Ialah cinta sekepalan tanganku, hai
lelaki kecilku,
pinjamkan
nafas bagi segaris lurus hidup.
Ialah mimpi terindah yang mewujud
paripurna, hai lelaki kecilku,
ialah
bahagia
yang
tak pernah sedemikian tak terucapbahasakan.
Jingga kelak mataahari meski berderas hujan,
pun
purnama kelak rembulan meski bergelap gerhana.
Seperti engkau yang sejuk air perigi,
duh lelaki kecilku,
seperti
engkau yang segar aroma tanah usai hari hujan.
Betapapun hidup ialah pasang tiada
surut,
betapapun
hidup ialah badai tiada pecah berderai;
yakinkan
aku bahwa langit tak tergesa jatuh, ialah bening matamu,
yakinkan aku bahwa bumi belum waktunya
berderak
retak.
Bukan jarum infus pun pisau bedah, duh lelaki kecilku,
bukan
getir luka pun anyir darah,
bukan
kesakitan yang mengiris hatiku tipistipis;
tapi
tangismu, duh lelaki kecilku,
api
membakar hangus hidupku hingga ke tulang.
Hidup pernah terdiam di malammalam
sunyi, oh lelaki kecilku,
matahari
pernah berpeluhdarah di pias cuaca.
Hingga suatu senja, pohaci menaburkan
bunga dari ketujuh langit,
mengantarmu
ke
dekap gemetar jemariku.
Lalu surga bermekaran di pekarangan, lalu cinta,
tak
putusputus, tak habishabis menghujan atap rumah.
Lalu engkau, oh lelaki kecilku,
ialah
kembang bersemi di tengah ilalang kerontang,
ialah
cinta yang seluruh penuh,
ialah
semesta.
Bandung, 29 Oktober
2014
Komentar