Langsung ke konten utama

Postingan

Pada Sebuah Perjamuan

Kau berhias bukan untuk ke pesta –ataukah iya? Seperti bedak yang tak pernah cukup tebal untuk sembunyikan bekas airmata atau keriput tubuhmu yang kian renta; seperti parfum yang tak pernah cukup wangi untuk menyamarkan bau busuk dukacita menyeruak dari rongga tergelap di ruang dada; seperti itulah kau akan dipaksa untuk menghadiri pesta demi merayakan kehidupan yang entah. Kau bersulang bukan untuk perayaan –ataukah lelah? Bukankah kenangan seperti lilin terakhir yang padam di meja perjamuan? : padanya segala gempita pesta nyata terasa, padanya kau kehabisan alasan untuk membedakan mana yang anggur sungguhan dan mana yang darah penebusan. Kenangan akan tersisa pada remah terakhir roti perjamuan, lalu lenyap terlupakan dalam hidangan dan perjamuan berikutnya. Tapi kau tak akan sungguhsungguh berpesta hingga kau ucapbahasakan syukurmu akan roti yang satu itu. Seberapa enggan kau mengenangrindukan yang luka, pun menghilanglesapkan yang...

Alamat Kerinduan

“Sob, ayo kita mengobrolkan rasa kangen.” Ajakanku itu membuatnya tersedak. Cepat-cepat ia menyingkirkan laptopnya. Ini bukan kesekian kalinya ia tersedak oleh omonganku yang sering menjebak. Ia bilang begitu. “Kampretlah! Kau menjebakku. Kau yang gundah, kenapa aku yang melakukan pengakuan dosa?” tuntutnya, geram. Biasanya begitu. Setelah aku berhasil membuatnya kebingungan dengan bahasan soal teori, hukum alam, sampah daur ulang, mahkamah konstitusi, dan pertumbuhan musik indie, ia pun sudah habis dua botol bir. Lalu setengah teler, menceracau. Keluarlah sudah sampah serapahnya. “Baiklah. Jawab pertanyaanku tanpa kau perlu bertanya balik.” Aku tersenyum simpul. Ia sudah mengambil langkah maju untuk antisipasi acara pengakuan dosa. “Apa itu, Sob?” “Itu pertanyaan!” “Ah, iya! Maaf, maaf. Aku sepakat dengan aturan sesi ini.” Ia menjeda sejenak. Menunggui layar laptopnya meredup lalu gelap. “Jadi kau tengah kangen seseorang?” “Sepertinya.” “Kau nggak yakin deng...

Riwayat Kesedihan

Pada malammalam dingin, orangorang terbangun meracau dari tidurnya yang gelisah. Sedang pagi masihlah jauh, mimpi buruk mengintai di tiap sudut kamar dan lipatan selimut. Punggung dan lengannya berderak kesakitan sehabis terlalu lama menangis memeluk dirinya sendiri. Lehernya memanjang merenggang mematah tulang demi tulang, tetapi masa lalu tak pernah usai ditengokratapi. Wajahwajah tersenyum sinis dan bersuara sumbang, nama mereka hanyalah doadoa baik yang lesap terlupakan. Subuh menjelang dan menjerang tubuhtubuh dalam himpitan asap kendaraan. Kopi pertama di pagi hari, mendidih berbuih lalu merintih kedinginan, tak sempat hangatkan jiwajiwa yang bimbang, tak sempat menyembuh sakit kepala yang berdentumdentum memecah kewarasan. Waktu tetaplah tiktok tiktok mengayun entah dari satu luka ke luka lainnya. Ada bintangbintang yang dilahirkan pun memutih lalu mati di galaksi jauh, ada debudebu yang bergulung menggunung padang pasir baru. Ada kesedihan yang nampak fana pun artifi...

Planet Tanpa Gravitasi

Kami adalah sepasang kekasih. Kami adalah ruh yang dipertemukan Tuhan dalam banyak masa. Kami adalah raga yang mendiami pulau kecil, yang kami namai, Planet Tanpa Gravitasi. Pernah kutulis demikian di secarik kertas, dari tepian koran bekas yang kami duduki. Kugulung sobekan kecil itu, kugulung dengan hati-hati, lalu kumasukkan dalam sedotan, terakhir kupotong kedua ujung plastik sedotan. Mirip ulah ibu-ibu arisan tiap sore Jumat Legi , ledeknya siang itu. Gulungan bertuah, sahutku, riang. Kubuka dompetku. Di selipan yang seharusnya berisi kartu debit ATM, kusimpan  sedotan sepanjang dua senti berisi gulungan kertas koran yang semakin koyak. Aku selalu tersenyum setiap kali membaca kata kata yang tertulis di sana. Seberkas mimpi pernah kuciptakan demi kebersamaan kami di Pantai Sunyi.  Siang itu, air melimpah ruah di depan kami, seolah tanpa tuan. Ombak bergulung-gulung, serasa gemas ingin mencumbu kami berdua. Kami tengah bersandar di bawah pohon kelapa. Nyiu...