Langsung ke konten utama

Postingan

Panglipuran #3 (Untuk Anakku di Masa Depan)

Nak, kelak ketika tubuhmu tak lagi wangi minyak telon dan bedak bayi, tapi campuran bau keringat, parfum maskulin, dan asap jalanan , ingatkan ibu agar tak pernah jengah mencium keningmu tiap pagi dan malam hari. Kelak ketika kau tak lagi merengek minta susu atau ganti popok, tapi merengek minta motor gede atau uang saku lebih banyak, ingatkan ibu bahwa isi dompet ibu sepenuh cinta di ruang dada. Kelak ketika yang kau tanyakan tak lagi tentang mengapa matahari terbit dari timur pun rembulan berganti rupa tiap malamnya, tapi tentang mengapa engkau lahir tak berayah, ingatkan ibu untuk mendekapmu dan tak memarahimu karena telah bertanya. * * * Akan tiba masanya engkau melukis biru jingga kelabu langitmu sendiri, nak, sedang ibu masih setia menggantung cuaca cerah di jendela. Akan tiba masanya engkau kian gemar mengerat airmata ibu dan mengemasnya dalam botol kaca, nak, sedang ibu masih rajin menyirami luka tiap pagi di pek...

Panglipuran #4 (Atau Kita Sebut Saja Cinta yang Paripurna)

Pada suatu ketika, cinta bukan lagi tentang kencan malammalam atau bercinta diamdiam di pagi buta , bukan lagi tentang saling berkirim puisi tiap pagi atau menghabis malam minggu berdua. Pada suatu ketika, cinta ialah tentang menyisa uang jajan untuk membeli susu formula, pun terbangun dini hari demi mereda tangismu rintikrintik. Cinta bukan lagi perkara kenikmatan bawah perut p un peluk cium yang sengkarut . Cinta ialah bahagia kala menidurkanmu di dada, i alah menghitung jemarimu, p un menghidu nafasmu tiap kali kau terjaga. Pada suatu ketika, c inta bukan lagi sekedar senyumku t erbit di tendanganmu dalam ruang dada, b ukan sekedar irisan melintang di perut, p un sepenuh payudara. Cinta ialah engkau, A , k epadamu aku pulang tanpa perlu rumah. Cinta ialah seluruh engkau, A , s eutuh penuhmu di tiap lingkar semestaku. Karena pada selamanya, A , e ngkau ialah cinta yang paripurna. Bandung, 18 November 20 14

Panglipuran #5

Lelaki memanjat payudara, mencari cinta. Disana ia temukan gua garba. Disana ia berdiam nyaman, menghempas jiwa purbanya, nyalakan perapian dan hangatkan tubuh. Lelaki memanjat payudara, ditanamnya cinta, meneluhku. Lelaki memanjat payudara, membakar cinta, membunuhku. * * * Perempuan terpasung di relung tubuhnya sendiri. Darah menetes di lubang mata dan celah paha. Jantungnya dicincang manusiamanusia tak berkepala, disantap mentahmentah. Perempuan meronta dikoyak luka, ditelanjangi airmata, disetubuhi duka. * * * Lelaki bergelung sunyi di gua garba, menggenapi nyawa. Diterjemahkannya cinta, yang tak hanya darah airmata. Lelaki memanjat payudara, mendaras cinta, merebah nafas, menidurkan airmata. Disana ia temukan rumah, disana ia dirikan pulang. Lelaki memanjat payudara, menyembuh cinta pada perempuan ‘nganga luka. Bandung, 22 November 2014

Kutitipkan Rindu

Kutitipkan rindu pada ibuibu penjaja pagi di sunyian pasar,  kepada kayuh tukang pos pengantar kabar dari rumah ke rumah,  kepada geliat anakanak enggan berangkat sekolah;  barangkali kelak kita saling merindu mencari di ujung hari. Kau tahu, kekasih?  Hidup kian redup seperti langit riau tertutup asap polusi jakarta,  seperti kamar anakanak yang belum sempat kau ganti lampunya.  Hidup kian sempit terhimpit seperti derit dinding rumah kita dan rumah tetangga,  seperti jerit putus asa para artis di televisi yang mencoba menghibur kursi meja pintu jendela. Tapi seredup sesempit entah hidup kita, kekasih,  selalu ada sekenyang nasi pun remah roti untuk menyumpal tangis di sudut mata anakanak kita. Kau boleh bertani berdagang berperang melawan rasa lapar dan kemiskinan,  aku bisa menulis berpuisi mengajar memasak menjerang mimpi dan kehidupan,  sedang anakanak tetap lahap mengudap waktu dalam keriangan ma...

Menuju Senja

Dia baru selesai menyelesaikan makan siang, saat kenangan itu meluncur jatuh dari rak teratas di otaknya. Berdebam. Membuatnya tersentak dan kukunya yang berkuteks tergelincir dari layar gawai. Tidak ada yang memantik. Tidak ada lagu, tidak ada aroma, tidak ada sesuatu di hadapannya yang membuat kenangan itu harus terjatuh. Menggelinding. Menghampiri ujung kakinya. “Kau pernah mengalami yang demikian?” coleknya pada teman kantor yang kebetulan melintas di samping mejanya. “Pernah. Mungkin kamu butuh istirahat sebentar.” “Tidur siang?” “Ya,” ujar temannya sambil menunjuk ruangan di sudut kantor yang berkelambu misterius. Ia mengangguk. Melangkah menuju bilik rehat. Di dalam bilik tersebut ada sofa empuk yang dapat direbahkan menjadi kasur lipat. Ia mencoba berbaring. Kenangan yang menggelinding itu telah dipungutnya dan kini mengeluarkan gas untuk memenuhi otaknya. Kenangan itu berisi luka. Ia masih merasakan ngilunya, meski samar. Sesosok bayangan berkabut muncul. Lela...

Menanam Airmata

Ajarkan padaku bagaimana kau menanam airmata yang lupa bagaimana caranya ‘tuk berbunga. Waktu ialah tanah yang pantang kerontang, katamu, ditumbuhkannya benih hujan pada keabadian. Ajarkan padaku bagaimana kau menggembur menyubur melankolia karbitan yang membusuk sebelum waktunya berbuah. Kelak bolehkah aku membantumu menuai bahagia yang mungkin saja selamat dari serbuan hama? Jangan berharap pada musim yang penyaru, katamu, menunggu bukanlah bagian dari seni bercocok tanam airmata. Maka musim panen yang kau banggakan itu hanyalah ragu yang meranggas di layu matamu. Hei petani sunyi, tahukah kau bahwa istirah ketika lelah hanya akan membuatmu terbakar gersang di kebun dukamu? Bersiaplah memangkas doadoa yang tumbuh liar di balik capingmu. Tangismu ialah bunyi bagi matahari yang terisak lebat di subur kebunmu. Aku mengerat nyeri di kejauhan, menutup telinga dari teriakan cangkulmu. Ulat dan bulu berpesta di bayang bulu matamu, hujan ber...