Langsung ke konten utama

Panglipuran #1

Ialah cinta sekepalan tanganku, hai lelaki kecilku,
pinjamkan nafas bagi segaris lurus hidup.
Ialah mimpi terindah yang mewujud paripurna, hai lelaki kecilku,
ialah bahagia
yang tak pernah sedemikian tak terucapbahasakan.

Jingga kelak mataahari meski berderas hujan,
pun purnama kelak rembulan meski bergelap gerhana.
Seperti engkau yang sejuk air perigi, duh lelaki kecilku,
seperti engkau yang segar aroma tanah usai hari hujan.
Betapapun hidup ialah pasang tiada surut,
betapapun hidup ialah badai tiada pecah berderai;
yakinkan aku bahwa langit tak tergesa jatuh, ialah bening matamu,
yakinkan aku bahwa bumi belum waktunya
berderak retak.

Bukan jarum infus pun pisau bedah, duh lelaki kecilku,
bukan getir luka pun anyir darah,
bukan kesakitan yang mengiris hatiku tipistipis;
tapi tangismu, duh lelaki kecilku,
api membakar hangus hidupku hingga ke tulang.

Hidup pernah terdiam di malammalam sunyi, oh lelaki kecilku,
matahari pernah berpeluhdarah di pias cuaca.
Hingga suatu senja, pohaci menaburkan bunga dari ketujuh langit,
mengantarmu
ke dekap gemetar jemariku.

Lalu surga bermekaran di pekarangan, lalu cinta,
tak putusputus, tak habishabis menghujan atap rumah.

Lalu engkau, oh lelaki kecilku,
ialah kembang bersemi di tengah ilalang kerontang,
ialah cinta yang seluruh penuh,
ialah semesta.

Bandung, 29 Oktober 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing dalam Kardus

Hujan turun dengan komitmen level malaikat lima hari belakangan. Dimulai dengan langit suram, angin kencang yang lembab dan air yang merintik semakin lama semakin deras. Ya, hanya malaikat yang bisa seserius ini menumpahkan jutaan galon air tepat selepas Ashar. Kalau begini, sederet warung di Pujale tampak redup, meski lampu-lampu neon dinyalakan di sepanjang bangku kayu yang disekrup ke semua ujung kakinya. Hujan memaksa para penghuni dan pendatang Pujale duduk berhimpitan. Menggeser meja, tikar, tas dan pantat agar tak terkena cipratan hujan. Apa boleh buat, para pedagang hanya bisa pasrah pada cuaca. Ada yang meringkuk di pojokan dengan mengenakan masker, ada yang merapatkan jaket, ada pula yang merebahkan kepala di gerobak sambil sesekali melongok parkiran. Puluhan sepeda motor kebasahan, diabaikan para mahasiswa. Mereka lebih  memilih mendekam di gedung-gedung kampus yang hanya berjarak dua puluh meter dari Pujale. Jika sudah demikian, kesedihan melingkupi para penjual. I...

Pengintaian Menjelang Senja

Sore ini aku tidak berharap banyak saat kuparkirkan motorku di depan warung burjo. Biasanya ketika senja turun ke kota ini, kami—para perantau—mulai memikirkan menu makan malam. Pilihan lebih banyak pada warung warung di pinggir jalan daripada memasak secara mandiri. Kali ini rasa lapar mendera dera. Aku hanya ingin kenyang dengan sepiring nastel —nasi telur dan segelas es teh. Pikiranku sedang suntuk. Kemelut proyek riset di kantor membuatku sulit berbahagia akhir akhir ini. “A’ nastel satu, makan sini,” ujarku pada seorang pemuda berkulit gelap. Rambutnya ikal, hidungnya mekar. Agak kurang pas sebenarnya jika aku harus memanggilnya aa’ seperti kebanyakan panggilan akrab untuk para penjaga warung burjo yang berasal dari Kuningan. “Siap Teh!” serunya ramah. Ia pun berlaku sepertiku, menyamakan semua wanita dengan panggilan teteh . Seakan-akan semua wanita di kota ini berdarah Sunda. Tetapi tak pernah sekali pun kami keberatan dipanggil demikian. Aku menoleh, memandang sekelili...

Lelayu

 “ Sejatinya aku memilih hidup dalam zona ini, dan menjadi zombie bukan pilihan yang terbaik...” Menjadi seorang yang meneruskan lagi, garis keturunan yang tiba-tiba saja bertingkat, karena pendidikan dan gelar. Itulah nasib yang tidak bisa kuprotes, sejauh ini, dalam suasana kekeluargaan yang serba perfeksionis. Terlahir dengan nama Mika, berusia di awal kepala tiga, namun rencana bersuami pun hanya sebatas awang-awang di atas titian pelangi. Sudah beruntung namaku dicomot dari kata “akademika” bukan “akademis” yang akan menjadikan estetika panggilanku merosot tajam. “Hai Demis..” bisa kau bayangkan seseorang menyapamu demikian? Keluarga besarku adalah keluarga gila status pendidikan. Ayahanda seorang rektor universitas tersohor di kotaku, bunda seorang ahli gizi yang sering memberikan seminar di berbagai kota, paman menjadi kepala riset lembaga iptek nasional, kakek seorang guru besar kehormatan di negeri sebelah, dan yang lain-lain S2 adalah batas minimal jenjang sta...