahimku.
Teringat sore itu, ketika
kau menjelma daging mentah menyeruak
muntah
dari gua garbaku.
Upacara segera dimulai, kata
mereka.
tangantangan plastik mengikat
tubuhku di besi dingin.
Disuapinya aku dengan pisau dengan
jarum.
Dindingdinding menggemakan nyawaku
yang beterbangan.
Nyeri berlompatan menuntunku ‘nuju
ruang lembab.
Inikah mati? Bisikku panik.
Lalu kau mulai menjerit. Segumpal
darah
yang menjelma kehidupan.
Bau apakah ini? Amis darah
membungkus rapat liat tubuh
kecilmu.
Udara menelanjangi tubuhku, tapi
sentuhan kulitmu hangat selimut
beludru.
Kaukah itu yang tiga puluh sembilan
minggu mengerat tubuhku?
Tangismu pecah berhamburan di
‘nganga tubuhku, membanjir
ke kaki ranjang dan celah ubin.
Luka ialah cinta yang bersimbah
merah pekat, batinku,
engkau ialah sepisau perih pun
sesuntik pereda nyeri.
Memelukmu ialah sakit
yang berhenti menjerit tibatiba,
hening
memantulkan senja di matamu
yang rembulan tanggal lima belas.
Tapi upacara masih belum berakhir.
Hari masih panjang.
Sesaji masih diasapi, orangorang
suci
masih sibuk merapal doadoa.
Lalu kau ulurkan tanganmu,
kau ajak aku keluar dari nyala api,
keluar ke dunia
yang hiruk pikuk upacara besar
berikutnya.
Bandung, 30 Oktober 2014
Komentar