Kau berhias bukan untuk ke pesta –ataukah iya? Seperti bedak yang tak pernah cukup tebal untuk sembunyikan bekas airmata atau keriput tubuhmu yang kian renta; seperti parfum yang tak pernah cukup wangi untuk menyamarkan bau busuk dukacita menyeruak dari rongga tergelap di ruang dada; seperti itulah kau akan dipaksa untuk menghadiri pesta demi merayakan kehidupan yang entah. Kau bersulang bukan untuk perayaan –ataukah lelah? Bukankah kenangan seperti lilin terakhir yang padam di meja perjamuan? : padanya segala gempita pesta nyata terasa, padanya kau kehabisan alasan untuk membedakan mana yang anggur sungguhan dan mana yang darah penebusan. Kenangan akan tersisa pada remah terakhir roti perjamuan, lalu lenyap terlupakan dalam hidangan dan perjamuan berikutnya. Tapi kau tak akan sungguhsungguh berpesta hingga kau ucapbahasakan syukurmu akan roti yang satu itu. Seberapa enggan kau mengenangrindukan yang luka, pun menghilanglesapkan yang...
Kumpulan karya pendek. Update Tiap Sabtu jam empat sore kalau sedang tidak bad mood